HIGH SCHOOL RELATION-SHIT!

HIGH SCHOOL RELATION-SHIT!
High School Moment 29


__ADS_3

Akhirnya kak Juna ga ada kabar seharian...


Hari minggu, dimana orang-orang mulai bersantai meluruhkan penat, hatiku justru dihantui rasa sedih dan marah dalam satu tempat.


Kak Juna, dia entah kemana sampai pesanku pun tidak dibaca sama sekali.


Sebenarnya apa yang terjadi? Apa benar orang yang ngubungin aku ini selingkuhannya?


Aku jadi kesal sendiri setiap melihat Hp yang ga ada notifikasinya. Aku berharap banget dia datang dan mengatakan bahwa semua ini adalah bullshit. Seseorang berencana merusak hubungan kami, seseorang berusaha merebut dia dariku. Aku ingin itulah yang terjadi, tapi nampaknya tak ada penjelasan apapun yang membuatku tenang.


Baru menggerutu, ponselku berdering. Kak Juna meneleponku.


"Kak-"


'Sayang, aku di depan.'


"Aku turun."


'Hei, dengar dulu.' Langkahku terhenti, dan kembali memfokuskan pendengaran pada suara kak Juna di seberang. "Kamu siap-siap. Aku mau bawa kamu jalan-jalan. Aku tunggu di bawah, jangan lama-lama ya, sayang."


Aku mematung, sementara panggilan terputus. Kenapa kaya ga ada kejadian gini? Dia udah baca semua pesanku, kan? Tapi kenapa responnya seolah tidak ada terjadi apa-apa.


Setelah bersiap, aku turun dengan tas yang ku selempangkan ke bahu. Kulihat kak Juna duduk di teras, dan berdiri saat aku keluar dari pintu.


Dia tersenyum seperti biasa. "Ayo." Tangan kak Juna menarikku masuk ke dalam mobilnya.


Dia menjalankan mobil dengan kecepatan sedang. Aku menunggu. Aku ingin mendengar penjelasannya secara langsung. Tapi kenapa dia terlihat santai sekali.


Saat di lampu merah, kak Juna menggenggam tanganku. Benar-benar, ya. Dia pikir dia bisa sesantai itu.


Aku menarik tanganku dengan cepat. "Kaak-"


"Ssstt." Aku sampai memundurkan kepala saat telunjuk panjangnya menyentuh bibirkh. "Aku akan jelasin, tapi nanti."


Hah. Apaan itu.


"Intinya, semua chat orang asing yang kamu kirim ke aku itu bohong." Katanya, dan kembali menggenggam tanganku.


Benarkah bohong? Aku harap memang begitu.


Kak Juna menjalankan mobil dengan sebelah tangan di kemudi. Dia terus menatap jalan, dan sesekali melirikku dengan senyuman.

__ADS_1


Yah, biarkan sajalah dulu. Tunggu sampai dimana ia menghentikan mobil, dan aku akan menuntut semua penjelasan tanpa ditunda-tunda dan ditutupi lagi.


Dan disinilah kami. Sebuah kafe vintage dengan suasana tempo dulu yang klasik dan elegan membuatku berdecak kagum, sampai lupa apa tujuanku sebenarnya.


Tapi beberapa detik setelahnya aku tersadar. Melipat tangan di atas meja dan memajukan kepala. "Kak, aku butuh penjelasan." Kataku akhirnya.


Kak Juna mengangguk, lalu menyerahkan menu pada pelayan setelah memesan beberapa makanan.


"Oke. Sebelumnya aku mau kamu dengerin aku sampai selesai dan ku mohon, aku mohon dengan sangat, kalau kamu akan terus percaya sama aku apapun keadaannya."


Aku menggeleng. "Nggak. Aku mau tau dulu gimana ceritanya. Aku ga bisa langsung percaya gitu aja. Ini pesannya meyakinkan, lho." Ucapku dengan wajah kesal, menunjuk chat gila di Hpku. Bisa-bisanya dia mengulur-ulur waktu lalu memintaku percaya saja ucapannya.


"Oke, oke. Aku akan cerita." Kak Juna tampak menghela napas, lalu menggenggam tanganku. "Aku udah bilang kan, kalo pesan itu bohong. Ada cewe yang suka sama aku, trus dia mau aku lepas dari kamu. Dia maksa sampe bilang ke orang-orang kalo kami pacaran, padahal engga, sama sekali. Trus entah dapet dari mana dia nomor kamu dan ngirim pesan ga masuk akal kaya gitu ke kamu."


Hng? "Benar gitu?"


"Bener, sayang. Aku mana mungkin bohong." Kini kak Juna merogoh saku dan meletakkan ponselnya di depanku. "Selama ini aku ga pernah nyembunyiin sesuatu dari kamu, kan? Password hp aku kamu juga tau. Sekarang kamu bebas cek semua isi di Hp aku."


Aku menatap ponsel itu. Memang benar. Selama ini aku bebas pegang Hp kak Juna. Bahkan dia sering titipin Hp nya ke aku kalau dia main futsal atau basket.


Aku mengambilnya, lalu meletakkan kembali ke depan kak Juna.


Ya, aku percaya. Aku tau hal yang paling sulit dalam hubungan adalah memegang kepercayaan. Dan sekarang kak Juna pasti berharap banget aku selalu percaya padanya. Toh selama ini emang ga ada sesuatu yang aneh dari dirinya.


Dia tersenyum, lalu mengelus tanganku. "Makasih ya, Ariva. Sejujurnya semalaman aku takut kamu ga percaya dan ninggalin aku."


"Ya enggalah. Aku harus denger penjelasan kakak dulu. Aku ga mau marah-marah tanpa tahu kejelasan pastinya gimana."


Mendengar penjelasanku, kak Juna tertawa kecil, namun sampai membuatnya mendongak ke atas.


"Lho, kenapa malah ketawa, sih?"


Dia menggelengkan kepala, dengan tangan yang belum terlepas, kak Juna mendekatkan wajahnya.


"Aku seneng banget punya cewe yang bisa mikir jauh gini. Karena biasanya kan, cewe-cewe pasti marah kalo dapet pesan kaya gitu."


Sebenarnya aku marah kok, aku kesel dan sempat maki-maki kak Juna juga. Hehe. Tapi, mungkin karena perasaanku ke kakak, buat aku ingin tahu bagaimana kakak sebenarnya ke aku.


"Makasih ya, sayang. I love you so much." Kak Juna mengecup punggung tanganku. Seketika rasanya seperti ada aliran listrik mengalir ke seluruh tubuh. Aku terdiam dan tersentuh dengan sikap ini. Aku ga bisa bergerak, dia terlalu manis.


"Ariva, dengar." Kini wajah kak Juna berubah serius. "Apapun yang terjadi, kamu harus percaya sama aku. Apapun yang kamu dengar nantinya, tolong tanyakan aku dan percaya kalo semua itu cuma akal-akalan supaya kita berpisah."

__ADS_1


Eh. Kenapa jadi bicarain hal yang kaya gini tiba-tiba.


"Kamu tau kan, diluar sana banyak yang mau ngerjain kamu, buat kamu tersiksa dan mereka akan lakuin apa aja termasuk ngancurin hubungan kita."


Aku mengangguk. Bener juga, sih. Apa belakangan yang ngerjain aku di toilet itu juga yang ngirim pesan-pesan ini? Apa mereka orang yang sama, dan dia menyukai kak Juna?


Pelayan datang membawa nampan berisi pesanan kami dan meletakkannya di atas meja.


"Silakan." Ucapnya, kemudian pergi.


Kami menyantap makanan sambil bercanda tawa. Sampai seseorang mengganggu kami. Ya, seorang perempuan cantik berambut pendek, datang dengan wajah marah pada kami berdua. Terkhususnya aku.


Kak Juna, dia berdiri dan tampak kaget melihat kemunculan perempuan ini. Ada apa, kenapa dia sekaget itu?


"A-anes?"


Anes? Siapa dia? Pandangannya menusuk kali kepadaku.


"Gue udah bilang kan, jangan ganjen sama cowo gue. Lo pikir gue bercanda soal itu??"


Hah? Aku berdiri dari tempatku. Maksudnya apa ini? Dia menunjuk-nunjuk ke wajahku dengan marah.


"Gue udah peringatin dan lo malah nantangin gue."


"Aneska, stop. Kita bisa bicarain ini diluar." Tukas kak Juna, menahan tangan perempuan yang melangkah mendekatiku.


"Lo sih, terlalu baik sama semua cewek, jadi ngelunjak!" Tukasnya pada kak Juna.


Tunggu. Apa ini perempuan yang ngirimi aku pesan tadi malam?


"Heh, lo itu ga tau diri banget, ya. Gue tau siapa lo sebenarnya. Lo cuma anak panti asuhan yang butuh kasih sayang. Tapi lo salah cari tempat. Heloo, Juna cowok gue! Dan lo jangan jadi perusak hubungan orang, dong!"


Dia berhasil membuatku bergetar. Aku menunduk apalagi saat ini banyak mata yang menatap ke arah kami.


"Nes, lo jangan kelewatan! Ariva ga salah apa-apa. Gue yang salah. Makanya, ayo selesaikan sama gue diluar!" Kak Juna menarik tangannya, tapi perempuan bernama Aneska itu melepaskan tangan kak Juna dengan keras. "Aneska!!"


"Gue kasih tau, ya. Gue dan Juna udah pacaran tiga tahun. Dan kerikil kayak lo ga akan bisa ngerusak hubungan kita. Ngerti, lo?!"


Dan untuk kali pertama, air mataku jatuh karena sebuah pengkhianatan. Dan yang lebih menyakitkannya adalah, perempuan di depanku ini bukan selingkuhan Juna. Melainkan akulah. Aku perempuan yang menjadi kerikil dalam hubungan yang sudah bertahan selama tiga tahun itu.


TBC

__ADS_1


__ADS_2