HIGH SCHOOL RELATION-SHIT!

HIGH SCHOOL RELATION-SHIT!
Birthday Party 42


__ADS_3

"Iya, bareng. Namanya double date. Gimana?"


"Oke."


Hah. Aku melotot pada kak Juna yang menjawab seenaknya tanpa tanya dulu padaku. Tapi dia hanya angkat alis seolah tak paham dengan kodeku.


Ketepatan mendapat kursi saling bersebelahan. Vita paling ujung, disebelahnya Arsya, lalu aku dan kak Juna.


Situasi macam apa ini? Aku duduk diantara kak Juna dan Arsya. Lalu sekarang, film apa yang ditonton ini? Kenapa auranya jadi beda.


Lampu gedung bioskop pun redup, kini layar besar itu menampilkan adegan awal cerita yang menurutku suasanya udah membuatku takut.


"Kak. Ini horor?" Bisikku pada kak Juna.


"Iya. Kenapa?"


Ah. Apa aku ga pernah bilang ya, kalo seleraku bukan film kaya gini. Aku ga suka film horor. Mau dibayar berapa pun aku nolak. Beribu kali Arsya mengajakku menonton film horor, aku ga pernah mau. Tapi apa ini?? Akh...


Baru awal mula cerita aja udah buat aku genggam pegangan kursi kuat-kuat. Aku memejamkan mata. Lebih baik tidur aja, deh.


"Bukannya lo ga suka film horor?"


Aku membuka mata lalu menoleh ke kanan, dimana Arsya berbisik padaku.


Aku menggelengkan kepala, aku ga tau kalo film ini yang dibeli kak Juna.


DUM!


Aku memekik saat film itu mengeluarkan suara berat nan menakutkan hingga tanpa sadar aku menarik lengan dan menyembunyikan wajah di bahu Arsya.


Jantungku berpacu tatkala menyadari sesuatu. Aku mendongak memastikan pada lengan siapa aku bersembunyi.


Mataku melebar saat mendapati Arsya juga tengah memperhatikanku dalam diam.


Beberapa detik setelahnya, kak Juna menggenggam tanganku hingga aku tersadar sedang apa aku sekarang.


"Kamu takut?" Tanya kak Juna setelah aku duduk dengan tenang.


"Boleh pinjam jeket?"


Kak Juna mengangguk lalu melepaskan jeketnya.


Yah, lebih baik menutup diri dan bersembunyi saja dari pada memaksa diri untuk menonton. Aku menyelimuti diriku dengan jeket kak Juna. Harum terasa, aku suka parfumnya sejak awal bertemu. Hehe.


Eh?


Arsya melempar earphone-nya padaku. Ah, aku paham. Aku langsung memakainya. Ingin mengucap terima kasih, tapi kulihat dia fokus menonton dengan tangan kanan yang berpegangan dengan Vita.


Ya sudahlah. Aku tidur saja~


...♡♥︎...


"Sayang, bangun." Kak Juna menepuk-nepuk pundakku.


Aku membuka mata perlahan dan langsung menyembunyikan mata dengan jeket yang terselimut di tubuhku saat lampu membuatku silau. Oh, ternyata udah selesai, ya.


"Ariva lucu banget. Padahal lagi nonton, kok bisa-bisanya tidur, sih." Vita tertawa sambil menepuk pelan bahu Arsya yang tengah menatapku.


"Dia ga suka genre horor." Sahut Arsya, yang rupanya membuat Vita diam.


"Yang bener, sayang? Kamu ga suka film horor?" Kak Juna bertanya dan merasa kaget dengan ucapan Arsya. Saat aku mengangguk, tampak pula wajah kusutnya.


"Kenapa kamu ga bilang." Imbuh kak Juna lagi.

__ADS_1


Gimana mau bilang. Kamu main paksa dan semangat banget beli tiketnya, tanpa tanya apa aku suka jenis film begitu.


"Maaf ya, Ariva. Lain kali, bilang ke aku apa yang kamu suka, atau kamu ga suka."


Aku mengangguk sambil melepas earphone di telunga, lalu kak Juna menarik dan mencium pelipisku.


Hah?


Aku bengong sekaligus malu, dia melakukan itu di depan Arsya dan Vita, padahal tadi aku baru memergoki mereka bermesraan. Tidak tahunya...


"Uh. So sweet bangettt.." Vita semakin melengketkan diri dan bergumam pada Arsya. "Kamu juga manis. Hehe."


Dih. Apaan, sih. Geli banget.


"Lain kali jangan cium aku kaya gitu." Bisikku pada kak Juna.


"Lho, kenapa? Kamu kan, pacar aku." Balasnya berbisik pula.


Hah. Males ngomong aku, mah.


"Kita pisah disini aja, gimana? Soalnya gue dan Arsya ada candle light dinner."


Candle light dinner?


Arsya, apa dia ingat sama ceritaku waktu itu?


"Oke kalau gitu." Kak Juna menggenggam tanganku. "Kita pisah disini. Bye."


Kak Juna menggandengku menuruni tangga gedung bioskop yang sudah sepi.


Kenapa kita gak sama-sama mereka aja? Sekalian, aku pengen liat candle light dinner yang dibuat Arsya untuk Vita itu kaya gimana? Penasaran banget.


Jangan-jangan dia nyontek ideku waktu itu. Aku pernah cerita kalau suatu hari punya kekasih, aku pengen banget bisa candle light dinner di puncak skyscraper.


Sialan. Bisa-bisanya dia ngelakuin itu...


"Hm?" Aku menoleh pada kak Juna yang menghela napas. Dia berhenti dan menatapku.


"Kamu dari tadi ga dengerin aku ngomong, ya? Ngelamunin apa?"


Lho, dari tadi dia ngomong?


"Kamu mikirin Arsya, ya?"


Hee? Kok jadi jadi Arsya. Mana bener, lagi.


"Ya, kan? Dari tadi aku perhatikan kamu liat ke dia terus. Naksir?"


"Apaan, sih. Aku sama Arsya temenan. Kan udah pernah aku ceritain ke kakak."


Kak Juna membuang wajah, lalu kembali menatapku. "Iya, berteman. Teman kecil. Tapi bukan berarti kamu bisa peluk-peluk dia."


Mataku membulat. "Astaga, kak. Itu ga sengaja. Aku kaget, jadi reflek aku nutup wajah ke arah dia! Ga ada maksud buat sengaja peluk-peluk kaya gitu!" Sanggahku cepat. Aku kaget, bisa-bisanya kak Juna mempermasalahkan itu.


"Tapi tatapan kamu ke dia itu beda!"


"Beda apaa??"


Kak Juna diam sebentar, seperti tengah mengumpulkan sesuatu untuk berbicara. "Kamu sukak kan, sama Arsya."


Aku membeku. Aku... sukak.. Arsya?


"Itu makanya kamu ngelarang aku cium kamu kayak tadi di depan dia!"

__ADS_1


Juna, bisa-bisanya dia mikir kesana.


"Ya, kan??"


"Gilak, ya!" Aku melepas jeket yang sejak tadi terselempang di bahuku, lalu melemparkannya ke kak Juna. Dengan perasaan yang campur aduk, aku melangkah pergi dari hadapan kak Juna.


"Ariva! Tunggu. Aku belum selesai ngomong." Kak Juna mengejar, menarik tanganku yang membuatku spontan membalikkan badan.


"...dengan kamu pergi kayak gini aja buat aku jadi yakin kalau kamu ada apa-apa sama dia."


Aku menatapnya dengan alis bertaut dalam. "Aku bukan kayak kakak yang gampang mainin perasaan!"


"Ariva!"


Setelah berkata begitu, aku melangkah pergi.


"Ariva, sorry, Ariva. Aku ga bermaksud.."


Halah. Males banget. Aku mempercepat langkah dan berlari. Lebih baik pulang dan tidur saja!


Di dalam taksi, aku bersandar sambil terus memikirkan ucapan kak Juna. Aku suka sama Arsya?


Kalau yang dia maksud suka berteman, iya. Aku suka sama Arsya dalam artian itu. Iya, kan?


Aku menyentuh jantungku yang sejak tadi berdetak. Aku memang benci liat Arsya sama Vita. Tapi itu karena aku ga suka sama cewek itu, bukan karena cemburu.


Ya, kan? Aku nggak cemburu.


Tapi candle light dinner itu... Impianku.


...🍭...


Pagi itu, aku sebenarnya berat sekali berangkat ke sekolah. Pikiranku kembali pada cerita papa soal mama yang punya keluarga baru, ternyata terbawa ke dalam mimpi. Mimpi buruk sekali tentang Mama yang membawa anak kecil berusia sekitar 7 tahun. Sampai terbangun, suasana hati yang sedih di dalam mimpi terbawa hingga saat ini.


Ingin sekali rasanya bolos satu hari. Tapi ini senin, kalau bolos bisa bahaya sebab mata pelajaran yang memabukkan ada di hari ini.


Fisika dan matematika. Siapa sih, yang nyusun mata pelajaran ini? Bisa-bisanya dua subjek kematian ini berdampingan. Ditambah gurunya juga killer luar biasa.


"Arghhh.." aku mendesah saat menoleh ke jendela taksi dan melihat siswa-siswi Garuda masuk ke dalam gerbang. Aku malas sekali mengangkat tubuh dari kursi penumpang, tapi teguran dari supir membuatku mau tak mau menggeser duduk.


"Kembaliannya buat bapak." Kataku setelah memberi selembar uang merah.


Aku berjalan lesu di lorong sekolah. Entah perasaanku saja, tapi beberapa pasang mata seolah ikut mengiringi langkah.


Lagi liatin aku? Enggak, kayaknya. Emangnya aku siapa sampe harus diliatin begitu.


"Ariva."


Kak Juna tiba-tiba sudah berdiri di depanku.


Ck. Apalagi ini. Memang sejak kemarin aku belum membalas pesannya. Karena tak ingin menjelaskan apapun, tak juga mau berdebat.


"Ikut."


Kak Juna menarik tanganku menuju lorong sepi. Lalu menunjukkan layar ponsel yang menampilkan foto-fotoku bersama...


Eh?


"Jawab pertanyaanku, Ariva. Apa benar kamu ada main sama om-om ini?"



Guys, kalian baik banget udah mau jadi support system dan selalu mengisi amunisi melalui like, komen, dan vote🥺 Makasih juga yang udah kasih aku Koin emas hehe dan juga hadiah❤️ THANKYOUU BANYAK-BANYAK. Salam, Juna.

__ADS_1



TBC


__ADS_2