
Pagi-pagi sekali, aku keluar dari kamar Ari. Herannya, dia sudah tidak ada. Ari pergi sekolah sebelum aku membuka mata. Entahlah, mungkin dia merasa tak enak dengan kejadian malam tadi.
Aku memiringkan tubuh di atas ranjang. Tulangku rasanya ngilu dan denyut. Terlebih aku tidur dengan posisi yang tidak baik untuk tulang yang sudah retak. Tapi sulit bergerak karena Ari tidur di lenganku.
By the way, tadi malam itu.. manis juga. Maksudku, aku berhasil mengutarakan perasaanku ke Ari. Yah, mungkin dia syok. Tapi aku akan terus tunjukin ke dia kalau apa yang aku ucapkan tidak main-main.
"Syaa, Arsya.." mama mengetuk pintu tanpa jeda, sampai aku pun terlonjak dan segera membuka pintu.
"Ya, ma?"
"Ya ampun." Mama memegangi wajahku dengan panik.
Ah, astaga. Aku sampe lupa.
"Sya, kenapa begini, nak? Kata papa tadi malam kamu berkelahi. Kok bisa? Cerita ke mama, cepat!" Tuntut mama, menarikku masuk dan duduk di tepi ranjang.
Bagaimana ini. Apa harus kuceritakan semuanya?
"Ma, ini sebenarnya cuma masalah kecil."
"Masalah kecil apanya! Wajah kamu sampai biru lebam dan kamu anggap ini masalah kecil? Anak-anak bertengkar itu biasa. Tapi kalau sudah begini, bukan masalah kecil namanya!"
Yah, beginilah kalau mama sudah panik.
"Coba sini, mama liat." Mama menarik bahuku yang sontak membuatku refleks menjerit. Pasalnya, mama menyentuh tepat di sumber sakitnya.
Mama berdiri. Kaget, tentu saja. Lalu sedetik kemudian dia menatapku dengan tajam.
"Lepas bajumu."
A-apa...
Aku melihati kemeja hitam yang belum sempat kubuka malam tadi.
"Arsya, cepat buka bajumu!"
Suara mama sudah tinggi, pertanda aku wajib mematuhinya.
Aku pun membuka kancing kemeja satu persatu dengan agak lambat. Pasalnya akh juga ga tau apa yang ada di tubuhku, tapi aku yakin bukan suatu hal yang baik mengingat sakitnya masih terasa.
Setelah kulepas kemeja, mama menyuruhku berbalik. Dan, disinilah mama histeris memanggil papa yang terburu-buru datang.
Papa ikut mematung di belakang badanku, dan mama.. menangis.
"Aku akan telpon dokter dan buat janji. Kamu jangan terlalu panik, oke?" Papa mengecup kening mama dan keluar kamar dengan langkah lebar. Lalu aku yang merasa bersalah ini, menarik lengan mama supaya ia duduk di tepi ranjang.
"Ma.." Aku duduk di bawah kakinya, meminta ampun atas kejadian yang sampai membuat mama menangis. "Maafin Arsya, ya." Aku menggenggam kedua tangan wanita yang paling kusayangi ini.
"... Arsya ga bermaksud buat mama khawatir. Arsya janji, ini kali terakhir Arsya berkelahi."
Mama diam, menarik sebelah tangannya untuk menghapus air matanya.
"Kenapa bisa begini, hm?" Tanya mama lirih, mengusap wajahku yang berluka biru.
"Arsya berkelahi dengan pacar Ari."
Mama seperti menahan napas mendengar ucapanku.
"Dia udah nyakitin Ari. Buat Ari nangis karena ulahnya. Dan dia merasa Arsya terlalu ikut campur, sampai akhirnya malam tadi, dia dan kawan-kawannya nyerang Arsya."
Penjelasanku berhenti sampai disana, saat papa datang dan memintaku bersiap karena kami akan pergi ke rumah sakit.
"Satu lagi, Sya." Kata papa sebelum turun. "Papa ga tinggal diam soal ini. Papa udah minta rekaman cctv tadi malam di seluruh ruang convention hall dan akan laporkan kejadian ini ke polisi."
"Paa-"
__ADS_1
Papa pergi. Tanpa mau mendengar permintaanku.
"Anak sekolah ga boleh main kekerasan seperti ini. Ini terlalu berbahaya. Mama setuju sama papa. Kami melakukan ini karena sakit hati melihat anak kami dipukuli seperti ini." Terang mama, lalu ikut turun menyusul papa.
Hah. Jadi panjang.
...🍭...
Akhirnya aku memakai arm sling. Sebelah lenganku tak bisa bergerak dengan leluasa akibat cedera yang menimpa bahu kanan. Dan tangan kananku harus terus digendong dengan arm sling supaya menyatukan lagi tulang yang retak.
"Anak muda zaman sekarang."
Kak Adit berdecak, sambil melirikku yang ada di belakang melalui spion depan mobil.
"Diem."
"Demi cinta, rela berkorban." Kak Adit terkikik geli, sementara aku menghela napas.
Tak lama, mama masuk ke dalam mobil dan duduk di sebelah Kak Adit yang akan menyetir kami pulang. Sementar papa langsung menuju kantor.
"Udah, Bun?"
"Udah." Mama memberikan sebotol air mineral dingin pada kak Adit.
"Sya.."
Mama berbalik ke arahku yang duduk di belakang. "Masih sakit, nak?"
"Engga, ma."
"Ga sakit, Bun. Demi cinta." Sahut kak Adit, terkekeh geli.
Mama menatap diam pada kak Adit yang menenggak air dalam botol.
"Kamu tau, Dit?"
"Soal Arsya dan..." mama ragu melanjutkan.
"Ari?"
"Adit tau?" Tanya mama lagi.
"Tau lah, Bun. Bunda gimana, sih. Kentara banget."
Mama mendesah pelan, lalu duduk lurus kedepan. "Kayaknya cuma bunda yang ga tau."
Kak Adit terkekeh geli melihat mama mulai ngambek. "Bunda, lucu banget kalo lagi Ngambek." Godanya.
"Jangan bicara sama bunda! Bisa-bisanya ga ada yang ngomong soal ini."
Kak Adit meraih tangan mama, "Bunda sih, seharusnya marah ke papa. Bukan ke Adit." Katanya, lalu mencium punggung tangan mama, membuat mama mau tak mau mengelus kepala kak Adit.
"Kayak mama bisa marah aja sama papa." Sahutku.
"Hahaha. Iya, pesona papa gitu looohh." Seru kak Adit sembari menjalankan mobil, lalu tangannya ditepuk pelan oleh mama.
Kak Adit, udah kayak anak pertama bagi mama. Beda hal dengan kak Tari yang memilih jadi adik mama, kak Adit justru menjadikan mama ibu kandungnya.
Kak Adit pernah cerita, kalau bundalah orang yang merawatnya sejak bayi. Itu sebabnya aku ga cemburu saat kak Adit mendapat kasih sayang mama layaknya aku. Terlebih kak Adit memang sangat menyayangi mama. Sebab kak Adit pula seperti kakakku sendiri. Yang lebih membuat kak Adit sayang lagi, adalah bunda yang memberikan nama untuknya. Aditya. Eh, kayak pernah denger.
...🍭...
Setelah pulang dari rumah sakit, aku makan, lalu minum obat. Beberapa menit setelahnya, reaksi obat bekerja dan berhasil membuatku mengantuk.
Aku merasa risih dengan arm sling yang kupakai. Diam-diam aku melepasnya, melepas baju saat kurasa mulai gerah. Lalu aku pun tertidur pulas sampai entah bagaimana, samar-samar kudengar suara piring pecah. Begitu berisik, sampai mataku yang berat perlahan terbuka.
__ADS_1
Namun yang kudapati pertama kali adalah Vita. Dia ada disampingku.
"Vita.." Apa benar dia? Atau ini cuma halusinasi aja? Kenapa disini?
"Vit?" Aku mencoba memanggilnya lagi. Tapi gadis itu malah ketakutan.
"Arsya. Berani sekali kalian melakukan itu disini." Eh.. itu suara mama. Aku ingin bangun, tapi kepalaku terasa berat, dan pandanganku buram.
"M-maaf Tante.." Vita menangis disampingku, terisak.
Eh, dia kenapa?
Aku berusaha duduk, lalu kulihat Vita mengutip pakaiannya yang ada di lantai. Dan itu, tentu saja membuatku terdiam.
"Ma.."
Mama menangis, tentu saja. Di bawah, makanan dan pecahan kaca berserakan.
"Apa yang kalian lakukan..." Tanya Mama, mencoba tenang. Sementara otakku berusaha keras mengingat apa yang terjadi sebelum aku tertidur. Aku yakin, aku ga melakukan apa-apa. Bahkan Vita ga ada.
"Maaf, tante..." pandanganku tertuju pada Vita yang menangis dan tertunduk setelah ia memakai seragamnya.
Siang menjelang sore, menjadi hal yang buruk bagiku. Vita hanya tertunduk dan terus menangis. Mama yang duduk di depannya melipat tangan di dada dan menatap tajam.
"Keterlaluan."
Mendengar itu dari mama, Vita semakin terisak. Mungkin Vita ga tau, gimana mama menasehatiku agar terus berhati-hati jika punya hubungan dengan perempuan. Aku tau, mama ga mau aku terjerumus ke dalam lembah perzinaan.
Tadi Vita cerita, bahwa dia ingin menemuiku dan datang ke rumah, lalu mengetuk pintu. Tapi tidak ada yang menyahut. Jadi Vita langsung masuk ke kamarku.
Disana, dia melihatku tidur tanpa baju, hingga muncullah ide buruk untuk membuat seolah kami tengah melakukan 'itu'. Vita mengaku telah mengambil beberapa foto dan mengirimkan ke temannya hanya untuk pamer.
"Maaf, tante. Hiks.. aku, aku cuma mau buat... hiks.." ia tak melanjutkan, dan malah menangis.
"Perbuatanmu ini bahaya. Bagaimana bisa kamu menghinakan dirimu sendiri?"
Vita turun ke bawah, berlutut di kaki mama. "Maaf, tante. Maafin aku. Aku ga tau kalau sampai kaya gini kejadiannya. Aku nyesel, tentee.."
"Jadi maksudnya, kalo tante ga masuk, kamu ga akan nyesal, gitu?"
"Tante, bukan gitu.."
"Gimana kalo foto itu tersebar, hah? Kamu gak takut??" Ancam mama dengan nada tinggi.
Vita hanya menggelengkan kepala. Dia sudah terlanjur mengirimnya untuk membuat teman-temannya iri. Bahkan tak ia pikirkan hal jauh kedepannya.
Mama langsung berdiri. "Kalau sampai foto itu tersebar, tante ga akan segan laporkan ke polisi."
Vita langsung merangkak ke kaki mama dan memohon. "Maafkan aku tante.. maaf. Tapi tolong jangan laporkan ke polisi. Aku bakalan jamin foto itu gak kesebar. Please jangan lapor ke polisiii huhuuu." Vita tersedu-sedu.
Tunggu. Aku teringat sesuatu.
"Lo kirim ke siapa foto itu, hah?" Tanyaku pada Vita. Tapi tanpa jawaban, aku langsung tahu kalau dia mengirimkannya pada Ari, karena Vita menutup wajahnya sambil terus menangis.
"Keluar dari sini!" Tegas mama pada Vita. Tapi gadis itu berkeras. Berusaha meraih tangan mama, namun mama menepisnya.
"Tante.."
"Keluar!" Tangan mama menunjuk pintu. Mama benar-benar marah pada Vita.
Lalu gadis itu, bangkit perlahan. Dia melihat ke arahku yang langsung membuangkan wajah, tak sudi menatapnya. Dan akhirnya, dia pun pergi.
Namun sejak saat itu pula, nomor Ari tidak lagi bisa dihubungi. Bahkan malam itu, Ari gak pulang karena menginap di apartemen ayahnya yang akan berangkat besok pagi-pagi sekali.
♡♡
__ADS_1
YANG BELOM BACA KARYA TERBARUKUUU ANGKAT TANGAN. Ayo dibaca rek, judulnya: DEAR, MAJIKANKU YANG LUMPUH.