
Kenapa sampe nyuruh aku buka mantel? Pengen liat aku pake baju apa, gitu? Hmm, ternyata Karin bener.
Aku melepas mantel panjang itu dan memberikannya pada si pelayan. Tak lupa mengibas rambut yang sejak tadi terperangkap di dalam mantel.
"Benar juga. Gerah." Kataku dengan senyum kecil. Aku melirik pada Kai disebelah, yang juga tersenyum bangga padaku.
Yah, sesuai dugaan Karin, memang. Vita diam memperhatikan dress yang aku pakai. Bukan cuma dia, Hani malah melongo. Ada apa sih, ini kan cuma dress polos biasa.
"B-bukannya gaun itu keliatan lebih mewah dari pemilik pesta? Itu ga sopan, tau. Lo mau keliatan lebih cantik dari tuan rumah??" Tukas seseorang di belakang Vita.
Shitt. Benar kan, aku mulai dipermalukan.
"Oh, ya?" Aku memandang dressku. "Aku pikir malah dressku ini ga ada apa-apanya dibanding milik Vita. Ternyata..." aku menggantungkan kalimat. Wajahku berubah melas. "Sorry ya, Vit."
Dan raut wajah Vita berubah. Sebenarnya gue ga berniat mempermalukan elo, Vit. Tapi daripada gue yang malu. Hehe. Dengan mengatakan itu, artinya yang gue pakai lebih bagus dari pada lo, kan.
"Kita cari tempat dulu, yuk." Ajak Kai menggandeng tanganku. Mungkin dia tak mau suasana menjadi panas.
Setelah cukup berjarak, aku melepaskan napas. Hah. Gilee. Untung aja aku tau harus jawab apa.
"Boleh juga lo, Pabo." Kai meraih satu gelas minuman yang dibawa pelayan dengan nampan. Aku juga mengambil satu.
"Gue emang kayak dijadiin target ya, Kai. Masa gue diundang tapi ga dikasih undangannya?"
"Lupa kali, dia."
"Ngga tau, deh. Untung ada elo."
Ternyata Karin emang bener-bener paham siapa Vita. Sampe aku sendiri takjub dengan semua ucapan Karin yang 100 persen tepat.
TING TING TING
Acara dimulai. Vita mendentingkan gelas hingga semua pandangan kini tertuju padanya.
"Hai, everyone. Thank you so much udah dateng ke acara kecil yang gue adain. Emm, gue ga akan banyak-banyak kasih kata sambutan. Yang jelas, gue seneng banget kalian mau ngeluangin waktu buat gue. Dan for the first time acara ini bakalan diisi seorang yang spesial bagi gue, buat nyanyi di hadapan kita semua."
Beberapa orang mulai berbisik mempertanyakan siapa orang spesial bagi Vita itu.
"Dan, dia adalah Arsya Alexander!" Vita mengarahkan kedua tangannya pada Arsya yang hanya diam terlebih orang-orang bertepuk tangan ke arahnya.
"Pada tau nggak, Arsya ini anak dari mantan penyanyi senior Arga Alexander yang lagunya masih didengarkan anak muda zaman sekarang, lho." Jelas Vita pada mereka yang mungkin belum tahu.
Sorak dan tepuk tangan tambah meriah setelah mendengar itu. Beberapa mulai mendorong Arsya dengan teriakan saat lelaki itu masih diam di tempatnya.
"Arsya-Arsya-Arsya-Arsya." Sorak mereka ramai-ramai. Dan kembali bertepuk tangan saat Arsya mengambil gitar dan duduk di tempat yang telah tersedia.
Dia tampak menarik napas, lalu memangku gitar. Ia tarik mic yang menggantung supaya lebih dekat ke bibirnya. Dan Arsya, mulai memetik gitar dengan alunan yang syahdu. Ini lagu Papa, yang dipersembahkan buat bunda. Malam ini, Arsya menyanyikannya di depan Vita.
🎶Selama ini aku tenggelam seperti batu
Kucoba menutup mata dan telinga di singgasanaku
Aku kehilangan jalan pulang, tapi justru kau datang🎶
Suara kamu emang seenak itu. Aku bahkan sampai ga kedip kearahmu, Sya.
🎶Bisakah mata ini terus bertatap untuk waktu yang lama.
Bisakah setiap hari kita berpegangan tangan.
Bisakah aku tetap memilikimu walau dunia ini menentang kita.🎶
Kenapa liatin aku, Sya? Kenapa bola mata kamu terus mengarah ke aku?
Waktu itu aku minta kamu buat nyanyi. Tapi kamu nolak, Sya. Sekarang kamu disana karena permintaan Vita dan kamu mau, bahkan nyanyi di depan orang banyak. Bukannya kamu ga suka itu? Memang beda. Aku dan Vita beda, aku tau kalo kita cuma temenan. Sedangkan Vita...
__ADS_1
🎶Karena aku ingin tetap disampingmu, walau dunia ini bergetar sekalipun, aku akan baik-baik saja asal bersamamu.
Kenapa kau tidak tinggal disini (hatiku) saja?🎶
Tapi kenapa rasanya sesedih ini? Sedih saat tahu kalau semua yang kamu lakukan ke aku seperti sebuah paksaan yang ternyata membuatmu jenuh, lalu dengan senang hati kamu lakukan banyak hal pada cewek yang kamu suka.
Kenapa aku selalu kaya gini, Sya. Bukankah sebagai sahabat seharusnya aku dukung dan senang atas semua perubahan dan kebahagiaanmu?
🎶Kenapa kau tidak tinggal disini (hatiku) saja?🎶
Arsya selesai bernyanyi. Tepuk tangan meriah terdengar setelah petikan gitar berhenti.
Vita pula berhambur dan memeluk Arsya. Senyum keduanya terpancar dan tampak bahagia.
Yah, bagus deh. Kalo Vita ga ada, Arsya pasti ngerusuhin aku terus. Iya, kan?
Huff. Aku berbalik badan dan kaget saat ternyata kak Juna berdiri di depanku.
"Ariva."
Dia berlutut.
E-eh?? Mataku terbelalak terlebih semua orang kini menatap kami.
KAK JUNAA BANGKIT! JANGAN BERLUTUT GITU DONG, SINTING.
Mataku membulat memintanya berdiri, tapi sial kak Juna ngga peka sama sekali. Dia malah ngeluarin sebucket bunga yang dia simpan di belakang badannya sejak tadi.
"Vaa."
Aduh. Sialll. Ini nggak bagian dari rencana Vita, kan??
"I'm so sorry."
Wajah kak Juna berubah sendu. Kali pertama aku liat dia kaya gini. Padahal kemaren-kemaren masih sedih biasa. Kali ini kenapa luar biasa.
Hening. Semua mata memandang kami. Ada pula yang berbisik. Aku tau walau mataku terkunci pada kak Juna di bawah, aku bisa ngeliat dari ekor mataku.
"Maafin aku, Va. Please, give me a second chance. Sekali lagi, kasih aku kesempatan, Va. Aku janji ga bakal kecewain kamu lagi."
Sekitar mulai berbisik. Terlihat pula Vita yang bertepuk tangan riang tanpa suara. Diam-diam aku melirik mereka yang masih saling berpelukan.
"Kamu pernah bilang kan, kalo kamu sayang sama aku. Dan kamu percaya kalo aku beneran sayang sama kamu."
"Terima, terima, terima."
Suara yang awalnya kudengar hanya milik Hani, menjadi ramai dukungan orang-orang sekitar.
Kak Juna masih berlutut. Kulirik Kai dan Hajoon, mereka diam menatapku. Arsya juga masih dengan ekspresi datarnya menatapku. Vita, dia tersenyum senang sambil berbisik 'terima' padaku.
Yah, kuakui aku memang sempat merasa senang waktu kak Juna lebih memilih aku. Kupikir, dua hari ga chat aku lagi, dia menyerah. Ternyata enggak.
"Va, please..."
Kak Juna, bener-bener deh. Dia pasti tau aku ga mungkin tega nolak dia kalo di tempat kaya gini.
Dan akhirnya, aku mengangguk, lalu menerima bucket bunga kak Juna. Dia tersenyum dan berdiri memelukku. Sorak sorai memecahkan suasana yAng sempat tegang, dan kembali menjadi ceria.
"Thank you, Va." Bisiknya padaku.
~
Setelah kejadian tadi, aku jadi malu walau orang-orang juga udah ga peduli soal aku. Cara kak Juna sebenarnya norak. Tapi gimana pun, aku emang udah ga marah lagi dan ga mempermasalahkan yang lalu. Toh, sekarang dia milih aku.
"Sayang, mau makanan apa? Biar aku ambilin." Tanya kak Juna.
__ADS_1
Aku menatap air kolam yang berwarna biru. Entah kenapa hari ini perasaanku ga tenang.
"Aku kenyang." Jawabku bohong. Gimana bisa aku makan di saat suasana hati berantakan begini.
Eh? Tiba-tiba kak Juna menggenggam tanganku yang terasa dingin.
"Kamu ga apapa, Ariva?"
Yah, setidaknya genggaman ini terasa lebih baik. Aku tersenyum padanya, lalu mengangguk. "Ngga apapa, kak."
"Jun, boleh ngomong bentar?"
Pandangan kami berdua beralih pada seorang laki-laki yang sudah berdiri dekat kak Juna.
"Oh, oke, Van." Kak Juna kini menatapku. "Bentar ya, Va."
Aku mengangguk. Lama juga ga apapa. Karena aku mau pergi aja dari sini. Kulihat Kai mengobrol bersama temannya yang aku ga kenal. Hajoon juga dengan kelompoknya sendiri. Vita dan Arsya, yah, mereka terus bersama.
Padahal disini rame, ada kak Juna juga, tapi kenapa rasanya sepi, ya.
"Hai, Va."
Aku menoleh ke belakang. Ternyata Hani yang datang.
Gadis itu berdiri di sisiku. Kami sama-sama menatap ke depan, hening tanpa ada pembicaraan tercipta.
Aku juga enggan memulai. Hani bukan lagi seperti yang kukenal dulu. Dia telah berhasil masuk di kelompok Vita, dan aku entah kenapa membenci itu.
"Gimana rasanya, Va."
"Hng?"
"Gimana rasanya dicintai kak Juna."
Eh?
"Emm, gimana ya. Yaa gitu, deh." Kenapa jadi nanyain hal itu, sih. Perasaan sekarang kita udah ga pernah ngobrol santai kaya gini, kan. Weird.
"Gue iri, deh. Lo kelas satu bisa buat kak Juna suka sama lo. Kelas dua, bisa deket dan akrab banget sama Kai. Gue rasa, Kai suka sama lo, Va."
"Hei, kita temenan tau. Kesalah pahaman waktu itu yang buat kita makin akrab." Sahutku pada Hani. Aku ga mau dia salah paham karena sejak kelas satu, dia suka pada Kai.
"Gitu, ya. Gue liatnya beda. Dari cara dia natap lo-"
"Stop, Han. Jangan buat gue mikir beda ke Kai. Kita tuh, temenan. Gue juga sekarang udah balikan sama kak Juna, kan."
"Hehe. Iya, sih. Sorry, ya." Ucapnya kemudian. "By the way, gaun lo bagus banget, Va. Gue ga ngira kalo disini cuma baju gue yang keliatan murahnya. Lupa gue kalo lo juga banyak duit walau anak panti."
Maksud lo baju gue juga bakalan jelek, gitu? Wah, parah nih.
Untung aja aku nurut ke Karin soal baju. Aku beneran ga nyaman lagi sama Hani. Beda banget, Hani yang sekarang kayak aneh gitu. Mending aku kabur, deh.
"Emm, Han. Gue kesana dulu, ya."
Hani mengangguk, "Gue juga mau kesana." Katanya, lalu berjalan ke arah belakangku. Namun tiba-tiba Hani seperti mendorongku dari belakang sampai akhirnya..
BYUR!!
"Astaga, Vaa!!"
Semua mata menatap pada kolam renang yang beriak. Bukan kolam yang menjadi pusatnya. Tapi aku yang baru saja terlempar ke dalam kolam. Dan detik itu juga rasanya aku ingin menghilang...
TBC
** Yang belom kasih VOTE mana suaranya?? Vote dong biar nambah imun si Pen. Terima Kasih dukungan kalian semua. Salam, Vita. Muach! **
__ADS_1
(Visual Vita at the party)