HIGH SCHOOL RELATION-SHIT!

HIGH SCHOOL RELATION-SHIT!
Love-Ship 103


__ADS_3

Arsya menghanduki rambutnya yang basah. Baru selesai mandi, dia kembali duduk di meja belajar dengan macbook yang masih menyala.


"Lama, ya?" Tanya Arsya pada cewek di seberang.


'Engga, kok.' Niatnya ingin melihat sekilas, karena ia sibuk dengan tugas akhir. Tapi penampakan diseberang membuatnya terpaku.


Rambut basah itu disisir kebelakang dengan jari. Kaos kutung yang memperlihatkan lekukan bahu nan bidang. Kacamata belajar pula tertengger di batang hidung mancung lelaki kecintaan. Sungguh, ini pemandangan surgawi.


Sebenarnya, semua ini sudah sering sekali Ari lihat. Namun belakangan dia terpana, merasa Arsya terlalu sempurna untuk hidupnya. Padahal dulu dia bahkan tak memandang Arsya seperti ini. Apakah memang ini yang dirasakan cewek-cewek itu kalau melihat Arsya? Ari mengangguk-angguk kecil, sebab kini ia mengerti.


'Malam ini ga pergi?' Tanya Ari.


Arsya meraih ponsel. Dia mulai masuk ke dalam dunia game. "Enggak." Jawabnya tanpa melihat Ari.


'Kenapa? Bukannya tadi diajak pergi?'


"Ntar ada yang ngambek, lagi." Arsya melirik dari balik cermin mata, dengan senyuman, ia kembali fokus pada game-nya.


Setelah mengatakan itu, tidak ada respon dari seberang. Membuat Arsya menaikkan kepala. Dilihatnya Ari diam melamun dengan tangan yang masih memegang pulpen.


"Hei. Kok bengong?" Tegur Arsya.


Ari meliriknya, lalu wajah itu berubah serius. 'Sya..'


"Hm?"


'Apa.. gue terlalu mengatur waktu lo, ya?'


Arsya menyadari sekarang percakapan mode serius. Dia menyimpan ponsel dan mendekatkan macbook kepadanya, seolah tengah menggeser duduk Ari supaya lebih dekat.


"Kenapa? Lo mulai Ovt lagi."


'Ngga gitu. Kayanya beberapa bulan ini lo terus telepon dan chat gue tanpa henti. Emang lo ga bosan?'


Arsya menyangga dagu dengan sebelah tangan. "Emang gue keliatan lagi bosan?"


'Gue.. cuma takut. Kalo lo capek sama gue. Bosan, atau apa gitu yang buat lo jenuh dan ga mau lagi ngubungi gue.'


Kerutan di dahi Arsya muncul. Ari sedang dalam keadaan overthinking.


"Selama ini kan, gue yang duluan ngubungin lo. Kok bisa-bisanya mikir gue bosan." Sahut Arsya dengan tenang. "Coba gue tanya dulu. Apa lo nilai gue selama ini sebagai orang yang gampang bosan dengan sesuatu?"


Ari menggeleng pelan, 'Engga..'


"Lo tau kan, kemeja gue yang warna coklat hitam. Itu gue pake dari SMP kelas 2. Itu juga karena mama yang buang, kalo ga pasti masih terus gue pake sampe kelas 1 kemaren. Lo tau kan, gue bukan tipe cowok bosenan yang kaya lo bilang?"


Ari menunduk, merasa bersalah udah berpikir begitu soal Arsya.


"Gue sayang banget sama lo, Ri. Gue bahkan udah mikirin gimana caranya ngeyakinin lo untuk gue bawa ke pelaminan nanti."


Ari membeku. Rasanya ingin meleleh kayak butiran salju yang sekarang lagi nempel di kaca jendela kamarnya tersiram cahaya sore. Arsya beneran seserius itu...

__ADS_1


"Stop berpikir negatif, Ri. Gue ga pernah, sama sekali gak mau melirik cewek lain. Nih, gue jelasin." Arsya merubah posisi duduk ke yang lebih nyaman untuknya.


"Yang tadi, cewek yang pegang gue dan lo ga suka itu, namanya Priska. Dia emang deket sama semua cowok di kelas, dan orangnya emang gitu ke semua orang. Tapi biasanya dia ga pernah dapet kalo nyentuh gue. Tadi emang gue lagi apes aja. Keliatan pula sama pujaan hati. Ngambek, untung Lili pesanan gue datang di waktu yang tepat. Nyelamatin gue banget. Ntar gue kirim bonus deh, buat kak Jay." Jelas Arsya panjang lebar, dan membuat pipi Ari memerah malu.


Gadis itu menunduk, tak bisa menahan senyum karena ucapan manis Arsya. Pujaan hati, katanya. Lagi-lagi dia dibuat melayang oleh lelaki itu.


Arsya selalu suka melihat senyum malu-malu Ari. Untungnya semua ucapan yang keluar dari mulutnya bukan sebuah karangan. Namun murni dari hati, tulus, hingga kebahagiaan yang Ari dapatkan akan tergores dalam memori indahnya.


Dia meraih ponselnya lagi untuk melanjutkan permainan.


'Maaf ya, Sya. Gue pasti buat lo capek.'


"Jangan mulai." Sahut Arsya tanpa beralih dari ponsel.


'Gue serius, kok. Nanti kalo lo mau main sama temen-temen, lo ga perlu pikirin gue. Yang penting kabarin gue aja dan hubungin kalo lo udah selesai. Karena dunia lo bukan cuma gue. Lo juga perlu bersosialisasi diluar sana, kan.'


Arsya tersenyum. "Makasih ya, sayang."


SAYANG?!


Jantung Ari berpacu cepat sekali, sampai Ari bergumam dalam hati. Gilaaa baru pertama kali loh, Arsya memanggil dengan kata sayang. Dia ga nyadar udah buat jantung orang ketar ketir sementara dia malah sibuk main game??


'Sya..'


"Hm.." Jawabnya tanpa menoleh.


'Lo.. ga mau nanya lagi soal.. hubungan ini..'


'Eng.. gue kan, belum jawab..'


"Enggalah. Gue ga mau buat lo terbebani soal itu. Gue tau trauma lo sama yang namanya ikatan. Gue tinggal buktiin kalo apa yang menjadi ketakutan lo itu ga akan terjadi selama gue yang jadi raja di hati lo." Alisnya naik turun dengan senyum miring. Lalu kembali fokus pada game di ponsel.


Sombong banget, TAPI GUE SUKAA!. Batin Ari. Hah. Padahal dia pengen bilang IYAAA GUE MAU JADI PACAR LO supaya terhitung hari jadian. Kalo gini kapan anniversary-nya?


Suara pintu diketuk terdengar. Arsya menoleh ke pintunya.


"Syaa, ini kita. Bukain, dong."


'Siapa, Sya?' Tanya Ari.


"Ngga tau. Kayaknya sih, Zaki." Arsya bergerak menuju pintu dan membukanya.


Dan benar, Zaki, Danu, dan juga.. Priska.


Arsya melihat macbooknya yang masih menyala. Ada Priska, semoga aja Ari ngerti. Untungnya ada Danu dan Zaki.


"Heh, lo kok ga pergi?" Zaki nyelonong masuk begitu saja.


"Kemana?"


"Yeee. Gimana, sih. Priska kan, udah bilang." Sahut Danu.

__ADS_1


"Eh, Ariii!" Terika Zaki, lalu duduk di meja belajar Arsya, melambaikan tangan pada Ari yang tersenyum melihat kedatangan dua orang itu di kamar Arsya.


"Buru ganti, gih. Jangan di kamar mulu lo!"


"Tau nih, padahal udah gue bilang tadi."


Ari diam mendengar suara perempuan menyahuti di sana.


"Ri, apa kabar? Sombong banget sekarang. Mentang-mentang di Rusia jadi lupa yang di Indonesia."


'Baik. Lo gimana?' Tanya Ari balik, sambil melihat pergerakan Arsya di belakang Danu dan Zaki yang kini menguasai kursi.


"Baik. Enak gak, disana? Enakan mana sama disini?" Tanya Zaki lagi.


"Enakan disana, lah! Masa lo nanya lagi." Sahut Danu.


"Ya, kali aja, Enakan disini. Ya kan, Ri? Apalagi makanan Indo itu, beuh.. ngga ada imbangnya."


Danu dan Zaki saling ribut, sementara Ari terus memperhatikan Priska berdiri melihat-lihat isi kamar Arsya.


"Eh, Ri. Kita gerak dulu, ya."


Ari mengangguk. Dia masih menunggu Arsya muncul, tapi lelaki itu entah kemana.


"Hai. Ariva, ya?"


Gadis yang tadi, kan? Ari berusaha senyum. 'Iya. Lo siapa?'


"Oh, gue Priska. Gue denger lo dulu sekolah di Garuda juga. Sayang ya, kita ga ketemu."


Ari menghela napas. Kayaknya dia harus balik dan memperjelas status pada Arsya supaya makhluk sejenis gulma itu tahu posisinya.


Ari tak memberi tanggapan, sampai ia melihat Arsya muncul dengan sudah berganti baju.


Priska bergeser, ikut keluar bersama yang lain. Arsya kembali duduk dengan rambut yang sudah ia ikat kebelakang.


"Gue keluar dulu, ya. Lo cepat kerjain tugasnya, nanti kalo udah pulang gue telepon lagi. Ya?"


"Syaa cepetan!"


'Iya. Gue besok bal-'


"Aku tutup, ya. Love you.."


Sambungan terputus, membuat Ari menghela napas kesal. Padahal dia mau bilang, kalo besok dia balik setelah mengumpulkan tugas akhir!


Tadinya sih, Ari udah berhasil melawan ego supaya Arsya bisa tetap bebas tanpa menghubunginya terus menerus. Tapi melihat ada gulma, Ari jadi kesal dan juga.. cemburu.


Gimana kalo Priska-Priska itu terus nempel dan Arsya jadi suka??


Nggak-nggak-nggak. Ari bertekat untuk pulang besok biar bisa kangen-kangenan sama Arsya. Yeay!

__ADS_1


__ADS_2