
Gara-gara kemarin malam, aku jadi sulit tidur. Mana yang jadi korban pules banget tidurnya kayak ga kejadian apa-apa.
Cara aku kasih tau ini ke Ari gimana, ya. Emang sejak kapan sih, aku ikut campur urusan orang lain? Ck. Sial.
"Lo kenapa sih, dari tadi melamun mulu. Nggak war, nih?" Tanya Zaki di bawah anak tangga terakhir.
"Lo berantem sama Vita, ya?" Tanya Danu pula.
Eh, iya. Aku sampe lupa bales pesan Vita. Pasti bakalan marah-marah ni anak kalo ketemu.
"Eh, Sya. Ari, tuh."
Aku menoleh ke samping, dimana Ari berjalan dalam kebingungan saat anak-anak lain menatapnya sambil berbisik dan tertawa melihat punggungnya. Pasti ada sesuatu.
Danu berdiri dan menghalangi jalan Ari yang mau melewati kami.
"Apa?" Tanya Ari pada Danu.
Aku bangkit dan berjalan memutari tubuh Ari. Ku dapati kertas yang lengket di punggungnya.
"Hah" Ari bengong saat aku menarik sesuatu dan membaca kertas itu.
Dia langsung menganga melihat sebuah kertas dengan tulisan 'aku pabo (bodoh)' terlihat besar disana.
Wajahnya berubah berang dengan tangan mengepal. Emang ini kerjaan siapa?
"Kerjaan siapa, nih?" Tanya Zaki, membentangkan kertas itu.
Ari merampas kertas itu dan meremasnya. "Kai. Siapa lagi!"
Kai? Jadi permasalahan mereka belum kelar? Apa anak itu masih kesal gara-gara futsal waktu itu?
"Aduh. Gue ke toilet dulu."
Ari memasukkan kertas itu ke kantong rok dan berlari masuk ke dalam toilet.
"Ari sama Kai musuhan?" Tanya Danu.
"Soal futsal itu, kali. Kan, SMA sebelah sampe adu jotos sama tu anak." Jawab Zaki.
"Ditambah lagi, gue denger Kai dan Ari malah sebangku."
Mendengar percakapan Zaki dan Danu membuatku tahu, kalau Ari pasti ga nyaman selama di sekolah. Tapi kok dia ga bilang apa-apa soal itu, ya? Yang di otaknya itu malah Juna Juna Juna sialan itu.
Ari keluar dari toilet dengan berjalan cepat. Dia kelihatan berang sambil meremas kertas tadi.
Kayaknya dia mau ngelabrak Kai. Akupun mengikutinya dari belakang.
BRUK! Ari menggebrak meja dengan mata tajam kepada Kai yang tengah duduk di meja kantin. Dia terkaget dan beberapa temannya juga memperhatikan Ari.
"Maksud lo apa, hah?"
Kai melirik kertas yang ia lemparkan ke atas meja. Lalu Kai, malah ketawa melihat gumpalan kertas itu.
"Gue cuma bercanda. Gue berusaha ngasih tau semua orang kalo lo-"
"Kalo gue bego, gitu??" Ari benar-benar berang. "Emang lo ngerasa pinter banget, ya. Lo ngerasa dewa disini? Trus lo pikir lucu sampe ngekunci gue di toilet, hah?"
Alis Kai bertaut. "Ngunci lo di toilet?"
Aku yang mendengar itu mencoba tenang saat rasa amarahku pun ikut memuncak. Jadi, selama ini Ari dikerjain?
Aku menuju arah dimana Ari biasanya lewat. Menunggunya di dalam UKS yang kosong.
Tak menunggu lama, Ari pun lewat. Langkahnya lebar dan wajahnya masih menunjukkan rasa kesal.
Aku menariknya saat ia dekat dan langsung mendekap mulutnya. Detik itu juga kulihat Ari sudah mengangkat tangan, hendak memukulku.
"Arsya? Hah." Dia menghela napas setelah melihat siapa yang menariknya masuk.
Aku memegan kedua bahu Ari. "Kalo lo mau, gue bisa minta pindah dari IPA1 ke IPA2 dan sebangku sama lo."
"Ngga perlu, Sya. Gue bisa kok, ngadepin ini. Makasih, ya. Gue juga sebenarnya pengen banget sebangku sama lo biar bisa nyontek terus. Tapi kalo gue ngehindar, Kai bakalan merasa menang karena berhasil ngusir gue dari bangku itu."
Lo yakin bisa, Ri? Gue malah khawatir sama diri gue sendiri yang ga bisa nahan kalo ada orang yang berani nyakitin lo.
"Gue yakin, gue bisa ngelewatin satu tahun duduk dengan Kai walau berperang setiap hari pun!" Sambungnya lagi saat aku hanya diam menatapnya.
"Oke." Aku melepaskan bahunya. Lalu dia melihat ke dalam ruang UKS.
__ADS_1
"Keluar gih. Ntar dikira kita ngapa-ngapain lagi. Hiyyy." Katanya sambil mengedikkan bahu, lalu keluar dari ruangan itu.
Apaan, sih. Lebay banget.
Tapi tadi Ari pake parfum, ya? Kok tumben. Mana baunya sensual banget. Ngga mikir-mikit tuh anak sebelum beli. Biasanya juga pake Vanilla Cake, kenapa jadi sok dewasa gitu, sih.
Hidungku jadi gatel.
"Ariva dikunci?"
Aku menahan tangan yang hampir memutar handel pintu saat ku dengar suara dari baliknya.
"Iya, kak. Trus ga ada orang di toilet. Mana di depannya ditulis toilet rusak, gitu. Kasian, lama banget dia disana. Untung aja ada yang bukain."
Suara Hani.
Aku mengintip dari balik tirai pintu dan memang ada Juna dan Hani mengobrol di depan.
"Kayaknya kakak harus liat Ariva, deh. Kasian dia." Kata Hani sambil memegang tangan Juna.
"Kamu baik banget, sih. Beruntung Ariva punya sahabat kaya kamu." Juna malah menggenggam tangan Hani.
"Aku lakuin ini karena sayang, kak. Kakak juga baik banget. Aku senang kakak mau nerima Ariva. Kakak kan tau, dia.. anak panti. Yah, walaupun dia belum cerita ke kakak. Dia pasti malu."
"Benar. Kalau gitu, aku susul dia dulu, ya."
Juna pergi, sementara si Hani itu masih diam disana.
Ari, temen-temen lo toxic. Kayanya emang gue ga bisa diem aja. Gue ga suka lo diperlakukan kaya gini. Semoga aja lo percaya sama ucapan gue.
...🍭...
Nggak bisa. Ternyata aku ga tau harus gimana membuka pembicaraan soal Juna. Emang sejak kapan sih aku ikut campur urusan orang lain?
Tapi Ari bukan orang lain, kan. Dia sahabatku. Wajar kalau aku khawatirin dia. Masalahnya, Ari ini keras kepala bangett! Kalo ga ada bukti, dia ga akan mau dengerin aku.
Ck!
Terdengar decakan Ari. Dia memiringkan duduk menghadapku.
"Lo kenapa? Ada masalah sama Vita?" Tanya Ari akhirnya saat kami malah diam di atas genteng bermenit-menit lamanya.
"Terus apa? Kuota abis? Atau wifi ga nyala makanya lo ngga bisa main game?"
Aku menggeleng lagi. Kenapa aku jadi keliatan bodoh gini, sih.
Ari menghela napas kasar. "Aduh, Sya. Gue gak bisa baca pikiran lo-"
"Ini soal lo."
Bibirnya menganga heran. Dia menunjuk dirinya sendiri.
"Gue bakalan pindah ke IPA2 kalo lo mau. Gue bisa atur supaya duduk sama lo."
Ari memasang wajah bingung, lalu menggaruk kepala.
"Engga usah, gue ga apapa. Kai juga tadi gak berani lagi ngerjain gue. Mungkin dia ngira selama ini gue ga bisa ngelawan. Jadi, lo ga usah khawatirin gue. Selama ini gue cukup bisa kok, nyelesein masalah gue sendiri."
Aku mengangguk. Udah dewasa ya, lo. Kok gue ga suka lo gede. Jadi gak ngerasa kayak abang-abang dong, gue.
Tapi, bukan itu aja. Oke, coba aja ngomong. Soal dia denger atau nggak urusan belakang.
"Ri, lo.. bisa nggak, putus sama Juna?"
"HAH?" Badannya tegak seketika. Kaget, udah pasti.
Detik itu juga, ponsel Ari bergetar. Aku melihat nama di layar ponselnya. Juna, dia yang menelepon.
Ari menutup ponsel dan membiarkannya bergetar, lalu mencondongkan badannya ke arahku.
"Sya, gue emang lagi marahan sama kak Juna. Gue juga ga tau lo ada masalah apa sama dia, tapi bukan berarti gue mau putus. Lo tau kan, gimana perasaan sayang gue ke kak Juna? Lo tau kan, gimana selama ini gue adore kak Juna?"
Aku membuang wajah. Benar kan, keras kepala.
"Lagian lo kenapa, nyuruh gue putus sama kak Juna? Lo punya alasan?"
"Dia gak baik buat lo."
Lagian lo ga bisa nurut aja apa kata gue, hah? Ini demi kebaikan lo tau.
__ADS_1
Ari malah ketawa.
"Lo gak inget, dulu gue pernah bilang kalo Vita gak baik trus lo marah sama gue? Ya, kan? Trus sekarang lo bilang kalo kak Juna gak baik, emang alesannya apa?" Tanya Ari masih dengan sisa tawa di wajahnya.
"Tapi gue serius soal Juna. Lo harus tau kalo dia bukan cowo baik-baik." Nyesel aku ga gerak cepat buat ngefoto Juna disana sama cewek yang aku juga ga tau siapa.
Seketika wajah Ari berubah dan kini menatap tak suka padaku.
"Lo tau dari mana kalo dia baik atau gak buat gue? Selama ini dia yang buat gue nyaman, dan gue juga seneng diperlakukan penuh cinta."
Juna, pinter banget lo nanem kepercayaan di hati Ari. Sampe gue yang sahabatnya dari kecil aja ga dipercayainya.
"Denger ya, Sya. Hp kak Juna sering banget gue pegang. Kata sandi dan semua isinya gue hapal. Dia juga banyak ngabisin waktu buat gue. Dan kayak yang lo bilang dulu, kalo gue ga bisa percaya sama omongan yang ga ada buktinya. Termasuk omongan lo. Toh, gue juga gak pernah liat lo ngobrol bareng kak Juna, kan?"
Setelah mengatakan itu, Ari beranjak pergi. Aku ga ngehalangi dia. Biarkan aja, karena orang yang jatuh cinta sulit diberi tahu.
Kalau Juna sepinter itu ngadepin Ari, artinya foto bukti juga ga guna. Bisa aja dia ngelak dan bilang kalo itu sepupunya, ponakannya, cucunya.
Ck! Lo emang bodoh sih, Ri. Dari dulu sampe sekarang. Lo selalu nilai semua orang di dunia ini baik! Cuma ortu lo yang gak baik. Dan emang selama ini orang-orang di lingkungan lo baik-baik karena mama yang nge-filter tanpa sepengetahuan lo.
Arghh. Jadi berantem sama Ari!
Lama aku duduk merenung di atas genteng. Ponselku terus bergetar dan nama Vita terpampang disana. Lagi ga mood, Vit. Sorry.
Aku turun dan masuk ke kamar. Aku melihat Ari nampaknya ketiduran di meja belajarnya.
Aku melompat ke jendela Ari, kulihat matanya terpejam.
Sampe tidur di meja. Apa aku bangunin aja, suruh pindah ke ranjang?
Ah, ga usahlah. Yang ada dia malah sebel liat aku disini.
Saat ingin mengangkat Ari, aku melihat kotak hitam di atas mejanya. Ada pita kecil disana. Apa ya, ini.
Aku mengambilnya dan membuka isinya.
Jam tangan? Ini lumayan mahal.
Entah kenapa aku jadi merasa sedih, kesal, marah saat melihat perjuangan Ari pada Juna. Memberi kado mahal buat cowok brengsek? Gue kesel, Ri. Gue ga suka. Sumpah!
Hah.
Akupun menutup kotak itu dan menggendong Ari untuk pindah ke tempat tidur.
Ari membalikkan badan membelakangiku saat kurebahkan di atas ranjang. Ngantuk banget, ya.
Aku menyelimutinya, lalu duduk di tepi ranjang dan mulai merapikan rambut yang menutupi wajah Ari.
Lo tau nggak, lo itu cantik banget kalo tidur. Gue suka ke sini kalo sulit tidur cuma buat liat lo yang nyenyak.
Kenapa sih, lo kalo tidur cakep, tapi kalo bangun kayak orang bego. Beda banget.
Huff. Aku menghela napas. Lalu berdiri dan memadamkan lampu kamarnya.
Have a nice dream, Ari. Semoga lo terus bahagia, dan cepat sadar kalo Juna cowok yang brengsek! Trus lo sadar kalo ucapan gue bener.
Setelah memastikan Ari tidur dengan baik, aku keluar dari jendela, melangkah lebar ke kamarku. Ku tutup jendela dan menghela napas panjang.
"Dari mana?"
Astaga! Aku terkejut saat kulihat papa duduk di ranjangku.
"Kebiasaan!"
Aku menunduk bersalah. Walau ingin juga protes, udah kubilang jangan masuk sembarangan ke kamarku. Ketok dulu, kek!
Papa berdiri dan mendekatiku. "Jangan bilang kalo kamu beneran suka sama Ari!"
"Enggak!" Jawabku cepat.
"Apa harus pergi dulu orangnya baru kamu bisa ngerasainnya?"
"Aku bukan papa." Jawabku, lalu duduk di meja belajar. "Lagian aku anggep Ari itu udah kaya adek sendiri. Udah saling klop sebagai sahabat juga."
Papa diam beberapa saat, lalu melangkah menuju pintu."Mungkin minggu depan om Tama datang buat deketin Ari dan ngajak dia tinggal di Rusia. Pesan papa, jangan sampe menyesal."
Setelah itu, papa menutup pintu. Aku termangu. Ari.. serius mau pergi?
Ah, kenapa mendadak ga tenang gini..
__ADS_1