HIGH SCHOOL RELATION-SHIT!

HIGH SCHOOL RELATION-SHIT!
Hari-hari Berat 83


__ADS_3

Aku berlari menuruni tangga dengan cepat. Tapi rasanya tangga begitu panjang hingga terasa lama. Langkahku lebar menerobos orang-orang yang kini fokus pada Ari.


Kai. Dia membuatku terhenti saat ia masuk dan berjalan di dalam air yang tingginya di bawah dada. Dia berjalan tenang sembari melepas jas dari tubuhnya dan menyembentangkan di punggung Ari yang terbuka.


Padahal aku ingin membantu. Tetapi ternyata ada yang lebih cepat dariku, dan sungguh, aku merasa gagal.


Kai merangkul Ari berjalan keluar kolam, entah percakapan apa disana dengan Juna, hingga Kai membawa Ari keluar dari lokasi.


Aku khawatir. Tapi harus menyelesaikan yang satu ini dulu.


Aku mengarahkan mata ke tempat dimana Hani berdiri, tapi sudah kosong. Dia menghilang. Dia pasti kabur karena tahu aku akan menghabisinya.


"Sya.." Vita muncul dan menahan lenganku saat aku hendak mengikuti Ari.


"Ariva ga apapa, kan? Aku khawatir soalnya tiba-tiba jatuh."


Aku melepaskan tangan Vita, dan berlalu begitu saja.


Pertama, aku akan cari dulu Hani, untuk menghukum anak itu.


...🍭...


Aku buru-buru naik ke kamar saat mendengar dari mama bahwa Ari dan ayahnya akan bertemu untuk membahas permasalahan mereka. Aku tau ini baik buat Ari tapi aku ga mau dia pergi.


Aku menggeser jendela, tapi kulihat kamar Ari hening dan lampu kamarnya mati. Dia belum pulang. Dia pasti terpukul karena acara tadi.


Hah. Sial. Sejak tadi aku mencari Hani kemana-mana, tapi tidak ketemu. Bahkan aku mengetuk pintu rumahnya. Tetapi orang tuanya bilang, dia belum kembali. Kemana anak itu? Dia pasti sadar dengan apa yang telah ia perbuat sampai lari seperti itu.


Aku mengeraskan cengkraman pada besi balkon. Amarahku belum tersalurkan dengan baik saat tersangka tidak ditemukan. Yang kulakukan hanyalah menunggu Ari kembali.


Tak lama, aku melihat mobil berhenti di depan panti. Itu Ari, dan aku pun masuk ke kamar untuk menunggu dirinya.


Beberapa menit aku menunggu dibalik jendela Ari yang tertutup. Mendengar suara aktifitasnya, sampai terasa hening, aku meneleponnya.


Suara ponsel Ari terdengar, dia mengangkatnya.


"Gue ganggu lo, Ri?" Tanyaku dengan dada bergemuruh. Lucu rasanya bertanya saat biasanya aku langsung memerintahnya.


'Engga.'


"Bisa bicara bentar? Gue di samping."


Ari menggeser jendela, dia berdiri dengan ponsel yang masih di telinga. Wajahnya kusut, Ari tampak lelah.


"Gimana keadaan lo, Ri?"


"Baik."


Hening beberapa detik. Ari menutup panggilan di ponselnya.


Entah kenapa rasanya berbeda sekali. Setiap kali berhadapan seperti ini, jantungku rasanya mau melompat. Padahal aku yakin bulan lalu semua masih terasa normal. Sekarang, buat bicara pun harus kupikirkan agar tidak terhenti begitu saja.


"Sorry ya, acaranya rusak gara-gara gue. Vita pasti kecewa."


"Dia nanyain kabar lo." Jawabku asal. Ya, asal terus mengobrol.


Tapi Ari hanya diam saja, aku pikir dia pasti lelah.


"Istirahat, gih. Lo pasti capek. Sorry udah ganggu waktu lo." Sejujurnya aku belum mau obrolan ini berakhir. Tapi aku bingung, apa aku boleh temenin tidur, Ri?


Dia mengangguk lambat. "Oke."


Setelah mengatakan itu pun Ari belum menutup jendela. Seperti ingin menanyakan sesuatu padaku, tapi enggan ia tanyakan.


Hubungan kami terasa aneh. Aku, memiliki perasaan yang tak bisa digambarkan pada Ari. Sementara dia, pasti lelah karena aku telah banyak membuatnya kecewa.


"Maaf untuk waktu itu."


Tangannya yang hendak menutup jendela pun terhenti.


"Gue emang salah karena udah ngomong gitu soal lo. Tapi terus terang gue ga bermaksud nganggep lo beban buat gue. Sama sekali enggak. Lo, gue, udah dari kecil saling butuh. Lo tau itu, kan? Ucapan gue soal lulus sama-sama itu serius. Dan lo gak pernah sama sekali ngerepotin gue, Ri."


Please.. jangan pergi, Ri. Gue butuh lo. Sangat butuh.


"Apa egois kalo gue minta lo tetap disini? Terus terang sebenarnya gue.." Kalimatku menggantung. "Gue mau lo ngerepotin gue lagi." Aku kangen masa-masa kita saling bercanda.


Ari diam beberapa detik, lalu berujar. "Thanks, Sya. Gue tidur dulu. Good night."


Aku terdiam saat Ari menutup jendela dan tirai. Bukankah respon Ari terlalu dingin?


Gimana caranya supaya lo mau maafin gue, Ri. Gue takut lo pergi. Gue ga mau lo pergi...


...🍭...


Aku baru bangun tidur dan turun ke lantai satu untuk minum. Dengan sisa kantuk ku dengar suara bunda tertawa dengan seseorang.


"Ya ampun, lucu banget, Tan.."


"Iya, kan. Arsya dari kecil emang pinter.."


"Gemes..."


Aku mendengarkan percakapan itu. Mengikuti arah suara yang ada di taman samping. Mama dan Vita? Astaga, pagi-pagi begini sudah datang.


"Morning, Syaaa.." Sapa Vita yang duduk bersama mama. Beberapa album foto ada di atas meja.

__ADS_1


"Pagi, sayang. Sarapannya udah mama siapin di meja. Makan gih, ajak Vita." Mama menutup album dan membereskannya.


"Ngapain?" Tanyaku pada Vita. Aku lagi malas berurusan dengan ni anak. Capek.


"Emm.. " Vita melirik mama beberapa kali dengan wajah bingung dengan pertanyaanku.


"Mama sama papa mau keluar. Kalian mau titip apa?"


"Eng.. ga usah, tan." Jawab Vita.


Papa yang datang mengajak mama untuk segera pergi. Dengan mengedipkan mata padaku, aku paham maksudnya.


"Syaa.." Vita mendekat, ingin memelukku.


"Kamu ngapain?" Aku menahan bahunya agar tak terlalu dekat.


"Sya, kamu kenapa, sih. Kok mendadak berubah begini? Aku ada salah, ya? Apa aku buat kamu kesel atau apa?" Tanya Vita dalam kebingungan.


Hah. Emang dia ga punya salah besar, sih. Aku doang yang berubah perasaan.


"Vit. Kayanya kita ga bisa lanjut."


"Hah. Kok kamu gitu?"


"Sorry, tapi aku beneran ga bisa lanjutin."


Vita memelukku sampai aku kesulitan melepaskannya.


"Syaa.. jangan gitu, please. Aku akan belajar jadi cewek yang baik buat kamu. Kamu tinggal bilang aku harus gimana supaya kamu suka. Aku udah sayang banget sama kamu, Sya."


"Aduh, Vit. Jangan gini." Vita menguatkan pelukannya.


"Kasih aku kesempatan. Aku ga mau kamu jauhin aku..."


Hah. Aku pikir bisa langsung lepas setelah mengatakan itu. Ternyata ada drama lagi.


"Sya, please.. Sekaliii aja. Please... kasih tau ke aku apa yang buat kamu begini.."


"Vita.."


"Kenapa, sihh. Kamu berubah, deh."


"Ga ada yang berubah. Aku ga bisa lanjutin ini. Aku-"


"Aku sedih. Ternyata selama ini kamu mainin aku." Katanya dalam pelukan. "Kamu ga suka karena aku paksa ke rumah? Iya? Aku kan, cuma mau liat keseriusan kamu..."


"Iya. Tapi-"


Ucapanku terhenti saat kulihat Ari berdiri di bawah tangga. Dia tampak kaget dan langsung pergi tanpa mendengarkan panggilanku.


"Syaa." Vita menahanku. "Kamu.. suka sama Ari?"


"Vit, mending kamu pulang."


Aku mendorong Vita supaya keluar dari rumah, tapi dia malah berbalik badan lalu mencium pipiku.


"Vita!"


"Itu tanda kalau kamu cuma milik aku dan akan aku bilang sama semua orang kalau kita pacaran!" Setelah mengatakan itu, Vita pergi.


"Vit!!" Aku berhenti saat kulihat ada Ari dan kak Adit di depan teras tengah mencuci mobil. Setelah Vita pergi, aku menghampiri mereka. Aku.. coba ajak ngobrol Ari, deh.


...🍭...


Rasa malu masih menyelimutiku saat ternyata bekas ciuman Vita menempel di pipiku. Berkali-kali kuusap pipiku dengan kuat padahal sudah bersih. Tapi terasa mengganggu sekali.


Bodohnya, aku selalu ga berkutik di depan Ari. Aku.. terlalu tegang dan selalu takut salah bicara.


Aku menyandarikan punggung di mobil. Hani, udah 3 jam aku menunggu di depan rumahnya. Aku juga udah menyuruh seseorang datang dan mencarinya ke dalam rumah, tapi anak itu ga ada disana.


Dimana, dia? Kayaknya benar menantangku.


Ponselku berdering di atas dasboard, Zaki menelepon.


"Ya, Jek?"


'Sya, dimana lo?'


"Kenapa?"


'Nonton yuk. Ada yang seru, nih.'


"Nggak bisa. Sibuk."


'Haduh, bentaran doang. Ayolah.'


"Sama Danu aja sana!" Jawabku sambil terus menatap rumah Hani dari jauh.


'Ya sama Danu juga. Gue tunggu setengah jam lagi di 21 ya!'


Zaki memutuskan sambungan telepon. Aneh, ga biasanya ngajak nonton begini.


Huff. Hani ga ketemu, kabur karena takut. Aku yakin. Ya sudahlah. Di sekolah besok, aku akan cari anak itu sampai dapat.


~

__ADS_1


Aku masuk ke 21 dan menelepon Zaki. Tapi sial, nomernya ga aktif. Sebenarnya niat atau nggak, sih.


"Syaa.."


Tiba-tiba Vita memeluk lenganku dengan kuat. Sesaat aku menyadari kesialanku dari pagi sampai sore ini belum berakhir. Zaki brengsek! Makiku dalam hati.


"Aku udah beli 2 tiket. Kita nonton, ya??"


"Ngga bisa. Aku mau pulang." Aku berusaha melepaskan tangan yang dipeluk Vita dengan kuat.


"Eh, Ariva?"


Aku menoleh dan mendapati Ari berdiri sendiri. Ari..


"Lho, kalian disini juga?" Juna, ternyata Ari sama Juna.


"Iya nih, mau nonton."


Hah. Sial. Aku tau ini rencana Vita. Ga mungkin dengan sengaja bisa berpas-pasan begini. Apalagi bangku kami.. sederet.


Aku sengaja duduk di samping Ari, ingin dekat dengannya.


Ini film horor, ya? Aku menoleh kesamping, tepat saat Ari tengah menggenggam pegangan kursi kuat-kuat. Dia memejamkan mata.


"Bukannya lo ga suka film horor?" Aku berbisik padanya. Dia membuka mata, lalu menggelengkan kepala, tanda bahwa dia juga tidak tahu film apa yang ditonton sekarang.


DUM!


Ari memekik saat film itu mengeluarkan suara berat nan menakutkan hingga tanpa sadar dia menarik lengan dan menyembunyikan wajahnya di bahuku.


Genggaman Ari kuat sekali sampai membuatku merasa kasihan.


Dia mendongak, membuatku seketika berhenti bernapas tatkala wajah kami saling berdekatan. Bola mata jernih milik Ari bergulir menatap kedua mataku. Ada dorongan dalam tubuhku untuk menciumnya saat wajah kami berdekatan seperti sekarang.


Ah, gila. Dadaku berdetak kencang, sampai aku harus menelan ludah beberapa kali.


Ari melonggarkan pelukannya di tanganku, lalu Juna meraihnya.


"Kamu takut?" Tanya cowok itu, lalu menatap tajam ke arahku.


Ayolah, Ari memang butuh gue dari pada lo.


Ari menutup dirinya dengan jaket yang ia pinjam dari Juna. Lalu dengan inisiatif aku melemparkan earphone pada Ari, supaya dia bisa mendengarkan musik saja daripada film di depannya.


...♡♥︎...


"Sayang, bangun." Juna membangunkan Ari yang tidur sepanjang film berlangsung.


"Ariva lucu banget. Padahal lagi nonton, kok bisa-bisanya tidur, sih." Vita tertawa sambil menepuk pelan bahuku.


"Dia ga suka genre horor."


Tawa Vita terhenti. Begitu pula tatapan Juna tak suka kearahku.


You know nothing about Ari, Brengsek.


"Yang bener, sayang? Kamu ga suka film horor?" Juna terlihat kesal saat Ari mengangguk.


"Kenapa kamu ga bilang." Imbuhnya lagi. Maaf ya, Ariva. Lain kali, bilang ke aku apa yang kamu suka, atau kamu ga suka."


Lalu Juna mengecup pelipis Ari dengan santai. Sampai membuat Ari sendiri kaget.


Aku menghembuskan napas perlahan. Perlakuan Juna kuyakin untuk memanasiku. Jun, kayaknya lo emang minta kena hantam.


"Uh. So sweet bangettt.." Vita semakin melengketkan diri dan bergumam padaku. "Kamu juga manis. Hehe."


Hah. Ini lagi satu.


"Kita pisah disini aja, gimana? Soalnya gue dan Arsya ada candle light dinner."


Vita bermain mata sambil tersenyum manis padaku.


Ngarang lu!


"Oke kalau gitu. Kita pisah disini. Bye."


Si brengsek Juna menggandeng Ari menuruni tangga gedung bioskop yang sudah sepi.


Aku melepaskan Vita, mendorong bahunya menjauh. "Cukup. Gue capek."


"G-gue.."


"Hm. Gue capek. Udah gue bilang tadi pagi, kan. Lo juga ga usah nyuruh Zaki atau Danu buat ngejebak gue kaya gini lagi. Gue harap mulai hari ini lo ga ngubungin gue lagi."


"Tapi, Sya-"


Aku menjauhkan tanganku yang akan ditarik Vita, lalu berjalan keluar.


"INI PASTI KARENA ARIVA, KAN!!" Teriak Vita. Aku membalikkan badan, menatap wajah yang kini menyeramkan.


"SYA GUE TAU LO KAYA GINI KARENA ARIVA!"


Aku tersenyum miring. "It's none of your business." Ucapku, kemudian berjalan keluar.


Benar. Karena aku sangat sadar kalau perasaanku cuma buat Ari. Tapi hari ini aku harus liat dia dicium dan dipeluk si Juna brengsek.

__ADS_1


Hah. Minggu sial!


__ADS_2