HIGH SCHOOL RELATION-SHIT!

HIGH SCHOOL RELATION-SHIT!
Birthday Party 43


__ADS_3

"Jawab pertanyaanku, Ariva. Apa benar kamu ada main sama om-om ini?"


Mataku tak beralih dari layar ponsel kak Juna. Itu fotoku dan papa saat berpelukan dan saling mengobrol santai di meja restoran. Siapa pula yang mengambil gambar itu. Kurang kerjaan banget.


"Kok diam? Jadi benar gosip di mading kalo kamu simpanan om-om, makanya kamu bisa beliin aku jam mahal sebagai kado ulang tahunku??"


Hah?


Tunggu. Terlalu banyak informasi aneh yang masuk ke gendang telingaku.


Jam mahal, kado ulang tahun? Tahu dari mana kak Juna tahu soal- Ah, pasti Hani. Sial.


"Kak, wait." Bentar. Aku mengambil napas. Perkara kemarin aja belum tuntas, sekarang ada masalah baru dengan Juna. Dari mana aku mulai cerita?


Tapi kalau aku bilang itu papa...


"Itu om aku, kak."


Alis mata kak Juna malah bertaut. "Jangan bohong. Kamu pernah cerita kalau kamu ga punya keluarga lain selain papa mamamu. Itupun udah lama banget ga liat kamu, kan?"


Aish. Bener juga.


"Jadi, itu sepupu papa. Dia sengaja cari aku, nanya kabar untuk dia laporin ke papa. Soalnya hubungan aku dan papa kan, ga baik."


"Yang bener? Kamu ga bohong, kan?"


Glek! Bohong, deng. Tapi aku punya feeling ga enak kalau aku jujur. Apalagi Juna dekat banget ke Hani dan Vita.


"Benerlah. Kapan sih, aku bohong sama kakak?" Jawabku ringan, hingga akhirnya kak Juna mengangguk.


"Kak, aku minta tolong kakak jangan cerita apapun soal ini, ya. Aku ga peduli diluar cerita apa, aku dibilang pacar om-om, punya sugar daddy, aku ga peduli. Yang penting kakak percaya aja sama aku, trus sisanya biarin ajalah." Ucapku sembari menggoyang-goyangkan tangan, tak peduli dengan urusan luar.


Kak Juna mengangguk setelah diam cukup lama.


"Sorry soal kemarin, Va. Aku ga bermaksud nuduh kamu yang nggak-nggak. Aku cuma cemburu karena Arsya lebih tau banyak soal kamu ketimbang aku."


Ya iyalah. Aku kenal Arsya dari kecil. Kenal kakak aja baru satu semester. Gimana, sih.


"Ngga apapa. Ya udah, aku ke kelas dulu."


"Aku anter, ya." Dia bersiap melangkah dengan semangat, menungguku menjawab keinginannya itu.


Hah, ya sudahlah. Dari pada jadi masalah lagi.


Aku berjalan bersisian dengan kak Juna, menaiki tangga menuju lantai dua.


"Aku udah rencanain buat adain acara ulang tahun aku malam minggu ini. Gimana menurut kamu?" Tanya kak Juna saat kami menapaki anak tangga.


"Good." Jawabku singkat. Eh, tapi bukannya itu ulang tahun Arsya, ya. Kak Juna seharusnya ngadain acara di malam senin nggak, sih?


Saat kami berjalan menuju kelasku, beberapa orang yang sepertinya teman kak Juna menyeletuk. "Jun, kok lo mau sih pacaran sama sugar baby."


"Iya. Ternyata dia anak panti asuhan. Jangan-jangan bisa sekolah disini karena sokongan sugar daddy-nya." Ucap mereka dengan wajah sinis.


Kak Juna melirik tajam. "Jaga mulut lo, ya!"


Kedua orang itu tampak kaget dengan jawaban kak Juna, hingga mereka memilih pergi.


"Jun, serius lo masih sama dia?" Kini entah siapa lagi menatap sinis padaku.


"Lo tuh nggak tau apa-apa!!" pekiknya pada orang itu yang kemudian berjalan cepat setelah mendengar jawaban Juna.

__ADS_1


Kulirik lelaki yang masih menyimpan kesal dari raut wajahnya, dia lebih tampan kalau membelaku begitu. Hehe.


Tampak pula dia membalas tatapan orang-orang lewat yang menengok ke arahku. Sambil melotot, dia menyentak. "Apa lo liat-liat!"


Hihi. Lucunya.


"Kamu yakin gak mau lurusin ini?" Tanya kak Juna dengan wajah frustrasi. Tampaknya dia yang lebih stres dengan gosip ini dari pada aku.


"Biarin ajalah. Paling bentar lagi mereda." Aku berhenti tepat di depan pintu kelas. "Aku masuk, ya."


Kak Juna menghela napas. "Kalau ada apa-apa kabarin aku, ya."


"Oke."


Aku masuk ke dalam kelas sepeninggal kak Juna. Aku duduk lalu membuka lebar jendela kaca.


Angin pagi, sedikit dingin namun aku suka. Akupun mengambil earphone Arsya yang belum kukembalikan. Aku memakainya dan menyetel lagu papa Arga yang easy listening.


Sambil bersenandung ringan, aku memejamkan mata dengan dagu bertumpu di tangan menghadap jendela.


Hmm..hmm..hm..🎶


Pikiranku ternyata tidak bisa diam. Dia melayang menuju perkataan Juna tentang jam tangan itu. Aku udah memberinya pada orang lain. Apa aku harus membelikan untuknya juga?


Gosip hari ini adalah tentang aku. Mulai dari tersebarnya fotoku jatuh di kolam renang saat acara Vita, berpelukan dengan papa dan dianggap sugar baby-nya om-om, anak panti asuhan yang butuh kasih sayang. Hanya dalam satu hari semua keluar dan membuat orang-orang yang dulunya tak tahu siapa aku, menjadi sangat tahu dengan banyak julukan.


Apa aku sedih? Entah kenapa tidak. Anak panti, aku memang anak panti. Jatuh di kolam? Itu memang aku. Lalu soal papa, biarkan saja. Toh kalau pun mereka tau, bisa bahaya. Bukankah papa cukup berpengaruh? Setelah mendengar cerita papa kemarin, aku yakin dia menjadi orang hebat disini.


Tuk..tuk..


Aku menoleh ke belakang saat merasa seseorang mengetuk punggungku.


"Santai banget, buk. Diluar lagi heboh, noh." Kai duduk dan meletakkan tasnya di atas meja.


Aku melepas earohone yang terpasang di telinga. "Vita?"


"Iyalah. Siapa lagi? Lo harus kasih dia pelajaran, Va!"


"Hei-hei, belum tentu itu dia." Sahut Hajoon.


"Alah. Lo bela karena naksir, kan? Lo tuh, nyadar nggak sih, gimana kelakuannya selama ini? Jangan tutup mata dong, Joon!"


Alisku naik sebelah. Sukak? Jadi selama ini Hajoon yang suka Vita, ya. Bukan kebalikannya?


"Trus soal itu gimana, Pabo? Lo beneran sama om-om?"


Kini semua mata tertuju padaku, menatap dengan cemas.


"Iya."


"Hahhh?" Serentak ketiganya dan aku tertawa terbahak-bahak. Lucu banget ekspresi mereka.


"Yang bener lo, Pabo." Kai yang biasa jail kini serius menatapku.


"Serius. Dia om-om yang kasih aku black card waktu itu." Jawabku dengan sisa tawa di wajah.


"Ah, bokap lo?"


Aku mengangguk pada Hajoon.


"Serius bokap lo? Ganteng ya, Va."

__ADS_1


"Kenapa? Lo mau jadi nyokap tiri gua, Rin?"


"Gila lu, ya nggak lah!"


Hahaha. Lucu banget sih, Karin.


"Tapi guys, jangan kasih tau ini ke siapapun, ya. Aku mau ini jadi rahasia." Tukasku pada mereka yang mengangguk setuju.


~


Beruntung rasanya saat ternyata guru fisika kita ga dateng. Tapi tetap dikasih beberapa soal untuk dibahas dan dikumpulkan hari itu juga.


Well, jangan tanya aku sedang apa. Karena jelas, aku ga ngerjain pekerjaan itu. Jadi siapa? Tentu Kai, aku akan menconteknya nanti.


Tuk..tuk..


Bahuku di ketuk lagi, dan aku menoleh pada Kai yang tadi kupunggungi.


"Lo ga ngerjain?"


Aku menggeleng.


"Trus, ngumpulin apa lo ntar?"


Bibirku membentuk, menunjuk lembaran kertas Kai yang ada di depannya.


"Sial." Desisnya.


"Bukannya lo yang bilang, kalo lo guardian angel gue?"


"Iya, tapi bukan dalam contek menyontek. Gue ga bisa kasih lo cuma-cuma. Lo harus paham cara ngerjainnya."


Bodo, Ah. Mataku menatap kertas Kai yang sudah terisi penuh. "Lo udah selesai, Kai?"


Lelaki itu menggeser kertasnya dekat denganku. "Udah. Salin, noh." Hehe, katanya ga mau tolerir contek menyontek. Eh, malah dikasih aja.


Senyumku mengembang. Gile, baru juga sepuluh menit, udah selesai aja dia. Emang pinter rupanya. Aku kira karena bapaknya donatur sekolah.


Eh. Aku melongo saat Kai menarik satu earphone di telingaku dan melengketkan di telinga kirinya.


"Dengerin apa, sih." Gumamnya. Dia diam mendengarkan lagu fix you - coldplay yang terputar.


Dia menarik kertas baru dan menulis soal lain yang ingin ia kerjakan dengan tenang melalui musik yang mengalir dari telinganya. Kini sama-sama kami mendengar lagu Love Me Like You Do - Ellie Goulding.


Kalau dilihat-lihat, Kai ganteng juga, ya. Pantes aja Hani tergila-gila. Rupanya dia juga anak yang baik dan pintar.


Tapi, apa bener dia suka aku, kayak yang Hani bilang?


Aku menggeleng pelan. Nggak, lah. Dia juga baik ke Karin, kan. Jangan karena itu aku jadi salah sangka sampai buat hubungan kami renggang.


"Ngapain lo liatin gue kaya gitu?"


Aku tersenyum samar. Ada sesuatu yang ingin aku tanya padanya.


Tanganku menopang dagu, menatap lurus kearahnya. "Kenapa lo dulu benci banget sama gue, Kai?"


Pertanyaanku membuat mata Kai menyipit. "Emang sekarang enggak?" Wajahnya mendekat kearahku, membuat jantungku seperti berhenti berdetak, lalu ia berbisik. "Gue masih benci tuh, sama lo."


TBC


YANG TEROMBANG-AMBING SAMA CERITA INI MANA SUARANYAAA😝😝 Please jangan marahin gue. Karena gue emang nyebelin. TUNGGU AJA ENDINGNYA AELAH!

__ADS_1


* HEYYOO, guys gue mau CRAZY UPPP!! Senin atau selasa deh. Tapi syaratnya lo semua harus VOTE!! Kalau udah sampe 160VOTE GUE BAKALAN CRAZY UP! Ditunggu yaahh sampe selasa🤭, See you, KAI SAMURAN.



__ADS_2