
Pagi ini tanpa janji dan pemberitahuan, kak Juna menjemputku. Aku terkejut melihatnya duduk di atas motor, lalu badannya tegak seketika saat aku muncul.
"Good morning, cantik. Ready to go to school together?"
Senyumanku mengembang. Oh my... melihat kak Juna dengan balutan leather jacket membuatku meleleh. Dia tampan banget.
"Ready.." Jawabku saat sudah naik dan memakai helm yang diberikan kak Juna.
"Belum ready, nih."
Hung? Apanya yang belum ready?
Kak Juna menarik kedua tanganku dan melingkarkan ke pinggangnya, membuatku menganga namun dengan segera tertawa.
"Pegangan yang kuat." Katanya sembari menoleh ke samping.
"Oke, pak."
Dia tertawa lalu menjalankan motor dengan kecepatan sedang, sampai beberapa menit setelahnya, kami tiba di parkiran sekolah.
Aku melepas helm dan memberikannya pada kak Juna. Lalu saat akan bersiap melangkah, aku melihat Vita terburu-buru datang dan melewatiku.
"Arsyaa. Katanya tadi sakit, kok kamu datang ke sekolah?"
Hah? Arsya sakit? Aku menoleh ke belakang. Kulihat wajah Arsya tengah dipegangi Vita. Dia cemas karena wajah pacarnya memang pucat.
"Ayo." Kak Juna mengenggam tanganku dan berjalan meninggalkan area parkiran, padahal aku masih ingin mendengar pembicaraan di belakang sana, juga aku khawatir pada Arsya. Ah, tapi kenapa harus khawatir, toh ada pacarnya.
"Kamu tau ga, bentar lagi ulang tahun aku." Ujar kak Juna.
Aku tersenyum, lalu mengangguk. "Tahu, dong."
"Tahu dari mana? Padahal aku ga pernah kasih tahu."
"Aku kan, dulunya pengagum rahasia kakak."
Kak Juna malah tertawa, lalu berhenti dan menatapku dengan genggaman yang tidak ia lepaskan.
"Makasih ya, Ariva. Aku bersyukur bisa mengenalmu. Sebenarnya dulu aku tau kamu suka curi pandang ke arahku."
"Hah??"
"Aku tau kamu suka sama aku. Makanya aku pun diam-diam perhatiin kamu sampai aku mulai tertarik dan nyaman sama kamu."
Aku jadi tersipu haru mendengar ucapan kak Juna. Ingin sekali memeluknya kalau saja ini bukan sekolah.
"Oh, ya. Aku akan adain acara party kecil-kecilan. Kira-kira kamu ada ide, nggak, adain acaranya dimana."
Wah. Kalau soal begituan sih, aku ga tau. Tapi mungkin aku bisa tanya sama Karin atau Kai nanti.
"Hmm.. aku pikirin dulu, nanti aku kabarin kakak."
"Sip. Kalo gitu ayo aku antar ke kelas."
Aku mengangguk dan kembali melangkah beriringan dengan kak Juna yang masih terus menggenggam tanganku.
~
__ADS_1
"Pabo, mau ke kantin?"
Aku membereskan buku-buku dan memasukkannya ke dalam tas saat si kurang ajar Kai menanyakan itu padaku. Dan sialnya, aku terbiasa dengan panggilan itu.
"Iya. Kenapa?"
"Ayo bareng."
Eh. Aku sampai berhenti dengan aktifitasku saat kulihat Hajoon dan Kai sudah berdiri.
"Karin, ikut yuk." Dari pada sendiri, mending aku ajak Karin aja supaya rame.
Untuk yang kesekian kali, Karin menggelengkan kepala. "Ada hal penting yang harus gue selesaikan di ruang musik."
"Ujian piano lo, ya?"
Karin mengangguk, "Waktunya mepet. Gue harus banyak latihan."
Aku mengangguk-angguk. Ya udah, deh. Akhirnya aku jalan bertiga dengan Hajoon dan Kai yang asyik berdua, bercanda saling pukul memukul sementara aku di tengah mereka. Luar biasa. Untung juga aku pendek, jadi ga kena pukulan yang terus mendarat di atas kepalaku.
"Aikkhh! Bisa diem gak, sih. Muka aja tua kelakuan kaya anak-anak." Gerutuku akhirnya, yang merasa ketenangannya diganggu. Lalu dua orang itu jadi diam. Hehe, kok jadi lucu gini.
"He, Pabo. Belakangan lo digangguin lagi, gak?" Tanya Kai.
"Engga, kok. Padahal aku nungguin juga karena mau tau banget siapa pelakunya."
"Udah tau dia, kalo ada dua guardian angel yang ada di belakang lo." Celetuk Hajoon.
"Hah? Siapa guardian angel?"
"Kita lah!" Jawab Kai dan beradu tos dengan Hajoon sambil tertawa. Sial. Malah memuji diri sendiri.
"Sialan, lo pikir ketek lo wangi!" Kai tertawa saat aku berusaha mencubit bahunya.
"Ariva."
Kami bertiga serentak menoleh ke belakang. Ada Vita yang memegang lengan Arsya disana, bersama beberapa teman mereka yang lain dan Hani, yang menegurku berjalan mendekat dengan senyuman manisnya.
"Mau ke kantin, ya?" Tanya Hani.
Aku mengangguk lambat.
"Pas banget. Gue juga mau ke kantin." Hani meraih dan melingkarkan tangannya di lenganku. "Bareng, ya. Gapapa, kan?"
Terus terang, semenjak kejadian belakangan ini buat aku rada ga nyaman sama Hani. Apalagi sekarang dia meninggalkan Vita demi bisa dekat dengan Kai. Menurutku ini sungguh aneh.
Tapi akhirnya aku mengangguk, karena berat menolaknya.
Kami berjalan berempat, tapi sekarang saling diam sepanjang jalan setelah ada orang baru menyisip diantara kami, hingga sampailah di kantin.
"Lo pesen apa? Biar gue dan Hajoon pesenin." Kata Kai yang belum sempat duduk dan bersiap pergi memesan makanan.
"Ih, baik bangett. Gue mau bakso kosong dong. Dua deh, soalnya Ariva juga pasti pesen itu. Iya kan, Va?"
Huff. Hard situation. Tapi aku tetap mengangguk.
"Minumnya?" Tanya Hajoon.
__ADS_1
"Air putih aja, iya kan, Va?"
Lagi, aku mengangguk dengan senyum kecil. Dua orang itu pun langsung menghilang diantara kerumunan siswa.
"Eh-eh, Va." Hani menggeser duduk lebih dekat lalu berbisik. "Bukannya katanya yang ngerjain lo si Kai, ya? Kok lo jadi akrab sama dia?"
"Bukan dia."
"Oh, bukan? Ah, gue udah duga emang bukan Kai. Soalnya kan, dia ga sejail itu. Eh tapi, siapa?"
Aku angkat bahu, tidak tahu dan tidak mau membahasnya juga.
"Va, deketin gue dengan Kai, dong. Please.."
Hadeh. Mulai lagi. Padahal dia sendiri bisa deketin siapa aja, kan? Buktinya sama kak Juna bisa seakrab itu.
"Lo deketin aja sendiri, Han. Bukannya tanpa minta tolong gue, lo juga bisa deket sama kak Juna, ya."
Hani nampaknya tertohok. Perlahan dia memundurkan tubuhnya dariku.
"Bukan gitu, Va. Itu tuh, kejadiannya kayak jalan gitu aja tanpa gue duga. Jadi tuh, kak Juna dateng trus kita ngobrol kaya biasa disitu. Ga berdua kok, ada yang lain juga. Trus kita-"
Kalimat Hani harus terpotong karena Kai dan Hajoon datang membawa nampan berisi makanan dan minuman.
"Wuaah, thanks banget, yaa." Ucapnya kini dengan wajah sumringah.
Kai duduk di depanku, bersama Hajoon yang mulai menyantap makanannya.
"Emm.. Btw, Kai. Selamat ya, lo juara satu umum. Hebat bangett." Hani memulai pembicaraan dengan menaikkan dua ibu jarinya memuji Kai.
"Thanks." Jawab Kai seadanya, lalu menyantap makanannya.
Begitu saja, Hani juga tidak terlihat patah semangat. Dia masih saja tersenyum menatap Kai sambil mengaduk kuah baksonya. Hah. Aku jadi males banget ngomong.
"Gue pesenin, kaya biasa."
Set! Vita duduk di sebelah Hajoon. Dia mulai membuka ponsel yang aku kenal banget case-nya.
"Oke." Sahut temannya yang kemudian pergi memesan makanan untuk Vita.
"Kenapa?" Hani bertanya pada Vita yang manyun sambil menunduk menatap ponsel yang baru diletaknya di atas meja.
Wait, itu Hp Arsya, kan?
"Gue ga tau passowrd Hp-nya." Keluh Vita sambil terus menekan nomor sandi Hp Arsya.
"Ulang tahunnya, kali."
Dia mau ngapain sama Hp Arsya? Trus Arsya nya kemana? Bukannya katanya dia tadi sakit, ya. Apa sekarang dia lagi di UKS?
Kepalaku segera mengarah ke segala sudut yang bisa kulihat dengan jelas. Tak ada Arsya dimana pun. Aku jadi khawatir.
"Oh, terbuka!"
Deg! Mati aku. Gimana kalo Vita sampe baca chat-ku dengan Arsya? ****.
TBC
__ADS_1
*Jangan Lupa Vote, Makasih😆*