
"Morning, sayang."
Papa menyapaku di meja makan saat kakiku menyentuh anak tangga terakhir. Aku mengikuti rutinitas yang sudah papa berikan padaku. Salah satunya, sarapan pagi.
"Hello. Ariva, right?"
Aku berdiri dengan tangan yang disembunyikan dibalik piyama tidur tebal. Musim memang lagi ga dingin. Tapi bagiku yang udah lama tinggal di kota panas, 20°C udah termasuk dingin.
Aku mengangguk pada perempuan langsing dengan pakaian kantor. Rambutnya berwarna bata dengan kuncir satu di belakang.
Dia pasti Evelyn. Sekertaris papa di kantor yang hari ini datang membawa semua perlengkapan untukku. Papa udah bilang kemarin.
"I'm Evelyn. Nice to meet you." Dia mendekat dan tersenyum padaku. "I have brought everything you need while you're here."
"Thanks, Evelyn."
"Just call me, Eve." Katanya, lalu melangkah keluar rumah.
"Duduk, sayang. Ada yang perlu papa jelaskan."
Aku menarik kursi dan duduk di hadapan papa. Ku perhatikan jenis sarapan di atas meja. Roti, selai, dan susu. Ngga ada bedanya sama di panti.
"Papa udah daftarin kamu les bahasa Rusia dan sekolah di international class untuk mempermudah kamu berbahasa, mengingat sekarang kamu belum bisa bahasa Rusia."
Aku mendengarkan, sembari mengoles selai coklat di atas roti gandum.
"Sekolahnya besok, karena hari ini kamu harus istirahat. Perjalanan kita hampir 12 jam kemarin. Jadi, keliling-keliling dulu disini karena papa belum bisa bawa kamu jalan-jalan. Tugas papa numpuk."
Aku mengangguk lagi. Begitu, ya. Jadi papa akan sibuk.
Sambil mengunyah, mataku menatap ke seluruh sudut ruang. Besar dan berkelas. Untuk apa papa bangun rumah besar-besar kalau isinya cuma dia dan pembantu?
"Pa."
"Ya?"
"Nama Ari, ganti aja."
Dahi papa membentuk lipatan kecil. Dia tampak bingung.
"Ari ga mau ada nama Tania lagi di belakang nama Ari. Buang dan ganti yang lain."
Tania, nama mama. Untuk apa ada namanya disana, kalau aku saja tidak dianggap.
"Begitu, ya." Papa sampai meletakkan rotinya dan menatapku penuh keyakinan. "Jadi, udah ada nama gantinya?"
Emm.. entahlah. Aku belum memikirkannya.
"Gimana kalau.. nama papa aja di belakang?"
"Good." Jawabku dan kembali mengunyah. Terserahlah, yang penting jangan ada lagi Tania-nya.
Setelah sarapan dan berganti pakaian, aku keliling taman. Luas dan hijau. Aku suka. Terlebih cuacanya bagus, nggak sepanas Indonesia bagian Barat Laut Pulau Jawa.
Hah. Aku menghirup napas dalam-dalam. Aku belum mengaktifkan Hp. Tadi papa juga sempat kasih simcard baru karena kartu lamaku ga bisa dipakai disini. Tapi.. males ah. Kenapa aku harus buka Hp? Yang ada aku diteror Arsya karena kabur diam-diam.
Aku kesini kan, mau lupain dia.
CK. Lupain apanya. Mana mungkin bisa! Yah, setidaknya aku bisa tenang karena ga liat dia begituan sama Vita.
Errghh.. kepikiran lagi. Mual.
__ADS_1
"Heyyo! Ariva, right?"
Aku menoleh ke belakang dan mendapati seorang laki-laki menghampiriku.
"I'm Jay, your assistant." Dia mengulurkan tangan, mengajak salaman.
Lama aku menatap tangan dan wajahnya secara bergantian. Wajahnya ga ada bule-bulenya. Malah mirip model wajah orang Jawa.
"I don't need an assistant." Jawabku cuek, mengabaikan uluran tangannya dan kembali menatap ke depan.
Papa apaan sih, ngapain pake ngirim orang segala.
"Come'on. Your daddy asked me to accompany you as long as you're here." Katanya lagi, sok akrab, dan aku ga suka.
Tak mau menyerah, dia berdiri di depanku, menghalangi pemandangan hingga membuat alisku mengerut. Apa-apaan dia!
"Wanna go to somewhere?" Tawarnya dengan wajah ceria.
Aku menghela napas. "Your full name?"
Alisnya terangkat. "My.. fullname?"
Aku mengangguk dengan kedua tangan terlipat di dada. Penasaran. Logatnya juga beda. Pasti dia orang Indo.
"Hm.. Jay."
"Jay?" Aku menatapnya, meminta nama panjangnya.
"Jayadi. Hehe."
Nah, kan. Apa aku bilang. Dasar. Nyapa sesama orang Indo di luar negeri ga usah pake inggris, lah. Apa susahnya pake bahasa sendiri selama lagi ga ada siapapun disini.
"I am actually Indonesian. Hehe." Dia terus cengengesan.
"Em.. non Ari mau saya temenin?" Tanyanya. Beralih bahasa dan terdengar lebih santun.
"Nggak. Aku mau sendiri."
"Yakin? Non kan, belum tau daerah sini."
"Aku ga mungkin nyasar juga kalo di taman rumah bokap sendiri!"
"Hehe. Iya, sih."
Hening. Dia malah ikut menatap ke depan dengan wajah cerianya itu. Lu gak pergi, tong?
"Em.. oh ya, non Ari-"
"Riva. Panggil aku Riva."
"Eh, iya. Maksud saya, non Riva."
"Ngga usah pake non."
Jay berdehem, lalu melanjutkan. "Em.. Riva, apa ada lagi yang bisa dibantu?"
"Enggak."
"Yang benar? Kamu bisa kasih saya tugas pertama. Supaya saya bisa laporan ke pak Tama."
Lagi-lagi aku menghela napas. "Tugas pertamamu, pergi dari sini dan biarkan aku sendiri."
__ADS_1
"Eh?"
Alisku naik, menyuruhnya pergi dengan bola mataku yang bergulir ke samping. Dan dia pun pergi.
Hufft. Aku mau sendiri. Keras kepala banget dia.
Ya ampun, belum satu hari aku disini. Tapi pikiranku kacau dan terus kesana kemari memikirkan Arysa. CK!
Aku harus cari kegiatan. Ya, kegiatan.
...🍭...
Sekolah, praktek lab, Les bahasa Rusia, nemenin papa jalan-jalan beli ini itu, kemana pun usulnya aku ikutin. Tapi tetap, aku ga ngerasa bener-bener happy.
Ada apa, sih. Udah 6 hari aku disini. Kenapa sulit banget pikiranku ini lepas dari Arsya. Memangnya apa hebatnya anak itu sampai harus ku pikirkan? CK. Menyebalkan.
"Sayang, kenapa ga dimakan? Dari tadi diaduk terus makanannya. Kamu ga selera?"
Aku langsung membenarkan posisi dudukku. Sedikit merasa bersalah sebab papa selalu menyempatkan waktu untukku, terlebih makan malam begini. Semaksimal mungkin papa pulang tepat waktu demi bisa makan malam bersamaku. Tapi aku malah begini.
"Atau.. makanannya ga enak?" Lanjut papa lagi.
"Enak kok, pa." Aku menyuapkan satu sendok nasi ke mulut dengan susah payah. Ngga selera.
"Oh ya, kapan mau aktifkan ponsel, hm?"
Ngga tau, pa. Aku takut banyak notif yang buat aku makin kangen sama temen-temen, anak panti, bunda, dan.. Arsya.
"Kamu kesal kalo papa suruh Jay ikutin kamu. Tapi gimana cara papa ngubungin kamu?"
"I-iya, nanti Ari aktifin."
"Ah, satu lagi." Papa meletakkan sendok, lalu membuka tas kerjanya yang sejak tadi ada di bangku. "Ini.. agak aneh." Kata papa sambil menatap beberapa lembar kertas yang ia pegang.
"Kamu ga pamit sama Arsya, ya?"
Aku mematung dengan bola mata tak berkedip ke arah papa. Ada apa? Apa yang terjadi? Arsya kenapa?
"Dia.. ngirim pesan banyak sekali ke email kantor papa, ke sekertaris, bagian keuangan, juga email papa." Papa meletakkan kertas-kertas itu tepat di depanku. Dengan perlahan aku mengambilnya, memperhatikan isinya.
"Papa udah print out semua pesan masuk dari Arsya. Dia kirim pakai bahasa Inggris, Indonesia, Rusia yang papa yakin nyomot di Gugel translate."
Arsya... Mengirim pesan sebanyak ini setiap hari?
'Good Morning. I'm sorry for disturbing your time, sir, but.. can I ask you numbers of Ariva Tania? I need it so much, thank you.'
'Hai, good evening. I am Arsya Alexander. I am so sorry if my messages are disturbing you but please, can you give me a phone number of pak Nugra Tama as your CEO or his daughter, Ariva Tania, please. I know this isn't polite but I need it so much. Thank you.'
'Halo. Bisa minta bantuannya? Tolong berikan nomor ini pada anak tuan Tama, Ariva Tania. 082237XXXXXX, Thanks🙏.'
Dan masih banyak pesan lain. Lima hari, dan Arsya mengirimi pesan sebanyak 57 kali dengan isi yang berbeda-beda.
Aku menurunkan keras itu ke bawah meja saat tanganku terasa bergetar, juga air mata yang hendak mengalir.
"Hubungi dia segera, sayang. Mungkin ada sesuatu yang dia ingin dia katakan."
Aku mengangguk saja dengan wajah menunduk. Terasa panas di dalam mataku sampai aku ga mampu menahan bendungan yang akhirnya tumpah.
Iya, Sya. Maaf udah buat lo kecarian. Malam ini juga gue akan hubungin lo.
TBC
__ADS_1
Like-nya banyak dulu sebelum aku up bab baru...