HIGH SCHOOL RELATION-SHIT!

HIGH SCHOOL RELATION-SHIT!
Long Distance Relation-shit 93


__ADS_3

Ari ga akan kembali.


Entah kenapa itulah yang kutangkap dari pesan yang dia tulis ini. Ucapan terima kasih dan permintaan maaf dalam satu kertas biasanya memang bertujuan perpisahan. Apa sih, yang membuat Ari ikut papanya ke Rusia? Kenapa aku ga percaya kalau om Tama yang buat Ari berubah pikiran.


Sudah 7 hari. Ari pergi tanpa kabar apapun. Aku sudah mengirim banyak sekali pesan ke kantor papa Ari. Ke seketarisnya, bahkan ke manager umum perusahaan itu. Tapi tidak ada balasan apapun dari mereka sampai sekarang. Tidak mungkin salah alamat, kan. Aku sudah cek berkali-kali, alamat emailnya memang yang itu.


Hah. Ari benar-benar membuatku gila. Bisa-bisanya dia pergi dengan cara begini.


"Pa.."


Aku duduk di sofa seberang papa yang sedang memantau perkembangan perusahaan dari laptopnya.


"Udah berapa kali papa bilang. Papa ga punya nomornya." Papa langsung bicara tanpa aku bertanya. Sepertinya sudah hapal apa yang akan aku tanyakan. Yaitu nomor bokap Ari.


Aku mendesah pelan. Sebenarnya aku ga percaya papa ga punya nomor om Tama. Tapi aku juga yakin papa ga mungkin biarin aku kaya gini tiap hari.


Aku juga udah minta nomornya ke kak Tari. Tapi dia bilang, dia cuma punya nomor sementara saat di Indo. Selebihnya hanya melalui email. Itupun sama dengan email yang selalu kukirimkan pesan belakangan ini. Hah. Siall!


Kak Adit masuk, berdiri melihatku yang murung karena galau.


"Bunda mana?" Tanyanya.


"Ngga tau." Jawabku malas.


"Adiit." Mama berteriak.


"Yaa bun." Kak Adit segera melangkah menuju suara mama berasal.


Tak lama ia kembali lagi dengan setumpuk buku-buku di tangannya bersama mama disampingnya.


"Makasih ya, nak. Kalau tangan Arsya ga sakit, Bunda pasti nyuruh Arsya dan ga repotin Adit." Ujar mama setelah kak Adit meletakkan semua tumpukan itu di atas meja.


"Bunda apaan, sih. Kaya gini doang."


"Kok kamu nyuruh Adit padahal ada aku di rumah." Papa sampai melepas kacamata kerjanya saat melihat kak Adit yang membantu mama.


"Kamu kan, lagi kerja, Ga. Aku ga mau ganggu."


Kak Adit terkekeh pelan. "Ya udah, kalo ada lagi, panggil Adit, Bun."


"Iya, sayang."


Kak Adit pergi, dan mama duduk untuk memilah-milih majalah usang yang ada di atas meja.


Papa mengambil satu majalah lama itu dan membacanya cukup lama. "Ini mau diapain?"


"Buang."


"Hah? Masa dibuang." Protes papa.


Lalu mama menghela napas. "Ini isinya gosip dan berita ga jelas tentang kamu dulu. Emang mau disimpan?"


Aku tertarik, lalu mengambil satu majalah. Wah, banyak banget gambar papa di dalamnya.


"Kayaknya semua foto papa pas manggung ga pake baju." Aku mengamati satu persatu hasil jepretan zaman dahulu di laman majalah. "Kenapa, pa?" Tanyaku tanpa beralih fokus.


"Biasalah. Namanya juga mau menggaet perempuan." Jawaban mama membuatku mengangkat kepala. Menatap papa dan mama bergantian.


"Bukan gitu, sayang." Ucap papa mulai ingin membela diri.


"Padahal dikasih baju, Sya. Tapi sampe panggung dibuka." Sambung mama lagi. Membuatku mengulum senyum. Bakalan berantem, nih.


"Kan, manggung sayang. Gerah." Alibi papa, menutup laptop dan menggeser duduk dekat mama.


"Iya nih, ngapain sih pake buka baju segala. Pasti supaya cewe-cewe teriak." Aku ikut mengipas api perseteruan.


Mata papa melotot padaku. Aku tidak peduli.


"Itu kan, zaman dulu, sayang. Kayaknya kita sering bahas ini. Yang penting sekarang kan, aku udah ga manggung." Jawab papa hati-hati.


"Tapi kesalnya masih terasa ya, ma. Arsya aja yang liat ini ikut kesal. Gimana kalo mama."

__ADS_1


Papa semakin menjadi, tapi aku tidak ingin melihatnya yang aku yakin tengah mengancamku.


Setelah kuperhatikan, papa muda emang ganteng, ya. Wajar banget kalau dia jadi incaran banyak orang.



"Ini tahun berapa, pa." Aku menunjuk satu foto saat papa berpose seolah tengah mengisi bensin.


Papa melirik. "Kapan, ya. Kayaknya pas kamu baru lahir."


"Loh, bukannya papa berhenti sebelum aku lahir?"


"Nyanyi sih, iya. Kalau tawaran model masih papa ambil beberapa."


Aku manggut-manggut, sementara papa kembali membujuk mama yang sibuk memilih-milih majalah mana yang akan ia buang.


Keren juga ya, kalau wajah kita ada di majalah dan menjadi brand ambassador suatu merk. Walau begitu, aku tetap ga ingin jadi model.


Aku membalik-balik majalah, dan menemukan satu kata-kata yang membuatku teringat pada Ari.


'Carilah seseorang yang bersamanya tidurmu nyenyak, di dekatnya makanmu banyak, disampingnya bebanmu hilang, dan di dekapannya kamu tenang.' By: Arga Xander.


Lah, quote papa. Kalau dilihat dari tahunnya, ini pasti saat mama pergi. Dan sekarang quote ini cocok untuk Ari.


Ah, Ari... jadi melow lagi.


"Arsya naik, ma, pa."


Aku meninggalkan dua orang yang tengah mengenang masa lalu mereka melalui foto-foto lawas, masuk ke kamar dan mengambil secarik kertas dari Ari.


Ponselku berdering. Aku mengabaikannya saat kulihat nomor baru tertera disana.


Sambil berbaring, aku kembali membaca pesannya tanpa bosan, sampai aku hapal apa isinya. Walau ga membuat perasaanku lebih baik karena aku semakin merindukannya.


Dia sekarang.. lagi apa, ya. Apa dia gak kangen aku. Apa dia ga ngerasa ada yang hilang dari hidupnya saat ga ada aku di sisinya?


Bukannya apa. Aku tau Ari juga sama kaya aku. Udah merasa terbiasa dengan kehadiran satu sama lain. Atau... dia nerima perasaan Kai?


Tapi, kalau memang ada yang disukai Ari dan bukan aku, aku ga papa. Sepertinya aku ga apapa. Asal laki-laki itu yang paling baik, walau aku yakin yang paling baik untuk Ari cuma aku.


Hah. Aku berusaha mengalihkan pikiran dengan hal-hal yang membuatku senang, walau tidak ada, aku tetap menajamkan mata.


Ponselku berdering lagi, masih nomor yang sama. Setelah kuperhatikan, nomor ini agak beda. Yah, mungkin ada berita penting. Akupun mengangkatnya dengan malas sambil menutup mata.


Aku meletakkan ponsel di telinga dengan mata terpejam, menunggu seberang menyapa. Tapi sudah berdetik-detik, tidak ada suara.


Apa orang iseng, ya. Ck. Ga tau suasana hati gue lagi berantakan, apa.


"Kalo ga penting gue tutup-"


'Sya..'


Aku langsung membuka mata. Bentar. Aku ga salah dengar, kan? Apa halusinasi karena tadi aku membaca suratnya sambil membayangkan suara Ari.


'Sya..'


Jantungku berdegup kencang sekali. Aku yakin, ini...


"Ari.." Aku duduk dengan rasa keterkejutan luar biasa. "I-ini beneran lo, Ri?"


Hah. Akhirnya..


Aku mengatur napas, mencoba tenang di saat hati dan jantung menggempur hebat.


"Kenapa lo ga bilang kalo mau pergi, hm?" Aku akan menjelaskan semuanya. Pelan-pelan, aku ingin Ari tahu semuanya. Aku juga akan mengungkapkan semuanya.


"Lo marah sama gue sampe pergi. Gue sama Vita ngga ada hubungan apa-apa. Udah gue bilang berapa kali ke elo. Dia juga ngejebak gue, gue tau dia ngirim itu ke elo. Gue bukan ga peduli tapi banyak yang perlu gue lurusin ke mama. Gue tau gue salah, Ri. Gue-"


'Sya.'


Dia menghentikan kalimat yang belum kuselesaikan. Apa aku terlalu menggebu-gebu dengan harapan Ari akan mengerti?

__ADS_1


'Bisa dengerin gue? Jangan potong apapun ucapan gue. Biarin gue ngomong sampe selesai.'


Aku menyandarkan punggung ke kepala kasur. Mencoba tenang saat suara Ari terdengar serius. Terdengar helaan napasnya, lalu pelan-pelan dia mulai berbicara.


'Sya... maafin gue. Gue udah ngelanggar sesuatu yang buat persahabatan kita jadi kaya gini...'


Dahiku mengerut. Melanggar sesuatu.. apa.


'Gue selama ini ngerasa lo jauh banget sejak punya pacar dan itu buat gue cemburu. Lo tau kenapa? Karena gue....'


Ari menjeda kalimat yang membuatku menahan napas.


'Karena gue jatuh cinta sama lo.'


A-apa..


'Gue ga tau kenapa bisa kaya gini. Gue ga suka liat lo sama perempuan lain. Gue ga suka ada cewek yang masuk ke kamar lo selain gue. Apa lagi sampe tidur disana..'


Jantungku, hampir keluar dari tempatnya. Debarannya sampai membuat tanganku ikut bergetar. Semua sedih, kecewa, dan marah yang kualami belakangan berganti menjadi serpihan kebahagiaan yang perlahan-lahan menyatu membentuk ikatan.


Tapi Ari.. menangis.


"Ri-"


'Stop, Sya. Dengerin gue sampai selesai.' Pekiknya dari seberang.


'Sejujurnya.. gue pergi bukan karena bokap gue. Bukan juga karena kesalahan lo. Bukan karena lo, tapi karena gue.'


Dia terisak disana, tapi aku mengembangkan senyuman. Aku ga bisa menahannya.


'Gue ga kuat liat lo, Sya. Terus terang gue kalah sama perasaan gue ke lo. Gue... Gue udah buat kesalahan dengan punya perasaan ke sahabat gue sendiri. Gue ga bisa ilangin ini, Sya. Gue ga tenang karena perasaan gue sendiri.'


Kesalahan? Ini kebenaran, Ri. Sesuatu yang gue tunggu dari dulu.


"Ri.."


'Sya. Please, hiks.'


Entahlah. Mungkin siapapun yang melihatku sekarang pasti menganggapku gila. Rasanya kamarku penuh dengan bunga beterbangan padahal yang kudengar suara tangisan.


'Gue disini baik-baik aja, lo ga perlu khawatir. Maaf karena gue ga nepatin janji ke lo karena gue ga bisa lama-lama berhadapan dengan lo. Lo baik-baik ya, Sya. Nanti gue akan hubungin lo kalo gue udah siap. Maafin gue, Sya.'


Eh?


"ARI!"


Sambungan terputus padahal aku belum bicara. Apa-apaan dia. Setelah mengungkapkan perasaannya malah meninggalkanku begitu saja. Padahal aku juga mau bicara!


Mana nomornya ga aktif, lagi.


Tapi.. ah, sudahlah. Yang penting sekarang jelas kalau Ari ternyata punya perasaan yang sama.


Aku kembali merebahkan kepalaku di sandaran kasur. Hah. Kenapa aku ga rekam, ya. Kalau ga, aku kan bisa dengerin terus ungkapannya itu.


Jadi pengen ketemu dan liat langsung wajahnya.


Aku bangkit dan membuka arm sling, mengambil koper di bawah ranjang dan memasukkan baju-baju.


"Syaa.."


Mama masuk dan melihatku tengah packing.


"Lho, Sya. Mau kemana?"


"Rusia."


"HAH??"


**


__ADS_1


Rusiaa.. Rusia.. Kayak bakalan disetujui bokap lu aje. Lu kan tadi baru mantik api peperangan, aelah!


__ADS_2