HIGH SCHOOL RELATION-SHIT!

HIGH SCHOOL RELATION-SHIT!
Long Distance Relation-shit! 91


__ADS_3

Apa yang dikhawatirkan mama benar adanya. Foto aku dan Vita yang seolah tengah melakukan 'itu' pun akhirnya beredar, tersebar di sekolah sampai akhirnya aku dipanggil kepala sekolah.


Siang itu, aku dengan arm sling di tangan memasuki halaman sekolah bersama papa yang akan membereskan soal ini. Besar harapanku untuk bertemu Ari, gadis yang baru dua hari ga bertemu tapi seperti berminggu-minggu lamanya.


Di depan mading, aku berhenti. Foto Ari terpampang besar disana, dengan tulisan yang menarik perhatian. Ari menyumbangkan 2M untuk sekolah.


Sudut bibir pun terangkat. Ari berhasil meredam namanya yang dicap buruk dan akhirnya terbit sebagai murid yang memiliki level tinggi.


"Sya, ayo."


Papa yang sudah di tengah anak tangga memanggilku. Aku pun bergegas menuju ruang kepala sekolah, lantai tiga.


Di saat memasuki ruang kepala, terlihat pula Vita bersama kedua orang tuanya. Dan, kali pertama aku melihat Shaqueena Verche secara langsung setelah mencari berita tentangnya di internet.


Papa melihat sebentar, lalu masuk ke dalam ruang kepala sekolah. Diikuti keluarga Vita.


"Sekolah punya kebijakan sendiri tentang ini. Seharusnya bapak dan ibu sudah tahu konsekuensinya." Ujar kepala sekolah setelah menjelaskan situasi yang terjadi.


"Kami tidak bisa tinggal diam. Anak kami, Vita, adalah korban disini. Dia pasti dipaksa oleh putra anda, pak Arga." Seru nyokap Vita.


"Diamlah." Desis om Adi pada istrinya.


"Mana bisa aku diam, mas. Kita dirugikan. Anak perempuan selalu dirugikan dalam hal ini!" Pekiknya lagi. Sementara Vita diam tertunduk dengan tangan yang ia remas karena takut. Dia bahkan tidak cerita bagaimana kejadian aslinya.


"Maaf, pak Arga. Bukan maksud kami menuntut, hanya saja, sebagai orang tua Vita, kami ingin yang terbaik. Apalagi hal ini telah mencoreng nama baik kami." Kata om Adi.


Papa melihatku sebentar, lalu menatap Vita. "Apa anak anda sudah menceritakan bagaimana kejadiannya?"


Orang tua itu menatap putrinya. Lalu mantan model itu bersuara lagi. "Dia korban. Dia takut. Bukankah korban selalu disudutkan? Sekarang Vita bahkan dianggap perempuan murahan! Semua ini karena putramu, Arga Alexander!" Tunjuk wanita itu.


"Ternyata belum berubah juga, ya."


Jawaban Papa malah membuat nyokap Vita terdiam. Merasa tertohok walau tidak jelas kemana arah papa bicara. Namun tampaknya dia mengerti.


"Coba tanya putri anda, bagaimana dia masuk ke rumah kami. Apa tujuannya. Lalu bagaimana dia bisa menyelinap masuk ke kamar anak saya yang sedang sakit ini. Bisa dijelaskan?"


Kembali tatapan mengarah pada Vita yang sudah sesegukan. Air matanya tumpah, dan dia tidak berani mengangkat wajahnya.

__ADS_1


"Vita, coba jelaskan bagaimana kejadiannya." Tanya om Adi dengan suara lembut. Beberapa detik menunggu, namun Vita tidak juga mau menjawab.


"Jelaskan, Vita." Ucap papa lagi.


"Jangan tekan anak saya!" Nyokap Vita memeluk putrinya. "Tenang, sayang. Kamu ga salah. Mama tau kamu ga salah."


Papa menghela napas, lalu menghadap kepala sekolah. "Baiklah, pak. Nampaknya masalah ini akan saya naikkan ke kantor polisi. Kami punya bukti rekaman cctv bagaimana Vita masuk sampai ke kamar putra kami."


"TIDAK!" Seru Vita, berusaha melepaskan tangan mamanya yang ingin dia tetap tenang. "Jangan, om. Aku mohon, jangan."


"Vita, apa yang kamu lakukan di rumah Arga, hah?" Melihat ketakutan anaknya, membuat om Adi mencurigai sesuatu.


Vita beringsut turun dari sofa dan duduk di lantai menghadap kepala sekolah. Wajahnya basah, lalu dengan suara parau dia mengakuinya.


"Saya datang tanpa diundang, pak. Saya ingin menemui Arsya karena dia ga datang ke sekolah waktu itu. Saya masuk karena saya pikir engga ada orang di rumahnya. Dan saat itu Arsya tidur.. hiks.." dia menghapus air matanya, kemudian melanjutkan.


"Awalnya saya hanya bercanda. Saya ingin membuat cerita palsu pada teman-teman dengan melibatkan Arsya. Tapi sumpah, bukan saya yang menyebarkan foto itu. Bukan saya, pak. Tolong jangan pecat saya." Jelas Vita penuh dengan derai air mata.


Om Adi sangat syok mendengar penjelasan Vita. Dia sampai tak bisa berkata-kata. Begitu juga pada istrinya. Raut itu punya banyak ekspresi. Marah, malu, dan juga ingin menangis dengan pengakuan putrinya sendiri. Apalagi terang-terangan ia membela anaknya tanpa tahu jalan ceritanya.


"Jelas, ya. Anak kalian yang merusak citra keluarga kami. Seolah kami tidak mengajarkan kebaikan pada anak kami." Kata papa akhirnya.


Mendengar itu, Vita sempat mengangkat wajah kaget. Cuma gertakan, tapi mampu membuatnya ketakutan.


Setelah itu, Vita keluar dari ruangan kepsek. Sementara om Adi yang berunding dengan kepala sekolah, bagaimana masalah ini dipecahkan.


Setelah semua terselesaikan, aku keluar mencari Ari sebentar. Mengintip dari jendela kelasnya. Tapi dua meja di belakang tampak kosong. Kemana mereka semua? Cabut barengan?


Tidak ketemu dengan Ari lagi. Tapi ga apa. Mungkin dia masih butuh waktu lagi.


Di mobil, papa hanya diam menatap jalanan di depannya. Sebelah tangan memegang kemudi, sementara sebelah lagi menyentuh dagu, seperti memikirkan sesuatu.


"Mikirin apa, pa?" Tanyaku ingin tahu. Biasanya perusahaan diserang aja dia nyantai. Entah kenapa, kalau papa berpikir keras itu seperti ada masalah yang emang sangat amat besar.


Papa tak langsung menjawab. Mungkin masalah kantor, pikirku.


"Gimana menurutmu dengan kisah papa dulu, Sya. Ditinggal mama bertahun-tahun sendirian."

__ADS_1


Aneh. Kenapa pertanyaan papa mendadak bahas masa lalu. Aku pikir bengong karena mikirin hal gede.


"Hmmm... menyedihkan."


Papa diam lagi. Tak lama bertanya. "Kalau ternyata orang yang kamu sayang akan pindah, apa yang akan kamu lakukan?"


Aku terbayang Ari. Jika dia pindah, aku... bagaimana.


"Entahlah. Ga terbayangkan." Aku menoleh pada papa. "Kayaknya Arsya mulai bisa merasakan gimana kekalutan papa dulu waktu ditinggal mama tanpa kabar. Pasti sakit banget."


Papa menghembuskan napas, mencengkram erat kemudi. "Benar. Sakit banget."


Lalu tiba-tiba papa membanting setir dan berputar arah mobil dengan cepat sekali.


"Lo, pa. Kemana?" Padahal rumah udah mau dekat.


"Bandara."


"Hah. Ngapain?"


"Ari akan ke Rusia hari ini."


"HAH!!"


Mendadak jantungku seperti ingin melompat keluar setelah mendengar itu dari papa. Kok bisa? Kenapa? Tiba-tiba banget? Ari gak bilang! Dia gak pamit? Jadi dia berubah pikiran? Kenapa dia gak cerita apapun ke aku?


Segala macam pertanyaan muncul di benakku. Sampai aku mengira, bahwa mengutarakan perasaanku pada Ari waktu itu adalah kesalahan besar hingga membuat Ari tak nyaman dan berakhir pergi meninggalkan aku. Apakah karena itu??


Gak mungkin karena mamanya. Selama ini dia bisa bertahan walau mamanya ga pernah liat dia lagi. Apa benar karena aku?


Ah, shitt. Hal yang kutakutkan akhirnya terjadi. Ari pergi. Bahkan tanpa mengatakan apapun padaku. Jelas. Karena dia ga mau aku melarangnya.


"Pa, cepat, pa!"


Gak bisa. Aku mau ketemu dan jelasin semuanya. Gak apapa kalau dia ga punya feeling yang sama denganku. Gak apapa kalau dia ga bisa terima perasaanku. Tapi seenggaknya please, jangan pergi. Apalagi dengan cara seperti ini.


Hanya doa yang kupanjatkan, semoga saja aku bisa bertemu dengan Ari di bandara. Aku ingin bertemu walau untuk yang terakhir kalinya....

__ADS_1


**


Vote dulu lah...🫰😛


__ADS_2