HIGH SCHOOL RELATION-SHIT!

HIGH SCHOOL RELATION-SHIT!
Kejutan! 58


__ADS_3

Keputusanku udah bulat. Aku akan pergi ikut papa ke Rusia...


Tadi malam aku menolak pulang, sampai akhirnya papa membawaku ke apartemennya dan nginap disana. Tentu dengan izin bunda.


Arsya pula terus menghubungiku, memintaku untuk angkat teleponnya. Tapi aku lebih memilih menonaktifkan ponsel.


Aku juga masih melarang papa untuk bicara kepada bunda soal niatku yang akan ikut dengannya karena aku ga mau mereka sedih apalagi sampai Arsya juga tau. Aku ga yakin, tapi aku ga suka kalau dia berusaha ngehalangin aku.


Papa memundurkan jadwal penerbangan. Seharusnya pagi berangkat, dirubah ke jam 12 siang. Aku ingin pergi dulu ke sekolah sebentar untuk mengurus beberapa hal yang belum ku selesaikan.


Pagi-pagi sekali aku datang ke panti untuk mengambil seragam. Hari ini pasti ada kejutan baru di sekolah. Dan aku bener-bener ga sabar untuk itu.


Tapi sepertinya aku ga kuat kalo harus ketemu Vita atau Arsya. Pikiranku pasti langsung membayangkan mereka ketika satu ranjang.


Ah. Mengingat itu saja jantungku terasa nyeri.


Sesampainya di sekolah, aku melihat keramaian di setiap lorong. Banyak yang berbisik dan bergosip entah soal apa.


Aku berdiri di belakang kerumunan orang yang menatap dinding Mading. Begitu melihatku, mereka langsung memberiku ruang. Aneh sekali.


Tapi aku langsung mengarahkan pandangan ke tempat yang membuat mereka heboh sejak tadi.


Poster besar dengan gambar diriku disana. Tertulis: Ariva Tania mendonasikan 2M untuk SMA GARUDA.


Aku menatap poster itu cukup lama, bersama orang-orang yang juga terus melihatku sembari berbisik sana-sini.


Ini pasti kerjaan papa. Padahal aku ga minta kaya gini, tapi sepertinya papa sengaja ingin membuat reputasiku baik di sekolah sebelum aku meninggalkannya.


Ya sudahlah. Biarkan saja.


Aku berjalan lagi menuju kelas dan mendapati tiga temanku berkumpul di depan pintu.


"Ariva!"


Buru-buru Karin menarikku untuk masuk ke dalam kelas.


"Ada apa?" Tanyaku saat merasa sejak tadi pasti mereka menungguku di depan.


"Lo beneran minta bokap lo mutusin hubungan kerja dengan bokap Vita, Va?" Tanya Karin, dengan meremas jari-jari, ia tampak ingin tahu sekali.


"Hah?" Aku emang cerita semuanya. Tapi gak sampe minta ini itu ke papa.


"Bokap gue bilang, katanya Surya Jingga, perusahaan milik orang tua Vita gagal mendapatkan projek baru dari bokap lo, Bo." Jelas Kai padaku.


Aku melepaskan tas yang masih terselempang di tubuhku. Lalu mulai merespon.


"Sebenarnya gue ga bilang apa-apa soal itu. Gue juga ga paham bentuk kerjasama segala macem bokap gue ke siapa aja. Tapi seingat gue, sejak awal emang bokap ga tertarik kasih projek yang mau dilaksanakan di Jakarta ke perusahaan bokap Vita. Soalnya, bokap gue juga tau kalau anak Adisuryo-lah yang nge-bully gue di sekolah."


Ketiga orang itu mengangguk-angguk mendengar penjelasanku.


"Va.."


Karin menggenggam tanganku. "Makasih banget, ya. Bokap gue bilang, ini pasti karena lo, makanya pihak om Tama ngubungi bokap gue buat nyiapin proposal pengajuan projek bareng bokap lo."


Eh. Serius? Ternyata papa diam-diam melakukan sesuatu yang membuatku kagum. Lagi-lagi aku ga cerita banyak kecuali soal gimana baiknya teman-temanku ini.


"Gue juga, Bo. Bokap kemaren sempat bingung cara dapetin dana tambahan karena orang penting di perusahan cabut kerjasama dan buat perusahaan sempat down. Eh, bokap lo nanem modal di perusahan kita. Thanks banget, ya."

__ADS_1


Eh, Kai juga?


Aku menggaruk kepala yang tak gatal. Jadi sungkan sama papa.


"Thanks ya, Va. Thanks a lot!"


"Anggap aja ini karena kebaikan kalian ke aku selama ini. Udah mau ngebela aku, jagain aku, perhatiin aku..." Yah, jadi mewek banget. Apalagi aku akan pergi hari ini.


"Duuhh. Pengen pelukkk." Karin berdiri dan memelukku dari seberang meja.


"Gue juga mau ikutann!" Seru Kai dan mendapat ancaman tinju yang mengepal di tangan Karin.


Hah. Gue mau pergi, tapi makin kesini mereka malah makin deket banget ke gue. Gimana cara kasih taunya ke mereka, ya.


~


Jam istirahat tidak pernah tenang. Selalu ada aja yang diributkan para siswa. Baik yang mengerumuni siswa pujaan, atau sekedar menonton santai bola basket sambil taruhan.


Ada lagi yang lain, membentuk sirkel dan bergosip riang sepanjang lorong. Udah pasti aku pernah jadi bahan gosip mereka.


"Eh, lo udah liat belum?"


"Udah. Gilaa. Ngga nyangka gue."


Aku terus berjalan, mengabaikan percakapan mereka. Namun seolah berantai, di tempat lain nampaknya membicarakan hal yang sama.


"Asli, gue pikir mereka ga seberani ini."


"Kalo Vita sih, gue udah nyangka. Yang gue ga nyangka itu Arsya!"


Eh. Apa ini. Aku melambatkan langkahku.


"Tapi siapa yang nyebar foto mereka?"


"Kayaknya sih, Vita. Soalnya yang Selfi kan, dia. Pake Hp dia juga."


"Bener juga."


Deg-deg-deg...


Jangan bilang kalo foto itu...


Aku segera merogoh ponsel dan membuka pesan bergambar yang kemarin belum sempat kulihat. Dan betapa kagetnya aku ternyata itu adalah foto Arsya dan Vita di atas ranjang.


Huff. Tahan Ariva. Jangan nangis disini. Lo ga boleh lemah, ini hari terakhir lo di sekolah, kan.


"Ariva."


Aku menoleh ke belakang dan mendapati Vita berdiri di belakangku.


Penampilannya berbeda dari biasa. Di bawah matanya menghitam, rambutnya juga tidak serapi biasanya. Ada apa dia?


"G-gue..." Vita memilin jari. Mata sendunya kini berkaca-kaca.


Sebelumnya, dia sadar kan, kalau orang-orang kini menatap ke arah kami? Ada pula yang melihat dari dalam kelas melalui jendela.


"Gue ngaku kalah."

__ADS_1


Wuaa..


lorong itu berisik. Banyak yang kaget dan saling berbisik.


"Gue akui gue udah kurang ajar dan.. ngebahayain lo."


Vita tampak begitu kusut, seperti tak punya semangat. Apa yang membuatnya berubah begini?


"Gue.. hiks.."


Errghh...


Melihat dia menangis membuatku memutar bola mata.


"..gue salah udah ngebully lo. Gue juga bodoh banget nantangin lo. Gue ngaku salah, Va. Gue pasrah lo mau apain gue, asal please.." kedua tangan Vita menangkup di depan dada. "Please jangan bawa-bawa perusahaan bokap gue.."


Hah?


Ah, soal kerja sama itu, ya. Tapi kenapa dia sampai minta maaf begini? Ini kan, urusan bisnis. Emang kaitannya sama aku, apa?


"Va, lo pegang kartu As gue. Lo boleh sebarin soal apa yang lo tau tentang gue dan nyokap gue. Tapi please, Va. Jangan libatin papa. Papa sayang banget sama gue, Vaa. Kali pertama dia marah sama gue karena kasus inii." Vita menangis sampai tak peduli orang-orang memperhatikannya.


Ooh. Baru aku paham. Inti permasalahannya. Tebakanku, ini pasti ulah papa lagi. Pasti papa yang bocorin ke Om Adi soal siapa yang nge-bully aku di sekolah.


"Va, gue bakalan ngelakuin apa aja.." Vita berlutut, membuatku membulatkan mata. Dia gila??


Aku bingung harus bersikap gimana, terlebih banyak orang disekitar kami yang menatap tak percaya pada Vita.


"Vit, lo gila? Bangkit!"


Vita menggelengkan kepala. "Enggak. Gue ga akan bangkit sebelum lo minta papa lo buat ngejalin kerjasama lagi ke bokap gue."


Emang dia percaya, kalo aku bilang, bukan aku yang ngelakuin ini? Pasalnya kemarin di depan matanyalah aku berpura-pura menelepon seseorang untuk membatalkan kerjasama.


Tapi, melihat Vita begini, aku jadi ingin tau sesuatu hal.


"Coba kasih gue alasan, kenapa lo sebenci itu sama gue. Gue ga pernah ganggu lo. Tapi lo nganggep gue musuh."


Vita menunduk. Air matanya belum juga berhenti. "Gue pikir, lo tau rencana gue.."


Rencana apa? Alisku sampai bertaut.


"Gue pikir lo denger ucapan gue waktu di toilet bareng temen gue.." katanya sambil sesenggukan.


Toilet? Yang waktu itu? Astaga. Itu udah lama banget. Aku aja udah lupaa.


"Jadi gara-gara itu lo sampe ngehajar gue abis-abisan? Gue bahkan ga tau lo ngomong apa, bisa-bisanya lo sampe nyiram gue air paret!"


Vita menggeleng cepat. "Enggak. Sumpah, itu bukan gue."


Eh? A-apa.


"Gue emang jahat karena udah nyebarin gosip tentang lo. Soal lo anak panti, sugar baby, ngahasut orang untuk ngebenci lo. Tapi sumpah, bukan gue yang nyiram air kotor ke elo, Va!"


Deg-deg-deg-deg.


Kalo bukan Vita. Lalu.. siapa?

__ADS_1


TBC


Siapin VOTE, kita akan up banyak-banyak hari Senin-Rabu.


__ADS_2