
Siang itu aku ketemu dengan Salma dan menceritakan semua yang kualami selama di pesta Vita. Bukan cuma itu, aku juga menceritakan awal mula Hani memintaku untuk dekat dengan Vita, hingga sekarang mereka terlihat terus bersama saat di sekolah.
Salma diam menatapku yang terus bercerita, tapi tak juga tampak kaget dengan perlakuan Hani padaku. Apa dia sebenarnya sudah tahu?
"Menurut gue, sikap dia ke gue kaya gitu karena dia suka sama kak Juna. Menurut lo gimana, Ma?"
Salma menghela napas, lalu meneguk es teh yang ada di atas meja. Lama dia merespon, sampai akhirnya dia memberi pendapat.
"Gue rasa itu cuma kecelakaan biasa, Va. Hani ga mungkinlah kaya gitu ke elo. Apalagi lo bilang dia ketakutan banget waktu lo nyebur. Tapi gue kaget karena Hani mendadak pengen banget dekat dengan Vita. Pantes aja dia selalu nolak kalo gue ajak pulang bareng."
Gitu ya, jadi emang cuma perasaan aku aja. Lagian dia kan, naksir Kai. Bukan kak Juna.
"Dia juga udah tiga hari ga datang." Sambung Salma.
"Sakit?"
Salma mengangkat bahu. "Ngga tau, ga mau balas chat."
Jadi sejak hari dia nyeburin aku ke kolam, dia ga datang, ya. Apa ngerasa bersalah? Tapi dia ga ada chat atau apapun setelah kejadian itu.
"Oh, ya. Kak Juna ulang tahun bentar lagi, kan? Lo jadi kasih kado jam itu ke kak Juna?"
Eh, Salma tahu kak Juna mau ulang tahun? Apa waktu itu aku cerita kalo jam tangan itu mau aku hadiahi buat kak Juna yang ulang tahun? Kayaknya enggak ada, deh.
"Emm.. sebenarnya, jam tangan itu bukan buat kak Juna, Ma."
"Bukan? Jadi buat siapa?"
"Buaat..." aku ga mungkin bilang buat siapa, karena benda itu dianggap mahal banget bagi Salma dan Hani. Otomatis dia akan menganggap orang yang kuberi jam itu adalah orang yang spesial.
"..buat salah satu anak panti."
"Ooh. Gue kira buat kak Juna. Trus lo ngasih apa dong, ke kak Juna?"
"Itu dia yang mau gue tanyain ke lo. Acaranya kan, beberapa hari lagi. Gue ga tau mau kasih hadiah apa. Lo kan tau, kak Juna pacar pertama gue. It means gue ga punya pengalaman soal itu. Hehee."
Salma diam sebentar untuk berpikir, kemudian dia berujar, "kenapa ga lo kasih jam itu aja? Lo belum kasih ke orangnya, kan?"
Alisku naik sebelah. "K-kenapa harus jam itu?"
"Soalnya gue liat lo bahagia banget waktu beli jam itu. Kayak emang hadiah itu buat orang spesial di hidup lo. Makanya gue pikir itu buat kak Juna."
Aku termangu. Begitukah Salma melihatnya? Aku ga ngerasa ada sesuatu yang spesial waktu aku beli jam itu. Tapi kalo itu aku kasih ke kak Juna...
Apa kasih jam itu aja? Lagian kak Juna juga taunya aku kasih diam jam, kan. Arghh....
...🍭...
Aku merasa angin terlalu mengusik hingga hembusannya membuatku perlahan membuka mata. Kepalaku masih terasa berat hingga aku memutuskan untuk tetap merebahkan kepala sambil menunggu kesadaranku terkumpul sepenuhnya.
Beberapa detik aku diam menatap langit dari jendela kelas. Earphone di sebelah telinga memutar lagu middle of the night.
Pikiranku berjalan mundur, mengingat apa yang terjadi sebelum aku memilih tidur. Yaitu guru yang tidak datang karena sakit, hingga akhirnya hanya mengerjakan tugas dari buku. Jam terakhir, aku meminta Kai untuk tidak mengangguku yang terlampau lelah dengan situasi di sekolah. Tapi jam berapa ini? Jika dilihat dari langit, maka ini udah sore.
Aku mengangkat kepala, dan kaget saat seseorang duduk di sebelahku sambil memainkan ponselnya. Terlebih ada jeket yang terselempang di pundakku.
"Udah bangun?"
Ah...
Kelas udah kosong. Kulirik jam di kelas dan ternyata udah pukul 4 sore. Berapa jam aku tidur??
"Lo.. ngapain disini?" Tanyaku pada Arsya. Lelaki itu diam menatapku.
__ADS_1
Dilihati begitu membuatku merasa sungkan, entah kenapa. Seperti ada sesuatu yang menghalangi keakrabanku dengan Arsya, nggak seperti yang dulu.
Arsya berdiri, memasukkan ponselnya ke dalam saku celana.
"Ayo, pulang."
Nggak jawab, malah ngajak pulang. Aku mengangguk, lalu berdiri dan menyerahkan jeket itu pada pemiliknya, namun dia menolak.
"Pake aja. Diluar baru ujan." Kata Arsya.
Kualihkan pandangan keluar jendela. Terlihat daun-daun di bawah basah.
Sejak kapan sih, lo pake jeket gini. Biasanya ada angin badai juga lo nyantai. Pake nyelempangin ke gue lagi.
Sepanjang jalan di lorong, aku berjalan bersisian dengan Arsya dalam keheningan.
Jam segini, udah ga ada orang kecuali satpam di depan gerbang. Ga ada suara kecuali langkah kami. Bukannya seharusnya kami bisa bersikap biasa? Baik Arsya maupun aku, ga ada yang memulai.
Arsya membuka pintu mobilnya dan masuk ke dalam.
Loh, kayanya pagi tadi aku liat dia bawa motor. Kenapa tiba-tiba jadi mobil?
Aku mengabaikan tanda tanya ga penting itu dan masuk mobil. Dan yang sama juga terjadi selama di mobil. Hening. Sesekali aku melirik Arsya, tapi dia diam menatap lurus ke depan.
Tanya apa, ya.
Gimana candle light dinner-nya, Sya? Lancar?
Ngga gitu, lah.
Apa kabar, Sya? Sibuk banget ya, sampe jarang ada di kamar. Lampunya juga mati terus.
Eh, kalo nanya gitu yang ada ketauan aku sering meratiin kamarnya.
Ck! Dia kan, ngga suka sama kak Juna.
Atau nanya soal Vita kali, ya. Tapi aku yang ngga suka bahas cewe gila itu.
Oh, aku tanya aja soal kado. Aku pengen tau gimana sarannya soal hadiah yang mau aku kasih ke kak Juna.
Kepalaku miring menatapnya. "E-"
"Lo sempat putus sama Juna?"
Mataku refleks berkedip beberapa kali. Pertanyaannya...
"Kok lo ngga cerita ke gue kalo lo sempat putus sama si Juna? Tiba-tiba udah balikan. Pake ditembak di acara kaya gitu, lagi. Norak!"
Psss...
Kayak abis dikasih boncabe, telingaku panas mendengarnya.
Kita ga ngomong selama beberapa hari ya, Sya. Tapi mulut lo tuhhhh ikgdtyapslq!!
"Iya deh, yang candle light dinner di gedung tertinggi. Berkelas. Beda sama gue yang norak." Ucapku dengan nada pelan sambil menatap keluar jendela. Entah bagaimana respon Arsya, aku ga tahu.
"Ga ada candle light dinner."
Aku membulatkan mata. Apa, katanya? Nggak salah denger kan, aku?
"Vita cemburu sama lo. Makanya dia ngomong asal."
Wehh. Cemburu, ya. Hehehe. Jadi kalian gada dinner-dinneran, nih? Hehehehhe... Mendadak suasana hatiku berubah cerah.
__ADS_1
Arsya menepikan mobil di sebuah resto. Dia membuka seatbelt. "Lo belom makan, kan?"
Tau aja, ih. Gimana gue ga sayang sama lo, Sya. Lo tuhh walau mulutnya cabe rawit tapi hatinya, uhh!
Kali ini aku langsung mencari tempat dan duduk, Arsya lah yang memesan makanan.
"Ada tambahan?" Arsya bertanya sesuatu yang mungkin aku inginkan selain pesananku yang ia sudah tahu tanpa kuulangi lagi.
Aku menggeleng, dan dia memesan di meja kasir.
"Hei, liat tuh. Ada cowo ganteng bangett!"
Aku menoleh pada meja sebelah. Kumpulan beberapa anak cewe memperhatikan Arsya yang berdiri membelakangi.
"Ganteng bangett!"
"Iya. Mirip cowo-cowo yang ada di noveltoon. Gila!"
"Anak SMA Garuda, guysss. Emang tempatnya cowo ganteng."
"Kenalan, yukk!"
Hadeeeh berisik banget.
Arsya datang membawa nampan berisi makanan.
"Ganteng bangettt!!"
"Eh, ada cewenya kayanya."
Arsya meletakkan burger dan minuman soda di atas meja. Lalu duduk santai dan bersandar di badan kursi sambil membuka ponsel. Seperti biasa, dia mulai bermain game.
"Pacarnya, ya?"
"Kayanya bukan. Dicuekin tuh!"
"Ngga cantik, juga."
"Kasian, ya. Wkwkwk."
Hadeeh. Kena lagi deh, gue. Selalu aja diginiin kalo jalan sama Arsya. Iyaa, gue emang ga cantik, makanya ga ada yang mau! Cowo gue aja pernah jadiin gue selingkuhan. Sial.
"Gimana, sayang? Enak? Mau aku pesenin yang lain?"
Hah?
Mulutku yang penuh makanan pun langsung menganga. Kenapa si Arsya ini?
Dia mengulurkan tangannya, lalu mengusap sesuatu yang menempel di bibirku. "Berantakan banget." Katanya sambil tersenyum hangat. Hangat, sampai entah kenapa jantungku berdetak kencang sekali.
Gila, Arsya lagi kesurupan malaikat, kah??
"Pelan-pelan makannya. Aku tungguin kamu, kok." Imbuhnya lagi, masih dengan senyuman indah itu. Beda banget, ga kaya Arsya yang biasa. Pemandangan langka.
"Pergi aja yuk!" Cewek-cewek itu pergi. Dan Arsya tersenyum jail.
Ah.. Dia cuma mau buat mereka pergi, ya.
Tunggu. Kenapa aku kecewa?
...🙈...
Jangan lupa klik vote guysss.. Isi amunisi gue yaakkk makasih banyaakk. Kalo udah 160Vote gue up 3 bab!!
__ADS_1