HIGH SCHOOL RELATION-SHIT!

HIGH SCHOOL RELATION-SHIT!
Hari-Hari Berat 89


__ADS_3

...**Akhirnya Arsya Confess ke Ari. Menyatakan isi hatinya. hehehe Berapa bab malam ini?**...


~


Ngerti?"


Tanpa menunggu jawabannya, aku berlalu pergi. Vita menangis, tertunduk sedih. Aku ga peduli lagi soal dia. Yang harus kupertahankan adalah Ari. Hubungan kami harus semakin baik agar aku bisa mengungkapkan apa yang ada di hatiku saat ini.


"Kamu kenapa ada disini?"


Aku berhenti saat melihat Ari dan seorang wanita tengah mengobrol. Tapi yang menjadi perhatianku adalah wanita itu sangat tidak asing bagiku. Juga ekspresinya pada Ari, tidak ramah.


"Dia sama aku." Om Tama datang, lalu merangkul Ari.


"Aku dan Ari udah sepakat buat hubungan yang lebih baik. Kesalahan kita berdua dulu, sebaiknya jangan lagi membuat anak kita tersakiti. Ingat, dia juga butuh kasih sayang orang tuanya."


Anak kita?


"Aku gak bisa balik kaya dulu. Udah pernah aku bilang ke kamu kan, mas. Aku udah punya keluarga baru. Aku udah bahagia, udah ada suami yang sayang dan mengerti aku, juga anakku yang masih kecil." Ujar Wanita itu.


"Tapi Ariva juga anakmu. Ariva anak perempuanmu, lahir dari rahimmu."


Ah, iya. Aku ingat, itu tante Nia, mama Ariva. Tapi, kelihatannya pertemuan mereka bukan sesuatu yang diharapkan.


"Dia udah besar. Dia udah bisa ngurus dirinya sendiri. Lagi pula uang dariku juga pasti cukup, kan?"


"Ini bukan soal uang, Nia. Kalau itu, aku pun bisa kasih bahkan lebih." Seru om Tama.


"Ya udah. Kalau gitu, kamu aja yang kasih dia. Kalian hiduplah dengan baik. Tolong, jangan lagi datang tiba-tiba seperti tadi. Aku gak mau suamiku tau soal kamu."


Mendengar itu membuat napasku serasa berhenti seketika. Kejam sekali tante Nia. Dia benar-benar melupakan Ari di kehidupannya.


"Nia! Kamu keterlaluan!"


"Pa, udah.." Tangan Ari bergetar menarik om Tama untuk berhenti.


Melihat kerapuhannya, ingin sekali aku menarik Ari dan memeluknya. Tapi saat ini bukan waktu yang tepat.


"Aku udah melangkah jauh, dan kalian adalah masa laluku. Sekarang, mari hidup sendiri-sendiri, lupakan masa lalu. Dan kedepannya kuharap kita bisa saling tidak mengenal jika bertemu di lain tempat. Atau kalau perlu, pergilah jauh ikut papamu ke Rusia. Ku rasa itu jalan terbaik."


"Syaa."


Aku melepaskan lenganku dari genggaman Vita yang muncul dari belakang. Dia memutar dan berdiri menghadapku.


"Sya, please. Kasih gue kesempatan."


Ah. Anak ini. Udah berapa kali aku bilang, kalau aku tidak punya perasaan apa-apa padanya.


"Gue akan lakuin apapun. Apapun, Sya.."


"Vit, jangan rendahin diri lo kayak gini."

__ADS_1


"Gue ga peduli. Gue bahkan akan kasih diri gue ke elo, ngelakuin apapun yang lo mau, asal lo nerima gue lagi, Sya."


Astaga. Ga beres nih, cewek.


"Vit, bukan gitu caranya."


"Trus caranya gimana supaya lo mau nerima gue lagi. Gue cinta sama lo, Sya. Gue ga mau kehilangan lo!"


"Gue ga bisa."


"Sya, please-"


"Aarrkhh!"


Aku langsung mengerang sakit saat Vita berusaha memelukku, menyentuh punggung yang tadi dipukul 2 kali dengan balok kayu. Terasa menyakitkan.


"Sya- Sya.." Gadis itu bingung, karena aku sampai tak bisa menahan rasa denyutnya. "I-ini.. kenapa.."


"Bukan urusan lo." Dengan berusaha menahan sakit, aku berjalan mengikuti Ari yang melangkah sendiri.


Aku meninggalkan Vita dan berhasil mendekati Ari.


"Hey." Aku meraih tangannya, dia membalikkan badan hingga terlihatlah wajah yang basah.


Ari menarik kembali tangannya, lalu menjauh seperti tak ingin diganggu.


Lalu beberapa langkah, dia berhenti dan menangis sesegukan, menutup wajahnya dengan kedua tangan. Tak lama, hanya beberapa detik seperti ingin membuang sesak, dan ia melangkah lagi.


Melihat keterpurukannya membuatku ikut bersedih. Baru ini aku melihatnya sampai seperti itu. Ari yang ceria, belakangan selalu bersedih.


"Sya!"


"Arrkhh..." Aku mengerang lagi saat papa tiba-tiba muncul dan menepuk bahuku.


"Hei, kenapa?" Papa memutar tubuhku dan kaget melihat lebam di wajah. "Kamu berantem, Sya? Berkelahi, iya?"


Nada papa cukup tinggi sampai beberapa yang lewat menoleh ke arah kami. Untunglah ini dibelakang acara, jadi tak banyak yang melihat.


"Arsya pulang sendiri, pa." Aku membuka jas, dan menentengnya sambil berjalan keluar.


"Sya, jelasin sama papa. Kenapa kamu bisa berkelahi, hah?"


Ah, aku belum mau cerita. Bagiku ini berita yang cukup berat. Apalagi sepertinya tulang bahuku retak.


"Arsya pengen sendiri, pa." Aku terus berjalan teragak pincang tanpa mau berhenti.


"Arsya!"


Ah, entahlah. Semua berantakan. Aku belum mau bicara apapun. Tubuhku sakit, ngilu, tapi pikiranku terus menampilkan wajah Ari yang bersedih.


Sampai di rumah, aku langsung ke kamar. Untungnya mama ga ada di depan hingga aku bisa menyembunyikan ini sementara.

__ADS_1


Aku membuka jendela dan mendengar isak tangis dari kamar Ari. Aku menggeser jendelanya dan melompat ke seberang. Kulihat dia sudah duduk memeluk lutut di atas ranjang.


"Ari."


Aku mendekat, lalu berdiri di tepi ranjang.


"Ri..."


Dan tangis Ari pecah. Dia memeluk pinggangku, menangis sejadi-jadinya. Yang bisa kulakukan hanyalah membelai rambutnya yang bergerai begitu saja.


"Gue ada disini, Ri. Gue di dekat lo."


"Jangan pergi, Sya. Jangan tinggalin gue.."


Lirihnya dengan suara serak dan terdengar menyedihkan bagiku.


"Sst. Gue disini. Gue ga akan kemana-mana." Gue ga akan tinggalin lo, Ri. Gue janji.


"Tenang, ya. Gue akan jagain lo malam ini. Gue akan terus ada di sisi lo, Ri."


Ari mengangguk, lalu ia melepaskan pelukan dan mengadahkan wajah menatapku dengan mata basahnya.


"Jangan sedih lagi." Aku mengusap pipinya dengan lembut. "Ariva yang gue kenal itu kuat dan ga suka memikirkan masalah."


"Dulu.. ada cewek yang pernah bilang gini ke gue. 'saat terjatuh, berdirilah dengan kaki sendiri. Menangis ga akan nyelesaikan masalah. Karena lo tau, ga ada orang yang akan nolongin lo ketika bersedih. Dan saat menyadari itu lo akan berhenti bersedih. Ketika ada orang yang tanya, 'apa kamu kesakitan?' luka yang seharusnya ga sakit, jadi terasa sakit. Ketika ada yang meminta lo supaya ga nangis, lo malah jadi pengen nangis. Jadi, untuk kuat lo cuma perlu ngehindari semua (pertanyaan) itu."


Air matanya kembali menetes setelah mendengar ucapanku.


Tujuanku mengatakan itu untuk membuatnya kembali bangkit dan mengingat bagaimana kuatnya Ari yang dulu saat orang tuanya tak ada di sisinya di saat-saat pentingnya.


"Sejauh ini lo udah jadi cewek kuat. Lo bisa buktiin ke gue kalo lo bisa berdiri sendiri. Gue mau lo tetap dengan karakter lo yang dulu. Melupakan kesedihan yang bersarang di benak lo. Kembali menjadi Ariva yang ceria seperti kemarin-kemarin. Kesedihan ngga akan buat lo tumbang gitu aja. Benar, kan?"


Dia tak menjawab, hanya diam menatap jari-jarinya yang ia pilin.


"Udah, ya. Malam ini cukup, lo harus tidur. Ini udah jam 1 malam."


"Tapi, Sya. Mama-"


"Sst..." aku duduk di tepi ranjang. "Satu orang pergi, bukan akhir dari segalanya. Masih banyak yang sayang sama lo."


Lalu kuselipkan anak rambutnya ke belakang telinga, sambil menatap matanya penuh dengan kasih sayang.


"Ada gue, yang sayang sama lo."


Ari.. bergeming. Menatap kedua bola mataku, seperti mencari kesungguhan disana. Biar kuperjelas lagi.


"Gue sayang banget sama lo, Ri. Gue ga suka liat lo nangis kaya gini. Jadi, berhenti bersedih karena gue akan terus ada di sisi lo. I promise.." Aku mengecup kening Ari, memejamkan mata karena ini kali pertama aku menumpahkan rasa cinta yang kupendam untuknya. Cukup lama, sampai aku melepasnya dan membantunya merebahkan tubuh.


"Good night.." bisikku padanya, lalu menaikkan selimut sampai menutupi bahu. Tak menunggu lama, Ari pun tertidur...


**

__ADS_1


H-1 Ari flight ke Rusia😭


__ADS_2