
Hari-hari terlewati bersamaan dengan hubungan yang semakin erat. Arsya dan Ari melaluinya dengan terus saling menghubungi satu sama lain hingga tak terasa telah dua bulan berlalu.
Saat ini, Ari tengah libur dan menyempatkan bervideo call dengan Arsya yang baru selesai olahraga.
"Hai." Sapa gadis itu dengan senyum lebar. Kangen, padahal baru tadi malam dia dan Arsya menghabiskan waktu dengan video call sampai lelaki itu tertidur.
Arsya tersenyum sambil memperbaiki posisi ponselnya yang ia sanggah dengan buku.
"Olahraga apa tadi?"
'Futsal.' Jawab Arsya. Tubuhnya penuh keringat, dan ia mengibas-ngibaskan kerah baju.
"Capek, dong."
'Lumayan. Udah lama ga futsal.' Arsya membuka dan menenggak air mineral dalam botol hingga memperlihatkan tonjolan di lehernya naik turun.
Ari melihat itu dengan mata yang tak berkedip. Ia merasa Arsya semakin membuatnya berdebar hanya dengan memperlihatkan sesuatu yang tak membuat Arsya sadar kalau itu menarik hati Ari.
'Di rumah aja? Nggak jalan-jalan?' Tanya lelaki itu setelah menenggak habis air dalam botol.
Ari menyadarkan dirinya yang terlalu fokus pada leher Arsya. "E, enggak. Di rumah aja. Males soalnya."
'Mageran mulu lo. Olahraga sana.'
"Nggak ah. Salju udah mulai turun, tau."
'Huu enak banget ada salju.' Sambung seseorang, menyela dari samping, lalu menunjukkan wajah yang sumringah. 'Lo nggak pulang?'
"Enggak. Males ketemu lo."
'Ngga asik banget.' Jawabnya, lalu pergi.
Ari tertawa. Itu Anggara, teman sebangku Arsya. Orangnya juga pintar, dan sekarang Arsya lebih banyak main dengan dia kalau di sekolah Danu dan Zaki lagi ga ada.
'Kapan liburan?' Tanya Arsya.
"Udah mulai masuk libur, sih. Cuma tetap harus ke sekolah beberapa hari ini."
Arsya manggut-manggut. 'Nggak kesini? Katanya musim ini bakalan balik.'
"Eum.. ga tau, nih."
'Jangan kerjain gue. Kalo mau balik harus bilang biar gue jemput. Jangan gaya-gayaan mau surprise segala.'
Eh. Ari sampai tertawa saat pikirannya dibaca oleh Arsya.
Bel terdengar, tanda jam olahraga berakhir.
'Gue ganti baju dulu.' Arsya menuju ke belakang, mendekati loker. Lalu membuka bajunya yang basah, hingga memperlihatkan kaos kutung yang juga basah.
Wah, tubuh Arsya emang makin keren, ya. Hihihi. Ari menutup mulutnya saat senyum lebarnya terus mengembang melihat Arsya tengah mengobrol dengan teman yang lain sambil mengelap tubuhnya yang basah.
'Wayoloh, ngapain?' Anggara menyela di depan, membuat tawa Ari hancur. Lalu Arsya juga menoleh ke belakang saat Angga duduk di bangku dan memposisikan tubuhnya tepat di depan kamera ponsel.
__ADS_1
"Sial, ketutupan tau!"
'Mesum lo!'
"Biarin!"
Eh. Ari fokus pada seseorang yang menghampiri di belakang. Seorang cewek, dia mengobrol begitu santai dengan teman Arsya. Tertawa dan terlihat akrab.
'Ya nggak, Sya?' Kata cewek itu sambil menyentuh bahu Arsya yang bahkan belom pake baju! Dia terus disana, berbicara bertiga tapi tatapan gadis itu terus pada Arsya.
Ari berdecak. Siapa sih, dia? Ari merasa wajahnya tak pernah ia lihat.
'Gitu deh, Sya. Jangan lupa, yaa..' gadis itu melambaikan tangan pada Arsya yang hanya diam mengancing bajunya.
Setelah itu, Arsya datang dan menggeser ponsel lebih dekat dengannya. Ada airpod kini menempel di telinga kirinya.
'Udah, ya. Bentar lagi guru masuk.'
Ari tak merespon, karena pikirannya sibuk dengan apa yang barusan dia lihat.
'Ri? Malah melamun.'
"Tadi siapa?"
Alisnya naik sebelah, 'hm? Yang mana? Angga?'
"Bukan. Cewek yang pegang lo tadi!"
Waduh. Arsya diam karena lupa sesuatu. Kenapa dia bisa ga tau kalau Ari lihat dari belakang?
'Anak baru, Ri. Masuk pas lo baru keluar.'
"Kok lo gak cerita kalo ada anak baru di kelas lo. Cewek, lagi. Ngapain dia pegang-pegang gitu? Udah akrab banget, ya."
'Bukan siapa-siapa, dia cuma ngajak keluar bareng temen-temen ntar malem.' Jelas Arsya dengan tenang.
"Oh. Jadi lo mau pergi sama dia nanti malem?"
'Gue kan mau telepon-'
'Sya. Lo sibuk? Mau nanya ini, nih. Kok gue ga ngerti ya, yang nomor dua ini.'
Ari lebih syok saat melihat cewek tadi membungkuk hingga rambutnya menutupi pandangan Ari. Bukannya dia terlalu dekat, ya?
'Oh, bentar.' Arsya mencoba menggeser tubuhnya, tapi Ari sudah kesal duluan.
'Oh, lo lagi teleponan, ya.' Ucap perempuan itu, menoleh sebentar ke kamera ponsel lalu berdiri tegak.
'Lagi di kelas tau, Sya. Bentar lagi guru masuk, lo malah telepon cewek. Apa ga keganggu belajarnya? Lo telepon siapa, tuh? Katanya lo ga punya pacar.'
Ngga punya pacar???
Kuping Ari jelas panas mendengarnya. Siapa, sih? Sok oke banget.
__ADS_1
"Udah, ya."
'Eh, bentar-'
"Gue mau boker! Selamat belajar, deh. Sorry udah ganggu." Ari segera menutup panggilan video dan melempar ponsel ke tempat tidur.
"Apaan sih, tu cewek! Sengaja ya, supaya gue denger! Lagian kenapa Arsya ga ngaku kalo punya pacar, sih! Gue aja disini bilang ke temen-temen kalo gue punya pacar!" Ari mendengkus kesal. Biasanya dia marah pada Arsya kalo cowok itu lama membalas pesan tanpa memberi kabar lagi apa disana. Tapi kali ini karena orang lain.
Tok..tok..
Kamarnya diketuk, Ari membuka pintu dan mendapati Jay berdiri membawa bunga.
"Nih, dari pujaan hati lo." Ucap Jay, menyerahkan Lili putih. "Udah, ya. Cepat kirim itu ke Arsya supaya dia tau pesenannya udah nyampe."
Ari bergeming menatap sebucket bunga Lili putih di tangannya. Kapan Arsya pesan ini, ya? Padahal baru teleponan.
"Kenapa murung? Ini tuh, beneran dari Arsya. Coba aja tanya sana. Kemarin dia minta gue yang beli. Tapi gue baru bisa keluar tadi. Lo tau kan, salju mulai turun. Masih untung ada toko yang buka. Emang nyusahin amat tu anak!" Omel Jay yang sudah berani pada Ari. Dia mengoceh panjang kali lebar, namun tak masuk ke telinga Ari. Sebab dia memikirkan hal lain. Di saat dia kesal dan mencemburui orang lain, Arsya malah mengiriminya bunga.
"Heh, kenapa?" Merasa ucapannya tak didengar, Jay menyenggol lengan Ari.
Gadis itu menggeleng pelan. "Ngga, kok."
Jay tahu, pasti ada sesuatu. "Ada masalah sama Arsya, ya? Ah, elo, sih!"
Eh? Jay emang tau masalahnya apa? Malah nyalahin Ari yang kaget dengan ucapan Jay.
"Makanya, dijelasin statusnya, dong. Arsya juga butuh kepastian. Walau lo berdua udah keliatan pacaran, tapi lo kan, belum ada bilang apapa."
"Ga ada hubungannya sama itu." Sahut Ari.
"Ada, dong. Arsya bisa aja capek. Hubungan apa yang dijalani? Gak jelas. Pacaran enggak, temenan juga enggak. Lama-lama Arsya juga lelah. Trus kalo ada cewek yang perhatian ke dia disana, dan dia beralih hati, wajar sih. Kalo gue, ga akan nyalahin Arsya."
"Ngomong apa, sih!"
Ari langsung menutup pintu dengan keras. Kalimat Jay membuatnya kembali overthinking. Apalagi tadi beneran ada anak baru yang mencoba menarik perhatian Arsya.
Lalu, apa benar Arsya bisa aja bosan dan capek dengan hubungan yang gak jelas? Tapi, bukan Ari tidak mau memperjelas. Masalahnya, dia takut kehilangan. Jika Arsya suatu hari ninggalin dia, bukankah dia bisa lebih lapang bila menyadari memang hubungan mereka tidak ada apa-apa. Seperti ini saja, sebenarnya Ari sudah bahagia. Dan dia yakin, Arsya juga ga mempermasalahkan. Tapi ucapan Jay barusan...
Ari kembali membuka pintu. Dia melihat Jay baru menuruni anak tangga.
"Kak!"
Jay melihat ke atas.
"Pesenin gue tiket ke Indo, cepetan!"
"Emang udah bilang ke bos?"
"Pesenin aja. Masalah itu urusan gue."
Jay memberi kode oke dengan jarinya, kemudian berlalu pergi.
Ya, pulang aja dulu. Liat sendiri gimana respon Arsya nanti saat disana. Ari yakin Arsya pasti senang dengan kehadirannya...
__ADS_1
"Ah, ga sabar.." bisik gadis itu sembari mencium aroma segar dari bucket bunga Lili yang sejak tadi di pelukannya.
** Jangan lupa VoTE ya seyeengg