
Ari merasa dirinya terlalu berlebihan. Mendengar kata 'kita' sudah membuatnya berdebar-debar. Belum lagi genggaman tangan Arsya yang belum terlepas. Padahal, ini biasa terjadi sewaktu mereka sering jalan-jalan berdua. Tapi kali ini beda. Dia udah ungkapin perasaannya, dan Arsya jelas tahu apa yang ia rasakan.
Ari belum siap. Kalau Arsya menanyakan soal kemarin, dia takkan sanggup menjawab. Dia memberanikan diri pun karena tidak berhadapan langsung. Tapi Arsya malah menunjukkan diri. Entah apa tujuannya datang kesini, batin Ari.
Ari menatap punggung Arsya. Dia mendengar dari Karin, kalau punggung Arsya patah sampai membuatnya ga masuk sekolah beberapa hari. Tapi kenapa dia terlihat biasa saja? Bahkan tangannya menggenggam kuat seperti tak merasakan apapun. Bukannya seharusnya, tangannya itu susah bergerak?
Tapi Ari ga ngomong apa-apa, selain kakinya yang melangkah dibelakang Arsya, mengikuti laki-laki itu pergi tanpa tujuan.
Mereka terus berjalan. Saling diam tanpa pembicaraan apapun. Sejujurnya keduanya memiliki banyak pertanyaan untuk segera dijawab. Tapi tidak ada yang memulai. Terlebih Ari yang takut dengan keadaan sekarang.
Terus terang, dia senang bisa melihat Arsya yang ia rindukan. Tapi sejak tadi hatinya tidak tenang.
Setelah cukup lama, Arsya berhenti.
"Ini kita kemana, ya."
Arsya menoleh kiri dan kanan, menatap gedung tinggi dengan suasana sore yang hampir menjadi malam.
Hah. Gak tau jalan tuh, bilang dong! Batin Ari yang hanya menatap sisi kanan wajah Arsya. Lalu saat lelaki itu menoleh ke arahnya, Ari cepat-cepat memalingkan wajahnya.
"Gimana, nih? Kita nyasar, ya?"
'Nyasar apanya! Jalan juga baru 500 meter!'
Arsya kini menghadapkan tubuh ke arah Ari yang belum bicara sejak tadi.
"Lo kok diem aja? Lo kan, udah jadi orang sini sekarang. Kasih petunjuk, dong."
Entah kenapa Ari jadi kesal. Sebenarnya apa tujuan Arsya datang? Dia bersikap seolah-olah tidak terjadi apa-apa diantara mereka. Tingkahnya juga sama. Bedanya hanya suasana hati Ari yang ga kaya kemarin-kemarin, sebelum dia mengungkapkan perasaannya.
Entah kenapa Ari jadi nyesal.
"Gue udah sampe sini, loh. Lo ga mau bawa gue kemana, gitu."
Ari diam saja, membuat Arsya harus memutar otak untuk mengobrol.
"Ah, jam berapa ya sekarang. Emm.." Arsya mengangkat tangan, guna melihat jam yang melingkar di pergelangan tangan kirinya.
"Haduh, ini sih, waktu Indonesia. Bukan Rusia."
Ari melirik, dilihatnya Arsya memakai jam yang ia hadiahkan beberapa hari lalu.
Ari tahu Arsya sengaja menunjukkan itu. Tapi anehnya, Arsya malah bertingkah bukan seperti dirinya yang biasa.
"Pulang aja, deh!" Ari melangkah pergi.
"Eeh. Itu tuh, bagus tempatnya." Arsya menarik tangan Ari dan langsung membawanya ke tempat yang ia tunjuk. Alasan yang ia gunakan supaya ia dan Ari bisa terus berdua.
Arsya berhenti, dia tampak keheranan dengan suasana kota.
"Kok.. sepi."
"Rusia lagi kena sanksi ekonomi. Jadi beberapa tempat tutup."
"Yah.." Terdengar kekecewaan dari nada bicara Arsya, sampai membuatnya agak tergerak.
Ari menimbang-nimbang, mungkin cuma dirinya yang bertingkah aneh. Arsya mungkin datang untuk meluruskan hubungan seperti apa mereka sebenarnya. Dari dulu, sampai sekarang tidak ada yang berubah. Dan Arsya memperjelas itu dengan bertingkah dan memperlakukan Ari seperti biasa.
Tapi.. bukankah itu artinya menolak?
Entahlah. Ari akan membawanya keliling sebentar supaya anak itu tidak kecewa.
"Ayo."
__ADS_1
Ari menyetop taksi, lalu naik dan Arsya mengikuti dengan raut bingung.
"Pulang?" Tanya Arsya saat di dalam.
"Could you take me to the Red Square, please?" Ucap Ari pada si pengemudi.
Taxi langsung jalan menuju tempat yang di minta Ari.
Selama taksi berjalan, Ari hanya melihat ke luar jendela. Menatap jejeran gedung dan lampu-lampu yang sudah nyala menjelang malam.
Dia pun sadar, saat ini Arsya yang duduk disebelahnya terus menatap ke arahnya.
Entah kenapa Arsya merasa hatinya tergelitik melihat gelagat yang berbeda dari Ari.
Malu, kesal, cuek, dan diam-diam masih perhatian.
"Gemes banget.."
Ari yang mendengar itu langsung menoleh. Siapa yang gemes? Ari ingin tahu. Dilihatnya Arsya tengah menatap lurus kedepan sambil tersenyum.
"Kenapa?" Tanya Arsya. Ari cuek, dan kembali menghadap jendela.
Arsya terkekeh pelan. Untung dia sempat mengalihkan wajah sebelum kepergok Ari tengah menatap ke arahnya.
Sesampainya disana, Arsya dibuat takjub dengan bangunan yang menjadi landmark bagi kota Moskow. Tempatnya luas, mungkin kalau untuk malam ini saja, mereka takkan bisa menjelajahi semuanya.
"Biasanya disini jadi tempat main keluarga, atau pasangan, ya?"
Pertanyaan Arsya mendapat respon tak biasa dari Ari.
Gadis itu melipat tangan di dada. Alisnya mengerut kebawah, tanda ia tidak paham arah bicara Arsya.
"Gue cuma nanya. Pengen tau aja gimana orang Rusia kalo lagi jalan-jalan." Jawabnya santai saat melihat reaksi Ari yang berubah.
"Mana bisa. Gue aja ga tau dimana rumah papa lo. Nih, gue juga lupa bawa dompet sama hp." Arsya meraba seluruh kantongnya, lalu menyengir saat Ari menatapnya kesal.
"Jadi kenapa lo bisa ada di depan sekolah gue?"
Arsya malah cengengesan. "Nanya sama bokap lo. Trus gue turun deh, di situ." Jawabnya sambil terkekeh kecil. "Habisnya gue mau jalan-jalan."
"Yauda cepetan lo mau kemana. Besok pagi-pagi gue harus sekolah. Emangnya elo, bisa sesuka hati pergi jalan-jalan keluar negeri. Pasti bolos kan, lo?"
"Iya, dong." Jawab Arsya santai. "Gue sengaja bolos supaya bisa ngejar elo."
Deg-deg-deg. Detakan jantung Ari tak bisa dikendalikan. Ucapan Arsya, juga tatapannya membuat Ari hampir salah paham, kalau saja Arsya tidak melanjutkan.
"Enak aja, lo kabur ke Rusia. Gue juga mau kali, jalan-jalan ke Rusia." Jawabnya lagi, dan melanjutkan jalan tanpa memperdulikan Ari yang sudah kesal setengah mati.
Bukankah Arsya tengah mempermainkannya?
...🍭...
Tama tersenyum saat melihat Ari dan Arsya baru masuk rumah. Dilihatnya Ari kelalahan, sementara Arsya sumringah penuh keceriaan.
"Abis jalan-jalan ya, Sya?" Tanya Tama, melipat ponsel dan serius memperhatikan Arsya yang duduk di kursi makan dihadapannya, sementara Ari langsung naik ke lantai dua.
"Iya, om. Moskow seru, ya. Dingin juga." Jawab Arsya sambil melirik Ari yang menapaki tangga.
"Lebih seru di kampung halaman papa kamu, dong. Om juga kalau dapat proyek di London, bakalan pindah kesana. Sayang, kalah tender." Kata Tama diselingi tawa. "Kita makan dulu, nanti om kasih tau tempat yang bagus untuk dikunjungi, oke?"
Arsya mengangguk cepat. Memang itu rencananya. Selama 3 hari di Rusia, dia akan mengelilingi Moskow bersama Ari.
__ADS_1
"Panggilin Ari." Tukas Tama pada pembantu rumah tangganya.
~
Setelah makan malam, Ari langsung masuk ke dalam kamar. Sejak tadi dia belum banyak mengobrol dengan Arsya. Padahal dia ingin menanyakan banyak hal. Tapi tingkah Arsya yang berpura-pura itu membuatnya sungguh tak nyaman. Sebab itu pula yang membuat Ari menghindar dan cepat-cepat mengurung diri di kamar dari pada terus berhadapan dengan Arsya yang membuat hatinya tidak tenang.
Tok..tok..
Sedang tengah bersantai dengan novelnya, pintu kamar Ari diketuk.
Tok..tok..
Ari menutup novel dengan agak keras karena terganggu. Biasanya ga ada yang berani mengetuk di jam istirahat seperti ini. Rasanya Ari tahu siapa orangnya.
Dia membuka pintu, dan benar sesuai dugaannya, Arsya berdiri dengan senyuman aneh.
Kepalanya miring, mengintip kedalam. "Lo lagi ngapain?"
"Belajar."
"Oh. Gue ganggu-"
"Iya."
"Astaga." Desis Arsya saat Ari menjawab begitu cepat.
"Emang lo ada tugas? Sini gue bantu." Arsya menyelonong masuk begitu saja padahal Ari belum mengatakan apa-apa.
"Belajar apaan. Baca novel gini!"
Ari semakin kesal saja melihat tingkah Arsya yang tak wajar.
"Keluar." Ucap gadis itu dengan dinginnya.
Arsya memasang telinga saat dia merasa Ari mengusirnya.
"A-apa?"
"Keluar." Ucap Ari lagi, melebarkan pintu.
"Malam ini gue mau tidur disini."
Jawaban tak terduga Arsya membuat Ari bergeming, menatapnya dengan rasa penuh keingintahuan, apa maksud lelaki ini melakukan hal yang membuat hatinya terus bergetar. Seolah dia tengah dipermainkan, padahal jelas Arsya tahu bagaimana perasaannya sekarang.
"Kenapa? Dulu kita juga sering tidur bareng."
Kali ini berbeda. Dan Ari yakin, Arsya sangat paham itu.
"Jangan buat gue kayak orang bodoh, Sya. Stop. Gue minta lo keluar."
Arsya diam sesaat, lalu melangkah. Raut penuh kejahilan berubah menjadi dingin, seperti wajahnya yang biasa.
Bukannya keluar, Arsya malah mendekatkan dirinya kepada Ari, menatap gadis yang berdiri tepat di bawah dagunya. "Kalo gue ga mau, lo mau apa?"
Cukup sudah. Ari merasa kesabarannya sudah habis.
Ari mendorong tubuh Arsya. "Gue tau lo permainin gue karena lo tau gimana perasaan gue ke lo. Stop permainin gue dan keluar dari sini!"
BRAK! Pintu ditutup Arsya dengan keras.
Ari menahan napasnya, tubuhnya tak bisa bergerak saat Arsya mengungkungnya diantara kedua tangan yang semakin membuat Ari terhimpit ke tembok.
Gadis itu menoleh kesamping, saat deru napas Arsya begitu terasa di wajahnya.
__ADS_1
...**...
Makasih udah sempetin komentar ya suka banget💙 Jangan lupa VOTE GUYS?? 🫶🫶