HIGH SCHOOL RELATION-SHIT!

HIGH SCHOOL RELATION-SHIT!
Birthday Party 48


__ADS_3

"Terserah. Gue ga peduli lo mau ngapain sama Vita, yang perlu lo tau gue bencii. Bencii banget sama cewek lo itu!"


Arsya menarik bahuku sampai tubuh kami saling mendekat, lalu ia menunduk menatapku dengan tatapan yang tak bisa kuartikan. Wajahnya yang tampan itu dialiri air yang membuat kulit putihnya berubah pucat.


"Gue mau lo tau, gue sama sekali nggak pacaran sama Vita. Bukan dia cewek yang gue suka, Ri. Lo harus tau itu!" Tekan Arsya di depan wajahku dengan nada pelan, namun aku tetap bisa mendengarnya walau deras hujan membuat tubuhku menggigil dingin.


Aku ingin segera mengakhiri ini. Perasaanku mendadak tidak enak saat Arsya mengatakan ini padaku.


Lagi pula, siapa yang peduli soal dia dan Vita?


"Terserah lo mau punya hubungan apa sama cewek itu." Benar, aku ga peduli soal hubungan mereka. Toh, dia dan Vita memang terlihat pacaran dan itu pula yang membuat Arsya ga ada saat aku butuh dirinya. Dan yang perlu dia tau saat ini ialah, "Gue benci sama lo, Sya." Di saat aku butuh, dia entah kemana dan sekarang mau aku tetap ada di dekatnya?


Setelah mengatakan itu, aku berlalu begitu saja. Entah bagaimana Arsya, aku tidak lagi peduli. Yang penting, apa yang aku pendam bisa tersalurkan padanya.


Lalu, apa benar aku membenci Arsya? Di saat orang lain berusaha melindungiku, dia justru entah ada dimana.


Andai dia tau, kalau perlindungannya padaku adalah hal yang paling kutunggu dan mampu menenangkan aku hanya dengan melihat kehadirannya saja.


~


Aku duduk di meja belajar dengan hidung yang merah. Tiba-tiba aja ada cairan berlendir keluar tanpa diminta. Kepalaku juga sedikit pusing, dan tubuhku hangat. Kalau begini, mana bisa aku sekolah.


"Haaatchiu."


Sroottt!


Iyeuuwh. Ingus.


CK. PR juga belum selesai, padahal harusnya aku udah siap-siap berangkat sekolah. Tapi dengan kondisi begini, mana mungkin aku pergi.


Padahal hari ini niatnya mau cari hadiah untuk kak Juna bareng Salma. Mana besok malam acaranya, lagi.


Eh? Gimana, ya. Apa aku bisa izin sama bunda untuk gak ikut rayain ultah Arsya disini? Aku ga mungkin ga dateng ulang tahun kak Juna.


Dan akhirnya, aku ga sekolah.


Drrtt ....


"Haloo.." Sapaku dengan suara yang nyangkut di hidung.


'Arivaaa! Lo beneran sakit, uh?'


Tiga wajah di seberang tampak khawatir, terlebih Karin. Kayanya dia ga percaya aku sakit.


'Bukan karena kejadian kemaren kan, Bo?' Sahut Kai.


'Perlu kita jenguk nggak, nih? Kali aja abis liat wajah gue secara langsung, lo jadi sembuh.' Timpal Hajoon pula dengan percaya diri.


'Apaan sih, Hajoon. Jadi aneh gitu.'


'Tau nih, alay lu!'


Aku tergelak mendengar celotehan mereka bertiga disana.


"Gue cuma bapil demam dikit, kok. Besok paling dah sembuh." Jawabku pada mereka bertiga.


'Udah minum obat lo, Bo?'


"Belom, sih. Napa lu? Ga seru kan, ga ada gua. Hahaha."


'Iya, nih. Suntuk gue ga ada yang dijailin.' jawab Kai dengan nada lesu. Dasar, bisa-bisanya dia mengatakan itu.


'Kok belum minum obat, sih? Ntar makin parah, loh.' Kata Hajoon mulai perhatian.


"Nggak, lah. Pilek doang."

__ADS_1


Dan akhirnya pagi itu kami mengobrol dengan candaan lucu dari Hajoon dan Kai sampai bel sekolah terdengar, dan video call pun berakhir.


Aku meletakkan ponsel, lalu menatap jendela terbuka milik Arsya. Tiba-tiba teringat soal apa yang Arsya bilang ke aku tadi malam. Apa benar dia ga punya hubungan apapun dengan Vita?


Trus, kalo gitu, kalimat Arsya soal bukan Vita orang yang dia sukai, artinya ada orang lain, dong. Duh, kenapa tadi malam aku emosi, ya. Padahal pengen juga tau siapa orangnya. Apa jangan-jangan aku?


Astaga sinting lo, Ariva!


Aku memukul-mukul jidat karena telah bodoh memikirkan hal semacam itu. Punya perasaan berbeda ke Arsya aja namanya udah pelanggaran, apalagi punya hubungan. Gilaaakk! kenapa aku jadi mikir kesana.


Aah. Trus, tadi malam kayaknya aku keterlaluan. Yah, kuakui memang aku kesal sama Arsya. Tapi kan, ga sampe benci juga. Trus dia gimana, ya. Marah ngga sama aku?


Bodo' ah! Dia yang salah, juga. Ngapain aku pikirin. Aku kan, lagi marah!


Tok..tok


"Ari."


Kak Tari masuk, dia sudah rapi dengan setelan kantor. "Kakak antar ke rumah sakit, yuk."


"Ngga ah, kak. Bentar lagi juga sembuh."


"Ya ampun, besok malam perayaan ulang tahun Arsya, lho. Masa kamu sakit begini."


Hm.. kalo bisa sih, ga ikut.


"Besok juga sembuh."


Kak Tari menekuk wajahnya. Dia pasti kesal karena aku terus berkeras seperti biasa jika soal sakit-sakit begini. "Ya udah. Awas ya, kalo makin parah kakak ga tanggung jawab."


"Hmm.." Jawabku sembari menatap kepergian kak Tari.


~


Aku terbangun saat seseorang mengetuk pintu. Aku yang miring menghadap jendela melihat bagaimana tiraiku bergoyang.


Suara kak Tari, teriak dari balik pintu.


"Iyaa." Jawabku dengan nada serak.


Aku ingin bangkit, namun tertahan lantaran merasa ada sesuatu di dahiku.


Eh? Ada kain kompres. Ini masih terasa basahnya. Kayanya baru ditaruh.


Lalu di atas nakas, ada vitamin dan beberapa makanan kesukaan.


Ini perbuatan siapa? Arsya.. atau kak Tari?


Aku berdiri dan mendekati jendela. Kulihat jendela Arsya tertutup.


Aku berharap apa, sih.


Aku buru-buru turun dan mendapati tiga orang sudah duduk manis di sofa.


Aku bersedekap sambil menyenderkan bahu kiri di pintu penghubung.


"Kangen?"


"Ariva!"


Karin datang berhambur memelukku. Di belakang, Kai dan Hajoon tampak nyengir.


"Lo beneran sakit, ya. Gue kira boongan." Kata Karin setelah mengecek suhu di jidatku.


"Cowo lo udah sebar undangan, Bo. Lo serius sakit sekarang?" Tanya Kai, saat aku dan Karin sudah duduk.

__ADS_1


"Dia udah ngabarin gue kok. Gue tetap dateng, kok. Gue palarin walo demam-demam gini!" Jawabku penuh semangat.


"Ya ga usah dipaksa juga." Sahut Kai lagi, dan aku hanya angkat bahu tak acuh.


"Nih, ucapin terima kasih ke gue, karena gue udah bawain catatan gue hari ini buat lo pelajarin dan salin!" Kai meletakkan setumpuk buku di atas meja.


"Aduh, Kai. Lo mah, buat gue makin sakit!"


Kai malah terkekeh. "Udah gue selipin tuh, jawaban tugas yang harus lo kumpul besok."


Senyumku mengembang. "Thank you, Kaiii."


Dan sore itu berakhir dengan kepulangan ketiga teman baikku. Aku mengantar mereka sampai depan, lalu melambaikan tangan tanda perpisahan sementara, karena besok kami akan bertemu lagi.


Senyumku memudar seiring menjauhnya mobil Kai.


Entahlah. Rasanya sedih dan bahagia. Di saat seperti ini, seharusnya aku bersyukur karena masih ada yang peduli padaku. Tapi di sisi lain, aku dan sahabat terbaikku malah saling memberi jarak dan menjauh.


Aku menoleh ke samping dan ku dapati Arsya berdiri menghadap ke arahku dengan kedua tangan di kantong celananya.


Aku segera memalingkan wajah. Aku ga tau harus bersikap gimana ke Arsya. Apalagi tadi malam aku membentaknya.


Nggak tau, lah. Aku memilih masuk ke dalam rumah dan langsung menuju kamar untuk istirahat.


...🍭...


Dan sialnya, aku belum juga sembuh.


"Tuh, kan! Makanya, ayo ke dokter!" Omel kak Tari tadi pagi dan terpaksa aku pergi bersamanya.


Malam ini, diluar tengah ramai. Pasalnya semua sibuk dengan acara kecil-kecilan ulang tahun Arsya yang akan diadakan sebentar lagi.


Suara anak-anak bertepuk tangan riang terdengar sampai ke kamarku. Nampaknya mereka sangat antusias dengan acara ini.


Aku masih betah diam di depan cermin. Sejak tadi aku berusaha menghubungi kak Juna, tapi panggilannya terus sibuk. Aku mau bilang, kalau aku akan telat ke acaranya. Karena ga mungkin aku ninggalin ini, kan? Apalagi aku sakit.


Aku memakai lipmate nude supaya bibir tidak terlihat pucat. Lalu aku turun ke bawah dengan memakai dress dan kardigan rajut.


Sambil menuruni anak tangga, aku melihat Arsya diputari oleh anak-anak sambil bertepuk tangan menyanyikan lagu ulang tahun. Dia yang duduk supaya menyamakan tinggi dengan mereka hanya menyengir sepanjang lagu itu dinyanyikan.


Tanpa sadar senyumku terulas sedikit. Kalau dipikir-pikir, udah lama banget aku ga liat senyum Arsya. kapan ya, terakhir kali?


"Ari."


Bunda yang tengah menyusun makanan di atas meja melambaikan tangan padaku yang diam di tengah anak tangga.


"Sini turun, nak."


Aku mengangguk, lalu beralih pada Arsya yang ternyata sudah menatapku.


Aku turun perlahan lalu mendekati bunda.


"Bunda."


"Iya, sayang?"


"Boleh izin sebentar?"


"Mau kemana, nak?" Tanya bunda dengan nada yang terdengar khawatir. Pasalnya aku pasti masih kelihatan kurang sehat.bAku menoleh ke samping saat kulihat Arsya mendekat.


"Pacar Ari juga ulang tahun malam ini. Boleh Ari pergi?" Tanyaku pada bunda dengan wajah yang menatap ke arah Arsya. Dan setelah mendengar permintaanku, lelaki itu... menunduk.


Apa aku.. Berlebihan?


TBC

__ADS_1


Guys sori banget. Hp gw rusakk totall ga bisa iduppp. Trus semua tulisan ada disana udah sampe bab 50. Dan gue lupa ini aslinya gimana kemaren jalan ceritanya. Mungkin ada yang beda, tp kayaknya masih sejalan sih😭


Thanks ya masih setia baca disini. Jangan lupa like dan vote woi😭


__ADS_2