
"Arii!"
Arsya teriak dari seberang jendela saat dilihatnya gadis itu tengah duduk di meja belajar. Tangan Ari memberi kode untuk diam, karena dia tengah video call saat itu.
Arsya melompati jendela. Dia memperhatikan Ari yang tengah mengobrol dengan seorang laki-laki. Arsya mengintip. Lelaki itu banyak tertawa selama bicara dengan Ari. Begitu juga dengan gadis itu.
"Siapa?" Bisik Arsya. Gadis itu enggan menjawab. Dia fokus mendengarkan lelaki itu bicara. Entah apa, Arsya tidak mengerti ucapan mereka.
"Hei." Arsya mulai tak suka, sebab Ari mengabaikannya dan malah mengobrol dengan lelaki itu. Tampan pula. Siapa yang tidak jealous?
Arsya memunculkan kepalanya di layar video, sampai membuat Ari terbelalak kaget.
'Oh, hi.' Sapa diseberang dengan ekspresi bingung.
Arsya mengangkat tangan, menyapa dengan santai.
"Lo apa-apan, sih." Bisik Ari dengan suara ditekan.
"Mau kenalan doang." Jawab Arsya enteng. Lalu tersenyum pada lelaki disana. "Hai. I'm her boyfriend."
What?? Ari sampai menganga. Terlebih lelaki diseberang hanya tertawa kecil.
'Good.' Jawabnya.
Ari menunduk malu. Dia sampai menutup wajah dengan tangan.
"I'm so sorry, prof."
'It is okay. The test is over, anyway.'
Kini Arsya yang kaget. "Prof?"
Ari segera menutup sambungan setelah selesai memberi penjelasan. Dia menutup macbook yang ia pinjam dari Arsya, lalu menatap lelaki itu tajam.
"Kok, prof?"
"Itu guru, Sya. Tadi gue lagi tes singkat untuk mempertanggung jawabkan ujian yang kemaren gue kumpulin. Tapi lo malah.. akh!" Ari kesal. Dia melempar tubuhnya ke kasur dan memeluk bantal.
Arsya menggaruk kepala. Pantas lelaki itu tampak santai dan malah tertawa. Emang aneh banget kelihatannya, tiba-tiba dia muncul dan pamer kalau dia adalah pacar Ari. Bodoh banget.
"Gue ga tau. Gue ga nyangka kalo guru lo muda banget gitu."
"Tau, ah!" Ari kesal. Dia menutup wajahnya dengan bantal. Dia malu sekali. Gimana nasibnya jika nanti bertemu lagi dengan profesor muda itu.
Arsya duduk di tepi ranjang. Ari sudah membelakanginya, menutup kepala dengan bantal, kesal dengan Arsya.
"Sorry, ya. Gue tadi kesal karena lo ngabaikan gue. Nyuruh gue diem sementara lo ketawa-ketawa sama cowok itu."
"Guru gue!" Ralat Ari.
"Iya, guru lo. Ya gimana. Tadi kan gue ga tau. Maafin dong..." Arsya menepuk pelan bahu Ari. Tapi gadis itu mengenyahkan tepukan, tak suka dipegang.
"Ri, beneran, kalo gue tau, ga mungkin gue kaya gitu. Gue tadi tuh cemburu.. ga suka lo teleponan sama cowo lain sebelum gue tau itu guru lo."
Ari tersenyum dibalik bantal. Cemburu, ya. Baru ini dia denger itu dari Arsya. Gemes amat!
"Jangan marah, dong, please.. Gue harus gimana biar lo ga marah lagi. Lo mau apa, biar gue kabulin.."
Ari bangkit, duduk sambil membenarkan rambutnya yang berantakan. "Oke. Kalo gitu gue mau ketemuan sama Karin. Jadi buat sore ke malem gue sama mereka dulu."
"Loh, kok gitu. Lo baru kemaren nyampe, bisa-bisanya langsung prioritasin orang lain. Sama gue aja belum kemana-mana. Ada Kai dan Hajoon pasti, kan?" Omel Arsya. Apalagi jelas disana ada Kai, cowok yang suka pada Ari.
"Gimana, sih. Tadi katanya mau kabulin apa aja. Cuma ngizinin gue pergi aja ga mau!" Ari merengut, Arsya jadi serba salah.
"I-iya, deh. Tapi jangan lama-lama. Lo tuh, cuma sebentar disini. Masa waktu lo habis buat mereka."
Ari menangkup kedua pipi Arsya "Astaga, gue disini sampe 3 minggu, Sya. Waktu buat mereka cuma beberapa jam doang. Sama lo sampe gue merem dan melek lagi, masa lo ngambek!" Sebenarnya Ari gemas melihat Arsya yang seperti ini. Ngga nyangka banget lelaki yang selalu berpikir logis ini jadi super nyebelin cuma karena Ari mau pergi dengan teman-temannya yang lain.
"Iyaa okee yaudaah gue anterr."
"Ngga usah. Gue naik taksi." Tolak Ari.
"Nggak. Gue anter."
"Ngga usah, Sya. Gue mau naik taksi."
"Nurut kenapa, sih.."
__ADS_1
Ari meraih ponselnya yang bergetar. Dia hanya tersenyum pada Arsya yang masih saja cemberut hanya karena Ari menolak diantar.
"Eh.." Ari membaca pesan dari Priska. Dia kaget dengan pesan itu.
"Kenapa?"
"Priska."
Arsya merebut ponsel Ari. Dia membaca rentetan pesan yang dikirim Priska. Tidak menyangka dengan semua perilaku baik dan supel, ternyata Priska seperti ini pada Ari.
"Sya, lo bales apa?" Ari menarik tangan Arsya, ingin tahu apa yang lelaki itu ketik. Tetapi Arsya terlalu fokus sampai ia mengabaikan Ari.
"Blokir, selesai!" Arsya menyerahkan ponsel Ari. Gadis itu membaca pesan Priska dan membuatnya menganga.
"Lo kenapa ga bilang kalo Priska ngeganggu lo sama semua statusnya?"
"Gue percaya kok sama lo."
"Bukan gitu, Ri!" Arsya menghela napas. "Gue ga suka lo diem-diem kaya gini. Lo harusnya bilang ke gue apapun masalah yang menyangkut kita. Gue ga mau sampe lo mikir aneh-aneh dan memengaruhi hubungan kita. Lo ngerti maksud gue, kan?"
Arsya kali ini serius dan rautnya tidak main-main. Membuat Ari mengangguk pelan. Ngeri. Arsya bisa juga setegas ini.
"Gue sayang sama lo. Banget. Apapun yang terjadi kedepannya, sekecil apapun, please.. kasi tau gue."
"Iya. Sorry..." Ari menunduk, merasa bersalah, walau akhirnya lega karena Arsya menjadi garda terdepan untuknya.
Arsya menarik Ari, memeluknya dan mengecup pucuk kepalanya. "I love you so much, Ri.."
"Love you more..." bisik Ari dalam pelukan Arsya.
~
"Gue anter aja, ya..."
"Enggak usah, Sya. Lo main game aja sana."
"Tapi gue pengen nganter." Arsya terus membujuk Ari. Gadis itu tengah bercermin, memastikan penampilan terbaiknya ketika bertemu Karin dan yang lain.
"Aduh!" Ari melotot saat Arsya menarik pita itu dari rambutnya. Membuat beberapa helai rontok begitu saja. "Syaaa!"
"Ngapain lo dandan cantik-cantik banget?"
"Aaaah, Syaa itu cuma pita. Kenapa, sih??"
"Disana ada Kai. Gue tau dia nembak lo waktu itu. Lo mau keliatan cantik di depan dia?"
Mulai lagi, Ari malas berdebat. Dia meraih tasnya dan keluar dari kamar dengan wajah bertekuk-tekuk.
"Ri, gue belum siap ngomong." Arsya mengikuti.
"Ngga bisa ngomong sama lo sekarang. Cemburuan banget. Pusing gue." Ucapnya sambil jalan terus ke depan. Taksi online yang dipesan Ari sudah ada disana.
"Ri.. gue cuma ga mau lo jadi pusat perhatian."
Ari membuka pintu taksi. "Ngga ada yang perhatiin gue dari kecil, Sya. Lo tau itu, kan. Jadi jangan ikutin gue. Gue pergi, nanti lo boleh jemput." Ari masuk dan taksi pun meninggalkan Arsya.
Bukannya menuruti ucapan Ari, lelaki itu diam-diam mengekori dari belakang.
Ari turun dari taksi, dipantau oleh Arsya yang sudah siaga di belakang taksi Ari. Diperhatikannya gadis itu, berhenti saat ada Kai di depan. Mereka mengobrol, tertawa, sampai Ari tampak begitu bahagia.
Arsya mencengkram setir mobil. Kesal, dia tidak suka melihat pemandangan itu.
"Lo pikir karena Ari ngobrol sama lo, dia suka sama lo, gitu?" Arsya merasa panas di kala AC begitu dingin. "Jangan harap bisa ngobrol sama Ari, ya!"
Arsya hendak membuka pintu mobil, tapi dia ingat pesan Ari, kalau dia ga boleh ikut.
Tapi, lihatlah. Kai membawa Ari masuk ke dalam kafe yang mereka datangi.
"Kok cuma berdua? Yang lain mana? Ari bohong, ya? Katanya sama Karin, tapi cuma ada Kai doang!"
Tak berpikir panjang, Arsya langsung keluar dan menyusul ke dalam. Dia ingin tahu, apa gadis itu berbohong? Karena dia tidak lihat ada Hajoon maupun Karin.
Arsya mencari sekeliling, tidak ada Ari maupun Kai. Kemana mereka? Jelas-jelas masuk Kafe ini.
__ADS_1
Dia keliling, menebarkan pandangan ke segala sisi. Sampailah di ujung kafe, Arsya melihat Ari dan tiga temannya tengah asyik mengobrol dengan Karin yang terus memeluk Ari karena rindu.
"Loh, Arsya?"
Sapaan Hajoon membuat Karin dan Ari menoleh ke belakang. Terlihatlah Arsya tengah pura-pura melihat kesana kemari, menggaruk kepala, dan ingin kabur saat ia merasa mata tajam Ari menusuk dadanya.
Nyesal. Itu yang ia rasakan. Kenapa pula ia mengikuti Ari, meragukan gadis itu padahal Ari tidak mungkin berbohong.
"Ngapain disitu, Sya? Sini, bareng kita." Ajak Karin.
"Ih, apaan sih, Kar." Desis Ari. Matanya tak lepas dari Arsya yang rasanya hendak mengubur diri.
"Ih, gapapa kali, biar rame." Ucap Karin dan kembali memanggil Arsya. "Sini, Syaa."
Arsya seperti melangkah di atas semen. Berat, dan tak berani menatap Ari.
"Duduk sini." Karin menunjuk satu kursi tepat di dekat Kai.
"Sama siapa kesini? Cari Ariva, ya."
Arsya melirik Ari sekilas. Sorot mata tajam itu menghunus. Dia yakin setelah ini akan ada tornado hebat.
"E-engga, kok. Tadi gue sama temen trus mereka udah pada pulang." Jawabnya bohong.
"Oh, gitu.."
Dan pertemuan mereka pun berakhir dengan Ari yang undur diri karena merasa tak menyenangkan ada Arsya diantara mereka. Kai dan Hajoon jadi tidak banyak bicara. Pertemuan itu sama sekali tidak asyik.
"Nanti ketemu lagi ya, Va.." Karin melambaikan tangan dari jendela mobil. Ia pulang bersama Hajoon dan Kai.
Ari membalas lambaian tangan, sampai mobil itu menghilang, baru Ari menatap Arsya. Diam, tak mengatakan apapun.
Arsya yang merasa ditatap, langsung mengatupkan kedua tangan di dada.
Ari melangkah pergi. Berkali-kali dia menghela napas, tak habis pikir dengan sikap Arsya.
"Ri.. please. Maaf.."
Arsya menarik tangannya, tapi gadis itu menghempaskan dan terus berjalan melewati mobil Arsya.
"Ari, maafin aku. Please. Maaf. Aku tau aku keterlaluan tapi please maaf.." Arsya berhasil menahan tangan Ari. Gadis itu masih enggan melihatnya.
"Kita masuk mobil dulu, ya. Aku jelasin di dalam, aku minta maaf.. minta maaf banget tapi please.. pulang bareng aku." Arsya menggeggam tangan Ari dengan erat, ia letakkan di dadanya sebagai permintaan maaf.
Ari dengan wajah bertekuk, masuk ke dalam mobil yang pintunya dibukakan oleh Arsya. Segera lelaki itu masuk ke dalam, memiringkan badan menghadap Ari yang belum mau melihatnya.
"Oke. Aku jujur, emang dari tadi aku ngikutin kamu. Aku ga bermaksud mau gabung, cuma aku ngeliat kamu sama Kai di depan dan cuma berdua. Aku pikir kalian berduaan, jadi aku selidikin dan masuk. Ternyata Hajoon ngeliat aku."
Ari menoleh, "Jadi lo nganggep gue bohong, gitu?"
Arsya sudah mengira kalau Ari pasti sangat marah. Walau dia udah memakai kata 'aku-kamu' ternyata ga ngeredain amarah Ari.
"Maafin aku, Ri. Aku bego banget karena ngeliat kamu cuma berdua sama Kai. Aku mikirnya, Kai itu kan sukak sama kamu, jadi aku‐"
"Stop ya, Sya!"
"Oke.." Arsya menarik napas perlahan, dia meraih tangan Ari. "Maafin aku. Demi Tuhan aku ga bermaksud buat gak percaya sama kamu. Aku salah, Ri. Please, maafin aku. Aku ga bisa kalo kamu kaya gini ke aku, Ri.."
Ari masih diam, menatap ke depan dengan kekesalan yang menjadi-jadi. Sebenarnya ini kali pertama mereka berantem. Malahan saat jauh, mereka ga pernah bermasalah dan sangat percaya satu sama lain. Saat bertemu malah jadi begini. Terlebih Arsya sudah mengubah panggilannya. Dan melihatnya memohon seperti itu membuat hatinya luluh juga.
"Aku janji ga akan kaya gini lagi. Janji, aku akan lebih percaya ke kamu. Aku ga akan cemburu berlebihan kayak tadi. Kamu maafin aku, kan?"
Ari menghela napas. Dia juga ga bisa lama-lama marah. Tujuannya pulang adalah untuk Arsya. Jadi dia ga mau ngabisin waktu cuma untuk marah-marah begini.
Ari mengangguk, membuat Arsya bernapas lega dan menarik gadis itu dalam pelukannya. Berulang kali lagi Arsya meminta maaf. Terasa pula jantung Arsya yang berdegup kencang di telinga Ari.
"Aku mau ngomong sesuatu sama kamu." Ucap Arsya.
"Apa itu?" Ari melepaskan pelukan, menatap wajah Arsya yang kian serius.
"Aku mau kita tunangan."
"Apaa?"
"Tunangan. Aku pengen kamu jadi milik aku, Ri. Kamu mau, kan?"
**
__ADS_1
Semoga puas ya bacanya karena panjang banget sampe mau 2bab. btw kalian udah baca novel baruku? singgah ya, judulnya: Dear Majikanku yang Lumpuh. Makasih🤗🤗