
"Aku mau kita tunangan dulu."
"Apaa?"
"Tunangan. Aku pengen kamu jadi milik aku, Ri. Kamu mau, kan?"
Ari tercengang. Tunangan, katanya? Arsya ngga salah, nih? Ari sampai deg-degan setengah mati mendengar kalimat Arsya barusan.
"Sya, kamu.. salah bicara, ya." Ari sampai menyentuh dahi Arsya. Siapa tahu lelaki ini tengah demam dan mengigau.
"Ri, aku serius, sayang." Ucap Arsya, menurunkan tangan Ari yang memegang dahi dan menggenggamnya erat. "Aku sama kamu udah lama banget, jadi buat apa kita tunda? Aku ga mau kehilangan kamu, sayang. Aku pengen punya ikatan serius sama kamu."
Jantung Ari tidak aman. Berdegup saat Arsya terus menatap, mengelus, dan memanggilnya sayang berulang kali.
Ari langsung menyadarkan diri dari hati yang berteriak bahagia. Benar, dia sangat senang. Tapi harus juga berpikir lurus ke depan, kalau permintaan Arsya bukanlah gurauan.
"Sya, kamu tau kan, tunangan itu bukan main-main? Sebenarnya kamu mau nembak aku, kan? Ngajak aku pacaran dengan status yang jelas karena selama ini kita gak jelas arahnya, iya?"
Arsya menggelengkan kepala. "Enggak. Aku mau kita tunangan." Tegas Arsya, dan mendapati Ari membulatkan matanya.
"Oke, aku tau mungkin ini kedengeran aneh, menurut kamu. Apalagi kita masih SMA. Tapi aku serius soal ini. Aku mau kita punya ikatan, Ri. Aku pengen status kita lebih jelas dan gak main-main."
Ari bengong. Emang ini lagi masanya main-main, kan? Maksudnya, pacaran untuk lebih saling menyayangi. Kalau tunangan, bukannya itu serius banget, ya? Batin Ari.
"Apalagi yang kamu pikirin?" Tanya Arsya membuyarkan lamunan Ari.
"Sya, tunangan itu bukan main-main lo."
"Loh, jadi selama ini kamu nganggep aku bercanda?"
Ari merasa bingung. "Enggak, bukan gitu. Maksud aku, gimana kalo ditengah jalan kamu berubah pikiran."
"Ri, stop mikirin hal buruk soal aku. Kita udah sangat mengenal satu sama lain. Aku ga mau lagi ngabisin waktu cuma untuk cari cinta-cintaan sama perempuan lain. Hatiku udah stop di kamu. Aku sangat-sangat sayang, nyaman, dan menurut aku kita sangat bisa menuju ke jenjang serius. Bunda pun sayang sama kamu, jadi apa lagi yang kamu raguin?"
Penjelasan Arsya dibenarkan Ari dalam hatinya. Namun tetap saja, semua tidak semudah yang diucapkan Arsya.
"Kamu mau, kan?" Tanya Arsya, mulai frustrasi saat Ari tak kunjung menjawab.
"Sya, aku ga bisa putuskan sendiri. Aku harus ngobrol sama papa."
"Yang mau aku pinang itu kamu, Ri. Bukan papa kamu. Bagi aku yang paling penting sekarang adalah jawaban dari kamu. Soal om Tama itu urusan aku."
Ari tercenung. Apa yang sudah Arsya rencanakan? Kenapa dia sesantai ini, bahkan urusan papanya pun ia begitu tenang.
"Ri.." Arsya menyadarkan Ari dari lamunan. Arsya mau jawaban. Dia ingin mendengar jawaban Ari. "Gimana? Kamu mau, kan.." Arsya menggenggam kedua tangan Ari, menyelami kedua mata yang tidak berkedip menatap Arsya.
"Ri.." lagi, Arsya menatapnya penuh harap. Jangan sampai Ari menolaknya.
__ADS_1
Dia tahu, keputusannya ini sangat mendadak bagi Ari. Bahkan Syahdu yang mendengar permintaannya malam dinner waktu itupun sempat terdiam cukup lama. Namun keputusannya sudah bulat, tekatnya kuat untuk menjadikan Ari pendamping hidupnya kelak. Sebagai pengikat, dia ingin meminang Ari.
"Sya, aku..." Kerongkongan Ari terasa begitu kering. Mendapat serangan dadakan begini membuatnya kehilangan kata-kata.
"Begini..." Ari menepuk pelan tangan Arsya yang menggenggamnya. Arsya malah tegang, dia merasa ini bukanlah jawaban yang baik.
"Coba kamu pikirkan lagi soal ini. Aku bukannya gak senang. Aku.. seneng banget kamu mau serius sama aku. Tapi... ini bukan hal kecil."
Arsya menghela napas. Ini bukan jawaban yang dia mau. "Tapi kamu gimana? Maksud aku, kamu gimana perasaannya ke aku? Kamu mau kan, aku lamar. Nikah sama aku?"
Ari curiga. Arsya sedemikian memohon seperti ini apa karena rasa cemburunya yang begitu besar?
"Ri, jawab."
"Iya. Mau, aku mau."
Hah. Arsya bernapas lega. Lega sekali. "Itu jawaban yang aku mau denger dari kamu, Ri. Cuma itu."
Ari tidak tahu harus bagaimana. Mendadak Arsya bisa seserius ini. Gak mungkin dia bilang soal ini ke papanya. Dia cukup sadar kalau mereka masih sangat muda. Bahkan Ari belum genap 17 tahun. Bisa-bisanya Arsya mengajaknya tunangan. Mau gila rasanya. Mungkin kalau Ari yang bicara, papanya mengira dia udah hamil kali, ya.
"Hei.."
Arsya menaikkan dagu Ari yang menunduk. Arsya tahu kekasihnya itu tengah berpikir keras soal rencana Arsya.
"Jangan pikirin apapun. Itu urusan aku. Yang penting kamu tetap sayang sama aku sampai kapanpun. Soal papa kamu, papa dan mama aku, itu urusan aku. Oke?"
"Makasih udah mau terima aku." Arsya menyatukan dahi mereka. Ketegangan yang ia rasakan sudah mereda berkat Ari.
"Aku mencintaimu, Ariva..." lirih Arsya. Dia memiringkan wajahnya, lalu mencium bibir Ari yang terasa lembut. Perlahan ia mellumat bibir gadis itu, sampai membuat Ari terbuai dan terhanyut dengan kelembutan yang Arsya berikan. Dia menutup mata, menerima permainan Arsya yang lambat laun menuntut balasan di bibirnya.
...π...
Setelah kejadian sore tadi membuat Arsya lebih tenang dan lega. Dia juga telah menyampaikan berita bahagianya pada Syahdu dan Arga. Bagi Arsya, tidak ada hal yang paling menyenangkan selain hari ini. Dan dia telah menyusun rencana dengan sangat baik.
Sekarang Arsya tidur di pangkaun Ari. Bermain game dengan serius. Sementara gadis itu membaca novel. Beberapa menit posisi itu tidak bergerak, sampai Ari menurunkan buku bacaannya lalu mendesah pelan.
Bukannya fokus, justru apa yang menjadi rencana Arsya membuatnya kepikiran dan tak bisa memikirkan hal lain selain itu.
"Sya, selanjutnya gimana?"
Hening. Hanya ada suara dari ponsel Arsya yang terus bermain dan nampaknya tak dengar apa yang dikatakan Ari.
"SYAAAAA!"
"YA SAYANG!" Arsya spontan melempar ponselnya dan duduk tegak menghadap Ari.
Ari sedikitnya kaget, apalagi Arsya mendadak melemparkan ponsel begitu. Bukan respon yang Ari harapkan.
__ADS_1
'You has been slain'
Arsya melirik ponselnya. Dia kalah. Dan dia benci kekalahan karena itu sangat-sangat jarang terjadi. Tapi dia juga salah karena ga denger apa yang dikatakan Ari padanya.
Ari paham dengan Arsya yang masih menatapi ponsel di ujung ranjang. Walau tadinya ingin marah, Ari jadi terenyuh lantaran Arsya membiarkan dirinya kalah dan tak berani menyentuh ponselnya demi mendengar apa yang Ari katakan tadi.
Ari akhirnya menghela napas, menyandarkan punggungnya di kepala ranjang.
"Sayang, kenapa?"
Ari meliriknya. Setelah mengajak tunangan, Arsya jadi sering sekali memanggilnya dengan sebutan 'sayang'. Sedangkan dia belum sekalipun.
"Aku tanya soal rencana kamu tentang tunangan itu. Aku deg-degan, tau! Gimana kalo kamu ditentang, trus kita kan, jadi aneh gitu di depan orang tua kita.."
Menurut Ari, kalau permintaan Arsya ditolak bunda dan papa, dia pasti ikut malu dan mereka pasti berpikir bahwa Ari dan Arsya terlalu ingin cepat dikawinkan. Padahal kan, emang iya juga.
"Kamu ga usah pikirin itu. Itu urusan aku. Biar aku yang urus." Jawab Arsya lagi dan lagi. Tak henti memberi Ari ketenangan. Lalu ia meraih tangan gadis itu. "Kamu mau tau nggak, aku udah siapin cincin buat kita."
"Hah, yang bener? Mana, aku mau liat."
"Eits..." Arsya mengacungkan jari telunjuk. "Tidak bisa. Ini aku keluarin buat nanti."
Arsya terkekeh melihat wajah cemberut Ari. Dia mengecup kening gadis itu, lalu meraih ponselnya dan kembali merebahkan diri di paha Ari.
"Trus, abis tunangan gimana, Sya?" Tanya Ari ingin tahu langkah Arsya selanjutnya.
"Ya nggak gimana-gimana. Aku kan, cuma ngikat. Kita lanjut sekolah sampe tamat. Aku juga harus kuliah dan belajar bener-bener, supaya bisa mendirikan perusahaan sendiri, atau kerja dimana gitu yang gajinya gede."
Jawaban manusia gamer itu terkesan sangat santai. Kayak beneran bisa diraih dengan gampang.
'Apa dia ga mikir, ngikat anak orang tuh artinya harus kudu siap semuanya!' Batin Ari.
"Gitu, ya. Lama juga, ya.." Desis gadis itu pelan.
"Kenapa?" Arsya melirik Ari. "Mau banget kawin?"
"SYAAAA!!!"
"HAHAHAHAA!!"
**
Pen banyak-banyakin komen dan like karena ini akan habis dalam beberapa bab. Kita lanjut novel terbaru mereka. Ari dan Arsya, judulnya After Five Years. Tapi jangan harap ada adegan uwu. Hahaha. JANGAN LUPA VOTE PENπ€π€π€
Doakan bisa secepatnya ya....
__ADS_1