HIGH SCHOOL RELATION-SHIT!

HIGH SCHOOL RELATION-SHIT!
Kejutan! 57


__ADS_3

"Wiih. Keren, Pabo!"


Kai dan Hajoon masuk ke dalam kelas dan berjalan cepat duduk di tempat mereka.


"Gue tadi liat gimana lo ngadepin Vita. Keren!" Kai mengangkat kedua ibu jarinya.


"Hah. Lo masih diganggu Vita, Va?" Tanya Karin, karena aku ga cerita apapun padanya soal itu.


"Iya. Ngancem gue soal rumor ortu gue."


"Astaga. Gila ya, gue pikir dia bakalan takut sama lo!"


"Jadi, bokap lo udah ngebatalin kerjasama dengan bokap Vita ya, Va?" Tanya Hajoon pula.


"Engga, kok."


"Lah, trus tadi lo telepon siapa?" Tanya Kai penasaran.


"Ngga ada. Gue ekting aja. Ya kali gue bisa sesuka hati mutusin kerjasama bokap gue sama perusahaan lain."


"Hah?" Kai tampak syok, ketipu sama ektingku. Hehe.


"Hahaha. Trus gimana wajah Vita, Va?" Tanya Karin sambil terkekeh.


"Ngga tau. Gue ga liat-liat."


"Kaget, kasian juga liatnya." Jawab Hajoon.


"Tapi, Bo. Kalo ternyata setelah ini ga ada efek apa-apa, dia bakalan tau kalo lo cuma ngegertak dia." Ujar Kai, membuatku kembali berpikir.


Iya juga, sih.


"Tapi gue ga tau apa bokap gue emang ada hubungan kerjasama dengan perusahaan bokap Vita ato enggak."


"Tanya aja dulu."


Apa papa mau kalo aku mintanya begitu? Apa nggak terlalu ikut campur urusan bisnis papa? Entahlah, coba aja nanti.


...🍭...


Kata papa, dia masih ada sedikit pekerjaan sebelum ketemu aku sore ini. Rencananya kita akan makan malam terakhir sebelum papa berangkat ke Rusia besok pagi.


Aku membuka lemari, ingin mengambil baju untuk bersiap pergi ke lokasi yang udah direservasi papa.


Saat ingin memilih pakaian, mataku tak sengaja menangkap susunan baju-baju lama di rak paling atas. Ada satu baju berwarna merah muda yang menyimpan kenangan buruk bagiku.


Aku menarik baju itu dari tumpukan dan membuka lipatannya. Bajuku saat usiaku sekitar 4 tahun.


Aku ga tau kenapa aku masih nyimpan baju ini. Baju yang aku pakai saat mengunjungi panti untuk pertama kali, sebelum aku tahu kalau orang tuaku akan menitipkanku disini.


Baju ini adalah baju yang dipilih dan dibelikan mama di mall sebelum kami mengunjungi panti. Dia memakaikanku ini, katanya baju ini cantik sekali dan cocok jika kupakai.

__ADS_1


Baju ini punya kenangan buruk, karena ketika mereka meninggalkanku, inilah yang kupakai. Aku menangis histeris dan berusaha berlari mengejar papa dan mama yang masuk ke dalam mobil dan meninggalkanku.


Bunda, orang yang terus memelukku tanpa henti sampai kulihat air matanya pun tumpah.


Bunda pasti mengutuk papa dan mama yang tega meninggalkanku disini.


Yah. Air mataku meleleh lagi.


Dulu aku akan cium baju ini kalau kangen mama. Tapi sekarang buat apa? Dia saja sudah menganggapku tak ada.


Aku membuangnya ke tempat sampah. Lupakan wanita itu, dan akan hidup dengan baik seperti permintaannya. Karena aku harus tetap hidup, supaya dia tahu, aku mampu bahagia tanpa kasih sayangnya.


Tring!


Aku mendekati nakas dan meraih ponselku. Alisku menyatu melihat nomor baru dan sebuah gambar dikirimkan padaku.


Aku mengunduh gambar itu, cukup lama layar Hp menunjukkan tanda sedang loading, sampai aku terperanjat kaget mendengar sesuatu.


TRANG!


Suara pecahan kaca mmebuatku segera mendekati jendela. Suara itu berasal dari kamar Arsya.


Bunda?


Bunda mematung di ambang pintu. Ada apa? Apa ada sesuatu yang terjadi dengan Arsya?


Aku berlari turun dengan cepat dan segera naik ke rumah bunda. Perasaanku tak enak, pasti ada sesuatu sampai membuat bunda terkejut begitu.


Ku lihat pecahan kaca berserak kemana-mana.


"Bunda, ada ap..."


Kembali kutelan kalimat yang ingin ku keluarkan saat melihat apa yang terjadi di atas ranjang Arsya.


Hancur hatiku melihat pemandangan ini. Pemandangan yang seharusnya tak ku lihat karena sungguh mengotori penglihatanku.


Baru tadi malam. Baru sekali, dia datang menenangkan aku, mencium keningku, dan menemaniku sampai tertidur. Kenyataan bahwa semua yang dilakukannya padaku supaya terlihat hadir saja, tak sesakit saat kulihat dia tidur bersama perempuan ini.


"Vi-vita.."


Ya, Vita. Dia terkaget setengah mati melihat kami berdua berdiri menatapnya. Dengan cepat-cepat ia mengambil bajunya yang tergeletak di atas lantai.


Sementara Arsya, dia bergerak dari tidur dengan kesadaran yang belum terkumpul. Tubuhnya berselimut sampai menutupi pinggangnya yang polos tak berbenang sehelai pun.


"Vita.." Arsya perlahan membuka mata, dia bergumam menyebut nama perempuan itu dengan suara seraknya.


"Arsya. Berani sekali kalian melakukan itu disini." Suara bunda parau. Dia juga sama terkejutnya denganku.


"M-maaf Tante.." lirih Vita, mulai menangis.


Bunda tertunduk, merasa nasehatnya selama ini sia-sia.

__ADS_1


Aku sendiri ga bisa gambarin perasaanku saat ini. Kecewa, patah, hancur, rasanya ga bisa mewakili semua yang terjadi.


Aku berbalik dan pergi dari sana. Ucapan Arsya tadi malam, bentuk semangat yang dia berikan, nampaknya memang hanya supaya aku ga terlalu larut dalam kesedihan. Bukan karena dia benar-benar menyayangiku.


Dan aku menyadari, bahwa semua ucapannya tentang hubungannya dengan Vita adalah sebuah kebohongan belaka


Jadi, apa benar semua yang Vita ucapkan? Bahwa Arsya membohongiku karena dia tau aku menyukainya, atau mungkin dia ga mau aku tau soal hubungannya dengan perempuan yang kubenci ini.


Rasanya ingin kabur. Ingin lari dari semua kekacauan yang hatiku rasakan.


Aku tau ini haknya Arsya. Semua adalah hidup dan pilihannya. Aku ga pantes buat protes ataupun marah padanya. Aku hanya....


Aku menutup jendela dan menguncinya. Aku menangis tergugu, terduduk saat kakiku rasanya tak punya pijakan. Baru aja aku ngerasa bahagia karena semua ucapan Arsya, tapi seperti dipecahkan begitu saja seolah ia tak ingin aku membangun harapan untuk bersamanya.


Aku memeluk lutut dengan napas tersengal, menangis lagi sampai dadaku rasanya nyeri. Arsya, aku tau aku ga berhak marah atas pilihanmu. Tapi hati ini ga bisa kupaksa untuk mendukung itu. Kalau memang itu jalanmu, maaf, aku ga bisa terus menemanimu.


...🍭...


Kacau. Pikiranku bener-bener kacau. Padahal pagi tadi aku semangat saat mengingat kembali ucapan semangat dari Arsya untukku. Tapi sekarang kalimatnya tak bisa membangkitkan suasana hatiku yang sendu.


'Kesedihan ngga akan buat lo tumbang gitu aja. Benar, kan?'


Salah. Karena kesedihan kali ini mampu membuat semua hal yang ku bangun dalam diriku tumbang dan hancur seketika.


"Ri.."


Aku menghapus air mata yang mengalir, lalu menatap papa sambil memaksakan diri untuk tersenyum. Ini hari terakhir aku bertemu papa. Seharusnya menjadi momen berharga. Tapi aku malah terus menangis begini.


Aku teramat jatuh, ucapan sayang Arsya yang membangun semangatku ikut runtuh. Katanya, masih ada yang menyayangiku. Siapa? Dia saja begitu padaku.


"Kamu masih sedih karena mama?" Tanya papa dengan perlahan.


Gimana caranya aku ceritain ini semua ke papa, saat lidahku menjadi beku, dan pikiranku sendiri ga sanggup mengingat lagi peristiwa tadi.


"Kamu masih punya papa, nak." Papa menggenggam tanganku, seolah menjawab semua pertanyaan yang muncul di benakku.


"A-ari nggak sedih karena itu.." aku berhenti, saat dadaku berdenyut akibat sesenggukan yang luar biasa.


".. tapi karena.. Ari ga mau pisah sama papa.."


Papa merapatkan tubuhnya padaku, lalu menarikku dalam pelukannya.


"Sayang.."


"Ari ikut ya, pa? Ajak Ari ke rumah papa. Ari mau ikut papa..." Aku terus menangis, sampai papa semakin mengeratkan pelukan dan mengusap kepalaku.


"Ari.. mau ikut sama papa?"


Aku mengangguk cepat. "Iya. Ari.. Ari mau pergi dari sini."


Dan malam itu di sebuah restoran, aku dan papa hanya menghabiskan waktu dengan saling berpelukan, karena entah kenapa, air mataku seperti tak ada habisnya...

__ADS_1


TBC


__ADS_2