HIGH SCHOOL RELATION-SHIT!

HIGH SCHOOL RELATION-SHIT!
Patah Hati Pertama 37


__ADS_3

Karin mengangguk. "Bokapnya yang sekarang itu tiri. Tapi dia tetap pakai nama bokap tiri dibelakang namanya."


"Kok gitu?"


"Malulah. Dia kan, anak hasil..." Karin mendadak menggigit bibir.


Apa itu kelanjutannya? Aku ga berani tanya. Kayanya Karin hampir keceplosan. Aduh, aib-aib-aib. Aku ga boleh korek-korek aib orang walau aku PENGEN BANGET TAUUU!


Arsya. Tiba-tiba aku teringat anak itu. Tapi yah, semoga aja Vita udah ga kaya dulu. Mungkin dulu kan, masih SMP ya, masih anak-anak jika dibanding usia sekarang. Kali aja dia makin matang dan bisa berpikir lebih baik.


"Oh ya, ada yang lebih lucu, nih." Ucap Karin lagi. "Lo tau Shaqueena, nggak? Mantan model senior."


Aku menggeleng pelan. Mana kutahu soal model-modelan.


"Itu mamanya Vita. Lo pasti pernah denger kan, kalo Mama Vita itu model."


(Shaqueena ada di novel: Teman Tidur Kontrak bab 165 - Gosip Baru)


Aku mengangguk-angguk. Ya, pernah denger kalo mamanya Vita itu model, dari Hani waktu itu.


"Mamanya pernah punya projek bareng papa Arsya lho, waktu zaman mereka masih muda. Trus lo tau nggak, Vita pernah banget cerita kalo Mamanya ditaksir papanya Arsya, om Arga Alexander."


"Ngga mungkin, Rin. Gue tau gimana cerita masa muda papa mamanya Arsya dulu. Papa bukan cowok yang pernah naksir orang lain. Justru Bunda Syahdu gadis pertama yang dia sukai."


Karin tertawa kecil lalu melanjutkan cerita. "Gue awalnya percaya, sih. Pokoknya Vita koar-koar bangga tuh, kalo penyanyi sekelas papanya Arsya pernah jatuh cinta sama Mamanya. Iseng aja gue cek di internet. Eh, kebalik ternyata."


Aku mengerutkan dahi. "Maksudnya?"


"Jadi, ternyata tante Queen-lah yang cinta ke om Arga. Dia pernah buat hoax dengan ngaku-ngaku jadi pacarnya om Arga. Dia sampe upload foto mesra mereka waktu projek bareng. Sayangnya projek itu dibatalkan secara sepihak oleh tim om Arga karena ternyata ga sesuai kesepakatan awal."


"...dan lucunya, tante Queen diserbu penggemar om Arga karena om Arga sendiri yang ngebantah dengan upload foto tante Syahdu. Hihihi."


Aku mendongak, "Pernah ketemu Papa sama Bunda, ya?" Tanyaku saat merasa panggilan Karin terdengar akrab.


"Pernah dua kali. Sebelum gue kenal Arsya. Dikenalin Papa gue. Tante Syahdu baik banget, tau. Om Arga juga." Ungkap Karin, mulai memberi wajahku foundation. "Lo tau nggak, efek bullying fans-nya om Arga itu ngeri banget sampe buat Mamanya Vita depresi dan hampir masuk rumah sakit jiwa."


Aku mematung. Benarkah itu?


"Vita ga pernah cerita soal itu. Mana mungkin dia ceritain aib keluarganya. Tapi gue tau karena bener-bener ngegali gugel buat cari info itu."


"Jadi maksud lo, Mamanya Vita pernah sakit hati karena papanya Arsya?"


Karin mengangguk. Sedetik kemudian dia membulatkan mata. Dia bahkan langsung berdiri tegak saat menyadari sesuatu.


"Jangan-jangan..."


...🍭...


"Cantik bangettt." Karin mengambil ponsel lalu menyuruhku berpose.

__ADS_1



"Ini yakin, Rin? Kok gue ngerasa ini berlebihan, ya."


"Berlebihan, apanya!!" Karin membenarkan posisi gaun yang melekuk. "Lo tau nggak, gaun ini tuh walau polos doang tapi keliatan Classy, tau. Siapapun yang liat bakalan sadar kalo yang lo pake ini mahal." Imbuh Karin padaku.


Hmm. Bener juga, sih. "Tapi Rin, gue ga pernah pake beginian."


Karin malah tergelak mendengar ucapanku. "Oke, Wait." Karin membuka lemari dan memberiku sebuah long coat ala korea. "Pake ini buat nutupin kalo lo malu."


Aku memakai mantel panjang berbulu itu. Lalu berjalan keluar rumah karena Kai dan Hajoon sudah menunggu diluar rumah Karin.


"Haaii." Sapa Karin ceria seperti biasa.


"Lama banget-- sih." Ucapan Kai sampai terputus. Dia tercengang melihat ke arahku. Duh, dia ini mendadak diam karena tampilan aku yang berlebihan, atau apa?


"Waaa. Ippeuda.." Puji Hajoon padaku. (Wah, cantiknya).


Yang bener, nih? Kalo Hajoon yang puji kayanya aku percaya. Jadi percaya diri, deh.


"Udaah jangan bengong." Kata Karin pada Kai. "Cepat pergi sana." Karin mengibas-kibaskan tangan, menyuruh kami pergi.


"Eh, Kai. Lo terus pantau Ariva, ya. Trus jangan lupa pegang Hp dan lapor ke gue kalo ada apa-apa."


"Yaelah, Rin. Kayak kita lagi ngapain aja." Kata Kai, membukakan pintu untukku.


Aku masuk dan duduk di bangku belakang.


"Segera kabarin gue kalo ada yang macem-macem ke elo ya, Va."


"Beres." Kataku mengangkat dua jempol. Duuh, terharu banget sama Karin yang perhatian ini.


Mobil pun berjalan menuju rumah Vita. Eh tapi kata Karin, Vita termasuk orang yang sering mengadakan pesta di rumahnya. Emang keluarganya selalu setuju? Rada aneh, sih.


"Kai."


"Hm?"


"Pestanya di rumah Vita?"


"Iya. Kenapa?"


"Ngga apapa." Aku memilih diam sampai mobil berhenti di sebuah rumah yang besar banget. Ini sih, panti dan rumah Arsya kalo digabungin juga ga sebesar ini.


"Gede banget rumah Vita." Gumamku melihat keluar jendela. Kai malah terkekeh lalu keluar dari mobil. Dia membukakan pintu belakang. Tangannya mengulur ke arahku.


"Ayo, Pabo."


Alisku menyatu. Apaan dia.

__ADS_1


"Malam ini lo tanggung jawab gue sesuai janji gue ke Karin."


"Ga perlu sampe kaya gitu, kali."


"Ck! Cepetan ga usah bawel. Pegel nih tangan gue."


Aku tersenyum lucu melihat raut jutek Kai, lalu menyambut tangannya.


Disana, Hajoon tak bisa menyembunyikan senyuman sambil menggelengkan kepala melihat kami.


Di depan pintu, ada penjaga berjas hitam yang memberi sebuah alat sebelum masuk. Beberapa orang terlihat mengantri untuk menempelkan ponsel mereka di benda itu. Dan kami mulai mengambil barisan antri.


"Silakan." Ucapnya sambil menyodorkan sebuah alat itu.


"Lo bawa undangannya?" Bisik Kai.


Aku menggelengkan kepala. Kemarin Vita ga kasih undangan apapun. Dia cuma ngomong doang, kan.


"Joon, lo ada undangannya, kan?" Tanya Kai dan Hajoon mengangguk. "Lo pake punya lo. Gue bareng Pabo."


"Oke." Hajoon mengeluarkan ponsel dan menempelkan undangan yang ada di ponselnya, maka tertulislah nama Hajoon di daftar tamu yang ada di layar. Astaga, jadi undangannya berupa barcode, ya. Kok bisa gitu? Kok Vita ngga kasih undangan itu ke aku?


Setelah masuk, aku mulai merasa ada yang mengganjil memang. Bener nih, kata Karin. Pasti ada sesuatu.


Vita mengadakan pesta di kolam renang. Tempatnya terbuka dengan lampu berkelap kelip. Cukup ramai yang datang, karena katanya bukan cuma sekolah Garuda aja, tapi beberapa murid sekolah elit lainnya juga diundang oleh Vita.


Sebenarnya apa sih, tujuan anak itu buat acara begini. Emang dia ulang tahun? Rumah baru?


"Haaaiii. Ya ampun, Ariva. Akhirnya datang jugaa." Vita menyapa kami. Dia menggandeng tangan Arsya.


Oh. Pacar baru, kurasa.


Tapi Arsya tampak rapi dengan setelan jas hitam dan dasi kupu-kupu.


Bukan pertama kali melihat Arsya pakai jas begini. Tapi jujur malam ini dia lebih tampan.


Mata kami bertemu beberapa detik, aku mengalihkan pandangan ke tempat lain. Tak nyaman berlama-lama melihat Arsya, terlebih kami belum berbicara setelah hari itu.


"Hai, Kai." Beberapa teman-teman yang biasa berkumpul di lapangan basket pun menghampiri.


Yah, ku akui. Acara ini memang bukan kecil-kecilan jika dilihat dari semua pakaian mereka. Terlebih si bintang utama, Vita.


Hani juga datang. Dia tersenyum lebar sambil melambaikan tangan.


"Eem.." Vita mulai memindai aku dari atas sampai bawah. Senyumnya muncul sambil sebelah tangan naik memanggil pelayan.


"Va, kayanya lo perlu ngelepas mantel lo dulu, deh. Pasti ngga nyaman kan, dipakai terus. Kasih aja sama pelayan, biar disimpankan." Ujar Vita dengan senyum tipis.


Kenapa sampe nyuruh aku buka mantel? Pengen liat aku pake baju apa, gitu? Hmm, ternyata Karin bener.

__ADS_1


~ Hei, sabar yaa, biar kasih jarak dulu. Gue ngucapin makasih banyak udah suka sama cerita ini. Kalo kalian mau Author terus semangat nulis, kalian harus tinggalin komen, Like, dan juga VOTE WOI. Salam, Kai😎 ~



__ADS_2