
"Cukup, Han!"
Nada Salma lebih tinggi, membuat Hani diam seketika.
Mata Hani membelalak. "Kenapa? Lo mau nama Lo tetep baik di depan Ariva, sementara gue yang kejebak di permainan lo malah udah dicap buruk!"
"Nggak ada yang ngelibatin lo. Justru lo sendiri yang ngelibatin diri!" Pekik Salma dan membuat Hani melengos kesal.
Aku melepaskan rangkulan Salma dan menatap Hani dengan rasa ingin tahu. Apa yang mereka bicarain, sih? Apa yang selama ini mereka sembunyikan dariku? Terlibat soal apa?
"Ceritain ke gue, Han."
"Udahlah, Va. Kita pulang aja."
"Enggak. gue mau denger cerita yang sebenarnya. Kalian pasti melakukan sesuatu dibelakang." Kataku pada Salma yang wajahnya mendadak pucat.
Hani membuang wajah sembari menghela napas, lalu kembali menatapku.
"Sejak lo cerita kalo lo naksir Juna, Salma kasian sama lo dan minta Juna buat deketin lo."
A-apa?
Mataku mulai panas. Rasanya akan ada aliran yang lebih besar bersiap keluar dari sudut mataku.
Hani kembali bersuara dan menunjuk Salma. "Dia, berusaha buat lo seneng dengan menyuruh Juna deketin dan pacarin lo. Padahal Juna punya cewek waktu itu." Hani menatap tajam ke arahku lalu kembali melanjutkan. "Lo harusnya sadar diri, Va. Juna nggak naksir sama lo. Tapi dia dipaksa Salma dan sebagai hadiahnya, Salma beliin dia konsol game terbaru-"
"Gue bilang CUKUP, HAN!" Salma mendadak berang pada Hani. Dia lalu menggenggam tanganku yang sudah tertunduk menahan guncangan batin setelah mendengar apa yang Hani katakan.
"Va, sumpah. Gue ga bermaksud jahat. Gue cuma mau bantu lo. Gue nganggep lo sahabat gue. Dan lo sadar kan, kalo Juna emang sayang sama lo."
Kutepis tangan Salma dengan kasar. Saat itu juga air mataku tumpah ruah dengan getaran di dada karena menahan emosi yang sudah pada puncaknya.
Aku benar-benar ga bisa berkata-kata lagi. Bibirku seolah terkunci rapat, namun pikiranku kembali memutar memori dimana aku begitu bergembira atas kehadiran Juna yang tiba-tiba meneleponku, mengajak jalan, dan menembakku.
Ah, bodohnya aku. Mendadak rasa malu menjalar ke seluruh tubuhku.
Baru pun tumbuh luka melihat perselingkuhan sahabat dan pacarku, kini ada berita yang membuat luka itu semakin lebar dan dalam.
Jadi, selama ini semua yang kujalani hanyalah sandiwara?
Selama ini dibelakangku, mereka pasti menertawakan aku yang senang karena menganggap Juna menyukai diriku. Padahal...
"Va, please setidaknya lo dengerin gue."
"Jangan bicara lagi, Ma."
Aku melepaskan tangan Salma yang menahan lenganku, lalu aku berjalan cepat keluar menuju pintu.
Dalam satu malam saja, hidupku terasa begitu menyakitkan. Dua orang yang udah aku anggap sahabat, nyatanya menusuk dan mencabik hatiku.
Hani yang ternyata menyembunyikan kebusukan dibalik kebaikannya padaku selama ini. Dan Salma, diam-diam membuat harga diriku jatuh sejatuh-jatuhnya.
Memangnya selama ini aku terlihat menyedihkan? Sampai-sampai soal percintaan pun dipalsukan hanya untuk membuatku senang. Seolah aku ini mampu membuat orang yang kusukai juga menyukaiku.
__ADS_1
Ini bukan membahagiakan aku. Ini justru membuatku malu, sakit hati, dan terguncang dalam satu waktu.
Aku terus melangkah sambil menahan air mata yang terus keluar. Namun langkahku tertahan saat ada tangan yang menarikku masuk ke sebuah lorong. Aku menaikkan pandangan dan mendapati Arsyalah yang ada di hadapanku.
Entahlah. Aku ga tau gimana wajahku sekarang. Sudah pasti penuh air mata. Dan kehadirannya membuat tangisku semakin pecah. Ya, aku menangis keras setelah mendapati cowok itu menatapku seolah mengerti kesakitanku.
Arsya menarikku, merengkuhku dalam pelukannya. Aku yang terisak sedih melingkari pundak lebarnya dengan kedua tanganku.
Dan saat itu pula aku merasakan Arsya terus mengusap kepalaku, bahkan dia mengecupnya untuk menenangkanku.
Tak ada kata yang terdengar, hanya tangisanku yang pecah dan keheningan Arsya mendekap tubuhku. Dia membiarkan aku menangis dalam pelukannya sampai membasahi bajunya.
Hangat, nyaman, sampai membuatku sejenak merasa bahwa tak akan ada tempat lain yang mampu membuatku selega ini hanya karena kehadirannya.
Makasih, Sya. Udah nepatin janji untuk hadir di saat aku terpuruk.
Tapi, Sya. Pelukanmu ini malah membuka mataku. Ternyata... aku begitu merindukanmu. Saaangatt rindu. Boleh aku jujur sekarang? kalau aku rasa perkataan Juna ada benarnya. Bahwa aku punya perasaan yang beda padamu.
~
Aku terbangun saat mendengar suara cicitan burung. Lalu menghembuskan napas untuk melonggarkan sesak yang mendadak muncul kembali setelah kesadaranku terkumpul. Dan beberapa detik setelahnya, aku menyadari, ada lengan yang sejak tadi kupeluk erat.
Eh?
Aku terkejut dan langsung melepaskan tanganku dari lengan itu. Mataku berkedip beberapa kali saat menyadari ternyata Arsyalah yang tertidur dengan posisi bersandar di kepala ranjang. Matanya masih terpejam, dengan tangan yang ia biarkan menjadi guling untukku.
Astaga. Sejak kapan kami begini?
A-aku..
Aku diam memperhatikan wajah tidur Arsya. Kalau dilihat-lihat, emang Arsya ini tampannya luar biasa, sih. Karena besar bareng, aku ga bisa liat itu secara sadar.
Berarti sekarang aku lagi ga sadar, dong
Trus ni anak, apa aku bangunin aja?
Ah, bodo'. Aku beringsut perlahan lalu masuk ke kamar mandi. Biarkan saja sampai Arsya terbangun sendiri. Kan, ga lucu kalo aku yang banguni. Yang ada makin entah gimana keadaannya.
Sampai aku keluar dari kamar mandi, kulihat ranjangku sudah kosong dan hanya menyisakan harum parfum Arsya yang masih tertinggal.
...🍭...
Kembali ke sekolah, aku sudah tiba dan sengaja pergi pagi-pagi banget supaya ga ketemu Arsya. Menghindar adalah jalan ninjaku.
Terus terang, aku ga tau harus bersikap gimana ke dia. Apalagi terang-terangan aku peluk Arsya kuaattt banget. Mana sekarang perasaanku ga karuan.
Gara-gara mikirin perasaanku ke Arsya, aku jadi lupa sama apa yang buat aku nangis tadi malam.
Kalau diingat lagi malam itu, Arsya membawaku masuk ke dalam mobil dan mengantarku sampai ke kamar.
Dia nemenin aku menangis sampe aku ketiduran. Dan Arsya, dialah yang mengelus dahiku sampai buat aku ngantuk.
CK. Kalau dipikir-pikir, malu juga, ya. Aargh... Gimana iniiii.
__ADS_1
"Hey, Pabo."
Aku menoleh dan mendapati tiga temenku udah duduk di meja masing-masing.
Ketiganya menatapku, dan aku pula menatap mereka bergantian.
"Bengkak gitu matanya..." Karin menggeser kursinya mendekat ke mejaku, lalu mengangkat daguku dan melihatiku dengan wajah cemberut. "Sedih banget, ya.."
"Ya iyalah, Rin. Pake nanya lagi." Sahut Hajoon, membuat Karin mencebik.
"Huh! Brengsek banget ya, si Juna!"
Eh? "Lo... tau ceritanya, Rin?" Aku menatap Kai. Apa dia yang cerita? Trus tadi malam dia kemana, ya. Mendadak hilang...
"Iya. Mana mungkin sih, kabar kaya gini ga kesebar. Gue yang ga ada disana aja tau persis kejadiannya."
Etdah, gile. Komplotan mereka apaan, sih. Ngeri banget kayak ga bisa ada rahasia-rahasiaan. Malu, woy! Aduh.
Aaahh. Aku merebahkan kepala di atas meja. Kayaknya aku ga akan berani keluar. Pasti menjadi bahan gunjingan lagi, kaaan!
~
Demi aku, Karin mau pergi ke kantin.
Kami berempat duduk di kantin dengan berbagai macam makanan tersaji di atas meja. Aku tahu banyak mata mengarah padaku, tapi aku tidak ingin peduli saat ketiga teman baikku ini tengah asyik mengobrol sambil bercanda.
"By the way, lo pergi ke acara besok nggak, Kai?" Tanya Karin.
Aku melahap es krim dengan santai sambil memasang telinga. Acara? Apa yang dimaksud Karin...
"Penggalangan dana itu, ya?" Sahut Kai sambil melahap makanannya.
"H'em.."
"Pergi, lah. Bokap gue udah ngewanti-wanti gue ga boleh kemana-mana. Harus ikut bokap pergi kesana."
Karin meletakkan sendoknya. "Heran, deh. Kayak dipaksa banget harus ikut. Biasanya juga enggak!"
Aku mengaduk eskrim yang mulai mencair. Rasa-rasanya aku tahu topik pembicaraan mereka.
"Kata bokap gue, ada pebisnis luar yang dateng dan mereka pengen ngenalin anggota keluarga untuk bisa ngelebarin aliansi." Jawab Kai dengan santai.
"Berarti, lo ga bisa ikut dong, main basket besok malam." Tanya Hajoon.
"Enggak. Absen, deh."
Hm.. baru kali ini aku mendengar cerita soal bisnis-bisnis orang tua. Dulu waktu kumpul sama Hani dan Salma, ga pernah tuh, bahas kaya gini. Maklum sih, kita bukan anak pebisnis.
Dan tiba-tiba ada yang menghampiri meja kami.
"Wah, lagi rame, ya. Gue boleh gabung nggak, ya?"
CK. Anak ini. Mau apa lagi, sih?
__ADS_1
TBC
Selamat Hari Senin... Guys kalau kalian suka sama cerita ini, jangan lupa kasih VOTE. Kalo banyak, gue mau CRAZY UP!!