
Bukan hal biasa melihat kemesraan mama dan papa. Mereka memang romantis dan gak malu nunjukin perhatian dan kasih sayang satu sama lain. Malah kadang aku yang malu kalau ga sengaja liat papa cium-cium mama waktu lagi nyuci piring.
Bahasa gaulnya sih, papa bucin banget ke mama. Maklum, berdasarkan informasi yang kudapat dari om Ibra, papa pernah ditinggal mama selama 7 tahun.
Seperti sekarang, papa makan sambil mengobrol dengan suara pelan ke mama. Sampai alisku berkerut. Ngapain bisik-bisik gitu?
Aku minum dan meletakkan gelas dengan sedikit kuat sampai keduanya melihat ke arahku.
"Kalo cuma asik berdua mending Arsya pergi." Yah, ngapain aku jadi nyamuk.
Mama menuangkan lagi air putih untukku. "Maaf ya, nak. Papa kamu, tuh."
"Obrolan suami istri. Anak-anak ga boleh denger." Sahut papa.
Ck. Iya, deh.
Heran, padahal mesra banget tapi kok anaknya cuma satu. Padahal aku juga mau adek. Untung aja ada Ari yang bisa dijailin.
Trus kok bisa mama naksir sama papa yang perawakannya kaya gitu.
"Sya, ingat pesan mama?" Ucap mama dengan nada lembut, seperti biasa.
"Ingat, ma. Hapal, malah."
Mama terkekeh pelan. "Jangan cuma diingat, tapi dijalankan."
"Iya." Jawabku lagi.
Mama selalu berpesan yang sama, soal bagaimana sebaiknya memperlakukan perempuan.
"Hh. Anak-anak zaman sekarang.. ckckk." Kata papa sambil geleng kepala. "Bisa-bisanya masuk ke club usia belum legal."
"Kayak papa enggak aja."
Papa langsung menoleh. "Papa nggak gitu!" Sanggahnya.
"Nggak gitu apanya. Oma cerita ke Arsya kok, gimana kelakuan papa dulu pas tinggal di London usia belasan kaya Arsya gini."
Papa ga berkutik setiap kali aku menyampaikan ucapan oma atau om Ibra yang tahu gimana kelakuannya dulu.
"Arsya anak mama memang lebih baik." Kata mama dengan bangga padaku.
Aku menjulurkan lidah ke arah papa. Karena aku menang.
"Belum tau juga kedepannya gimana." Sahut papa tak mau kalah. "Pergaulan anak-anak sekarang kan, mengerikan."
"Ga..." Tegur mama pada papa.
"Emang anak-anak dulu enggak?" Tanyaku menantang.
"Ya, enggaklah." Jawab papa.
"Tapi kok tanggal lahir Arsya dan tanggal pernikahan papa mama ga singkron? Ngga hamil duluan, kan?" Alis mataku naik sebelah, menatap papa dengan tajam untuk membuatnya telak.
Pfft! Papa sampai menyemburkan nasi yang ada di mulutnya. Buru-buru dia mengelap dan membersihkan sisa yang keluar.
Sementara mama mematung dengan mata membulat. Suer, aku cuma ngeledek papa, kok. Aku emang udah ngira sejak awal. Kan yang penting papa tanggung jawab dan bahagia sama mama.
"Sya..." mama ragu. Dia terus melirik papa.
"Iya. Emang kenapa?" Tanya papa balik. Sementara mama melotot ke arah papa yang terlalu terang-terangan. "Masa lalu. Lagian papa tanggung jawab dan cinta sama mamamu." Jawab papa santai, kembali mengunyah makanan.
Aku langsung menggelengkan kepala sambil berdecak. "Ckckck. Kelakuan lelaki zaman dahulu." Ejekku balik pada papa. "Pantes aja mama mau nikah sama papa. Pasti karena terpaksa. Mana mungkin mama yang kalem dan lemah lembut gini mau sama papa yang.. ah sudahlah."
"Heii. Mama juga cinta sama papa. Ya kan, sayang?" Papa menggenggam tangan mama yang terus menatap ke arahku. Lalu tangan yang digenggam papa terlepas karena mama meraih tanganku.
"Sya, perbuatan mama dan papa itu ga bener. Sama sekali ga bener walau dengan alasan cinta. Mama dan papa saling menyesal soal itu." Kata mama dengan tatapan bersalahnya.
Aku menggenggam tangan mama dengan tanganku yang lain. "Arsya ga masalah, ma. Yang penting kan, mama sama papa bahagia." Jawabku dengan jujur sedalam-dalamnya.
"Tetap aja, mama ga membenarkan perbuatan mama yang dulu. Itulah kenapa mama takutt banget, kamu ngelakuin kesalahan yang sama yang kayak papa dan mama lakuin dulu. Mama takut, mama ga mau kamu seperti kami. Selalu mama tekankan ke Arsya kalau perempuan itu nak, sangat berharga."
Tak lepas sedikit pun tatapan mama padaku. Kulihat pula tangannya yang lain digenggam papa. Tampak penyesalan pula di mata papa yang memandang mama saat ini. Ucapan mama, kuyakin ga bermaksud mengatakan bahwa papa ga ngehargai mama dulunya. Mama hanya dan selalu menjelaskan padaku bahwa perempuan itu sangat dihargai dan dijaga. Aku jadi ngerasa bersalah udah nanya soal itu tadi.
"Iya ma, Arsya paham. Maaf, udah buat mama sedih."
Mama mengangguk, dan suasana di ruang makan menjadi hening kecuali dentingan sendok dan garpu beradu di atas piring.
__ADS_1
...🍭...
Sebelum ajak Ari nongkrong di atas genteng, aku harus nyiapin sesajen untuknya. Aku menentang sekresek besar makanan kesukaannya dan langsung membuka pintu kamarnya.
"Ayo naik."
Dia menghela napas. "Nggak, ah."
Aku mengangkat plastik yang ku tenteng sejak tadi. Dia pun tersenyum lebar.
~
Ngga ada hal lain yang kami kerjakan. Aku bermain game sementara Ari nemenin. Ya, sekedar nemenin aja.
"Sya." Panggilnya.
"Hm."
"Lo tau, nggak. Tadi.. kak Juna ngeliatin gue, loh."
Dih. Yang ada elo ngeliatin dia mulu. Emang gue ga liat lo yang senyam-senyum liatin Juna?
Lagian yang dilirik si Juna. Kayak ga ada cowo lain aja. Rendah bat seleranya.
"Syaaaaa!!"
"Adooh. Apa, sih!!" Aku mengubek-ubek telinga yang diteriaki Ari. Kebiasaan nih anak.
"Gue ngomong! Lo nggak dengerin?!" Teriaknya lagi padaku.
"Ngomong apaan!"
Ngga penting omongan lo. Mending gue nge-game.
Aku terus melajutkan permainan saat ku tahu dia tengah cemberut.
Tiba-tiba game ku terhenti saat ada panggilan masuk.
"Siapa yang telpon Anj-" Makianku terpaksa terhenti saat kubaca nama si penelepon.
Vita? Wah, ada apa, nih. Hehe.
Buru-buru aku menjauhkan ponsel dari tatapan anehnya itu.
Aku mendorong kepala Ari dengan telunjuk saat dia berusaha menguping pembicaraanku dengan Vita.
"Halo?"
'Hai, Sya. Gue ganggu, nggak?'
Aku menjauh dari Ari yang bibirnya maju 12 centi. Kesal karena ga bisa nguping.
"Enggak. Kenapa?"
'Emm.. ngga ada, sih. Pengen ngobrol aja. Hehe.'
"Eng.." Aku melirik Ari. "Sebenarnya gue lagi sama temen, sih."
'Gue ganggu dong, berarti. Sorry ya, Syaa.'
Aku mengembangkan senyum. Suaranya imut. Ehehe.
"Ngga apa-apa. Lo lagi ngapain, emang?"
'Em.. tiduran aja, sih. Gue lagi ga ada kerjaan, makanya-'
"Makanya cari kerjaan, gitu?" Sambungku sambil tertawa kecil.
'Emm..hehe.'
Aku menoleh pada Ari yang mendekat. Ku tempelkan telunjuk di bibirku, memberi syarat padanya untuk diam.
"Besok gue samperin. Boleh?"
Ari lalu berbisik. "Si-a-pa..?" Tanyanya kepo.
'Eh. Bo-boleh kok, Sya.'
__ADS_1
Aku melirik Ari sekilas. Lucu juga liat muka keponya itu.
"Pulang sekolah free, kan?"
Ari membuka mulut. "Siap‐" langsung kubekap mulutnya dengan tanganku. Udah dibilang jangan berisik, malah ngeluarin suara.
'Free, kok. Eh, tadi katanya sama temen, kan? Lanjutin aja, Sya. Sorry ganggu, ya.'
Ari memukul tanganku. Matanya melotot lebar.
"Ngga apapa. Oke, kalo gitu nanti aku telpon balik, ya. Bye."
Setelah menutup panggilan, aku menatap Ari. "Apa, sih? Kepo banget."
"Itu siapa? Vita anggota cheers? Vita kelas X4?" Tanyanya penasaran.
"Kalo iya, kenapa?"
Helaan napas terdengar dari mulutnya. "Kok tiba-tiba lo deket sama dia? Kok gue nggak tau? Kenapa lo nggak cerita ke gue soal ini?"
Haduh. Pake nge-rap, lagi. "I-yaa.. gue lupaa."
"Masa lo lupa padahal lo ngekorin gue hampir 12 jam sehari!"
Aku menggaruk-garuk kepala yang tak gatal. "Yaudala yang penting sekarang kan, lo udah tau."
"Lo gausa dekat sama dia, deh. Cari aja yang lain tapi jangan Vita!"
"Loh, kenapa?"
"Dia sukanya sama Hajoon, bukan sama lo." Tukasnya dengan nada tak suka.
"Hah? Apaan, sih. Orang Vitanya yang ngedeketin gue duluan. Lagian dia cantik. Nggak seneng banget liat gue happy."
Lagi-lagi Ari menghela napas. "Tapi gue nggak suka. Dia tuh kayak bukan cewe baik-baikk. Dia itu masuk cheers cuma buat deketin cowo-cowo basket!!"
"Emang lo kenal sama dia? Dia pernah bilang langsung sama lo? Sejak kapan lo ngobrol bareng Vita?"
Deretan pertanyaan yang ku lontarkan membuat Ari terdiam. Memang aku ga pernah liat dia dekat sama Vita. Kenapa malah nuduh-nuduh dia ga baik, gitu? Aneh.
"Itu.. gue.. gue feeling aja." Jawabnya kaku.
"Feeling?" Aku sampai tertawa. Ari.. Ari. Sejak kapan lo pake feeling? Lo tuh, orangnya gampang percaya dengan hasutan orang. Aku denger kok, kalian jelekin Vita tadi di sekolah.. "Hei, Ri, gue nggak pernah tuh ngelarang lo naksir sama si Juna-Juna itu. Kenapa lo ngelarang gue?"
"...Emang kalo gue bilang si Juna itu brengsek, lo percaya?"
Matanya langsung melebar. "Kak Juna nggak gitu! Emang lo tau?!"
Aku tersenyum miring. "Nah. Gue gak pernah tuh, ngatur lo mau suka sama siapa. Gue bilang Juna brengsek aja lo ngga percaya. Masa gue harus percaya sama lo yang cuma bermodalkan feeling."
Mendengar jawabanku, Ari malah pergi gitu aja dengan menghentak-hentakan kaki dengan kesal.
"Eh, Ri!"
Hadeeh.. pake ngambek. Aku mengikutinya tapi dia cepat banget ngilang. Pintu kamarnya pun tertutup. Akhirnya aku kembali ke kamarku dan membuka jendela.
"Rii. Ari. Lo udah didalam, kan?"
Dia muncul dan menatap tak suka ke arahku.
"Lo marah?"
Brak!
Dia menutup jendela dengan kasar.
Lah?
"Rii. Ari. Woi. Kenapa lu?"
Hening. Dan Ari memadamkan lampu.
Hadeeh dasar cewek!
TBC
Guys kalo ada yg ga paham, jadi ini versi Arsya mulai dari eps. 1 ya. Cuma ini singkat kok ga banyakbanyak.
__ADS_1
Nih gue kasih foto Arga hehe.