
"BUKAAK PINTUNYA, SIALAN! BERCANDA LO GAK LUCU, ANJING!" Makiku kuat-kuat sambil terus menggedor pintu. Rasanya ingin menangis, menahankan bau yang luar biasa dari tubuhku.
Aku mundur selangkah, mencoba menenangkan napas yang sesak karena amarah. Setelah mengumpulkan tenaga, aku menendang kuat pintu bilik yang memang hanya terbuat dari pintu berbahan plastik, beberapa kali sampai pintu itu terbuka dengan kunci yang terlepas dari tempatnya.
Dengan rasa geram luar biasa, aku meraih ember bekas air kotor yang tergeletak di ujung, lalu keluar dari toilet dan berjalan cepat menuju lapangan, dimana Kai dan teman-temannya tertawa lebar disana. Puas udah ngelakuin ini ke aku?
Kucampakkan ember itu ke depannya sampai tawa mereka semua terhenti. Bisa kurasakan beberapa anak yang tengah berolahraga turut memperhatikanku. Amarahku memuncak dengan dada naik turun menatap tajam pada Kai yang sudah berdiri menatapku dari atas sampai bawah. Beberapa dari mereka pula mulai menutup hidung.
"PUAS LO NGERJAIN GUE, HAH?!" Aku yakin saat ini mataku memerah. Aku sudah tak kuat menahan air yang sekarang tumpah ke pipi. Cepat-cepat kuhapus dengan kasar. Mataku pula tak lepas dari Kai.
"SEBENCI APA LO SAMA GUE SAMPE NGERJAIN GUE KAYAK GINI? BERCANDA LO NGGAK LUCU, BRENGSEK!" Teriakku di depan semua orang yang berhenti berolahraga, memperhatikan aku dengan Kai yang hanya diam mematung.
Aku mengadahkan wajah karena rasanya, inilah kali pertama dalam hidup aku semarah ini. Bukankah aku selalu bisa menahan amarah? Dan sekarang aku ingin sekali menghajar dan memaki Kai. Tapi entah kenapa aku tidak bisa melakukan itu dan malah menangis.
"Ariva-"
"Diem lu brengsek!" Makian itu keluar begitu saja saat Hajoon hendak berbicara.
Tak ingin berlama-lama, aku berlari keluar lapangan. Pintu pagar sekolah ku dorong kuat sampai teriakan penjaga pun kuabaikan. Aku berlari menjauh sambil menangis.
Rasanya sakit banget. Memangnya aku habis melakukan apa sampai aku harus menerima perlakuan seperti ini?
Aku berhenti berlari tepat di bawah pohon yang teduh seperti melindungiku. Aku risih, badanku basah dan bau. Tapi dalam kondisi begini, kuyakin ga akan ada ojek maupun taksi yang membawaku.
Lihatlah, bahkan orang-orang yang lewat menutup hidung dan menatap aneh ke arahku.
Wajar, aku memang aneh dengan pakaian kotor begini keluar dan menyebarkan bau pula. Nampaknya aku harus menahan malu dan melangkah cepat sampai ke rumah. Baru ingin melanjutkan langkah, aku mendengar deru motor dan langsung menoleh saat disebelahku sudah ada Arsya, masih memakai baju olahraga yang sama denganku, keluar sekolah saat di jam olahraga, menjemputku dengan motor tanpa helm pula.
Kini bisa kulihat wajah yang berbeda dari Arsya. Dia terlalu memperlihatkan wajah khawatirnya padaku. Wajah yang hampir tidak pernah aku lihat setelah sekian lama.
"Naik."
Aku menggeleng pelan. "Nanti lo jadi bau kaya gue."
"Gue bilang naik."
Aku ragu. Masalahnya aku basah. Bagaimana kalau-
"Naik, Ri." Arsya menarik tanganku. Karena itu pula aku pun naik ke motor Arsya.
Dia menoleh ke belakang. "Maju, pegang gue." Katanya saat aku memang menjaga jarak dengannya.
Aku kembali menggelengkan kepala. Aku basah dan bau, Sya. Kenapa lo gak paham, sih.
Arsya menarik tanganku sampai tubuhku menyentuh punggungnya. Aku ingin mundur, tapi Arsya malah melingkarkan kedua tanganku di pinggangnya.
"Pegang kuat."
Arsya melajukan motornya dengan sangat kencang sampai rambutnya terbang ke belakang. Dia bahkan menerobos lampu yang baru saja berubah merah demi membawaku pulang dan terbebas dari pandangan aneh orang-orang.
Aku terenyuh. Sya, lo baik banget. Dari sekian banyak orang yang gue kenal, lo orang yang paling aneh. Gue kayak gini seharusnya lo menjauh. Tapi lo peduli sama gue. Lo emang orang yang paling penting di hidup gue, Sya.
__ADS_1
Aku mengeratkan pelukan, dan Arsya melihat perutnya yang kupeluk. Dia melajukan motornya semakin kencang.
"Thank you, Sya.."
...🍭...
Aku memandangi jam tangan yang belum kuberikan pada orangnya. Sempat terpikir untuk tidak perlu memberikannya, tapi sekarang aku yakin, aku harus memberikannya.
Ponselku kembali bergetar. Aku hanya melirik layar menampilkan nama kak Juna di atas meja belajar. Kupeluk lututku dengan rambut yang setengah basah. Kupandangi layar sampai kembali redup setelah kesekian kali kak Juna meneleponku. Aku tahu dia khawatir. Mungkin berita itu udah kesebar luas, atau bahkan ada yang menyebarkan videonya, barangkali ada yang merekamnya diam-diam. Entahlah, aku ga peduli lagi.
Aku mencium rambut, syukurlah udah hilang bau busuk itu setelah aku menghabiskan satu botol shampoo. Beberapa jam berendam di bath-up menghilangkan bau badan membuat jari-jariku keriput. Hah. Sekarang tinggal mikirin gimana selanjutnya. Apa aku masih bisa ngelanjutin sekolah disana?
Terus, gimana cara bilangnya ke bunda kalau aku mau pindah aja? Huff.. untung aja pas aku masuk, ga ada siapapun sepanjang aku memasuki kamar.
Ponselku kembali bergetar. Kini yang menelepon Arsya.
Maaf ya, Sya. Aku belum mau diganggu siapapun saat ini. Kejadian belakangan di sekolah bener-bener buat aku syok parah. Apalagi pembully-an kayak gini buat aku ga berkutik. Rasanya aku pengen menghilang atau bersekolah di tempat yang ga ada seorangpun yang kenal aku.
Tok tok...
Pintu diketuk, aku diam sebentar memikirkan apakah Arsya yang ada disana?
"Ari, kamu sibuk?"
Itu suara kak Tari. Akupun beranjak dan membukakan pintu.
"Widih, wangi bener." Celetuknya sambil mengusap-usap hidung. Aku hanya tersenyum kecil dengan wajah sembab, aku yakin. Sebab kak Tari kini memandangiku.
"Nggak apa-apa, kak. Abis tidur sambil berendam tadi." Jawabku dengan nada meyakinkan.
Kak Tari mengangguk-angguk. "Itu di depan ada temen kamu."
Mataku membulat. Teman? Siapa?
"Arsya?"
"Apaan sih, kalo Arsya mah biasanya lompat dari jendela, kan? Hahaa." Kak Tari tertawa kemudian pergi menuruni anak tangga.
Siapa temenku? Apa kak Juna? Kan, gak mungkin, kan?
Aku merapikan rambut, lalu turun ke bawah dengan perlahan menuruni tangga sambil menebak-nebak siapa yang datang ke panti. Yang tau cuma Hani dan Salma. Pasti mereka, kan?
Dan benar, aku melihat Salma duduk di ruang tamu. Aku sedikit lega sampai melihat siapa seorang lagi yang bersamanya. Bukan Hani, tapi.. Karin?
Mereka berdua berdiri saat aku datang. Wajah keduanya tampak khawatir sampai aku memperlihatkan diri, berdiri menatap mereka.
"A-ariva.." Salma mendekat, lalu memelukku. Sementara Karin masih diam dengan senyum kecil disana.
"Va, lo baik-baik aja? Sorry ya, gue baru datang liat lo malam-malam gini." Salma mengurai pelukan. Dengan wajah itu dia mengusap bahuku.
"Baik, Ma. Thanks perhatiannya. Duduk dulu."
__ADS_1
Salma dan Karin ikut duduk, kulihat Karin meletakkan tas ku di atas meja. Sudah ada pula dua minuman disana.
"Sorry ya, Ariva. Gue maksa ikut, padahal Salma awalnya ga mau bawa gue. Gue baru tau berita ini waktu lo udah pergi. Jadi gue inisiatif buat kembaliin tas lo dan jumpain Salma, karena pagi tadi gue liat lo bareng dia di kelas. Gue pengen liat keadaan lo langsung." Ucap Karin dengan hati-hati. Ketulusan itu sangat terlihat pada Karin.
"Gue yang harusnya makasih banget lo udah peduli ke gue. Thanks ya, Rin."
Karin mengangguk dan terjadi keheningan beberapa detik. Sebenarnya aku agak berat waktu tahu Karin ikut juga kesini. Soalnya aku belum mau orang-orang tau aku tinggal di panti. Tapi, ya udalah toh suatu hari nanti, cepat atau lambat temen-temenku bakalan tau.
"Soal yang ngejebak lo itu.." Karin mulai bersuara. "Gue tau mungkin ini ga tepat dibahas sekarang, tapi gue dan anak-anak banyak yang dukung lo dan bantuin untuk cek siapa pelakunya."
Pelakunya itu temen lo, Rin.
"Lo pasti udah mikirin satu nama yang mungkin ngelakuin ini ke elo kan, Va. Tapi gue yakin bukan dia orangnya."
Aku menghela napas, paham kenapa Karin selalu membela Kai.
"Kalian ga perlu cari tau. Gue udah tau, dan satu lagi, kayanya gue bakalan pindah sekolah."
"Hah?" Salma pindah duduk disebelahku. "Jangan pindah dong, Va. Gue tau kelas dua ini kita jadi jarang banget ketemu. Tapi temen yang cocok banget ke gue itu ya elo, Va." Salma mengguncang pelan lenganku. Baru kali ini aku punya teman setelah Arsya yang peduli ke aku.
"...gue ngerti lo ga kuat, Va. Tapi coba lo pikirin lagi keputusan lo ini." Imbuhnya memohon.
Aku tersentuh saat Salma menolak keputusanku. Ada rasa senang saat seseorang ini menginginkan aku tetap disana. Ternyata aku masih punya temen baik, ya.
Aku mengangguk lambat. Untuk sementara aku belum bisa banyak mengambil keputusan, memang. Sebab sampai hari ini perasaanku masih kalut.
Setelah Salma dan Karin pulang, aku pun hendak memasuki kamar. Namun kak Tari berdiri di bawah tangga sambil menatapku dengan tangan bersedekap di dada. Aku sampai mengurungkan langkah ke anak tangga, saat menyadari bahwa kak Tari ingin mengatakan sesuatu padaku.
"Kamu mau pindah sekolah?" Tanyanya, apa dia mendengar pembicaraan tadi? Apa dia tau aku dikerjain di sekolah? Apa Arsya cerita?
"Ada apa? Kenapa mau pindah?"
Oh, rupanya kak Tari ga tau, ya. Huff.. syukurlah.
"Maaf ya, ga sengaja kakak denger kamu bilang mau pindah sekolah. Kakak yakin kamu pasti punya masalah di sekolah. Iya, kan?"
Aku mengangguk. Tapi ga akan cerita soal apa yang terjadi.
"Kak, besok tolong buatin surat sakit Ari, ya."
Kak Tari diam sebentar, lalu mengangguk. "Ya udah, nanti kakak minta Arsya yang anter." Ucapnya, walau mungkin dia ingin tahu, namun kak Tari cukup pandai menahan diri untuk tidak banyak bertanya.
"Makasih, kak."
Aku naik ke atas dan masuk ke dalam kamar. Kulihat jendelaku tertutup seperti awal, namun tirainya sedikit tersingkap. Apa Arsya masuk?
Kulirik seisi ruang, tak ada dia disana. Lalu mataku menangkap sesuatu di atas meja belajar.
Dari Arsya, dia memberi banyak sekali makanan ringan dan juga beberapa bar coklat. Tak lupa ia menuliskan sebuah pesan pada sebuah kertas.
'Your energy is here.'
__ADS_1
Aku menarik sebelah sudut bibir, tersenyum kecil membaca kertas itu. Again, thanks Arsya. Maaf belum balas pesanmu. Semua yang terjadi terlalu tiba-tiba dan mengagetkanku. Aku pun ga paham kenapa aku malah enggan bertemu orang-orang sekarang. Ini pertama kali aku merasakan sesuatu yang menyakitkan. Rasanya terlalu malu. Malu telah menjadi pusat perhatian, sesuatu yang ga pernah kusukai dari dulu dan sekarang, orang-orang mulai mengenalku karena kekacauan yang terjadi padaku. Iya, kan? Untuk sementara waktu, aku ingin menyendiri dulu...