
Aku pulang dengan membawa sekantong plastik makanan dan vitamin untuk Ari yang kubeli khusus untuknya. Aku tau, dia pasti menolak makan kalau suasana hatinya tengah buruk seperti sekarang. Setidaknya ada makanan di kamar, makanan kesukaannya yang membuatnya merasa sayang kalau semua ini ga dimakan.
'Your energy is here.'
Secarik kertas itu kubawa masuk ke kamar Ari melalui jendela. Tadi kulihat di depan ada mobil dan kata kak Tari, teman Ari datang.
Aku masuk ke kamarnya, meletakkan makanan dan secarik kertas itu di atas plastik.
Mataku terkunci pada setangkai mawar yang diletakkan Ari di dalam sebuah gelas berisi air. Ada tulisan cinta disana. Rasanya ingin kuremukkan bunga itu dan membuangnya jauh-jauh dari sini.
Hah. Menyebalkan. Juna sialan itu malah asyik berduaan dengan orang lain saat kekasihnya ini dirundung kesedihan.
Aku keluar saat mendengar suara dari luar. Lalu menutup jendela supaya Ari ga merasa canggung.
Setidaknya masalah yang ini udah bisa kukendalikan. Tinggal Juna. Gimana pun aku mau Ari ga berhubungan dengan si brengsek itu. Apalagi sampe punya hubungan serius. Nggak. Nggak boleh.
Ari ga boleh jatuh ke orang yang salah. Ya, walaupun Juna si brengsek itu berubah menjadi baik dan tobat sekalipun, aku tetap ga ngerestuin Ari buat dia. Nggak, karena aku memang gak suka.
Aku melepaskan seragam, membuka pintu lemari untuk mengambil baju ganti. Namun aku terhenti saat mataku menangkap foto-fotoku dan Ari di balik pintu lemari.
Kupandangi foto-foto itu. Menunjukkan tawa dan senyum Ari yang lebar. Pikiranku merambat pada ucapanku barusan, soal aku yang ga ngerestuin Ari bersama Juna.
Tiba-tiba aku memikirkan ini.
Apa kalau bersama orang lain pun, aku bisa melepaskan Ari? Kalau dia menemukan laki-laki yang pantas, apa aku bisa melihatnya bahagia dengan orang lain?
Dia tertawa bersama Juna aja aku kesal. Apa itu ga berlaku buat laki-laki lain?
Aku menghela napas perlahan. Kayaknya aku sadar sesuatu. sepertinya.. masalahnya bukan di lelaki lain. Tapi.. ada di aku. Siapapun orangnya, aku.. ga suka Ari bahagia kalau bukan karena aku.
Egois? Iya. Aku memang egois.
Aku melepaskan foto Ari yang memeluk boneka pemberianku. Foto yang paling kusukai.
Sebenarnya.. Aku mulai curiga dengan perasaanku sendiri pada Ari. Apa benar ini bukan murni perasaan karena sahabat?
Aku mencoba mengalihkan semuanya pada Vita. Perempuan yang tengah dekat denganku dan memang kusukai.
Anehnya, berapa kali pun aku mengelak dan menepis, hatiku ga bisa dibohongi saat ternyata aku lebih suka bertemu dan menghabiskan waktu bersama Ari dibanding Vita yang telah banyak merampas waktuku untuk bersamanya. Tetap aja, Ari masih menjadi dominan saat ini.
~
Tiga hari berlalu begitu saja, dan Ari belum ada datang ke sekolah sejak kejadian itu. Aku sering liat Juna dan Hani terus sama-sama. Juga pak Toni yang melapor, bahwa Hani datang beberapa kali ke kantor security untuk memastikan video itu benar-benar hilang. Entah apa gunanya, padahal dia tau aku yang menghilangkannya dan memiliki salinannya.
Setelah itu, Hani selalu mengelak setiap kali kami tak sengaja bertemu. Dia akan putar arah atau pergi dengan alasan toilet.
Tiga hari itu jadi membosankan. Sekolah terasa hambar tanpa Ari. Yah, walau kami pura-pura ga saling kenal, seenggaknya aku tetap bisa liat Ari di sekolah. Tapi jangankan di sekolah, di rumah pun aku ga ketemu dia. Ari ga keluar dan jendelanya selalu terkunci hingga malam pun aku ga bisa masuk diam-diam untuk sekedar mengecek dirinya.
__ADS_1
Tapi syukurnya dia mau menerima makanan yang kubelikan dan kukirim melalui anak panti.
Belakangan, aku terlalu mikirin Ari. Padahal dia udah dewasa dan bisa ngurus dirinya sendiri. Semenjak itu pula aku jadi kesal, kenapa dia ga mau aku membantunya lagi, padahal aku ingin.
Yah, lucu juga. Dulu aku sempat protes ke mama, kenapa harus aku yang jaga Ari. Pasalnya, mama terus ngomel kalau aku ga mau bawa Ari main. Katanya, aku harus memperlakukan Ari dengan baik. Sialnya, saat Ari memang udah ga butuh aku, aku malah kecewa.
Kapan ya, Ari masuk sekolah. Pesanku ga pernah dibalas. Sampai kapan dia ngurung diri? Akh..
"Syaa." Vita muncul entah dari mana dan menarik tanganku hingga kakiku pun melangkah mengikutinya.
"Mau kemana?" Ini arah yang berlawanan dengan tujuanku menuju bawah tangga menemui Danu dan Zaki.
"Ikut aja."
Vita menarikku masuk ke dalam ruang UKS yang tidak ada orang di dalamnya. Entah ada apa dia malah membawa ke tempat sepi begini.
Vita menarikku semakin dekat hingga ia merapatkan punggungnya ke tembok.
"Siang nanti... temenin aku belanja, ya?"
Satu lagi. Aku agak pusing karena sejak sama Vita, aktifitasku jadi berantakan.
"Aku ada janji ke rumah Danu."
Vita berdecak, wajahnya cemberut. "Pasti main game!"
"Malam, gimana?" Tanyaku bernegosiasi. Tapi bukan Vita namanya kalau tidak berkeras.
Dia melingkarkan kedua lengannya di pinggangku. "Aaaa.. Nggak bisa. Aku pengennya siang ini kamu temenin. Kamu temenin aku ya, Sya. Please..."
Vita mendongak. Mata bulat yang bening itu memohon untuk tidak ditolak. Dan ekspresinya yang seperti itu memang ga bisa buat aku berkata tidak.
Hufff. Ya sudahlah. Mungkin aku memang harus lebih tegas lagi untuk bisa bilang ya atau tidak pada Vita tanpa bisa diganggu gugat.
Aku mengacak pelan rambutnya. "Oke."
Senyumnya mengembang dan semakin mengeratkan pelukan. "Makasihhh.. Jemput aku, yaah."
"Hm."
Vita bermanja-manja padaku, lebih sering memulai duluan dari pada aku. Walau begitu dia ga mundur dan tetap mengajak aku jalan, padahal aku tahu betul dia selalu ditanya soal kejelasan status kami yang ga jelas.
Aku.. belum menembaknya. Karena jujur, aku pun ga tau perasaanku pada Vita seperti apa. Aku suka Vita. Dia cantik dan manja. Sesuai dengan tipeku. Tapi entah kenapa hatiku ga menemukan kenyamanan.
"Tiga hari lagi ulang tahun papa. Kamu.. datang, ya." Vita mendongakkan wajah. "Aku pengen ngenalin kamu ke papa.."
"Lepasin dulu, bisa nggak?" Ini agak.. bukan. Ini terlalu rapat. Vita terus memelukku padahal ini di sekolah. Kalo ada yang masuk, bisa salah paham.
__ADS_1
"Nggak. Jawab dulu. Mau kan, datang?"
"Iya. Aku usahain."
Bukannya melepaskan, dia malah semakin memelukku. "Makasih. Kamu tuh, baik banget. Mana bisa aku lepasin kamu buat cewe lain."
"Aku ga ada cewe lain."
"Aku tau. Cuma aku, kan?" Tanyanya meminta kepastian.
Aku merapikan rambut Vita ke belakang telinganya. "Kamu gimana? Banyak yang deketin, kan."
"Ga ada. Cuma kamu doang."
"Mana mungkin." Maksudku, kalau memang ada yang deketin kamu dan lebih sayang ke kamu, aku akan bilang untuk bersamanya saja. Karena aku sendiri ga bisa memastikan perasaanku. Aku ga mau Vita cuma jadi alasan aku mendekatinya karena pengalihan perasaan pada... Ari.
"Sya.." Vita menyentuh pipiku. "Kamu.. ga percaya sama aku, hm?"
Ah, tolong jangan begini. Vita menatapku terlalu dalam, mendekatkan wajahnya seolah memberi akses untuk aku menciumnya.
Vita berjinjit, semakin mendekatkan wajahnya padaku. Semakin dia dekat, aku jadi semakin merasa gelisah. Ingin menahan tubuh Vita, tapi-
Kriiieett!
Deg!
Pintu terbuka dan Ari.. dia melihat kami.
"Maaf, maaf, gue ga tau kalian disini."
Dari sekian banyak manusia, kenapa.. Ari? Trus, dia masuk sekolah hari ini? Ada rasa senang liat dia balik sekolah.
Tapi, ini posisinya.. akh. Sial.
Ari terus menunduk, berusaha ga liat kami yang saat ini... ah entahlah.
Aku mendengar helaan napas dari Vita. Dia terlihat kesal lalu mundu beberapa langkah dariku. Dari pada itu, jantungku malah berdetak kencang saat ketangkap basah begini oleh Ari. Bukan apa, ini.. memalukan.
"Maaf bangettt..."
Ari langsung pergi setelah menutup kembali pintu. Lalu Vita, dia masih menatap pintu dengan wajah bertekuk.
"Ganggu." Desisnya.
Dari pada itu, untunglah aku ga khilaf menyambar Vita tadi. Kalau aja Ari ga masuk, ah.. entahlah.
TBC
__ADS_1