
Mobil memasuki area perumahan yang dirindukan. Ari menurunkan kaca mobil dan menghirup udara dari luar. Rasanya amat bahagia, padahal baru berpisah beberapa bulan. Tapi seperti sudah bertahun-tahun.
"Hah. Lega akhirnya sampai."
Arsya melirik dengan senyuman. Melihat keceriaan Ari seperti biasa begitu membuatnya gemas.
"Oh, ya. Bunda ga tau kan, Sya, kalau kita ada hubungan. Please jangan bilang, ya."
"Mama tau, kok."
"Haah?" Ari menganga. Tiba-tiba dia kikuk membayangkan bagaimana ia dan Bunda nanti. Pasalnya, sekarang dia dan Arsya kan punya hubungan lebih.
"Syaa. Kok dikasih tau. Ini nanti gimana.."
"Gimana apanya, ya anggap kaya biasa." Mobil berhenti di depan rumah Arsya. Di teras, Syahdu dan Arga sudah berdiri menunggu mereka turun.
"Sya.." Ari menahan tangan Arsya yang hendak keluar.
"Kenapa?"
"Aaa.. gimana."
"Gimana, apanya, sih.." Arsya terkekeh pelan, lucu melihat reaksi Ari.
"Ini kalo bunda marah gimana, Sya. Kita kan temenan.." Ari mulai tak bisa berpikir. Bagaimana pun dia dengan Arsya adalah sahabat sejak kecil. Syahdu adalah ibu yang mengasuhnya. Lucu kalau dia ternyata ketahuan menjalin hubungan dengan anak ibu asuh. Kira-kira begitu yang ada di pikiran Ari.
"Coba liat, Bunda sama papa udah semangat banget nunggu kamu diluar. Apa ada tampang marah?"
Ari meremas jarinya. Benar, sih. Bunda tampak menunggu dengan binar bahagia.
"Ayo, itu mama papa udah nungguin calon mantu."
"Syaaa!" Bisa-bisanya Arsya meledek seperti itu.
Ari mau tak mau turun saat Arsya menurunkan kopernya dari bagasi. Dengan canggung Ari berjalan mendekati Syahdu yang sudah tersenyum dari jauh. Bundanya itu menghampiri, memeluk Ari yang sudah ia anggap anaknya sendiri.
"Sehat, nak?"
"Sehat, Bun." Ari membalas pelukan Syahdu. Ibu asuh seperti ibu kandung. Rasanya lega saat bisa memeluk Syahdu kembali. Air matanya sampai meleleh. "Ari kangen banget sama bunda."
"Bunda juga kangen banget." Sahut Syahdu. Ia menghapus air mata Ari. "Udah. Masuk dulu, yuk." Syahdu meraih lengan Ari dan membawa masuk anaknya.
Dibelakang, Arsya dan Arga masih berdiri melihat interaksi dua perempuan yang saling merindukan.
"Gimana, puas?"
"Hehe.." Arsya tertawa bahagia mendengar pertanyaan itu. Jelas dia bahagia, apalagi melihat dua perempuan yang dicintainya sangat dekat. Nggak salah hatinya memilih Ari.
...🍭...
Setelah memberesi barang di kamar, Ari merebahkan diri sebentar. Dia membuka ponsel dan melihat status seseorang.
Oh, Ari lupa bilang pada Arsya bahwa temannya, Priska, mengiriminya pesan kemarin. Katanya ingin berkenalan. Tapi entah kenapa story status yang dibagikan Priska seperti tengah membuatnya panas.
[Nongkrong bareng] judulnya, dan dia mengunggah foto Arsya juga Anggara yang tengah fokus pada ponsel, bermain game. Status tadi malam yang baru diliat Ari.
Suara lompatan membuat Ari menoleh. Arsya masuk dari jendela. Auranya sangat baik. Terus tersenyum dan duduk di samping Ari. Gadis itu bangkit dari tidur dan duduk mencondong ke arah Arsya.
"Udah siap beres-beres?" Tanya Arsya.
"Udah. Gue ga bawa banyak barang."
__ADS_1
Arsya manggut-manggut. "Lo mau istirahat, ya?"
"Engga, sih. Lo tadi kemana?"
"Diceramahin mama. Kan sekarang hubungan lo sama gue udah ga kaya dulu. Mama khawatir gue nyelinap tengah malem ke kamar lo."
"Iya. Gue juga takut." Sahut Ari, Arsya malah terkekeh.
"Dari dulu juga gue nyelinap. Cuma waktu itu kan, perasaannya beda."
"Hah? Apa lo bilang?"
"Gue masuk ke kamar lo diem-diem."
"Ngapain???" Seru Ari kaget.
"Ngga ada. Liatin lo tidur aja."
Ari langsung menutup dadanya dengan menyilangkan tangan. "Sya, lo kok creepy banget gitu.."
"Hahahaha." Arsya malah tergelak. "Gue tuh, kalo ga bisa tidur ya mampir ke kamar lo. Liatin lo ngorok."
"Ihhhh. Apaan, sih!" Ari melemparnya dengan bantal.
"Hahaha. Iya, serius. Gue seneng aja liat lo tidur nyenyak. Lo kan dulu susah tidur dan sering begadang. Minta temenin gue. Tapi makin lama lo ga pernah minta tolong sama gue. Gue sering denger lo ngomong sendiri di kamar. Ketawa sendiri, nangis tengah malem. Gue pikir hantu, rupanya lo lagi baca novel!"
Ari membenarkan itu. Dulu dia sering sulit tidur. Entah kenapa, mungkin karena rindu orang tua.
"Setelah itu, gue sering nyelinap masuk cuma ngecek gimana tidur lo. Tapi setiap gue masuk, lo makin tidur nyenyak karena ini." Arsya mengangkat tangannya. "Gue yang elus lo sampe pules. Bener-bener pules."
Ari tidak menyangkal. Sebab dia jadi segar di pagi hari karena tidur yang semakin berkualitas.
"Iya, dong."
"Padahal itu perbuatan yang mengerikan, sih. Lain kali jangan gitu, ya!" Ancam Ari, menunjuk Arsya dengan telunjuknya.
"Ngga janji kalo itu."
Ari berdecak, sementara Arsya tertawa sambil mengacak rambut kekasihnya.
"Oh, ya. Priska itu temen lo, kan?"
"Iya. Dia nge-chat lo?"
"Loh. Kok tau?"
"Gue yang kasih nomor lo. Dia minta, katanya mau berteman. Jadi gue pikir, dari pada lo overthinking sama gue, mending lo berteman deh, sama tu anak. Jadi lo tau sendiri gimana gue dan temen-temen lain."
Arsya terlalu berpikir positif. Kebalikan dari Ari sendiri. Dia ga tau aja, apa yang diposting gadis itu.
"Tadi malam.. lo kemana?" Tanya Ari memastikan.
"Dinner sama mama. Kan, gue kirim fotonya ke lo."
"Setelah itu?"
"Pulang, sayang. Kita tadi malam sempat video call, kan, waktu lo transit di Doha. Liat sendiri gue di kamar. Kenapa, sih?" Arsya mengusap-usap pipi Ari. Sampai memanggil sayang agar Ari berhenti mencurigai.
Tapi sebenarnya Ari bingung. Kenapa Priska malah memposting itu padahal lagi gak sama Arsya. Lalu, nampaknya status itu hanya ditujukan padanya. Soalnya, Arsya ga tau menahu. Ari merasa dirinya harus bertindak.
"Besok gue jemput, ya. Pulang sekolah. Tapi jangan bilang ke anak-anak kalo gue balik. Soalnya mau kasih surprise." Ucap Ari, dan Arsya mengangguk.
__ADS_1
Oke, besok kita kasih gulma itu kejutan.
...🍭...
Ari menunggu di dalam taksi. Dia melirik keluar jendela mobil saat beberapa anak sudah keluar dari gerbang sekolah. Mungkin Arsya udah nunggu, jadi sebaiknya dia masuk saja.
Ari turun dari taksi. Tatapannya tak lepas dari gedung yang menjadi tempatnya belajar selama lebih setahun. Dia ga sabar bertemu Karin dan yang lain.
Ari masuk ke dalam gerbang. Dia bisa merasakan tatapan anak-anak yang kaget melihat kedatangannya. Terlebih semua pasti sudah tahu Ariva pindah ke Rusia dan meninggalkan donasi untuk sekolah. Tentu itu menjadi berita besar sekaligus membuat semuanya terkagum-kagum. Ariva dianggap jarum emas yang telah lama bersembunyi dibalik tumpukan jerami.
"ARIVA!"
Eh. Ari terkaget mendengar suara melingking milik Karin. Gadis itu berlari dan langsung memeluk Ari dengan kencang.
"Aaaaa.. lo jahat bangett! Ga mau balas pesan guee tau tau udah balik kesini.."
Yah, gagal. Padahal niatnya mau kasih kejutan. Eh, malah dia yang terkejut.
"Ariva..." Hajoon berlari dengan tangan yang merentang. Dia datang memeluk Ari dari samping, lalu tak kalah Kai juga memeluk, sampai terjadilah pelukan 4 orang.
"Aduhhh pengappp!" Karin melepaskan pelukan Hajoon dan Kai yang menyesakkannya, sampai pelukan pun terlepas.
"Va, lo pindah kesini lagi, kan? Sama kita, kan?" Karin nampak tak sabar menanti jawaban. Ari hanya tertawa kecil.
"Enggak. Gue liburan. Awal Januari balik lagi."
"Yaaahh.." keluhnya.
"Ngga apapa. Yang penting Ariva ingat pulang." Kata Hajoon. Mata Ari menangkap Kai yang hanya tersenyum. Canggung, apalagi Ari tidak membalas pesannya sama sekali.
Dari tempat lain, Arsya tersenyum sendiri melihat Ari bersama teman-temannya. Hal itu juga menjadi perhatian yang lain, termasuk Priska.
"Jadi itu yang namanya Ariva?" Priksa memperhatikan bagaimana Ari berinteraksi dengan teman-temannya. Menurutnya, cewek bernama Ariva itu gak cantik dilihat dari mana pun. Tapi kenapa Arsya rela teleponan sampai kupingnya panas? Lalu, kenapa orang seterkenal Hajoon dan Kai malah senang dengan kehadiran anak itu?
"Gue ga tau kalo Ariva itu dekat sama Hajoon dan Kai. Kok bisa?"
"Mereka temen akrab, tau. Dulu tuh, mereka yang pasang badan waktu Ariva dibully." Jawab Anggara, yang pernah melihat kejadian itu di kantin.
Mendengar itu dari Angga, membuat alis Priska mengerut kesal. Padahal dia udah hampir satu semester di sekolah ini. Tidak juga dia bisa dekat dengan Hajoon, maupun Kai. Arsya yang satu kelas dengannya saja sulit ia raih. Tapi kenapa gadis itu mudah sekali dekat dengan tiga orang keren di sekolah?
"Eh, Sya. Mau kemana!" Priska mengekori Arsya yang berjalan mendekati empat orang mengobrol santai di tepi lapangan basket.
"Syaa." Sapa Ari senang melihat siapa yang datang. Bola matanya menangkap satu perempuan mengekor. Gulma, ternyata itu orangnya.
"Hai. Ariva, kan? Gue Priska." Gadis itu menyapa duluan, mengulurkan tangan dan tersenyum pada Ari.
"Halo. Priska ya?" Ari menyambut uluran tangannya. "Gimana tadi malam nongkrong sama Anggara dan Arsya? Seru, dong."
Senyum Priska memudar. Dia mulai panik, terlebih melihat alis Arsya dan Anggara mengerut tak mengerti.
"Tadi malam kita ga nongkrong, kok." Sahut Angga.
"Oh. Engga, ya?" Ucap Ari dengan keras. Matanya tak lepas dari wajah Priska yang kaget. "Kayaknya gue yang salah liat. Atau.. story itu sengaja dikhususkan untuk seseorang?"
Priska kaku di tempatnya. Terlebih melihat senyum Ariva yang membuatnya kesal setengah mati.
'Jadi, lo mau main-main sama gue? Lo liat aja, gue bakal porak-porandain hubungan lo sama Arsya, Kai, dan Hajoon secepatnya. Cewek kek lo, ga pantes ada dilingkaran mereka.' Batin Priska.
**
Komen yang banyak, Like banyak, kita lgsg up bab baru
__ADS_1