HIGH SCHOOL RELATION-SHIT!

HIGH SCHOOL RELATION-SHIT!
Arsya Alexander 67


__ADS_3

Ari! Astaga.


Aku ingin berlari membawanya menjauh dari keributan. Tapi Vita menarik tanganku.


"Sya, ayo."


Kakiku melangkah dengan paksa, aku terus melihat Ari yang melindungi kepalanya dengan kedua tangan.


"Vit!" Aku menahan langkah, membuat Vita menoleh ke belakang. "Lo duluan aja ke tempat aman. Gue mau kesana dulu." Kataku sambil melepaskan genggaman Vita.


"Kemana, Sya??!" Teriak Vita saat aku berlari ke seberang bangku.


Ari. Kalau sampai lo kenapa-napa, apa yang harus gue bilang ke mama, hah?


Selama ini mama nyuruh aku terus bertanggung jawab soal Ari. Kalau dia Kenapa-napa, mama pasti kecewa. Aku ga mau mama kecewa ke aku.


Langkahku terhenti saat kulihat Ari dilindungi seseorang yang menariknya dalam pelukan, membawanya menjauh menuju tempat yang jauh dari keributan.


Juna? Dia orangnya.


Juna membawa Ari masuk ke dalam gedung dimana anak-anak lain berada. Kulihat cowok itu memperhatikannya. Menanyakan keadaannya sambil memegang kedua bahu Ari, bertanya dengan raut yang benar-benar khawatir.


Sepersekian detik pandanganku berubah soal cowok itu. Aku liat dia memang khawatir.


"Sya! Kenapa bengong?"


Vita menarik tanganku, membawaku mendekat ke gedung dimana Ari dan yang lain berada.


Vita membawaku menerobos kerumunan.


"Hei, kalian ga apa-apa?" Tanya Vita.


Ari yang tertunduk kini mengangkat kepalanya.


Ari pucat. Kelihatan takut dan khawatir sampai meremas ujung kaos yang dipakainya.


Aku paham. Aku ngerti, aku akan selamatkan kamu dari kekacauan ini, Ri.


Tapi saat kakiku melangkah, Ari malah menggelengkan kepala. Memintaku untuk tetap di tempatku. Dia pasti ga mau orang-orang tau hubungan kami yang dekat.


"Ngga apa-apa. Ini cuma salah paham. Jadi tolong jangan dibesar-besarin. Nanti gue yang akan jelasin ke mereka." Ujar Juna. Berusaha menenangkan yang lain.


"Mana percaya mereka." Ketus Kai, menatap tak suka pada Ari.


"Serahin aja ke gue. Sekarang mending kalian bubar. Jangan disini."


Beberapa dari mereka mulai bubar. Kulihat Juna mencoba menenangkan Ari yang gemetar.


Entahlah. Walau Juna berhasil ngehandel semua, tapi aku tetap merasa ga tenang liat Ari bareng dia.


"Ayo, Sya."


Dengan malas aku meninggalkan mereka berdua. Sampai aku menunggu mereka di depan. Aku ingin mengantar Ari pulang, tapi gimana caranya. Ponseku mati.


Ari datang sama Juna, mereka berdua menuju mobil yang terparkir tak jauh dariku. Juna membukakan pintu untuknya.


Beberapa detik pandangan kami bertemu, lalu dia masuk ke dalam mobil dan mobil itu bergerak perlahan menjauh dari kami semua.


It's wierd. Jelas aku liat Juna begitu perhatian padanya. Tapi aku tetap ga nyaman liat Ari diperhatikan orang lain. Bukankah seharusnya aku senang, karena aku bisa lepas tangan soal Ari?

__ADS_1


...🍭...


"Arii. Bukain pintu woi."


Tumben dikunci. Biasanya ga gini. Kalau dikunci berarti dia ngerasa salah.


"Ari. Cepetan buka pintu. Ga usah pura-pura tidur, lo!"


Kak Adit yang lewat sambil bawa segelas kopi cuma geleng-geleng liat aku yang terus menggerakkan handle pintu. Udah biasa dia liat yang kaya gini.


Tak lama, pintu terbuka, aku langsung masuk dan duduk di tepi ranjangnya.


Sengaja aku diam, menunggunya menceritakan kejadian tadi.


Tanpa rasa bersalah, Ari malah bertanya. "Apa?"


Hadeeh. Bikin naek darah aja. "Ngapain lo disana, hah?"


Dia menarik kursi belajar dan duduk menghadapku.. "Nonton futsal, lah."


"Sejak kapan lo nonton begituan? Sama siapa lo kesana?" Tanyaku penuh selidik.


"Sendiri."


"Apa?" Aku menghela napas. "kenapa tiba-tiba seberani itu pergi sendiri? Buat masalah, lagi."


"Aduuuh. Apa sih, Sya. Kalo mau ngomel, besok aja. Gue mau ngerjain tugas!" Katanya sambil menggaruk-garuk kepala.


"Jawab dulu. Sejak kapan lo berani pergi sendiri? Lo kan, ga pernah pergi sendirian. Mana salah duduk lagi. Buat masalah banget." Aku jadi ngomel-ngomel karena responnya yang luar biasa itu. Cuma karena Juna, lo nekat datang sendirian? Sejak kapan??


"Sejak lo bohong dan gak jemput gue. Gue udah nungguin tapi lo gak dateng!"


"Gak sengaja kak Juna lewat dan dia nganter gue pulang. Trus dia juga yg minta gue nonton dia main. Awalnya gue mau minta bantuan lo. Tapi lo gak bisa dihubungi. Eeh.. tau-tau udah disana aja sama Vita!"


I-iya juga, sih. Emang dari awal aku yang ga kasih kabar ke dia.


"Sorry. Gue tadinya memang mau jemput lo. Tapi Vita datang, jadi-"


"Jadi lo milih pacar lo itu ketimbang nganter gue!" Potong Ari cepat.


"Gue nggak pacaran sama dia." Sanggahku pada Ari.


Dia mengabaikanku. Di putarnya kursi dan kembali fokus pada buku diatas meja belajar.


Yah, awalnya emang mau marahin Ari. Tapi aku lupa kesalahan sendiri.


Aku berdiri mendekatinya. "Lo marah?"


"Nggak."


"Sorry. Hp gue mati karena abis batre. Tadi gue mau nolong lo, tapi lo yang ngelarang, kan." Terdengar beralibi. Tapi emang bener, aku mau nolong cuma dia yang nolak. Setelahnya, Ari hanya diam.


"Ri."


"...Ri."


"Ck! Apa, sih!" Dia mendongak. Menatapku dengan wajah kesal.


Hah. Dasar cewek. Bisa-bisanya jadi aku yang ngerasa bersalah sekarang.

__ADS_1


"Iya gue salah. Makanya gue ini lagi minta maaf."


"Gue maafin." Katanya lagi dan kembali fokus ke buku.


Hening beberapa detik. Hadeeh. Nampaknya aku harus cari cara untuk membujuk nih anak.


Nggak sulit, sih. Sogok aja pake makanan kesukaannya. "Gue traktir es krim, gimana?"


"Gue udah makan sama kak Juna."


Hah? "Lo beneran dekat sama Juna?"


"Sebaya lo sama kak Juna?" Ketusnya.


"Gue serius."


"Ngga tau. Dia yang deketin gue duluan. Kenapa? Lo mau ngelarang?"


Aku menghela napas. Nampaknya Ari sama Juna beneran lagi dekat. Apa Juna udah putus sama cewenya, ya. Tapi kalau ni anak dikasih tau, bakalan dengerin gue nggak, ya.


Ck. Ya udahlah. Terserah. Payah banget ngebujuk cewek ngambek! Nggak beda sama Vita yang apa-apa ngambekan. Pusing gue.


"Ya udah. Kalo lo butuh apa-apa, kabarin gue." Kataku sembari melangkah menuju pintu.


"Kayanya ga perlu. Soalnya kan, udah ada kak Juna."


Aku membalikkan badan. Apa katanya?


Huff. Udah sedekat itu, ya. Tapi kalau diliat dari gayanya sih, Juna cuma mainin elo, Ri. Dia punya cewek. Gue yakin. Dan lo ga mungkin ditembak!


"Kayak bakalan di tembak aja." Aku langsung menutup pintu sebelum kingkong itu mengamuk.


"ARSYAAAA!!"


Nah, kan. Apa gue bilang.


~


Aku menatap langit-langit yang penuh dengan tata surya. Planet-planet berputar dengan warna redup, membawaku diam dalam lamunan.


Ari. Jadi kepikiran soal tadi.


Dari cara Juna memperlakukannya, emang keliatan tulus. Tapi siapa tau di dalamnya cuma pura-pura supaya dia keliatan baik di depan semua orang termasuk Ari.


Ck. Jadi buruk banget sifat gue. Kenapa malah berburuk sangka gini.


Udah jam 1, mataku seger banget! Nggak ngantuk, heran. Padahal badan udah capek. Terlebih aktifitas belakangan jadi beda semenjak ada Vita.


Aku bangkit, menyingkap tirai perlahan. Kulihat Ari sudah tidur dengan berselimut tebal. Dia lupa nutup jendela.


Aku pun menggeser jendelanya, lalu menutup jendelaku.


Kulihat tugas-tugasku terbengkalai di atas meja belajar. Aku ga fokus, ga bisa mikir. Kerjain besok aja deh, di sekolah.


Aku memadamkan lampu led tidur planet yang dibelikan mama, membiarkan ruanganku gelap gulita hingga akhirnya aku benar-benar tertidur.


TBC


PoV ini ga bakal gue Skip krn gw mau nunjukin sudut pandang Arsya soal Ari. Btw kalian udah Vote, kan.🥹

__ADS_1


__ADS_2