
Ari membuka mata setelah ia meraba kasur dan tak mendapati Arsya di sampingnya. Padahal ia ingat tadi malam ia tidur dipelukan lelaki itu.
Ari duduk sambil menggaruk kepala, lalu menguap lebar. Ah, Arsya udah pindah, ya. Takut ketauan papa, mungkin.
Tiba-tiba ingatannya kembali ke malam tadi, dimana ia dan Arsya berciuman mesra dan tidur bersama dalam perasaan yang berbeda dari biasanya. Lalu, apakah status mereka sudah berubah menjadi pasangan kekasih?
"Pacaran.. sama Arsya?" Ari tersenyum lebar. "Aaaa.." Memikirkan itu hatinya berbunga-bunga sampai mau gila rasanya. Lalu sedetik kemudian tawanya memudar.
Lah. LDR, dong!
Ari kembali tumbang saat memikirkan itu. Berat bangett. Padahal baru aja ngerasain senang. Belum lagi dia tipe manusia overthinking. Apa bisa dia menjalani ini?
Di kamar, Arsya menyusun barang-barangnya. Menjelang siang nanti, dia harus sudah kembali. Apalagi Syahdu sudah menelepon karena tak sabar menanti kedatangannya. Maklum, Arsya ga pernah jauh-jauh dari mamanya.
Pintu kamarnya terbuka, Ari berdiri di ambang pintu, memperhatikan Arsya yang menyusuni baju-bajunya.
"Ngapain berdiri disitu. Masuk sini." Arsya duduk, menunggu Ari mendekat.
"Jam berapa balik?" Tanya gadis itu, melangkah mendekat.
Arsya melirik jam tangannya. "Ada waktu dua jam lagi. Udah sarapan?"
Uww.. pertanyaan itu membuat hati Ari mekar lagi. Biasanya Arsya ga nanya, tapi langsung kasih makanan, tak peduli lagi lapar atau tidak. Ini adalah bentuk perhatian yang berbeda setelah saling mengungkapkan cinta.
"Belum, sih. Nanti aja, deh. Eh-"
Arsya menarik tangan Ari hingga membuat gadis itu duduk di pangkuannya.
"Sya-" Dia ingin berdiri, tetapi tangan Arsya menahan pinggangnya.
"Bentar lagi gue balik, dan mungkin kita ga akan ketemu sampai SMA selesai."
Benar juga, batin Ari.
"Gue bakalan kangen banget..." Arsya memeluk Ari, memejamkan mata di ceruk leher kekasihnya. "Gimana ya, kalo rindu gue ga ketahan." Ucapnya dengan nada manja, membuat Ari menahan tawa.
Lucu, biasanya Arsya dingin dan kadang ketus. Tapi kali ini dia menunjukkan sisi manjanya. Senang rasanya saat sisi ini hanya dia yang bisa melihatnya.
"Liburan musim ini, gue yang balik, deh."
Langsung Arsya menegakkan kepala. "Serius?"
"Iya. Gue kangen sama bunda."
Mendadak senyum Arsya luntur. "Bunda doang, nih?" Wajahnya murung. Padahal dia semangat karena Ari akan pulang dan menemuinya. Tapi alasan gadis itu...
"Iya, lo juga."
"Tapi lo belum jawab gue. Lo mau kan, jadi pacar gue." Jelas Arsya tau gimana perasaan Ari padanya. Tapi dia lebih suka kalau mendengar langsung dari mulut gadis itu soal status yang jelas. Walau Arsya tau, Ari punya keraguan tersendiri.
Gadis itu diam sembari mengusap pipi Arsya. Dia ingin mengatakan 'ya', tapi ada rasa takut dalam dirinya. Bagaimana kalau Arsya meninggalkannya saat dirinya sudah jatuh terlalu dalam? Bagaimana jika Arsya berubah perasaan dan melupakan perasaannya?
Sebab mama dan papanya juga seperti itu...
Ari mengecup singkat bibir Arsya, "Kita sarapan, yuk. Aku tunggu dibawah." Ari berdiri dari pangkuan Arsya, lalu jalan keluar dari kamarnya.
Arsya menghela napas. Ari tidak mau menjelaskan status mereka, walau tingkah laku keduanya dan respon Ari membuatnya sangat sadar bahwa mereka sudah mirip orang pacaran.
Yah, biarkan saja. Yang penting saat ini hubungan semakin erat. Batin Arsya.
__ADS_1
Sepanjang jalan menuju bandara, Arsya terus menggenggam tangan Ari. Pandangannya lurus ke depan memikirkan kesedihan karena akan berpisah dengan Arsya, sedang lelaki itu terus menatap Ari. Wajah yang akan jauh darinya sebentar lagi.
Beda hal dengan Tama yang sesekali melirik keduanya dari spion depan. Melihat kedekatan itu membuat Tama tersenyum sebab misi mereka berhasil.
"Sudah cek semua? Ada yang tinggal?" Tanya Tama sembari mengeluarkan barang-barang Arsya.
"Ga ada, om."
Mata Tama terarah pada tangan yang masih saling menggenggam. Terlihat pula wajah sendu anaknya yang akan berhubungan jarak jauh dengan kekasihnya.
"Hati-hati ya, Arsya. Salam buat Arga dan Syahdu. Om tunggu disini."
"Makasih banyak, om. Arsya pamit."
Lelaki itu menyalami Tama, lalu menggeret kopernya masuk ke dalam bandara.
"Sampe sini aja. Siang nanti ada kelas, kan?"
Ari mengangguk. Dia merasa berat ditinggal oleh Arya.
Dia ingin meminta Arsya ikut dirinya pindah kesini. Tapi itu terlalu berlebihan.
Arsya menarik Ari yang murung, merengkuhnya dalam pelukan. "Hah. Akhirnya jadi LDR."
Ari memendamkan wajahnya di dada Arsya. Harum ini akan terus ada di penciumannya.
"Jaga diri, jangan lirik cowok lain."
"Harusnya gue yang ngomong gitu."
"Lo ga usah khawatir. Isi pikiran dan hati gue cuma ada lo."
"Jangan tunggu gue. Kemungkinan gue nyampe jam 1, kalau di Indo subuh."
"Iya. Tapi kabarin gue, ya."
"Pastilah."
Suara announcement terdengar, tanda bahwa mereka harus mengakhiri sesi pelukan.
"Baik-baik disini, ya." Kata Arsya, mengurai pelukan.
Ari mengangguk, namun tangannya masih menggenggam jeket jeans yang Arsya pakai.
Entah kenapa sekarang Arsya suka melihat wajah yang murung karena khawatir rasa rindu akan terus menggebu. Terlebih sejak dulu mereka memang hampir tidak pernah berjauhan.
Arsya mengecup kening Ari, menyalurkan perasaannya melalui kecupan itu, sekaligus berdoa agar waktu cepat berlalu dan mereka bisa bersama tanpa terhalang jarak seperti ini.
Arsya meraih handle koper. "Ingat, jangan lagi ngilang kaya waktu itu. Gue udah punya nomor om Tama dan kak Jay."
Kali ini beda. Ari akan terus mengaktifkan ponselnya 24 jam tanpa mati dengan alasan apapun. Karena dia ingin terus berkomunikasi dengan lelaki itu.
"Gue balik." Katanya sambil mengusap kepala Ari yang berat dengan kepergian Arsya.
Lelaki itu pun belum bergerak, karena wajah Ari terus murung begitu. Kakinya jadi berat melangkah.
"Ri.."
"Udah, sana. Ntar lo telat."
__ADS_1
Dia menyuruh pergi dengan wajah begitu?
Arsya menarik kopernya dan melangkah lambat. Memang beginikah rasanya, berat saat akan meninggalkan Ari. Padahal minggu lalu hubungan mereka masih sahabatan. Dan sekarang ingin melangkah saja berat sekali.
Hah. Ngga bisa. Kayak ada yang kurang. Arsya membalikkan badan dan meninggalkan kopernya, lalu berjalan cepat ke arah Ari, menarik gadis itu dan mencium bibirnya.
Ari yang matanya sudah basah, sempat terkejut, namun ia menutup mata dan menikmati ciuman terakhir sebelum Arsya lepas landas dan membuat jarak yang sangat panjang diantara mereka.
Arsya membuka mata, melepaskan ciuman yang sebenarnya masih ingin ia lakukan. Tapi tidak bisa. Dia bisa terlambat.
"I love you so much.." bisik Arsya, menyatukan hidungnya dengan Ari, cukup lama sampai ia memeluk Ari sebentar, mencium lagi kening gadis itu dan melangkah pergi.
Ari melambaikan tangan pada Arsya yang semakin menjauh. Hatinya berdenyut, merasakan perasaan yang luar biasa, antara cinta juga kesedihan karena akan saling berjauhan.
Dan hari itu, sampai memastikan pesawat Arsya lepas landas dan lewat dari atas kepalanya, barulah Ari pulang bersama Tama.
"Papa langsung antar ke sekolah?" Tanya Tama sembari merangkul Ari menuju mobil mereka. Ari mengangguk dengan sisa air yang masih menempel di matanya.
...🍭...
Arsya meraba nakas dan mendapati weaker berdering keras. Dia mengintip dengan mata yang belum terbuka sempurna. Sudah pukul setengah 7, dan dia akan bersiap sekolah.
Arsya turun setelah bersiap. Dia mendengar suara dentingan piring dan garpu, serta suara berisik Ibra yang menjemputnya subuh tadi.
"Loh, sayang. Kamu sekolah?"
"Iya, ma." Arsya duduk di sebelah Ibra yang tengah mengunyah cepat. Jarang-jarang makan enak masakan bosnya.
"Ngga ngantuk?" Tanya Arga.
"Puas tidur di pesawat." Katanya sembari menyantap roti dengan tangan kiri. Dan itu diperhatikan Syahdu.
"Nanti papa antar."
"Gue aja. Sekalian balik. Kan, kantor sama sekolah Arsya beda jalur." Sahut Ibra.
"Emang lo ga ngantor?"
"Tidur bentaran lah, Ga. Gue ngantuk berat lo ajakin lembur."
"Kayak kerja berat aja lo!" Sembur Arga, dan Ibra langsung tak terima dikatakan begitu.
Ponsel Arsya bergetar. Dia melirik pesan yang ternyata dikirim oleh Ari. Senyumnya melebar membaca isi pesan itu, mengabaikan kebisingan di meja makan.
"Em.. Arsya naik taksi aja." Dia beranjak, menyandang tasnya.
"Lo, kenapa?"
Arsya mencium pipi Syahdu. "Pengen aja." Jawabnya, lalu menyalami Arga dan Ibra.
Arsya berjalan cepat memesan taksi online sambil terus tersenyum. Bukan pengen, dia cuma mau bertelepon ria dengan Ari selama di perjalanan didalam taksi, melepas rindu yang baru beberapa jam tidak bertemu. Maklum, hubungan baru...
**
Pen maaf ya ga bisa sering-sering up. kemaren ga ada kerjaan makanya bisa banyak, sampe gue udah buat kerangka novel sejenis Richi 2 saking excitednya, ide juga lagi banyak, dan mood bagus banget buat nulis. eh tau tau ditumpukin banyak tugas yang buat mood nulis gue rusak wwkwk. ntar kalo luang gue kerjain semua sampe abis yee...
eeh kasi gue selamat dong, novel gue yang Dear Majikanku yang Lumpuh disebelah udah ttd kontrak wkwkw. Jangan lupa singgah kesana pen🫡
__ADS_1