
Aku memutar handel pintu, dan membukanya perlahan. Ku edarkan pandangan pada ruangan yang cukup luas itu. Aku akan rindu sama kamar ini.
Langkahku masuk dan duduk di ranjang yang biasa Arsya tiduri. Walau hal yang kuingat hanya bagaimana dia tidur bersama Vita, tapi dalam benakku tetap menyimpan kenangan baik di kamar ini. Kita belajar bareng, menggambar, menyanyi, mengobrol, dan masih banyak lagi.
Aku berjalan, kembali memperhatikan kamar yang sebenarnya sudah ku hapal isinya. Kulihat foto-foto Arsya kecil bersama bunda dan papa yang ia sengaja tempelkan di pintu lemari. Aku membukanya perlahan, dan mendapati foto-foto kami sejak kecil di balik pintu lemarinya.
Sudut bibirku pun naik. Aku ingat kenapa dia meletakkannya di dalam. Katanya supaya ga cepat kotor. Hmm...
Aku melihat susunan piagam yang di dapat Arsya dari segala jenis olimpiade yang pernah ia ikuti.
Dia anak hebat. Dia pintar. Aku kagum dengan Arsya yang tetap merendah itu.
Apa yang membuatku berlama-lama disini? Apa aku menunggu Arsya pulang dan pamit padanya? Jelas tidak.
Aku cuma ga ingin menyesal, jika suatu hari perasaanku membaik dan bisa menerima keputusan Arsya bersama dengan Vita. Aku ga mau nyesal terlambat memberikan apa yang seharusnya menjadi miliknya, karena aku dari awal memang ingin memberikan ini untuknya.
Aku duduk di meja belajar Arsya dan kembali memandangi susunan bukunya yang rapi. Rajin-rajin belajar ya, Sya. Maaf, aku belum bisa ketemu kamu. Aku lemah, perasaanku ga bisa dibohongi. Tapi bagaimana pun aku pasti akan kangen sama kamu.
Aku menarik laci dan meletakkan sesuatu disana.
Aku ga bisa ngomong langsung, jadi aku buat surat untuk Arsya, supaya dia baca. Tapi jangan segera dibaca. Aku ga kuat kalo ternyata kamu nyusul aku ke bandara.
Setelah selesai, aku keluar dan mendapati bunda dan kak Tari di depan menunggu.
Aku tersenyum lalu memeluk kak Tari. Orang yang selalu perhatian padaku walau cerewet banget.
"Makasih ya, kak. Maaf selama ini Ari keras kepala."
"Iya, kamu keras kepala. Hiks." Kak Tari menangis. "Kenapa mendadak, Hm? Kamu ga izinin kita buat berkumpul untuk makan malam terakhir sebelum kamu pergi..hiks."
"Maaf..." Aku memejamkan mata dan membiarkan air mataku kembali mengalir.
Aku dan kak Tari sering berantem kecil-kecilan. Dia selalu repot ngurusin aku dan biaya hidupku selama ini. karena papa dan mama mengirimkan uangnya pada kak Tari. Dan kini, dia ga akan repot lagi karena aku.
Setelahnya, aku memeluk bunda.
Lama kami saling menangis tanpa ada kata. Aku memeluk bunda, yang udah kuanggap sebagai ibu kandungku sendiri dengan sangat erat.
"Makasih banyak, Bun. Ari beruntung ketemu bunda. Ari sayang banget sama bunda." Kataku dengan Isak tangis.
"Bunda juga sayang sama Ari." Bunda mengusap-usap punggungku. "Jadi anak baik, ya. Belajar betul-betul. Kalau kangen, Ari pulang aja kesini. Panti ini selalu terbuka buat Ari. Ya?"
Aku mengangguk, lalu melepaskan pelukan bunda. "Maafin Ari, udah banyak ngerepotin bunda."
Bunda menggenggam tanganku. "Ngga ada yang ngerepotin. Ari anak bunda. Udah seharusnya bunda mengurus Ari."
Tulus sekali. Aku selalu berpikir, kenapa aku ga terlahir dari rahim seorang perempuan seperti bunda? Aku yakin, aku akan sebahagia Arsya yang memiliki keluarga hangat.
"Kak Arii." Anak-anak panti yang sudah pulang sekolah berlari dan memelukku. Mereka menangis, seperti ritual yang memang selalu terjadi jika ada anggota panti yang pergi.
Setelah berpamitan, aku melambaikan tangan dan mobil pun membawaku pergi menuju bandara.
Hah. Melelahkan. Hari ini sangat melelahkan.
Papa menggenggam tanganku, "Semua beres?"
Aku mengangguk dan papa pun tersenyum. Kualihkan pandangan keluar jendela.
Sejujurnya ada yang ga beres. Yaitu perasaanku. Sesuatu mengganjal dan ingin sekali ku keluarkan. Kalau aja aku bisa, aku pasti akan lakuin. Aku mau luapan ini mengempis supaya aku bisa bernapas lega. Kapan aku bisa melakukannya? Entahlah. Mungkin nanti, setelah aku sampai di Rusia...
...🍭...
__ADS_1
Sejak tadi sebenarnya aku ga tenang. Seperti tak ingin meninggalkan kota ini, tapi juga tak ingin berlama-lama disini. Aku diambang kebingungan walau pilihanku jatuh pada papa.
Pria yang telah berubah ini adalah ayahku. Aku ga mau menjauh, terlebih kehangatannya ingin terus kurasakan. Memang harus ada yang ku korbankan, yaitu masa-masa sekolah yang mulai indah bersama 3 orang sahabatku. By the way, Karin udah buka suratnya belum, ya.
Ku lirik jam. Setengah jam lagi aku berangkat, dan aku mengharapkan sesuatu. Mataku berkeliaran mencari-cari, siapa tahu ada yang datang untuk mengantarkan aku.
Tapi siapa? Arsya? Ya nggak mungkinlah. Tadi kata bunda, Arsya ke sekolah memenuhi panggilan kepala sekolah bersama papa.
Bunda ga jelasin apapun soal itu, karena bunda juga ga mau ingat-ingat lagi kejadian itu.
"Siap-siap, sayang. Kita akan masuk." Ucap papa padaku. Lalu ia kembali mengobrol bersama temannya yang mengantar kami.
"ARIVAAAAA!!"
EH?
Aku melihat tiga orang berlari dan mencari kesana kemari. Suara Karin terdengar lagi memanggil namaku.
Aku sampai tertawa. Ya ampun, mereka kabur dari sekolah?
"Temen kamu?"
Aku mengangguk pada papa.
"Ya udah, papa tunggu di atas." Papa menyeret koper dibantu temannya dan aku kemudian melambaikan tangan pada ketiganya. Mereka pun berlari ke arahku.
"Ariva. Ariva, lo mau kemana?" Tanya Karin, menggenggam kedua tanganku.
"Ikut bokap ke Rusia."
"Hah?" Tiga orang itu tampak kaget. "Liburan doang kan, ya? Lo nggak pindah, kan??" Tanya Karin lagi dengan wajah panik. Keringat muncul di dahinya, mereka pasti capek karena harus lari-lari.
"Gue.. pindah, Rin."
"Sorry, gue ga bilang kalian. Gue.."
Aku menghentikan kalimatku saat Karin memelukku.
"Gue udah seneng banget punya temen kaya lo, Va. Gue sedih lo mau pindah. Tapi gue juga ngerti, yang lo jalanin berat banget."
Ku balas pelukannya lebih erat. "Makasih banget lo udah ngerti.."
Sedih ya. Kenapa kita ga ketemu dari dulu, Rin. Sebenarnya aku udah mikirin ini. Aku berat untuk berpisah dengan kalian, tapi aku juga ga kuat berada terus disini. Selain itu, aku juga butuh papa di sampingku.
Karin melepaskan pelukan, lalu Kai melangkah maju. Dia memegang surat yang aku letakkan di meja Karin tadi. Surat yang mengatakan bahwa aku akan pergi ke Rusia jam 12 ini.
"Bo, gue.. mau ngomong sesuatu."
"Kalo gitu, temenin gue beli minum, Rin." Hajoon menarik tangan Karin dan menjauh dari kami mencari mesin minuman.
Kali ini aku berdiri berhadapan dengan Kai yang tampak berbeda.
"K-kita duduk dulu, ya."
Kai dan aku duduk bersisian. Cukup lama kami saling diam, bingung dengan keadaan yang tiba-tiba terasa canggung.
Aku menoleh saat Kai menghela napas. Lalu dia memiringkan duduk menghadapku.
"Lo.. bakalan balik kan, Bo?"
Aku menggelengkan kepala. "Ngga tau, Kai. Kayanya aku akan netap disana."
__ADS_1
"Jadi.. lo beneran ninggalin kita?"
Aku ga tau apa aku akan balik. Kalau ditanya, aku pasti bingung namun sadar aku akan rindu dengan kota ini.
"Ariva, sebenarnya.. gue mau kasih tau lo sesuatu."
Kai menyebut namaku. Sesuatu yang aneh di pendengaranku.
"Gue tau mungkin ini bukan waktu yang tepat buat lo. Tapi gue ga tau kapan bisa mengatakan ini dengan sejujurnya, karena.. udah lama gue ngerasakan sesuatu yang beda."
Kai, sebenarnya lo mau bilang apa?
"Ariva, gue.. sukak sama lo."
A-apa.
"Gue tau ini terdengar aneh, karena gue sendiri juga ga ngerti kenapa ini bisa terjadi."
Kuatupkan bibir saat menyadari aku menganga terlalu lama. Ini.. Kai.. Lagi confess?
"Gue tau tingkah gue selama ini ga memperlihatkan kalo gue punya perasaan ke lo. Gue sengaja nyembunyiin ini karena gue ga mau lo ga nyaman sama gue. Gue juga ga tau kapan ini mulai terjadi, tapi yang pasti sekarang, gue ga mau nyesel karena udah memendam ini terlebih lo mau pergi."
"Kai, gue-"
"Ssttt!" Kai meletakkan telunjuknya di bibirku, membuat mataku melebar.
"Jangan dijawab. Gue ga minta lo buat jawab. Ini cuma ungkapan gue buat ngasih tau orang yang gue suka."
Aku terdiam dengan jantung yang berdegup. Ga nyangka, aku bener-bener ga nyangka.
'Hello. Passengers of flight 56K76 bound for Moscow with stops in Doha, please boarding from gate C2, and please have your boarding pass ready and make sure that you have collected all your carry-on baggage. Thank you.'
Airport Announcement telah terdengar, meminta penumpangnya untuk segera memasuki gate c2.
Kai berdiri dan mundur perlahan saat teman-teman yang lain mendekat. Aku belum sempat mengatakan apapun, dan Kai tersenyum padaku.
Sudah waktunya, aku berdiri dan menyandang tasku.
"Kabarin kita kalo lo udah sampe, Va." Karin mendekat dan memelukku lagi.
"Makasih kalian udah mau datang."
Hajoon mengangkat jempolnya dan tersenyum manis. "Safe flight, Ariva."
Kubalas senyum seadaanya sebab aku masih sangat bingung. Tapi Kai, dia terlihat sangat biasa.
Aku menaikkan satu langkah ke eskalator, dan tangga itu berjalan.
Mereka bertiga melambaikan tangan saat perlahan aku naik ke atas.
Kubalas lambaian tangan mereka. Sedih, aku hampir saja menangis.
Sekali lagi, aku menebarkan pandangan ke seluruh ruang di bawah itu, mencari seseorang yang entah kenapa aku harapkan kedatangannya.
Ngga ada. Dia ga datang. Aku ga boleh ngarepin apapun.
Aku.. ga boleh ngeharapin apapun.
TBC
Thanks ya guys. Kalian baik banget mau kasih Vote. Sesuai janji aku Up😊
__ADS_1