
"Oh, terbuka!" Tukas Vita kesenangan.
Deg! Mati aku. Gimana kalo Vita sampe baca chat-ku dengan Arsya? Shitt.
Aku ga tenang, namun berusaha semaksimal mungkin terlihat biasa walau dalam dadaku begitu berisik dengan degupan yang luar biasa. Ku perhatikan Vita. Dia tengah fokus mengecek ponsel Arsya.
"Ariari ini siapa, sih." Gerutunya dengan dahi berkerut.
Aduh. Seketika tulangku berubah lunak. Ingin rasanya aku kabur saja dari sini.
Untung aja foto profilku gambar kucing. Pasti ga nyadar kan, kalo itu aku. Kira-kira isi chat-nya apa ya sampe Vita fokus terus kesitu. Aku sampai tak sadar memperhatikan Vita sambil mengaduk-aduk kuah bakso.
"Heh. Tumpah, ntar." Kai menepuk tanganku sampai aku terkesiap.
"Sampe nyusul Arsya ke Australi segala."
DegDegDegDeg. Mati akuu matiii...
Aku menenggak air putih sampai habis. Nggak tenang, sumpah. Vita sampai fokus terus ke layar hp Arsya.
"Lo tuh, kebiasaan. Ga boleh tau, ngecek Hp orang kaya gitu." Tukas Hajoon yang ada disebelah Vita.
Vita meletakkan ponsel Arsya di atas meja dengan wajah kesal.
Ah. Untunglaah. Akhirnya aku bisa bernapas lega.
"Gue cuma penasaran. Soalnya Arsya kayak cuek banget sama gue. Apa jangan-jangan dia punya perempuan lain?"
Eh? Apa aku ga salah denger? Jadi, hubungan Vita dan Arsya itu ga semesra yang gue liat, ya. Tapi bukannya kemarin-kemarin pergi bareng terus? Hmm.. Kayak ada yang ga beres, nih.
"Masa, sih. Biasanya cowo gamer kaya dia, ga mentingin perempuan." Celetuk Hajoon lagi.
"Ya, makanya dia ga peduli sama lo hahahaha." Kai tertawa lebar, membuat Vita menatapnya dengan bola mata membulat tajam.
"Diem lo." Sentaknya pada Kai yang semakin tertawa lebar.
Vita yang tengah ditertawakan oleh Kai pun akhirnya termenung dengan bertopang dagu.
"Ya udahlah, cari aja cowo lain. Bukannya lo bilang Arsya cuma- aduh." Teman Vita itu merintih. Dia menunduk, sepertinya tengah mengelus kakinya yang ditendang Vita.
Curiga. Aku bener-bener curiga soal apa rencana Vita deketin Arsya.
"Bener. Lo kan, cakep. Dapet siapa aja juga bisa." Imbuh Hani memberi pendapat.
Vita menoleh sekilas pada Hani, lalu berucap pelan. "Emang. Tapi gimana, udah terlanjur."
"Terlanjur apa? Naksir?" Tanya Hajoon, dan Vita tidak lagi menjawabnya.
"Bukannya lo tadi kesenengan karena Arsya bawa lo ke rumahnya." ujar teman Vita, dan senyum gadis itu mengembang.
__ADS_1
Apa, sih. Vita ini misterius banget. Dia punya rencana apa sama Arsya? Baru aja kesal, lalu tiba-tiba wajahnya sumringah gak jelas gitu.
"Iya. Baru kali ini gue ke rumah cowok dan disambut hangat banget." Kata Vita dengan hebohnya.
"Weeh. Udah dapet lampu ijo, dong."
"Mama Papanya Arsya welcome banget. Trus emang bener kata orang-orang kalo Papa Arsya bener-bener cinta banget sama Mamanya. Gue bisa liat kemesraan mereka. Jadi envy.."
Nah, kan. Aku jadi kesel banget dengernya. Tiba-tiba aja ada seberkas rasa benci pada Vita yang mendapatkan kehangatan Bunda.
Ah, ayolah, Ri, jangan iri dengki gitu. Ga baik buat hati lo. Emang cuma lo doang yang boleh deket sama keluarga Arsya? Vita juga boleh, kali. Namanya dia pacar Arsya. Lo juga ga bisa ngelarang-ngelarang, kan.
Aku menarik dan menghela napas perlahan. Kini hati dan pikiranku berperang, dan aku ga mau wajahku keliatan ga suka begini. Aku harus tetap santai seolah aku dan Arsya gak saling mengenal.
"Luar biasa. Padahal gue pengen banget ketemu om Arga Alexander. Mau bilang kalo nyokap gue ngefans sama beliau." Kata teman Vita yang langsung dianggukin Vita.
"Papanya emang ganteng banget." Sambungnya.
"Arsya nya mana?" Tanya Hani. Sesuatu yang aku juga ingin tahu.
"Toilet." Jawab Vita cuek.
Aku mengangguk tanpa sadar. Tak lama, Arsya datang dan duduk di sebelah Vita. Mereka mengobrol pelan sampai aku tidak bisa mendengar apa yang mereka bicarakan.
Lalu, kak Juna datang dan mengecup puncak kepalaku. Membuatku berjingkat kaget, namun dia hanya tertawa renyah.
"Kak!" Aku mendelik dengan suara tertahan. Kak Juna gila. Dia menciumku di depan banyak orang begini. Sampai bisa kulihat Arsya menatap dingin ke arahku dan kak Juna bergantian.
"Ini. Mau?" Aku menyodorkan mangkuk bakso yang masih penuh pada kak Juna.
"Enggak, kamu aja."
Aku mengangguk saat kak Juna menepuk-nepuk pelan kepalaku. Seperti ayah yang menyayangi anaknya. Dan aku suka itu.
"Tolong ya, jangan mesra-mesraan disini." Vita, dengan wajah juteknya mulai bersuara.
"Halah, kalo lo yang mesraan gue biasa aja." Sahut kak Juna, membela diri.
Vita memutar bola mata, lalu beralih lagi pada Arsya yang bermain game di ponselnya.
"Syaa.. isk. Main game muluu." Ujarnya dengan manja, mengguncang lengan Arsya pelan.
"Bentar, nanggung nih."
Vita manyun dan kembali menopang dagu dengan sebelah tangan mengaduk makanan. Dia memang keliatan banget naksir Arsya.
Tapi, Hehehe. Kasian, dianggurin. Aku tertawa dalam hati.
...🍭...
__ADS_1
Aku membersihkan tempat tidur. Kegiatan yang kulakukan sebelum berbaring dan bermimpi panjang. Sesekali ku lirik kamar Arsya yang tertutup tirai dengan jendela yang terbuka. Cahaya masih terlihat dari luar, berarti Arsya belum tidur. Biasanya dia membiarkan aja tirainya terbuka. Tapi kali ini dia menutupnya.
Aku mendekat dan berdiri menatap kain jendela berwarna abu itu. Kira-kira Arsya lagi ngapain, ya.
Hm.. ingin menyapa, tapi kayaknya dia ga keliatan mau ngomong sama aku. Kalau dipikir-pikir belakangan kita emang merenggang, ya. Kayaknya ini kali pertama gue dan Arsya ga ngobrol selama ini. Biasanya Arsya yang duluan ngajak gue ngomong. Tapi mungkin karena beberapa hal yang terjadi diantara kita, buat kita perlahan menjauh. Apalagi masing-masing udah punya kekasih.
Drrrt!
Suara jendela digeser membuatku tersentak. Baik aku maupun Arsya sama-sama terdiam karena kaget dengan keadaan masing-masing.
Kaku, aku tersenyum kecil padanya. Sialan, sejak kapan kami saling canggung begini.
"Udah sehat, Sya?" Tanyaku memulai obrolan.
"Lumayan."
Ohh. Heii, kenapa jawabnya gitu doang? Buat aku bingung mau bilang apa lagi.
"O-oke. Kalo gitu.. istirahat, gih."
Arsya mengangguk, "Lo juga." Dia menutup jendela dan menggeser tirai. Dan percakapan malam itu selesai.
Hadeh.. kenapa jadi kaku gini, dah.
TRING!
Aku menutup jendela dan mendekati nakas dimana ponselku berada.
Nomor baru? Siapa ini?
Aku hampir aja ngejatuhin Hp dari tangan setelah membaca pesan masuk. Tanganku bergetar, mendadak perasaanku ga enak. Apa ini? Apa aku dikerjain lagi, atau apa?
Aku ga boleh langsung percaya. Aku harus tanya langsung ke kak Juna apapun ceritanya. Aku ga mau mengamuk ga jelas cuma karena orang iseng yang ngerjain aku.
Aku berjalan kesana-kemari dengan ponsel yang menempel di telinga, menunggu kak Juna mengangkat telepon dariku. Tapi sudah beberapa kali menghubungi, kak Juna ga ngangkat sekali pun.
Kemana dia? Di saat begini, dia malah ga kasih aku kabar. Aku panik, takut, juga mau marah aja rasanya.
Aku jadi kepikiran kalo ini mungkin memang selingkuhannya kak Juna walau batinku menolak setuju. Bisa diliat dari bagaimana caranya memperlakukan aku. Ga mungkin dia selingkuh, kan.
Memang aku akui kalau kak Juna baik dan ramah ke semua orang. Tapi aku ga pernah liat dia ganjen sama cewek mana pun. Bahkan saat deketin aku pun, dia ga ngelakuin yang macem-macem.
Ahh. Kak Juna.
Aku terduduk di tepi tempat tidur dengan air mata yang menggenang.
Kalau ini emang beneran, Kak Juna.. jahat banget.
__ADS_1
*Jangan Lupa Like dan Vote*