HIGH SCHOOL RELATION-SHIT!

HIGH SCHOOL RELATION-SHIT!
Love-ship 104


__ADS_3

Baru pulang dari acara nongkrong, Arsya memasukkan motor ke garasi, tapi hanya melihat satu mobil di dalam. Dia sempat bertanya-tanya dalam hati, sudah hampir jam 1 tapi papa belum kembali? Kemana?


Arsya segera masuk, karena ia mengira mamanya sendirian di rumah. Tapi dilihat dari mana pun Arsya tahu rumah itu tengah tak berisi.


Beberapa detik dia terpaku, sampai mendengar suara deru mobil dari luar, dia pun keluar.


Syahdu dan Arga baru turun dari mobil dengan pakaian yang tidak terlihat biasa. Mamanya mempesona dengan balutan dress polos putih, sementara Arga bersetelan jas hitam. Mereka lanjut berjalan bergandengan mesra, bak pengantin baru.


"Eh, udah pulang, sayang?" Tanya Syahdu pada Arsya yang bersandar di bingkai pintu.


"Baru aja. Papa mama darimana?"


"Kita abis... kencan." Jawab Arga, merangkul mesra Syahdu. Ingin membuat anaknya kesal. Dan benar saja, anaknya itu cemburu.


Arsya merengut. "Besok kencan sama Arsya ya, ma?"


"Heeiii..." Protes Arga.


"Mama pengen kemana?"


"Hmm..." Syahdu tampak berpikir.


"Gak boleh! Kamu kan, punya Ari. Sana kencani."


"Alah, papa. Arsya kan, pengen makan malam berdua sama mama. Besok, gimana, ma?"


"Boleh."


"Beneran ya, ma. Nanti Arsya atur tempatnya."


Syahdu mengacak rambut Arsya. "Duh, anak mama. Udah gede banget. Sini.." Syahdu melebarkan tangan, bersiap untuk memeluk Arsya.


Anak laki-laki yang beranjak dewasa itu sedikit membungkuk, menerima pelukan dari Syahdu yang terus mengusap rambutnya.


Di belakang, Arga hanya menggelengkan kepala saat Arsya mengejeknya.


Yah, dua laki-laki itu memang selalu memperebutkan kasih sayang yang Syahdu berikan.


"Sya, bicara sama papa sebentar." Arga mengundurkan ikatan dasinya. Dia duduk setelah mengantar Syahdu ke dalam kamar.


Arsya yang sudah menaiki tangga, kembali turun dan duduk di dekat Arga.


"Papa marah karena aku mau makan malam sama mama?" Tanya Arsya langsung.


"Ya, nggaklah." Mana mungkin dia marah saat hubungan anak dan ibu itu sangat berhasil dan menciptakan keluarga cemara seperti ini. Berbeda dengan cerita kecilnya bersama Alex yang tak akur. Yah, walaupun ada juga kesalnya sedikit, karena akan sendirian di rumah saat anak dan istri bersenang-senang besok.


"Gimana kamu sama Ari?"


Pertanyaan itu keluar begitu saja. Sebenarnya Arga hanya rindu mengobrol santai dengan si anak tunggal. Tapi dia terlalu gengsi untuk mengatakannya terus terang.


"Baik. Yah, walau sering ada salah paham."


Arga manggut-manggut. Dia senang, karena Arsya mau bercerita. "Lalu?"


"Lalu, apanya? Papa sebenarnya mau tanya apa?" Protes Arsya.


"Ya lalu gimana? Masalahnya selesai? Apa Ari gak curiga sama kamu yang sekarang udah mau keluar nongkrong."


"Nggak. Dia sih, percaya aja." Arsya mendadak ingin menanyakan sesuatu pada papanya. "Pa, dulu usia berapa papa mulai jatuh cinta?"


Alis Arga terangkat. Jatuh cinta, ya. Itu saat dia bertemu dengan Syahdu.


"Sekitar... 22 atau 23, mungkin. Kenapa?"


Arsya diam sejenak. Dia tak yakin, apakah rencananya ini bisa diterima oleh orang tuanya.


"Menurut papa, punya perasaan cinta di usia Arsya sekarang, gimana?"


Arga yang semula bersandar di sofa, menegakkan tubuhnya. Nampaknya sesama laki-laki harus saling mengerti. Dia tak ingin menghakimi, karena bagaimana pun, perasaan yang ada di hati anaknya adalah cinta yang membuat Arsya banyak berubah dalam memandang sesuatu.


"Papa ga ngerasain apa-apa waktu usia papa belasan. Mungkin karena lingkungan dan sekitar yang kurang menarik. Sampai waktu kuliah, papa baru pertama merasakan ketertarikan yang benar-benar luar biasa pada mama. Yah, setelah dipikir-pikir, papa pasti bahagia kalau ketemu mama lebih cepat. Usia 17, misalnya."


"Supaya apa?"

__ADS_1


"Supaya.. lebih cepat merasakan bahagia. Trus nikah muda, atau mungkin kalau itu terjadi, sekarang usiamu sebaya Adit."


Mendengar itu, Arsya justru tertawa.


"Kenapa?" Tanya Arga heran.


"Kalau dari usia belasan, mama mana mau. Dia kan, pacaran sama om... siapa tuh? Om Wicak?" Arsya mengingat lagi nama yang pernah disebut papanya.


Ditertawakan begitu, Arga menatap tajam sampai tawa Arsya berhenti.


"Ya udah, deh. Arsya mau naik dulu, mau telepon Ari. Nite, pa.."


Arsya menaiki tangga dengan masih tertawa kecil mengingat ucapan papanya tadi. Tergelak, karena si papa yang terlalu pede. Padahal dia sendiri pernah bilang, kalau dia kalah sama laki-laki yang dulu pernah mencintai mama dengan sangat tulus. Om Wicak. Nanti, Arsya ingin lagi menggali informasi tentang laki-laki yang berhasil membuat papanya yang arogan mengaku kalah.


Setelah berganti pakaian menjadi lebih longgar, Arsya membuka ponsel dan mengirim pesan pada Ari, menanyakan apakah dia masih terjaga atau sudah tidur. Tapi pesannya dibalas dengan sebuah videocall.


Arsya berbaring sambil mengarahkan ponsel ke wajahnya.


'Malam, Syaaa..' Sapa seberang dengan riang. Namun balasannya adalah alis yang mengerut.


'Udah pulang nongkrong? Asyik gak, tadi. Soalnya kan, lo jarang ngumpul gitu...'


Arsya masih dengan raut yang sama, menatap layar yang tak seusai harapannya.


"Mana wajah lo?" Tanya cowok itu tanpa menjawab pertanyaan Ari.


'Hehee. Lagi jelek banget. Idung gue merah. Soalnya disini dingiiiinnnnn banget.'


"Emang gue peduli."


'Ih, kok gitu.'


"Ya gue mau liat wajah lo. Mana? Masa cuma keliatan jidat doang gitu?"


'Gini dulu, deh. Besok baru gue liatin wajah. Jelek banget gue. Gak pede.'


Arsya tak banyak bicara, dia mengarahkan kamera juga ke arah keningnya.


"Jangan protes. Gue cuma mau lo rasain yang gue rasain."


'HAHAHAHAA.' tawa diseberang membuat Arsya dongkol. Bisa-bisanya Ari malah merasa lucu.


'Ya ampuun, ngambek. Ya udah deh, sebagai gantinya, gue ke Indo aja, gimana? Besok siang gue berangkat. Mungkin nyampenya pagi..'


"Loh. Serius?" Arsya sampai duduk tegak dan mengarahkan kamera ke wajahnya.


'Iyaa...'


"Kok.. mendadak?"


'Gak mendadak, kok. Gue tadi mau bilang tapi lo udah langsung nutup panggilan. Jadi, yauda gue kasi tau sekarang.'


"Emang udah libur beneran?"


'Udah. Besok terakhir, jadi gue akan kumpul tugas akhir, trus siangnya berangkat, deh. Ini gue baru selesai packing.'


Senyum Arsya mengembang. "Gue jemput, ya. Jam berapa kira-kira?"


'Kalo ga delay, paling lambat jam 8.'


Untung lusa minggu, batin Arsya. Dia kembali merebahkan diri. "Akhirnya.. gue bisa bawa lo jalan-jalan lagi berdua. Ga sabar banget. Gue tunggu di bandara subuh-subuh." Ucapnya sembari memiringkan tubuh dan menegakkan ponsel dekat bantal sebagai sandaran supaya ponselnya berdiri tegak.


'Hehe. Iya. Gue kangen banget... sama bunda.'


"Oh. Gitu? Oke..."


'Haha. Apasih, kok nadanya gitu..'


Malam itu, Arsya menelepon Ari sampai ia terlelap tidur. Dan dari seberang, Ari memperhatikan wajah Arsya yang sudah ke alam mimpi. Bibirnya sedikit terbuka, membuat Ari terkekeh dan memutuskan sambungan saat ia pun harus tidur, mengingat banyak hal yang ingin dia lakukan sebelum balik ke Indonesia untuk temu kangen dengan kekasih hatinya, Arsya.


...🍭...


Arsya membuka pintu untuk Syahdu, sang mama yang malam ini menjadi teman kencannya. Sangat anggun dengan gaun hitam, senada dengan jas dan kemeja hitam Arsya yang kancingnya ia buka sedikit terlihat dadanya.

__ADS_1


"Silakan, kanjeng ratu.."


Dibilang begitu, Syahdu terkekeh pelan, lalu menyambut tangan anak laki-lakinya keluar dari mobil.


Arsya berdiri tegak, memposisikan tubuh tepat disebelah sang mama, lalu melonggarkan tangan supaya Syahdu melingkarkan lengannya disana.


"Ayo, ma.."


Dengan senyuman lepas, Syahdu melingkarkan tangannya di lengan Arsya yang tingginya sudah lebih darinya. Anak kesayangan yang mirip dengannya, tapi kelakuan tak buang ayahnya.


Syahdu menggeser kursi setelah Arsya membantunya duduk.


"Mama pesan makanan kesukaan mama, kan?"


Syahdu mengangguk, lalu Arsya menepuk tangannya sekali, sampai tibalah seorang laki-laki dengan seragak koki masuk dengan mendorong troli makanan.


"Loh?" Syahdu terbelalak melihat siapa yang menyajikan makanan mereka.


"Ga, kenapa kamu disini? Kok..." Syahdu tampak bingung kenapa malah Arga yang menyediakan makanan untuk mereka di restoran itu.


"Kemarin kan, Arsya tanya mama mau makan apa buat malam ini. Trus mama bilang, makanan yang mama sukai. Yang Arsya tau, makanan yang mama sukai ya semua masakan papa."


Syahdu menutup mulutnya dengan tangan. Tak menyangka, anaknya akan sejeli itu. Padahal Syahdu selalu bilang bahwa dia tak memiliki makanan kesukaan. Semuanya dia suka. Maka dia mengatakan itu agar Arsya tak repot memilih makanan. Apa saja, asal makan malam berjalan lancar.


Tapi apa sekarang? Malah ada Arga sebagai chef di resto itu. Malah Syahdu tak bisa menahan senyumnya yang mengembang.


"Ketawa aja kenapa, sih. Kamu mau ngetawain aku, kan? Karena aku dikerjain sama anakmu."


Barulah Syahdu tertawa pelan, lalu meraih pipi Arga yang tengah menyajikan makanan di meja. Ia mengelus lembut pipi Arga.


"You are the best.."


Arga meraih tangan yang ada di pipinya, lalu ia kecup. "Anything for you, sayang."


Arsya yang seharusnya menjadi peran utama, malah menyaksikan papa dan mamanya saling berpandang senyum.


"Paa.. ini kan, acara Arsya!" Protes lelaki itu.


"Iya, iya. Untuk malam ini aja, papa gak akan protes." Katanya pada Arsya, lalu beralih pada Syahdu dan berbisik. "Malam ini, aku tunggu di kamar kita.."


"Paaa.." Protes Arsya yang mendengar bisikan papa pada mama yang malah tertawa malu.


Arga keluar dari ruangan dengan mendorong troli setelah makanan semua ia saji sempurna di atas meja.


Syahdu masih saja tersenyum dengan sajian malam ini. Dia suka. Apalagi ada Arga yang masak untuknya.


"Makasi ya, nak. Mama senang sekali.."


Arsya tersenyum, akhirnya rencananya makan malam bersama sang mama berjalan sangat lancar. Tentu ini juga peran papanya yang mau melonggarkan jadwal demi bisa memasak untuk mereka. Tentu dengan bujukan luar biasa, dan ucapan Arsya untuk kebahagiaan sang mama lah yang membuat Arga setuju.


Mereka makan malam sambil bercanda gurau, bercerita banyak hal yang membuat suasana malam sangat asyik. Terlebih Syahdu. Dia tak menyangka, anak laki-lakinya ini bisa seromantis ini. Walau dia memang tahu, kalau Arsya selalu meniru papanya sejak kecil.


"Ma.."


"Iya, sayang.." Syahdu mengunyah dengan santai, menunggu si anak menanyakan sesuatu padanya.


"Arsya boleh tanya?"


"Boleh, dong."


"Hm.. ini soal.. masa lalu mama."


Dibilang begitu, Syahdu diam beberapa detik, lalu kembali tersenyum. "Kenapa? Apa yang ingin anak mama tanyakan soal masa lalu mama?"


"Hm.. Arsya penasaran, soal.. laki-laki yang bernama.. Wicak.."


Nama yang sudah lama sekali tidak terdengar, bahkan tidak ia sebut lagi dari mulutnya. Akhirnya ia dengar dari anaknya sendiri.


Syahdu meletakkan garpu dan sendok, lalu melipat tangan di atas meja, sambil tersenyum dia berkata. "Mau mama ceritakan darimana soal Wicak?"


***


Up berapa bab harini? Mumpung jadwal gw kosong. Tapi komen dan like yang banyak duluuu

__ADS_1


__ADS_2