
"Kenapa, sih?"
Arsya bingung melihat Ari yang menutup wajah, bersembunyi dibalik tubuhnya, dan tidak berbaur dengan yang lain. Padahal di atas tebing yang tak tinggi, semua tengah asyik merayakan malam pertukaran cincin sambil barbeque-an.
"Aku malu tau, Sya!" Ucapnya dengan suara ditekan.
"Malu kenapa?" Arsya berusaha menoleh kebelakang, karena Ari tak mengizinkanya memutar tubuh untuk menghadap ke arah gadis itu.
"Kamu ga bilang kalo mereka dateng. Tadi kita ciuman kaya gitu berarti diliatin papa bunda, kan? Aku malu!"
"Oh, itu. Hahahaha." Arsya malah tertawa, sampai Ari kesal dan mencubit pinggangnya. Spontan Arsya menggenggam tangan Ari dan memutar tubuh menghadapnya. "Ngga apapa, sayang. Mereka pasti maklum karena momen ini. Aku aja sering liat papa mama ciuman di dapur, taman, dimana-manalah." Ucapnya sambil terkikik pelan.
"Is, kamu ini."
Arsya masih terbawa suasana haru. Dia memutar tubuhnya dan memeluk gadis itu di tengah terpaan angin yang membuat dingin. Pelukan pengantar kehangatan, membuat Arga menyenggol lengan Syahdu pelan, menyuruh istrinya melihat apa yang anaknya lakukan di ujung sana.
"Huff.." Syahdu malah menghela napas. Bukan dia tak suka, hanya saja anaknya terlampau berani mengambil keputusan yang sangat serius.
"Jangan gitu. Aku yakin, Arsya orang yang bisa memegang ucapannya." Arga menenangkan Syahdu dengan merangkul dan mengelus lembut bahu wanitanya. "Lagian, kalau seandainya kita ketemu waktu aku usia belasan, mungkin aku akan nikahin kamu, sayang."
"Pedean, kamu. Aku yang ga mau. Kan, waktu itu ada Wicak."
"Hah." Arga sampai melepaskan rangkulannya. Bisa-bisanya ucapan Syahdu mirip dengan yang Arsya katakan waktu malam itu. Bibir bawahnya sampai maju, kesal dengan jawaban itu.
"Hehe. Aku kan, mencoba berpikir logis, Ga..." Syahdu menyenggol lengan Arga, dan jawaban itu malah membuatnya semakin jengkel.
"Maaf, yaa..." Syahdu menempelkan dagunya di bahu Arga, mengelus pipi pria itu, dan membujuk sampai akhirnya Arga menoleh, tak kuat berlama-lama marah dengan sang istri.
"Ke kamar aja, yuk." Bisik Arga.
"Lah, disini lagi rame."
"Iya, tapi aku jadi pengen. Atau kita lakuin di atas pasir sana aja gimana."
__ADS_1
"Ih, apaan, sih kamu, Ga." Syahdu sampai menjauhkan kepalanya dari Arga yang mesum.
"Hahaha. Kan, biar kaya di film-film, sayang. Apa tuh, judulnya? Tris metros el cielo." Ujarnya mengingat film pertama yang ia tonton bersama Syahdu setelah bertemu dari perpisahan 7 tahun lamanya. Arga merintih pelan saat tangan Syahdu mencubit pahanya dengan gemas.
Sama halnya dengan Arsya dan Ari yang diam-diam tertawa melihat kelakuan dua orang tua yang tengah duduk disana. Lucu.
"Aku pengen terus kaya bunda." Bisik Ari di telinga Arsya.
"Ofcourse, aku udah banyak belajar dari ahlinya." Balas Arsya dengan mengedipkan mata nakalnya.
...🍭...
Suasana sekolah sedang gempar. Berita mengenai pertunangan Arsya dan Ariva langsung menjadi topik hangat di pagi hari, saat para siswa Garuda akan melihat nilai mereka di akhir semester ini.
Nilai tak lagi menjadi perbincangan. Alih-alih takut dengan score yang turun, anak-anak malah sibuk melihat video dan foto yang dibagikan Hajoon dan Karin di sosial media mereka, tentang bagaimana cara Arsya mengikat Ari di bibir pantai Lombok yang indah dengan sunset sebagai saksinya.
Para gadis tentu saja merasa iri dan membayangkan betapa beruntung Ariva memiliki Arsya, si bintang sekolah dengan segala kelebihannya. Bocor pula berita mengenai hubungan mereka yang ternyata bersahabat sejak kecil dengan jendela kamar yang berdempetan.
"Berarti selama ini Ariva tahu gimana wajah bantal Arsya, ya." Ucap siswi berambut pendek.
"Pasti ganteng bangettt.." Sahut yang lain dan kembali membayangkan betapa indahnya hidup jika mereka adalah Ariva.
Di lantai atas, Arsya santai bermain game sebelum bel tanda berkumpul di dalam aula sekolah berbunyi. Hiruk piruk sekolah karena aksinya membuat banyak orang memuji keberaniannya.
Di depannya, berdiri Danu dan Zaki yang sampai membungkuk menatap cincin silver yang tersemat di jari manis kiri Arsya.
"Huuu. Gila. Udah gue bilang juga kan, kalo suatu hari lo bedua pasti jatuh cinta." Kata Zaki dengan pandangan yang tak lepas dari jari Arsya.
"Iya. Tapi yang bikin gue nge-lag itu, kok langsung main tunangan, gitu lo." Sahut Danu ingin tahu.
"Trus.. selama ini kalian gimana, sih. Gue liat lo berdua masih kayak biasa aja. Itu gimana ceritanya lo langsung kepikiran buat tunangan, hah?"
Yang ditanya, asyik bermain tanpa menoleh sedikitpun.
__ADS_1
Zaki akhirnya duduk disebelah kiri Arsya. "Lo emang mau nikah muda ya, Sya."
"Engga tau." Jawabnya asal, membuat alis Danu yang mendengarnya berkerut. Dia ikut duduk di anak tangga bawah Zaki dengan tubuh mencondong ke atas.
"Sya, lo berani main ikat-ikat gue pikir udah punya gambaran masa depan. Kalo masih ragu, kenapa seserius itu?"
Arsya menurunkan ponsel karena jengah dengan kedua temannya itu. "Gue cuma ga mau Ari digaet orang lagi. Kalo ditanya serius, jelas gue serius banget. Gue emang udah fix bakalan nikah sama Ari. Tapi soal nikah muda, gue belum kepikiran. Soalnya gue mau kuliah dan bangun perusahaan."
Dan tentu saja Ari tahu soal itu. Intinya, mereka hanya ingin menjalani dulu. Kedepannya akan ada gambaran yang lebih jelas setelah dijalani. Begitu kira-kira pikiran Arsya.
"Tapi bukannya itu lama banget ya, gimana kalo Ari minta lo cepat nikahin dia?" Tanya Danu pula.
"Minimal selesai kuliah, lah. Supaya gue bisa kerja di perusahaan bokap. Terus nyambi mulai start-up."
"Tapi Sya.." Zaki menepuk bahu Arsya. "Gimana kalo.. misal. Misal nih, ya. Lo bosen."
Arsya langsung menoleh tak suka. "Nggaklah. Gila lo. Gue cinta mati sama Ari. Gue aja baru nyadar kalo gue benci banget dia deket sama cowo lain. Jadi gue sengaja iket tuh anak biar ga dideketin cowo."
Danu dan Zaki sampai saling pandang. Baru ini mereka mendengar seorang Arsya mengungkapkan perasaannya. Dan sangat terlihat kebenarannya.
Arsya memutar cincin di jari manisnya. "Pokoknya gue harus sukses. Gue yakin Ari bakalan nunggu gue. Yah, dengan adanya ikatan ini, ga akan ada juga cewe yang ganggu gue lagi." Arsya tersenyum samar, lalu melangkah pergi meninggalkan dua temannya yang masih bengong dengan sikap berbeda lelaki itu.
Hingga Akhirnya beberapa tahun berlalu, hubungan Arsya dan Ari semakin erat. Terlebih mereka berdua sama-sama berkuliah di London dengan universitas yang berbeda.
Setelahnya, mereka kembali ke Indonesia dengan susunan rencana yang matang. Bahwa Arsya akan menikahi Ariva, setelah ia memegang jabatan sebagai manager umum di perusahaan Arga, sambil ia berusaha membangun perusahaan rintisan karena seorang Arsya, memiliki ambisi kuat yang ingin membangun usaha sendiri, bukan perusahaan temurun yang dihadiahkan papa atau grandpa-nya yang ada di London.
Dan kehidupan baru bermula setelah pernikahan dengan Ariva, hingga bertambahlah kebahagiaan Arsya dengan status perkawinan yang membuatnya merasakan manisnya berumah tangga. Tanpa ia sadari, bahwa keindahan membina rumah tangga ternyata tidak semudah yang ia bayangkan sejak ia berhasil menyematkan cincin di jari manis sang calon istri...
...⚠️...
** Kisah lanjutan Mereka ada di Novel 'After Five Years' yaa.. tapi sabar.
Sepupuku, Canduku udah UP! Ayo pen, komen kehadiran kalian di sana. Klik dibawah, ya..
__ADS_1