HIGH SCHOOL RELATION-SHIT!

HIGH SCHOOL RELATION-SHIT!
Long Distance Relation-shit 95


__ADS_3

...PoV Author...


"Arsya baru sampe, Ma."


Lelaki bertubuh tinggi itu menarik koper di sebelah kiri, dan menggenggam ponsel di sebelah kanan. Dia melangkah lebar menuju pintu keluar bandara.


'Jam berapa disana?' Tanya Syahdu pada anak semata wayangnya itu.


"Jam 12 malam, Ma." Jawabnya dengan sumringah, dengan hati yang terus berteriak senang setelah kakinya berhasil menginjak Moskow.


'Langsung ke hotel, sayang. Alamatnya udah dikirim papa via chat. Om Tama ga bisa jemput. Dia nyuruh asistennya yang bawa kamu besok pagi ke rumahnya.'


"Iya, ma. Ga apapa. Arsya bisa sendiri, kok. Mama tidur deh, masa gara-gara Arsya, jadi ga tidur." Ucapnya saat menyadari, di Indonesia sudah pukul 4 pagi.


'Mama udah bangun, tahu. Ya udah, hati-hati ya, nak.'


"Iya, ma. Love you.."


Arsya menutup ponsel dan memasukkannya ke saku celana. Dia berdiri di depan bandara, menatap hamparan langit malam dengan bintang yang bertabur.


Dengan senyum cerah, Arsya yakin misinya untuk kembali dengan status baru, akan berhasil.


...🍭...


Ari berjalan di lorong sekolah setelah ia menyelesaikan semua mata pelajaran hari itu. Sepanjang jalan ia melamun, sampai tak sengaja bahunya menabrak seseorang hingga buku-buku di genggamannya pun jatuh dan berserakan di bawah.


"Oh! I'm so sorry, i wasn't looking where i was going." Ari meminta maaf, tetapi orang itu mendengkus kesal dan pergi begitu saja.


Dia menghela napas, lalu mengutip buku-bukunya dan berdiri dengan lesu.


Ah, dia terus melamun, terlalu memikirkan kejadian malam tadi. Terlalu berani dia mengungkapkan perasaan pada Arsya, yang ia tahu bagaimana watak lelaki itu.


Kemungkinan yang terjadi ada dua. Arsya akan menghindarinya, atau... menertawakannya.


'Gimana, gimana? Sukak, lo bilang? Ahahaha. Lo gila ya, Ri. Lo udah gue anggap adek gue sendiri. Astaga, haha. Lo selama ini baper sama perlakuan gue ke elo?'


Ari menggelengkan kepala, mengusir prasangka yang muncul di kepalanya.


'Nggak. Arsya ga mungkin terang-terangan ngehina aku kaya gitu.' Batinnya, namun sedetik kemudian Ari lesu lagi.


"Ah.. Aku jadi ga berani aktifin hp.." desisnya pelan, takut dan tak ingin tahu jawaban Arsya.


"Riva!"


Jay melambaikan tangan, lalu berjalan cepat mendekati Ari yang baru saja keluar dari gedung sekolahnya.


"Kita pulang, soalnya ada tamu di rumah." Ucap lelaki itu.


"Aku kan, udah bilang. Jangan jemput. Aku bisa pulang sendiri!" Sahut Ari sambil terus berjalan melewati mobil yang dibawa Jay untuk menjemputnya.


"I-iya. Tapi bos yang suruh."

__ADS_1


"Pulang sana!"


"Aduh.." Jay menggaruk kepala, bingung. Walau begitu ia tetap mengikuti langkah cepat Ari.


"Tapi kata pak bos, tamunya penting."


'Penting dari Hongkong!' Ari tak peduli, dia terus berjalan berusaha menghilang dari Jay, hingga langkah kakinya berhenti saat dilihatnya seseorang berdiri agak jauh darinya.


Ari diam terpaku dengan tatapan yang tak lepas dari seseorang yang berdiri disana. Ari sampai menyipitkan mata, mencoba memperjelas wajah orang disana yang membuat jantungnya langsung berdegup kencang.


"Hei, Jay."


"Ya?"


"Kamu liat laki-laki yang berdiri disana?" Tanya Ari tanpa menunjuk. Lalu Jay mengikuti arah mata Ari.


"Jaket coklat dan celana hitam itu?"


Ari mengangguk.


"Iya, aku lihat. Tampan. Kenapa? Kamu suka?"


Ingin bertanya, apakah itu Arsya atau bukan, tapi Jay tidak mengenal siapa Arsya.


"Sudahlah. Aku putar arah aja."


"Mau kemana lagi??" Tukas Jay ikut berbalik badan.


Ari memijit kening, saat merasa dia mulai gila, karena melihat bayangan Arsya ada di ujung sana. Apa dia mulai rabun?


Tapi, wajahnya sangat jelas dan Jay pun melihat, memang ada yang berdiri dan tengah menatapnya.


Ari berhenti. Dia agak ragu untuk berbalik, tapi dia ingin tahu apakah itu benar Arsya atau hanya pandangan matanya saja.


Ari berbalik lagi dan tersentak kaget saat mendapati laki-laki itu sudah berdiri di dekatnya.


Matanya membulat lebar. Dia yakin tak salah lihat, bahwa yang tengah berdiri dengan wajah dingin itu... Arsya.


"Mau kabur kemana lu?"


Ari melongo. Beneran Arsya? Kok.. bisa disini?


"Kamu kenal?" Bisik Jay pada Ari yang masih kaku di tempat.


Bagaimana tidak, pasalnya dia baru ngungkapin perasaan tanpa mau mendengar jawaban. Lalu orangnya malah berdiri di depannya sekarang, sedangkan dirinya saat ini tengah diselimuti rasa malu. Malu yang sangat luar biasa.


'Apa Arsya datang karena ungkapan itu? Apa dia mau menertawakanku?' Batin Ariva kacau dan tak tenang.


"Malah bengong. Nggak pulang?"


Ari tersentak dari lamunan, kemudian ia menggeleng pelan.

__ADS_1


"Gu-gue.. ada kelas lagi."


"Hah? Bukannya udah selesai."


Ah, Jay brengsek! Maki Ari, memilih menunduk karena ketahuan berbohong.


Arsya yang melihat Ari dengan kaku begitu membuatnya menahan senyum.


"Temen Riva?" Jay mengulurkan tangan. "Saya Jay, mahasiswa disini sekaligus asisten Riva."


Arsya menyambut ulurannya. "Arsya. Saya panggil kakak, ya. Karena saya dan Ariva sebaya."


"Oh, nyantai aja. Riva juga panggil nama dengan tidak sopan sejak awal. Tapi saya seloww."


Ariva melirik Jay dengan malas. Lalu membuang wajah. Ingin rasanya ia menghilang, karena dia tak punya muka untuk menghadapi Arsya.


"Kamu tinggal dimana? Biar saya antar sekalian Riva pulang."


"Di rumah om Tama."


Mulut Jay terbuka. "Oooh, apa tamu penting yang dibilang bos Tama?"


Arsya tidak paham, tapi dia mengangguk saja.


"Aah, aku tau. Kamu pasti temannya Ari waktu di Indonesia, kan? Bos cerita banyak soal kamu. Bos bilang blah..blah..blah..."


Arsya tidak peduli pada ocehan Jay. Matanya terus menatap Ariva yang tampak malas mendengarkan Jay berbicara tanpa jeda. Gadis itu menghela napas, lalu menunduk menatap sepatunya yang ia goyang-goyangkan mengibas kerikil kecil.


Arsya lagi-lagi tersenyum. Dia belum menyangka kalau Ari mempunyai rasa terhadapnya. Dan sekarang, gadis yang biasanya ceria dan tak pernah sungkan padanya, malah terlihat kikuk dan mencoba lari darinya. Bukankah ini menyenangkan? Batin Arsya.


"Kalau gitu..." Jay mengambil alih buku-buku Ari dari tangan gadis itu. "Ayo kita pulang sama-sama." Katanya, lalu melangkah menuju mobil yang terparkir cukup jauh dari tempat mereka berdiri.


Ari yang hendak ikut melangkah, terkaget saat Arsya menarik tangannya ke arah berlawanan dengan Jay.


Gadis itu membulatkan mata, namun langkahnya cepat mengikuti Arsya yang masih menggenggam tangannya.


"Mau kemana?" Tanyanya panik. Menoleh kebelakang saat Jay belum menyadari bahwa mereka tidak mengikutinya.


"Ngga tau. Gue kan, belum pernah kesini." Jawabnya dengan langkah cepat.


"T-tapi-"


Arsya berhenti, menghadap Ari. "Makanya, kita jalan-jalan, supaya bisa liat mana tempat yang harus kita kunjungi besok."


'K-kita?'


Ari bengong, menatap senyum Arsya yang lebar dan kembali membawanya melangkah tanpa melepaskan genggaman tangan.


**


__ADS_1


Ada yang nyadar ga, covernya bisa samaan gitu..


Guys komen banyak-banyak biar novel ini bisa timbul di beranda. komen apa aja kayak 'Lnjt' pun bole🤣🤣🙈


__ADS_2