
"Arsyaaaa!"
Aduh. Malah ketemu disini. Mana ngga bisa puter arah lagi. Udah ketauan.
"Heh, mau kemana?" Zaki menahan aku yang hendak putar haluan.
Ck!
"Syaaa. Ihhh. Kamu kemana aja, sih?? Ngilang mulu kalau aku cariin ga pernah ketemu!"
Ngambek, Vita memasang wajah cemberut padaku, yang membuat Zaki dan Danu mendadak pergi dengan alasan mau ke toilet.
"Emm. Iya, Hp aku belakangan sering ketinggalan." Jawabku bohong.
"Nanti siang kita lunch, ya. Papa sama mama aku juga nanyain kamu. Kapan kamu bisa luangin waktu ketemu mereka? Masa kamu biarin papa mama aku nanyain terus gitu, sih. Ga sopan tau.."
"Kapan, ya." Aku menggaruk kepala. Belakangan pikiranku sibuk dengan Ari yang dikhianati si Juna brengsek. Aku sibuk.
"Atau aku aja yang ke rumah kamu, gimana?"
"A-apa.."
"Aku juga pengen, tau, kenalan sama mama papa kamu. Kapan?"
"Eng.." Saat lagi mikir, mataku menangkap Juna yang melangkah menaiki anak tangga dengan membawa setangkai mawar merah. Lalu dia masuk ke dalam kelas Ari. "Bee-sok."
"Syaa!!" Vita mengguncang lenganku. "Kamu liatin apa, sih? Kamu serius, nggak??"
"Besok. Besok malam. Oke? Aku ke kelas dulu."
Aku berlari menaiki anak tangga lantai dua disertai teriakan panggilan oleh Vita. Tapi aku mengabaikannya sesaat, karena pengen tau, apa yang dilakukan Juna pada Ari.
Aku mengintip dari kaca jendela kelas, paling ujung. Lalu melihat bagaimana Juna merayu Ari hingga membuat perempuan itu tersenyum dan kembali ceria.
Kemaren bukannya ke cewek lain bunganya lebih gede? Ke Ari cuma satu, kecil pula. Mana gitu aja udah buat dia girang banget. Ckck. Apaan sih lo, Ri!
Dan di detik selanjutnya, Juna berhasil membuat tanganku mengepal keras. Si Juna brengsek itu seenaknya mengecup kening Ari.
Sialan. Kapan hari gue ketemu lo, gue hantam bibir lo, Juna brengsek!
Selanjutnya entah apa yang terjadi, aku memilih pergi dari sana. Karena pagi itu juga mood ku rusakk!
...🍭...
Gara-gara si Juna brengsek.
Hah. Kenapa juga aku pake ngintip orang pacaran. Ngeliat Juna cium Ari jadi pengen muntah. Mataku juga jadi kotor kayak ada cacing-cacing kecil di pandangan mataku. Gelikk, Hiyy!
"Sya, ayo keluar."
Aku yang baru selesai ganti baju, dengan malas melangkah ke lapangan bulu tangkis. Kulihat kelas Ari baru selesai pelajaran olahraga. Ada Kai dan yang lain duduk di tepi lapangan sementara yang lain mulai bubar.
Ari mana, ya. Ngga keliatan.
Mataku mencari keberadaan Ari sambil mengambil posisi untuk berlatih sesuai dengan instruksi guru olahraga.
"Hei, Pabo. Mau kemana lo?"
__ADS_1
Suara Kai membuatku menoleh, lalu Ari berjalan ke arah toilet dengan enggan menjawab Kai yang hanya terkekeh.
"Awas naksir." Seloroh yang lain.
"Mana mungkin!!" Sentak Kai kesal.
"Sya, fokus dong!"
Aku menggelengkan kepala yang penuh dengan Ari. Oke, fokus. Aku mulai bermain dengan tenang sesaat sebelum kudengar suara ember dibanting dengan kuat. Bukan cuma aku, namun hampir semua yang mendengar itu sontak menoleh pada sumber suara.
"PUAS LO NGERJAIN GUE, HAH?!"
Mataku melebar melihat apa yang terjadi pada Ari. Anak-anak lain mulai menutup hidung mereka sebab bau tak sedap datang bersamaan dengan tubuh Ari yang kotor.
"SEBENCI APA LO SAMA GUE SAMPE NGERJAIN GUE KAYAK GINI? BERCANDA LO NGGAK LUCU, BRENGSEK!" Teriak Ari di depan Kai. Lelaki itu berdiri dengan menatap heran pada Ari.
"Ariva-"
"Diem lu brengsek!" Makian itu tertuju pada Hajoon yang ikut berdiri disamping Kai.
Ari langsung berlari ke arah luar dan membuat suasana hening seketika.
"Hei, itu siapa tadi? Kenapa dia?" Tanya guru olahraga yang berada di ujung lapangan, sibuk menilai hasil latihan anak-anak.
Aku yang melihat Ari berlari sambil menangis, langsung meletakkan raket dan berlari mengejar.
"Syaaaa lo mau kemana??" Teriak lawan mainku.
Mau ngejar Ari-lah. Gila. Siapa yang buat dia sampai kaya gini? Cari mati.
Aku segera menyalakan motor dan keluar dari area parkir.
Satpam penjaga gerbang mendekatiku dengan cepat.
"Mau kemana? Cabut, kamu?"
"Ngejar temen, pak. Bisa minta tolong? Cek cctv di arah toilet cewek lima belas menit yang lalu."
"Aduh, berat kalau ke ruangan cctv mah."
"Besar bayarannya. Satu lagi. Hapus setelah bapak ambil videonya. Aku balik harus udah ada ya, pak."
Aku langsung menjalankan motor dan mencari Ari.
Aku masih bisa melihat dia yang berhenti di bawah pohon. Dia sesegukan, sampai dari jauh pun orang pasti tahu dia tengah menangis.
Terus terang aku merasa bersalah karena gagal melindungi Ari. Tapi aku akan pastikan, siapapun yang buat dia kaya gini, ngga akan selamat sampai kapanpun.
"Naik." Ucapku saat sudah berada di hadapan Ari.
Dia menggeleng pelan. "Nanti lo jadi bau kaya gue."
"Gue bilang naik."
Dia ragu, menunduk karena tak bisa membendung air mata.
"Naik, Ri." Aku menggapai tangannya, lalu menuntunnya ke belekangku.
__ADS_1
Ari naik, namun posisinya begitu jauh dariku.
Aku menoleh ke belakang. "Maju, pegang gue."
Lagi-lagi Ari menggelengkan kepala.
Jangan sungkan sama gue, Ri. Liat lo kaya gini aja buat emosi gue muncak.
Aku menarik tangan tangan Ari sampai tubuhnya menyentuh punggungku. Lalu melingkarkan tangannya di pinggangku, seperti biasa kita naik motor. Kenapa malah menjauh!
"Pegang kuat."
Aku melajukan motor dengan sangat kencang supaya dia bisa cepat sampai dan berlindung di kamarnya. Aku tau tengah menahan rasa malu, sedih, dan marah dalam satu waktu. Tapi tenang, Ri. Gue yang akan balas siapapun yang berani ngusik lo!
Aku menunduk, melihat lengan Ari yang semakin ia eratkan di pinggangku.
Entah kenapa, pelukan itu membuatku semakin merasa bahwa Ari ingin aku untuk terus melindunginya. Dan aku yakin, kalau dia masih sangat membutuhkanku..
...🍭...
Aku menatap layar laptop dengan sabar, menunggu detik-detik pelaku masuk ke dalam toilet setelah Ari.
"Tadi bapak dicurigai."
"Ngga apapa nanti aku yang tanggung jawab." Kataku tanpa mengalihkan tatapan dari layar.
"Tadi kayaknya, ada anak cewe juga yang datang ke ruang pengawas."
Aku memperbesar layar saat seseorang terlihat membawa ember juga masuk tak lama Ari masuk.
Aku memperhatikan dengan seksama saat seseorang dengan perawakan yang kukenal masuk ke dalam toilet membawa seember air kotor itu.
"Nah, ini orangnya. Dia yang masuk ke ruang cctv waktu bapak mau keluar." Pak Toni menunjuk Hani di layar laptopku.
Oh. Jadi Hani pelakunya, sahabat dan orang yang baik versi Ari.
Aku menutup laptop dan berdiri, menyimpannya ke dalam tas.
"Mau kemana?"
"Pulang."
"Loh, ini belum jam pulang. Kamu kenapa malah pake kaos bukannya seragam sekolah, hah?"
Aku memberi pak Toni banyak lembaran uang merah. "Jangan bilang siapapun soal ini. Oke?"
Pak Toni yang terlalu fokus pada uang gepokan itu segera mengangguk.
Aku menaiki motor dan keluar dari lingkungan sekolah. Memakai pakaian biasa dan helm fullface tidak membuatku dikenali.
Aku melajukan motor dengan kencang. Aku ingin membuat perhitungan pada orang yang telah berani memperlakukan Ari seperti tadi.
Belum pernah kulihat dia seperti itu. Amarahnya, siapa yang mampu membuat Ari semarah dan senangis itu? Siapa dia sampai berani membuat Ari menderita kaya tadi?
Kita lihat kedepannya, Hani. Gue ga peduli lo cewe atau cowo, siapapun yang berani ngusik hidup orang yang gue sayang, kehidupan lo ga akan tenang!
*
__ADS_1
Wes 3 bab. Vote ojo forget 😁