
Tak terasa sudah hampir sebulan Amanda kerja di perusahaan Ibu kandungnya sendiri. Ia selalu saja dimarahi oleh Nadine. Ntah mengapa Nadine begitu benci pada Amanda.
Ada saja masalah yang dihadapinya. Sepertinya Nadine tidak menginginkan Amanda kerja di kantor itu.
Pagi itu, seperti biasa sebelum Nadine tiba dikantornya, Amanda telah menyediakan kopi sesuai permintaannya. Ruangan kerjanya juga sudah tertata rapi.
Tidak tampak debu sama sekali. Ruangan itu benar - benar wangi dan bersih. Ketika Nadine tiba di ruangan nya, sebenarnya ia sangat terpukau akan kebersihan ruangan nya sendiri.
Ia mencoba mencari kesalahan Amanda tapi sayangnya semua yang diinginkannya sudah terpenuhi.
Tapi Nadine tidak bisa membiarkan Amanda hidup tenang. Ada saja masalah yang menimpanya. Pagi itu Nadine menyuruh Amanda masuk keruangannya. Amanda sangat ketakutan. Karena setiap hari, Nadine selalu saja memarahinya. Kata - kata kasar selalu keluar dari mulut Nadine.
" Kamu tahu apa kesalahan mu?" tanya Nadine.
Amanda menggelengkan kepalanya.
" Kopi saya uda dingin !"
Amanda pun terkejut akan ucapan Ibu Nadine.
" Gimana ga dingin Bu, Ibu kan lama datangnya ! sementara Ibu minta sebelum Ibu datang, kopi uda harus tersedia di meja kerja Ibu. Kecuali kalau Ibu minta setelah Ibu datang, baru kopi nya masih anget, Bu !"
" Kok kamu jadi ngajari saya?"
" Maaf Bu, saya bukan ngajari Ibu, tapi benerkan apa yang saya bilang? Kopinya dingin karena Ibu kelamaan datangnya."
" Saya ga mau tahu, kamu ganti kopi saya sekarang juga !"
" Baik Bu, saya akan ganti kopi Ibu. "
" Ya uda buruan..!" bentak Nadine.
Amanda langsung mengambil kopi itu dan membawanya ke pantry kantor.
" Tiap hari ada aja masalah, kenapa sih Ibu Nadine itu benci sama saya? masalah kopi aja, Ibu Nadine marah. "
Di pantry Amanda menangis. Bima melihat kalau Amanda lagi menangis.
" Kenapa nangis ?" tanya Bima.
Amanda menghentikan tangisannya. Dan menghapus air matanya.
" Pak Bima ? ada yang perlu saya bantu Pak?"
" Ga, terimakasih. Saya mau ngambil air hangat. "
" Kenapa ga panggil Manda aja tadi Pak ? kan bisa Manda ambillin !"
" Makasih Manda, kamu itu terlalu capek. Tiap hari kamu lembur, selalu pulang malam, emang apa aja sih yang kamu kerjai?"
" Ntahlah Pak, saya disuruh Ibu Nadine lembur. Disuru bersih - bersih kantor. "
__ADS_1
" Emang harus sebersih apa sih ?"
" Ya ga tahu Pak, tapi itu kan perintah Ibu Nadine !"
" Emang sih Ibu Nadine itu uda keterlaluan, ga ada perasaan,"
" Tapi ga papa lah, Pak. Yang penting saya masih bisa kerja. "
" Kamu yang sabar ya Manda."
Amanda hanya menganggukkan kepalanya. Bima pun pergi meninggalkan Amanda seorang diri di pantry itu.
Amanda kembali membuatkan kopi untuk Ibu Nadine.
****
Hari itu juga, Lingga mengadakan meeting penting dengan klien. Klien nya tidak lain adalah Alvan Abhizar, ayah dari Nadine. Lingga mendatangi kantor dimana Amanda bekerja sebagai OG. Lingga pun tiba di kantor itu.
" Selamat siang, saya Lingga Prabu Ningrat, saya mau bertemu dengan Bapak Alvan, apakah beliau ada?" tanya Lingga pada Resepsionis kantor itu.
" Sebentar ya Pak, saya akan menghubungi Bapak Alvan dulu. Silahkan ditunggu, Pak !"
Lingga pun menunggu, ia duduk di ruang lobi kantor itu. Ia sibuk memainkan ponselnya. Amanda datang ke lobi kantor dengan perlengkapan kebersihannya. Ia membawa sapu, kain pel, kemoceng. Ia mulai membersihkan lobi kantor itu.
Nadine pun turun, ia melihat cara kerja Amanda. Nadine adalah direktur keuangan di kantor itu, tapi karena ia benci pada Amanda, ia selalu saja mencampuri urusan kerja Amanda.
Nadine melihat kalau ada seorang pemuda tampan sedang duduk di lobi kantor itu.
Lingga belum saja melihat Amanda ada didekatnya, karena Lingga sibuk dengan ponselnya. Nadine memarahi Amanda. Ia membentak Amanda.
" Kamu gimana sih? bisa ga sih kerja ?" bentak Nadine.
" Ia Bu, maaf !"
Karena suara Nadine yang begitu kuat, Lingga pun melihat apa yang terjadi.
" Amanda?" Lingga melihat kalau Amanda ada disana, ia mencoba memanggil Amanda tapi sayangnya Resepsionis kantor itu menyuruh Lingga untuk segera naik ke atas.
Lingga meninggalkan lobi kantor itu. Ia masih saja mendengarkan kalau Amanda masih terus dimarahi.
" Wanita itu kasar sekali. Tapi apa ia, itu Amanda?" gumam Lingga.
Tibalah Lingga diruangan pemilik perusahaan itu. Dan meeting penting pun akan dimulai.
" Oh ya, sebelum meeting kita mulai, ada baiknya saya akan panggilkan putri saya, karena ini masalah proyek besar, saya ingin melibatkan putri saya. "
" Ya, Pak. Silahkan !"
Pak Alvan menyuruh sekretarisnya untuk memanggil Nadine. Dan tak berapa lama, Nadine pun tiba diruangan itu.
" Lingga , perkenalkan ini putri saya, namanya Nadine !"
__ADS_1
Nadine memberikan senyum manisnya pada Lingga. Mereka berdua pun berjabatan tangan.
" Ini kan wanita yang tadi marah - marah ! ternyata ini putri pemilik perusahaan ini!" gumam Lingga.
" Karena disini sudah ada Nadine, sekarang meetingnya kita mulai !"
Semuanya pun sibuk membahas masalah proyek. Nadine menyuruh Vivian untuk segera membuatkan minuman.
Tok..tok..tok...Amanda pun masuk keruangan meeting itu. Ia membawakan minuman beserta cemilannya.
" Permisi Pak, Bu, ini minuman dan cemilannya !" Amanda pun menghidangkannya.
Lingga sangat terkejut sekali, ternyata benar Amanda bekerja di kantor milik Pak Alvan. Lingga buru - buru memakai maskernya, ia pura - pura bersin. Ia tak mau Amanda melihatnya.
Amanda sangat rapi sekali. Rambut panjangnya digulung menggunakan harnet berwarna hitam. Senyum manisnya sangat mempesona. Lingga jadi tidak fokus, ia selalu memperhatikan Amanda. Selesai menghidangkan makanan dan minuman, Amanda segera keluar.
Meeting penting pun selesai.
" Nak Lingga, kalau ada waktu, saya ingin mengundang nak Lingga makan malam dirumah saya, gimana?"
" Hhmm..boleh Pak, dengan senang hati !"
Nadine pun tersenyum. Sepertinya Nadine menyukai pengusaha sukses itu. Lingga pun pergi meninggalkan kantor Pak Alvan.
" Pa, kayaknya Lingga baik ya orang nya !"
Pak Alvan tersenyum.
" Kamu suka ya sama dia?"
" Ye..Papa, ga ah...!"
" Jangan bohong ! kalau kamu suka, kita bisa bicarakan ini baik - baik sama Lingga. Lagian, kalian kayaknya cocok. Nak, umur mu uda bisa untuk berumah tangga, Papa dan Mama ga mau, kalau kamu kayak gini terus. Papa dan Mama ingin melihat kamu itu bahagia dengan laki - laki yang tepat untuk kamu."
" Ia, Pa. Tapi, sayangnya laki - laki yang tepat itu belum ada , Pa !"
" Kan ada Lingga ! kamu tahu ga, Lingga itu anak teman Papa waktu SMA dulu. Tapi kedua orang tua Lingga tidak tinggal di sini, mereka di luar negeri. Mereka punya perusahaan besar di sana. "
" Wawww...keren banget, Pa !"
" Ia, Papa nya Lingga itu pengusaha sukses. Makanya nurun ke anaknya, si Lingga itu. Lingga itu tampan, pintar, kayaknya cocok buat kamu ! kalian itu sama - sama alumni Harvard lho...!"
" Oh ya Pa? kok Nadine ga tahu ya ?"
" Makanya sesekali ikut Papa kalau meeting !"
" Hehe..ia deh, Pa. Oh ya, jadi rencana Papa, mau ngajak Lingga makan malam dirumah?"
" Ya, kenapa? biar kalian makin dekat,"
Nadine pun tersenyum dan ia memeluk Papa nya.
__ADS_1