I Need Your Love

I Need Your Love
Bab 51 " Ketahuan Membawa Alat Kontrasepsi ''


__ADS_3

Anak buah Lingga kembali mengetuk pintu kosan itu.


Tok..tok..tok..


Tok..tok..tok..


Akhirnya Amanda pun membukakan pintu itu.


Cekleeeeeekkkkk...pintu terbuka .


Sontak saja Amanda terkejut dengan kehadiran orang asing dikosannya itu.


" Selamat siang, Bu ! apa benar, Ibu yang bernama Ibu Amanda ?"


" I..i..ia..ia..saya Amanda. Bapak siapa ya?" tanya Amanda ketakutan.


" Maaf kalau saya uda menganggu waktu Ibu Amanda. Oh ya, saya Bima dari salah satu perusahaan properti Citra Wahana Lestari, saya ingin menyampaikan kepada Ibu, bahwasannya Ibu adalah salah satu penerima hadiah undian dari salah satu produk makanan yang sering Ibu beli. Kami dari PT Citra Wahana Lestari bekerja sama dengan produk makanan yang sering Ibu Amanda beli. Jadi, sebagai hadiahnya kami memberikan sebuah hunian minimalis untuk Ibu Amanda. "


" Dapat hadiah? saya dapat hadiah ?" tanya Amanda seraya tidak percaya.


" Ia, Bu." jawab Bima sambil menunjukkan produk makanan yang sering ia beli. Bima mendapatkannya dari Lingga. Lingga lah yang mengatur semua rencana ini.


" Ibu sering membeli produk makanan ini kan ?"


" Ia, saya sering membelinya. Tapi ini bener ya saya dapat rumah?"


" Ia Bu, dan ini saya sudah membawa kunci rumahnya. Jadi, mulai sekarang Ibu bisa menempati rumah ini. Mohon diterima Bu, kunci rumah barunya !"


Bima memberikan kunci itu, Amanda pun menerimanya. Ia masih tidak percaya. Amanda takut kalau ini penipuan, karena selama di kota, ia sudah banyak mendengar kabar kalau banyak penipuan.


" Ini kuncinya jadi milik saya?"


" Ia Ibu,"


Lingga melihat mereka dari kejauhan. Lingga hanya tertawa melihat wajah Amanda yang sangat ketakutan itu. Lingga mengirim pesan kepada Bima.


" Kalau sudah selesai, kamu langsung pergi !" titah Lingga. Pesan pun terkirim.


Ting...pesan masuk ke ponsel Bima. Bima membacanya dan ia memberikan kode kepada Lingga.


" Baiklah Bu, kalau begitu saya permisi dulu. Semoga Ibu senang mendapatkan hunian baru dari perusahaan kami !"


" Ia Pak, makasih banyak ya !"


Bima pun langsung pergi meninggalkan rumah kosan itu. Setelah Bima pergi, Lingga pun langsung datang menemui Amanda.


" Hai...lagi apa?" tanya Lingga kepada Amanda yang masih saja melamun seakan tidak percaya apa yang baru saja ia terima.


" Mas Lingga? mas, saya mau nanya sama mas,"


" Nanya apa, serius banget ?"


" Yuk masuk yuk,"

__ADS_1


Lingga mengikuti Amanda masuk kedalam kosan itu.


" Mas, tadi ada orang datang ngasih ini !'' sambil menunjukkan kunci rumah baru itu.


" Trus ?"


" Katanya saya dapat rumah, mas !"


" Trus ?"


" Kan lucu to mas, masa hanya beli produk makanan langsung dapat rumah mas, "


" Trus ?"


" Kok trus - trus aja sih jawabannya ?''


" Lah, jadi mas mau ngomong apa?"


" Mas, itu beneran atau bohong ya?"


" Ya beneran dong, masa bohong. Lagian kuncinya juga uda di kasih ke kamu kan?"


" Uda, ini...!" sambil menunjukkan kunci rumah itu.


" Ya uda, kamu terima aja. Itu artinya, rumah itu buat kamu ! "


" Gitu ya ? saya takut mas, nanti kalau uda saya huni, trus diminta lagi gimana?"


" Ya ga lah. Saya yang akan tanggung jawab. "


Amanda tersenyum.


" Oh ya ? kapan mas ?"


" Tadi. Manda, gimana kalau kita nikah?"


"Nikah ? trus Nadine, mas?"


" Mas akan urus surat cerainya. "


Amanda diam. Lingga melihat ada kecemasan dalam hati Amanda. Lingga sudah mengetahuinya, masalahnya karena Nadine itu adalah saudara tirinya.


" Perut kamu akan semakin membesar. Mas ga mau kita menundanya,"


" Gimana kalau Ibu mengetahuinya, mas ?"


" Kamu itu memang anak yang baik Manda, kamu selalu memikirkan perasaan orang lain, sedangkan orang lain ga pernah memikirkan perasaan mu. "


Amanda menangis.


" Ya uda, ga usah nangis. Tapi kamu ga usah takut, mas akan tetap menikahi mu. Oh ya, gimana kalau kita pergi kerumah kamu yang baru itu? mas penasaran."


Amanda tersenyum. Ia menganggukkan kepalanya.Mereka pun pergi ke hunian baru itu. Setibanya mereka disana, Amanda langsung berdecak kagum akan hunian barunya itu.

__ADS_1


"Mas, ini rumahnya ?"


" Ia, gimana kamu suka ga?"


" Lebih dari suka, mas. Suka sekali."


" Ya uda kita masuk ya !"


Mereka berdua pun masuk ke dalam rumah itu. Amanda langsung menangis. Ia masih tidak percaya apa yang baru saja ia dapatkan.


" Mas Lingga ini beneran untuk Manda ?"


" Ia dong, ini beneran untuk kamu." jawab Lingga sambil mengelus perut Amanda.


Amanda terus tersenyum dan ia masih tidak percaya semua ini.


****


Setelah pertemuannya dengan David, hari - hari Nadinen pun semakin berwarna . Nadine pun sudah jarang pulang kerumah Lingga. Ia lebih sering pulang ke apartemennya. Ibarat sebuah prangko, Nadine dan David tidak terpisahkan lagi.


Suatu malam, David mengajak Nadine untuk dinner. Nadine langsung menerima tawaran itu. Dan disaat itu, David mengungkapkan rasa cintanya pada Nadine.


Bagai disambar petir disiang bolong, Nadine tidak menyangka kalau David benar - benar ingin serius padanya. Nadine, bingung untuk menjawab pertanyaan David. Di satu sisi, ia telah menikah, disisi lain, Lingga tidak perduli padanya. Nadine tidak tahu, mengapa sikap Lingga seperti itu.


Nadine meminta pada David untuk memberinya waktu. David dengan senang hati memberikan waktu untuk Nadine.


Masalah David pun akhirnya ia beritahu pada Mamanya. Mamanya mengerti sekali akan perasaan Nadine, karena yang ia tahu, Lingga itu tidak bisa menjadi suami yang sempurna . Mau tak mau, Mama Sekar menyetujui hubungan David dengan Nadine.


Tapi tidak dengan Papa nya, Pak Alvan tidak mengetahui kalau Lingga itu tidak bisa membahagiakan putri semata wayangnya. Yang ia tahu, Nadine dan Lingga baik - baik saja dalam rumah tangganya.


Nadine belum mengenalkan David kepada Lingga. Dan ia pun tidak mau memperkenal David terlalu cepat.


Malam itu, Lingga sudah dirumah. Hujan turun begitu derasnya. Ia kepikiran dengan Amanda. Sebelum tidur, ia menghubungi Amanda terlebih dahulu. Ia ingin memastikan kalau wanita idamannya itu sudah tidur.


Ketika Lingga hendak masuk ke kamar, Nadine pulang. Nadine pulang dengan sempoyongan. Lingga melihat kalau pakaian Nadine sedikit seksi. Lingga mendekat, ia mencium aroma minuman keras dari mulut Nadine.


" Kamu mabuk ya?" tanya Lingga


Hoakkksss...hoakkksss...hoakkksss..


Nadine muntah didepan suaminya itu.


" Jadi begini kelakuan kamu? suka mabuk? Tuhan itu maha adil ya, pelan - pelan Dia menunjukkan siapa kamu sebenarnya. "


" Apa'an sih kamu?"


" Nadine, saya mah ga perduli gimana kamu, kamu mau mabuk, kamu mau ngapain, saya tetap ga perduli."


" Saya juga ga perduli sama kamu, lagian ngapain juga perduli sama laki - laki ga normal kayak kamu, hahaha..." ejek Nadine.


Lingga hanya tersenyum. Nadine melemparkan tasnya ke sembarang tempat. Dan sebuah kotak kecil keluar dari dalam tasnya. Lingga mengambilnya dan ia membuka kotak itu. Dan ternyata sebuah alat kontrasepsi . Lingga kembali tersenyum.


" Oh, jadi kamu mencari kepuasaan diluar sana, baguslah. " gumam Lingga

__ADS_1


Lingga kembali memasukkan alat pengaman itu kedalam tas Nadine. Ia membiarkan Nadine tidur di sofa ruang tamu itu. Sama sekali Lingga tidak perduli pada wanita itu.


__ADS_2