I Need Your Love

I Need Your Love
Bab 59 " Di rendahkan "


__ADS_3

Walaupun dokter sudah memperbolehkan Amanda pulang, tapi Amanda tidak mau pulang kerumah. Ia selalu ada di samping Lingga untuk merawat pria itu.


Mama Nania menemui Amanda, ia ingin berbicara banyak pada wanita idaman anaknya itu.


Saat itu, Amanda tertidur di samping Lingga. Mama Nania masuk ke ruangan itu. Ia mencoba membangunkan Amanda.


" Manda..Manda...!" panggil Mama Nania, ia mencoba membangunkan Amanda dengan memegang pergelangan tangan kirinya.


Amanda pun terbangun. Lingga juga mendengar kalau Mama nya itu membangunkan Amanda. Tapi Lingga mencoba tidur kembali.


" Ibu ?"


" Manda, saya mau bicara sebentar sama kamu, bisa ?"


" Bisa, Bu !"


Mama Nania mengajak Amanda pergi keluar ruangan itu. Mereka berdua pergi ke sebuah taman yang berada di rumah sakit itu.


Mama Nania duduk di salah satu kursi taman.


" Saya mau tahu, asal usul kamu. Keluarga kamu itu gimana keadaannya, pendidikan kamu, saya ingin tahu, bolehkan ?"


" Boleh Bu, sangat boleh. Saya orang susah Bu, dari kecil saya di rawat oleh nenek saya. Kedua orang tua saya sudah lama pisah semenjak saya masih bayi. Mereka pisah karena keadaan yang susah. Ayah saya tidak bisa memberikan kehidupan yang layak untuk Ibu saya. Hingga Ibu saya pergi merantau menjadi TKW. Dan disaat itulah, Ibu selamanya meninggalkan saya dan nenek. Saya ga punya pendidikan yang tinggi Bu, karena nenek saya tidak sanggup untuk menyekolahkan saya, untuk makan saja kami harus banting tulang. Nenek sudah lama meninggal, semenjak nenek meninggal, saya merantau ke kota ini. Semua pekerjaan saya lakukan, yang penting saya bisa makan. Saya minta maaf Bu, kalau saya sudah kenal mas Lingga. Saya ga ada niat jahat Bu sama mas Lingga. Di kota ini, saya hanya punya mas Lingga, dulu mas Lingga banyak menolong saya. Saya sama sekali ga tahu keadaan kota ini, mas Lingga lah yang mengajari saya. Saya banyak berhutang budi pada mas Lingga Bu. Sekali lagi, saya minta maaf Bu,"

__ADS_1


" Jadi kamu ga tahu dimana keberadaan orang tua mu ?"


Amanda pun menangis.


" Saya uda bertemu dengan Ibu saya, tapi beliau tidak menyukai saya. Ibu malah membenci saya. Ibu sekarang uda menikah dan punya anak gadis yang cantik sekali. Kehidupannya sekarang juga sudah enak, Ibu menjadi wanita kaya, Ibu jadi cantik. Keluarganya juga sangat harmonis,"


" Dimana Ibu kamu ?"


" Di kota ini juga, Bu. Tapi saya uda janji, saya ga akan pernah mengganggu Ibu dan keluarga barunya. Pesan nenek, saya ga boleh terlalu berharap. Jika Ibu dan keluarga barunya bahagia, saya juga ikut bahagia, Bu. "


" Kamu serius mencintai Lingga ?"


Amanda menatap Ibu Nania.


Amanda hanya diam. Ia terus menundukkan kepalanya. Air matanya tak bisa di bendung lagi, akhirnya air mata itu tumpah ruah juga.


" Kamu mau kerja apa? saya akan kasih modal buat kamu, kamu bisa buka usaha jualan, atau apa gitu, saya akan bantu. Tapi dengan syarat, jauhi anak saya. Itu aja permintaan saya, tolong Amanda, saya mohon. Kamu bisakan ? kalau dulu Lingga uda menodai kamu, hingga kamu hamil, anggaplah itu tidak pernah terjadi. Sekarang kamu uda sehat, kamu uda bisa pergi kemana pun kamu mau, yang penting tidak dikota ini, kamu tenang aja, saya akan berikan cek berapa pun kamu mau,"


Amanda terus menangis. Begitu hinanya dirinya di anggap oleh Ibu Nania. Dada terasa sesak, begitu gampangnya Ibu Nania menyuruh untuk pergi meninggalkan Lingga.


" Saya ga butuh air mata kamu, saya butuh janji kamu. Minggu depan, Lingga akan kami bawa ke Amerika, sampai dia benar - benar sembuh baru dia bisa pulang ke Indonesia lagi. Rencana Papa nya, Lingga akan menetap di sana, karena disana ada perusahaan keluarga kami. Jadi, mulai sekarang, kamu bisa memikirkan masa depan mu, oh ya ini ceknya saya kasih kamu 1 milyar, kamu bisa pakai untuk biaya hidup kamu, "


Ibu Nania pun memberikan cek itu. Amanda menerimanya. Ia membaca isi cek itu.

__ADS_1


" Maaf Bu, harga diri saya lebih tinggi dari pada cek ini, kalau memang Ibu mau saya menjauhi mas Lingga, saya siap kok, tapi jangan pernah bayar saya dengan harga cek ini. Saya memang orang susah, tapi saya mampu berdiri di atas kaki saya sendiri, tidak mengharapkan bantuan Ibu. Ini Bu, cek nya saya kembalikan, mungkin ini bisa Ibu kasih untuk orang yang membutuhkan," Amanda memberikan cek itu.


" Ternyata kamu sombong juga ya? ga usah malu menerima bantuan dari saya, saya ikhlas kok. Dengan pendidikan kamu yang hanya tamat SMP itu, apa kamu bisa bertahan dikota ini? trus, kamu mau kerja apa ? sarjana aja susah cari kerja, apalagi seperti kamu, "


" Saya tahu Ibu itu punya segalanya, tapi Ibu ga ada hak untuk merendahkan orang, Ibu ga tahu kuasa Tuhan kan bu ? bisa aja sekarang Ibu di atas, esok Ibu tahu posisi Ibu dimana ? roda kehidupan berputar Bu. Tapi tenang aja, saya akan pergi kok. Makasih banyak ya Bu, permisi !"


Amanda menangis dan ia pun pergi meninggalkan Ibu Nania. Betapa sakit hatinya mendengarkan ucapan Ibu Nania itu.


Sebelum pergi, ia ingin melihat Lingga terlebih dulu. Amanda tidak berani mengatakan ini semua, ia sangat menghormati Ibu Nania. Semua ini ia lakukan demi kebaikan Lingga. Padahal baru saja, ia berjanji akan ada selamanya untuk Lingga, hingga masa tua Lingga, Amanda akan selalu ada bersamanya. Janji itu harus sirna, karena permintaan Ibu Nania.


Akhirnya Amanda pun pergi meninggalkan rumah sakit itu. Ia mendatangi rumah pemberian Lingga. Ia menyusun semua baju - bajunya. Amanda menulis sebuah surat, ia berharap suatu hari nanti Lingga akan membaca isi surat itu.


" Kepada mas Lingga... Suatu hari nanti mas Lingga akan tahu mengapa aku harus pergi. Ini semua demi kebaikan mas Lingga, demi masa depan mas Lingga. Terimakasih untuk kebaikan mas Lingga selama ini. Ini kunci rumah, aku kembalikan ya mas...jaga diri mas baik - baik ya...!!!


Salam


Amanda


Amanda meletakkan surat itu di atas kasur tempat tidur. Amanda yakin, Lingga bisa sembuh dan bisa kembali seperti dulu lagi.


Amanda membawa semua tasnya. Jalan satu - satunya, ia harus kembali ke kosan Ibu Yani. Hanya kosan itu lah tempat berteduh paling aman di dalam hidupnya.


Sepanjang jalan, Amanda selalu menangis. Ia pun mengingat neneknya, ia sangat merindukan neneknya. Hanya nenek Surti yang bisa mengerti hatinya. Ingin rasanya ia memeluk nenek dan meluapkan segala unek - unek yang ada di hatinya.

__ADS_1


__ADS_2