
Karena Mamanya masih berada dirumah sakit dan sakitnya pun tergolong langka, Lingga tidak bisa fokus untuk melakukan segala kegiatannya.
Hari itu ia tidak pergi ke kantor. Ia hanya merenung di ruang kerjanya. Sementara Papanya harus menjaga Mamanya di rumah sakit.
Lingga sangat kebingungan, apa yang harus ia lakukan. Lingga tidak mencintai Nadine, ia hanya mencintai Amanda saja. Seluruh kasih sayangnya hanya milik Amanda. Lingga pun sangat heran, mengapa ia begitu tergila - gila akan Amanda. Padahal wanita desa itu tidaklah begitu sempurna dibandingkan hidupnya Nadine.
Lingga mengambil sebuah kelender di meja kerjanya, ia melihat tanggal yang dilingkari tinta berwarna merah pada kelender itu. Ia membaca tulisan kalau Lingga menulis ultah Amanda.
" Astaga, jadi hari ini, itu ultahnya Amanda? " ucap Lingga tersenyum.
Lingga langsung pergi keluar, ia ingin membeli cake ultah untuk wanita idamannya itu.
Amanda tidak mengetahui kalau Lingga pergi. Amanda hanya ada dikamarnya, ia selalu menangis. Karena ia tidak tahu harus mencari pekerjaan kemana lagi.
Air matanya tidak henti - hentinya mengalir.
Malam hari pun tiba, Lingga melihat kalau Amanda belum keluar sama sekali. Lingga mematikan sekring listrik dirumah itu. Alhasil lampu semua padam. Amanda menjerit dan ia langsung keluar dari kamarnya.
" Mas Linggaaaaaa.....!!'' teriak Amanda. Amanda kembali menangis.
Lingga hanya tersenyum mendengarkan teriakan Amanda.
Tekkkk....lampu pun menyala.
" Happy birthday...happy birthday.. happy birthday..to youuuuuu....! selamat ulang tahun ya !" ucap Lingga .
Amanda bingung, mengapa Lingga tahu hari ulang tahunnya.
" Masss...!"
Mendengar disebut dengan panggilan mas, Lingga merasa sangat senang.
" Gitu dong, dipanggil mas, jangan Bapak lagi, hehehe..!"
Amanda hanya tersenyum malu.
" Tiup dong lilinnya..!" titah Lingga.
Amanda pun meniup lilin ulang tahun itu.
" Makasih ya mas Lingga !" ucap Amanda malu - malu.
" Potong dong, suapin gitu !"
" Hehehe ia, kelupaan...!"
Amanda memotong cake ultah itu dan memberikan kepada Lingga.
" Ini buat mas Lingga !" Amanda memberikan potongan cake itu untuk Lingga.
" Makasih ya !" Lingga pun bergantian memotong cake itu, Lalu ia memberikannya pada Amanda. Setelah memberikan suapan cake itu, Lingga mengambil cream lalu menempelkannya di wajah Amanda. Amanda pun tertawa lepas.
" Manda, saya punya sesuatu buat kamu !"
" Apa itu ?"
" Ini...! ayo di buka dong !"
Amanda menerima sebuah kotak kecil dan ia membukanya.
" Mas, ini apa ?''
__ADS_1
" Buka aja lagi kotaknya !"
Amanda kembali membuka kotak itu. Dan betapa terkejutnya ia ketika melihat sebuah ponsel baru.
" Ponsel ? ini buat saya, mas ?"
" Ia, ini ponsel buat kamu."
" Mas tapi ini kan mahal, saya takut ?"
" Potong gaji ? ga lah...ini kamu pakai aja,"
" Makasih banyak ya, mas ! ntar kalau saya ada uang, saya ganti ya !"
" Boleh, tapi jangan pakai uang ya !"
" Jadi pakai to , mas ?"
Lingga mendekatkan dirinya. Ia terus memandang wajah cantik itu. Lingga memainkan jari jemarinya di bibir manis Amanda.
" Mas, jangan diliatin terus, saya mah malu, " Amanda semakin gugup, karena Lingga semakin mendekatkan dirinya. Lingga merapikan rambut panjang milik Amanda. Amanda hanya diam. Ia tidak dapat bergerak sama sekali. Lingga benar - benar membuatnya sangat gugup.
" Mama itu pengen minta cucu !"
" Cucu ?"
" Ia, makanya Mama itu sakit,"
" Ya uda mas nikah aja,"
" Saya mau nya nikah sama kamu !"
" Hahaha, mas Lingga ada - ada aja,"
" Mas Lingga beneran suka sama saya?"
" Kalau saya ga suka sama kamu, ga mungkin saya mau meluk kamu, mau kiss kamu."
" Jadi mas Lingga serius ?"
" Dua rius malah,"
" Kamu mau kan kasih Mama Nania itu cucu ?"
" Tapi kita belum nikah, mas !"
" Ga harus nikah dulu,"
" Maksud mas apa?"
Lingga langsung menggendong Amanda ke kamarnya.
" Mas Lingga mau ngapain ? lepaskan mas !"
Lingga tidak perduli dengan ucapan Amanda. Tibalah mereka di kamar itu, Lingga langsung mengunci pintu kamar.
" Mas Lingga jangan lakukan , mas !!!"
" Mungkin dengan cara seperti ini Mama itu mau menerima kamu, "
" Saya takut, mas !"
__ADS_1
" Saya akan tanggung jawab, kamu ga usah takut."
Mau tidak mau Amanda pun menerimanya. Amanda juga sangat mencintai Lingga, ia tidak mau kehilangan nya. Amanda pun merelakan kesuciannya, ia tidak perduli lagi bagaimana di kehidupannya kelak. Amanda hanya bisa pasrah, ia hanya bisa berharap kelak Lingga akan bertanggung jawab jika suatu nanti ia akan mengandung anaknya.
Akhirnya mereka pun melakukan perbuatan itu, ntah sudah berapa kali Lingga menjatuhkan benih - benih cinta itu di dalam rahim Amanda. Lagi - lagi Amanda hanya bisa pasrah, demi pria yang di cintainya, ia rela harus mengorbankan kesuciannya.
Merasa lelah, akhirnya mereka pun tertidur pulas. Hingga ke esokan paginya Amanda terbangun dari tidurnya. Ia melihat jam sudah menunjukkan pukul 07.00 pagi.
Manda melihat jika mereka sama - sama tidak memakai baju sama sekali. Ia melihat kalau Lingga masih tertidur pulas. Amanda buru - buru bangun dan mengambil handuknya dan ia melihat ada bercak darah di sprei.
Amanda pun menangis. Ternyata ia sudah tidak suci lagi. Lingga mendengar tangisannya.
" Kenapa sayang ?" tanya Lingga.
Amanda tidak menjawab, Lingga melihat ada darah mengenai sprei itu. Lingga hanya tersenyum.
" Kamu menyesal?" tanya Lingga
Lagi - lagi Amanda hanya diam.
" Manda, maafkan saya kalau saya uda menodai kamu, mungkin inilah jalannya supaya kamu bisa diterima Mama. Saya mau kamu hamil, sayang !"
Amanda memukul - memukul perutnya. Ia terus menangis.
" Manda, apa yang kamu lakukan ?"
" Saya takut, mas !"
" Manda, kamu ga usah takut, saya janji, saya akan tanggung jawab. Kamu tahu ga, saya itu mencintai kamu bukan karena siapa kamu, tapi karena siapa saya ketika saya ada bersama kamu, kamu itu wanita yang uda buat saya itu nyaman. Jujur, saya belum pernah merasakan jatuh cinta seperti ini pada seorang wanita. Saya tergila - gila sama kamu, kesederhanaan kamu, kesabaran kamu, yang uda membuat saya luluh. Manda, saya ga mau jauh dari kamu,"
" Ga mas, tapi kita itu berbeda, saya takut kalau keluarga mas Lingga itu selamanya benci sama saya, saya ga pantas buat mas Lingga, hiks...hiks..hiks..hiks..!"
Lingga langsung memeluk Amanda.
" Manda, hanya ini jalan yang dapat menyelamatkan kita, Harapan saya, kamu cepat hamil, kita bisa hidup bersama. "
" Ga mas, mas pasti bohong !"
Amanda kembali menangis.
" Manda, kita uda saling kenal. Apa pernah saya membohongi mu? jawab Manda !!!!"
" Mas, saya hanya wanita desa, ga punya apa - apa, bagaimana mungkin saya bisa percaya sama mas, mas itu orang hebat, hiks..hiks..hiks..hiks.."
" Sekarang saya mau nanya sama kamu, kamu sayang ga sama saya ? kamu cinta ga sama saya ? jangan bohong, jawab dengan jujur !"
Amanda hanya diam, ia terus menangis.
" Kamu ga bisa jawab kan? karena saya tahu, kamu itu juga suka sama saya, saya tahu kamu gimana. "
" Tapi, mas ?"
" Manda, kamu ga usah takut, saya akan tetap pertahanin kamu,"
Amanda melihat wajah Lingga, ia masih tidak yakin akan ucapan pria tampan itu.
" Mas serius ?"
" Ia, saya serius. Oh ya, minggu depan saya mau ke tugas ke luar kota, kamu tetap disini aja ya !"
" Ga mas, saya balik ke kosan aja, "
__ADS_1
" Kamu yakin ?"
Amanda menganggukan kepalanya.