
Keadaan di desa...
Sudah 2 hari ini, Pak Bagas menunggu janji Amanda, dan sampai detik ini tidak ada kabar mengenai pembayaran hutangnya.
Wina, anak gadis nya itu pun disuruh untuk pergi kerumah Amanda. Wina pun menyetujuinya. Wina pun tiba di rumah tua yang sudah mulai tampak kusam itu.
Wina terus memanggil Amanda. Tapi sayangnya tidak ada balasan dari dalam rumah. Semua pintu dan jendela pun tertutup rapat.
Wina pun kembali kerumahnya. Ia memberitahukan pada Ayah nya kalau Amanda tidak ada dirumah. Pak Bagas pun tidak percaya.
" Yah, kali aja Manda kabur, Yah !" ucap Wina
" Kabur ? mau kabur kemana dia? dia itu ga punya siapa - siapa didunia ini, mana ada juga yang mau nampung Manda, miskin gitu, ga punya tamatan sekolah lagi !" ledek Pak Bagas
" Jangan - jangan Manda lari ke kota, Yah !" ucap Istrinya menimpali.
" Kekota ? dari mana uangnya, Bu ? lah bayar hutang aja ga sanggup, konon mau ke kota ?" ucap Pak Bagas lagi.
" Ya uda, coba Ayah pergi kerumahnya, barangkali Manda kerja di kebun orang , ini kan uda sore," sahud istrinya.
" Ia, Ayah akan pergi kesana !"
Pak Bagas pun langsung pergi kerumah Amanda. Tibalah ia disana. Benar saja, pintu rumah dan pintu jendela tertutup sangat rapat.
" Mandaaaaaa...Mandaaaaa...dimana kamuuu?" teriak Pak Bagas.
Pak Bagas mengelilingi rumah tua itu. Kali aja Amanda ada di belakang rumah. Tapi nyatanya zonk. Amanda tidak ada disana. Pak Bagas pun mulai geram. Ia segera menghubungi anak buahnya untuk menghancurkan rumah tua itu.
Tanpa menunggu lama, anak buahnya pun tiba. Mereka membawa perlengkapan untuk bisa menghancurkan rumah tua itu.
Satu persatu jendela di lepaskan. Ketika rumah itu dihancurkan, Pak Lurah melintasi rumah itu. Ia melihat Pak Bagas ada disana.
"Pak Bagas, kenapa rumah Manda di hancurkan?"
" Eh..Pak Lurah, ia nih Pak, Manda kabur, dia ga bisa bayar hutangnya !"
" Bapak yakin Manda kabur ?"
" Yakin Pak, dari kemaren uda saya tunggu - tunggu, tapi Manda ga kunjung datang juga bayar hutangnya !"
" Hhmmm...gitu ya Pak, ya uda lanjutkan aja, Pak !"
" Ia Pak, !"
Pak Lurah itu pun meninggalkan Pak Bagas dan rekan - rekannya. Menghancurkan rumah tua itu tidak begitu banyak menghabiskan waktu, karena terbuat dari anyaman bambu, gedhek rumah itu sangat lah mudah di hancurkan.
" Hancurkan semuanya, jangan sampai ada sisa !" titah Pak Bagas.
__ADS_1
Akhirnya rumah tua peninggalan nenek Surti itu pun hancur tak bersisa. Semua barang - barang yang tertinggal di bakar oleh anak buahnya, tak terkecuali pakaian nek Surti yang tertinggal.
Sungguh tega sekali sikap Pak Bagas itu. Seorang warga melihat perbuatan rentenir kejam itu.
" Keterlaluan sekali, ingat Pak Bagas, ada karma. Karma itu tak semanis buah kurma Pak Bagas! kejam sekali !" ucap warga yang melihat kejadian itu.
Perbuatan Pak Bagas pun sampai lah ke seluruh desa. Ada yang sedih dan ada juga yang merasa tidak perduli. Kabar itu juga sampai ke telinga Denis. Denis merasa kasihan pada Manda, Denis pun mulai khawatir kemana perginya Amanda, kenapa rumahnya bisa sampai dihancurkan Ayahnya Wina.
Rumah itu pun sudah rata. Dan Pak Bagas langsung membuat tanda
" Tanah Ini Milik Bagas Suharjo ".
" Mampus lho Manda...!" umpat Pak Bagas.
****
Malam hari pun tiba. Amanda tidak tahu harus tidur dimana. Ia menangis meratapi nasibnya. Anak kecil yang bersama nya telah pergi meninggalkannya.
Perut semakin lapar, kerongkongan mulai kering. Amanda melihat uangnya, hanya ada 120ribu. Belum mendapatkan pekerjaan, ia begitu takut untuk membeli sesuatu.
Amanda mencari emperan - emperan toko, kali aja bisa istirahat disana. Malam ini, angin bertiup dengan kencang. Udara terasa dingin menusuk tulang, langit pun semakin kelam.
Amanda merebahkan dirinya di atas kardus bekas. Ia masih saja menangis. Ia begitu merindukan nek Surti. Kenangan demi kenangan ia ingat selalu. Suka duka tinggal bersama nenek tua yang membesarkannya tak akan pernah ia lupakan. Amanda pun teringat akan hutang - hutangnya pada Pak Bagas. Pastilah Pak Bagas sudah marah padanya. Dan rumah tua itu, ia sudah pasrah kalau Pak Bagas mengambilnya.
Malam itu, Lingga mencari makanan, ia bingung malam ini mau makan dimana. Dan tiba - tiba saja, mobil yang dikendarainya mengalami pecah ban.
Ban depan pecah, sontak saja semua orang kaget, begitu juga Amanda yang sedang tertidur di emperan toko itu. Amanda langsung berlari.
Lingga keluar dari mobilnya.
" Ahh..sialan, pecah ban !" ucap Lingga.
Amanda terus saja berlari. Ia sangat takut sekali.
" Ada bom...ada bom..ada bom..!" teriak Amanda. Amanda berlari kencang tanpa melihat sosok pria yang sedang membungkuk karena ban mobilnya pecah.
" Wushhh...brakkk...!"
Amanda menabrak Lingga, pria yang memarahinya ketika berada dikantornya.
" Aduhhh, sakit !" rengek Amanda.
Lutut sebelah kanannya luka karena terjatuh ke mulut trotoar itu. Dan Lingga pun ikut juga terjatuh. Lingga pun marah pada Amanda.
" Kamu itu bisa ga sih jalan pake mata?" teriak Lingga.
" Maaf tadi ada suara bom !"
__ADS_1
Mereka berdua masih saja belum saling menatap.
" Bom..bom..bom..bom apa?" teriak Lingga sambil melihat wanita yang menabraknya, dan tak lain itu adalah Amanda, Amanda yang datang ke kantornya untuk melamar pekerjaan. Ia juga melihat kalau lutut Amanda sangat terluka.
" Ini kan wanita yang membawa tumpukan sampah itu !" gumam Lingga.
" Makanya kalau jalan itu pake mata !" ucap Lingga sambil mengambil kotak P3K dari dalam mobilnya.
Amanda menangis menahan rasa sakit di lututnya. Ia sama sekali belum melihat pria yang ada dihadapannya. Darah segar perlahan mulai mengalir. Amanda terus saja menangis.
Lingga memberikan pertolongan. Ia membalutkan kapas dan bethadine itu ke lututnya.
Amanda belum juga sadar, kalau yang mengobati lututnya itu adalah pria yang sudah memakinya.
" Uda jangan nangis lagi , nanti lukanya juga bakalan sembuh !" ucap Lingga.
Amanda tidak mendengarkan ucapan pria yang ada disampingnya itu. Ia tetap saja menangis. Lingga merasa terganggu mendengar tangisan Amanda.
" Kamu budek ya? kamu jangan nangis lagi !"
Karena merasa diabaikan, Lingga pun mengganti ban mobilnya yang pecah itu.
Ia mengambil ban serep dari bagasi mobil, dan mulai menggantikannya. Diam - diam Lingga mendengar suara perut Amanda yang sudah ribut minta di isi makanan.
Lingga tersenyum. Ia merasa lucu. Dan ia pun sadar ketika melihat keadaan Amanda. Pakaian yang kumal, sendal jepit yang sudah putus, rambut yang acak - acakan dan tas yang sudah tidak lagi ada warna nya,dekil. Tapi kecantikannya tidak sirna, wajah yang teduh, membuatnya seperti malaikat.
Lingga pun selesai menggantikan ban mobilnya. Ia duduk disamping Amanda yang sedari tadi menangis terus.
Lingga hanya diam. Dan tiba - tiba saja, Amanda sadar kalau ada pria yang duduk di sampingnya. Amanda mengangkat kepalanya perlahan - lahan.
" Ka..ka..kamu?"
Lingga cuek dan tidak perduli.
" Kamu, Bapak yang memarahi saya kan? waktu dikantor itu,"
" Ia, kenapa?"
" Kok Bapak ada disini ?"
" Bapak ? emang saya ini Bapak kamu?"
" Ma..ma..maaf..!"
" Masih sakit ga lututnya?" tanya Lingga
Amanda hanya menganggukan kepalanya.
__ADS_1
Karena merasa takut Amanda pun bangkit berdiri, ia mencoba pergi meninggalkan pria yang belum diketahuinya namanya itu.