
Lita dan Amanda masih saja diam. Sesekali Lita melirik ke arah Amanda. Begitu pasrahnya Amanda dengan keadaan yang menimpanya. Lita sangat kasihan pada wanita itu. Begitu sabarnya, jarang sekali ada wanita yang sudah tersakiti malah ikhlas menerima takdirnya.
" Mbak, mbak tahu kedatangan saya kesini ? saya mau menangani kasus kecelakaan yang menimpa mbak sama mas Lingga, "
" Emangnya kamu tahu siapa penyebabnya ?"
" Ya tau lah mbak, itu semua karena Nadine. Nadine lah yang uda menyuruh seseorang untuk mencelakai kalian, rem mobil mas Lingga blong."
" Hah ???? Nadine ??? kamu yakin ?"
Lita menganggukan kepalanya.
" Saya mau Nadine itu mendapatkan hukumannya, "
" Tapi ?"
" Tapi kenapa, mbak ?"
" Ga kenapa - napa Lita." Amanda tampak bersedih setelah ia tahu kalau Nadine lah penyebab mereka kecelakaan.
Amanda tidak mau menceritakan kalau sebenarnya Nadine itu adalah saudara tirinya.
" Jadi mas Lingga uda tahu, kalau Nadine penyebab semua ini ?"
" Uda mbak, "
" Astaga ? ya ampun Nadine ?"
" Makanya Nadine itu harus membayar ini semua."
" Kamu mau menjebloskan Nadine ke penjara ?"
" Ya ialah, orang seperti Nadine itu harus dikasih pelajaran, mbak ."
" Gimana nanti perasaan suaminya ?"
" Perasaan suaminya ? emangnya Nadine uda nikah ya ?"
" Uda,"
" Trus kenapa mbak perduli sama Nadine ? biar aja mbak, Nadine itu harus dapat pelajaran, biar dia kapok. Mbak ga usah perdulikan dia deh !"
" Tapi kan ?"
" Ga ada tapi - tapian mbak, Nadine harus saya jebloskan ke penjara,"
Amanda terdiam. Ia terus menatap Lita.
" Ga tega rasanya harus lihat Nadine masuk penjara, gimana perasaan Ibu Sekar nanti ?" gumam Amanda.
__ADS_1
****
Lingga sudah sangat merindukan suasana kantor. Pagi - pagi sekali, ia sudah berangkat.
Pagi itu juga Amanda pergi untuk bekerja. Karena sudah merasa baikan, ia memberanikan dirinya untuk bekerja.
Ia tak mau berlama - lama istirahat, ia takut kalau pak Angga akan memecatnya.
Amanda terus berjalan, hingga ia tiba di sebuah halte dimana ia biasa menunggu bus untuk pergi ke tempat kerjanya.
Suasana pagi masih terasa sepi. Belum begitu banyak yang berlalu lalang. Udara pagi itu terasa dingin. Amanda menggunakan sweater pink pemberian dari Lingga.
Halte bis itu tidak terlalu jauh dari lampu merah. Amanda duduk sambil melihat - lihat sekelilingnya.
Cittt....mobil Lingga pun berhenti. Lingga mengambil ponselnya, ia mencoba melihat beberapa pesan yang masuk. Lalu ia meletakkan nya lagi. kedua matanya melihat - lihat di luar sana.
Matanya fokus pada sosok wanita ber sweater pink. Rambut panjang yang terurai dengan bando warna putih.
Lingga samar - sama melihat wanita itu, dikarenakan lampu jalanan itu sedikit redup.
Dalam benak Lingga, " apakah itu Amanda ? tapi kenapa kurusan ?"
Lampu menyala hijau, Lingga pun mencoba melaju pelan. Ia mencoba mengamati wanita yang duduk di halte bis itu.
Lingga langsung menepikan mobilnya. Lingga buru - buru keluar dari dalam mobilnya. Tapi sayangnya, bus yang dinantikan Amanda pun tiba. Amanda pergi dan meninggalkan halte itu.
Lingga merasa kesal, ia tak dapat menemui Amanda.
Lingga merasa tidak tenang. Ia menjadi kepikiran Amanda.
" Apakah setegah itu aku sama Amanda?" ucap Lingga lagi. Ia pun duduk di halte itu, ia mengacak - acak rambutnya. " Ahhrrgg..., Amanda...Amanda...Amanda...kenapa juga kamu belum menikah dengan orang lain ? aku kira kamu sudah bahagia dengan pria lain ?"
Lingga kembali menatap halte itu. Halte itu mengingatkan nya pada kisah nya dulu dengan Amanda. Ternyata Amanda masih saja selalu mengunjungi halte itu. Lalu Lingga pun pergi.
" Apakah Manda masih tinggal di kosannya yang dulu ?" Ahh..sudalah." Lingga melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Hingga ia tiba di kantor nya, kantor yang ia tinggalkan selama dua tahun.
****
Amanda tiba di resto dimana tempatnya bekerja. Ia langsung mengganti pakaiannya. Wajah cantiknya masih kelihatan pucat pasih.
" Manda ?" panggil Pak Angga pemilik restoran itu.
" Selamat pagi, Pak !" sapa Amanda.
" Kenapa kamu uda masuk kerja ? bukannya kamu masih sakit ? lihat tuh wajah kamu, masih pucat !"
" Saya uda baikan kok, Pak !"
" Manda, saya tahu kamu itu takut saya pecat kan ? kamu itu lagi sakit, istirahatlah dulu. Kamu ga usah takut, gaji kamu ga akan saya potong kok, "
__ADS_1
" Saya ga papa kok Pak, bener !"
" Terserah kamu, pokoknya kalau kamu lelah, sebaiknya kamu istirahat ya !"
" Ia, Pak. Makasih ya, Pak !"
Amanda langsung siap - siap di belakang.
****
Pagi itu Lita mendatangi kantor kakaknya. Tanpa ada pemberitahuan terlebih dulu.
" Pagi, mas !"
" Lita ?"
" Sibuk ga ? gimana keadaan kantor kamu mas, selama ditinggal dua tahun ?"
" Alhamdulilah, semuanya baik - baik aja. Oh ya, kok tumben kamu pagi - pagi kesini ?"
" Sesuai janji saya mas, Nadine."
" Makasih ya Lita, kamu uda banyak membantu kakak mu ini, "
" Ini semua karena Amanda kok, saya mau Amanda mendapatkan keadilan. "
" Amanda ?"
" Ia, Amanda. Sampai kapan pun Amanda tetap lah di hati. Oh ya, saya punya teman mas, pengacara juga sih, gimana kalau kita comblangi mbak Amanda sama teman saya itu aja, mas. Gimana ? teman saya itu kan mas, uda pengen banget nikah, saya lihat sih sepertinya mereka pas, serasi, cocok. "
Mendengarkan ocehan adiknya itu, wajah Lingga mendadak berubah. Sepertinya ia tak suka jika Amanda di comblangi dengan pria lain.
" Kamu hanya bergurau kan ?"
" Bergurau ? saya serius, mas. Mbak Amanda itu pantasnya sama orang baik. Mbak Amanda itu orang baik, wajarlah saya harus carikan yang terbaik untuknya. Bener ga ? lagian mas Lingga kan sebentar lagi tunangan sama si Tasya itu, ya kan ?"
Lingga diam. Wajahnya sedikit murung.
" Atau jangan - jangan mas sebenarnya ga bisa ngelupain Amanda ? karena kisah cinta kalian itu indah, bukan ?"
" Mas uda lupain Amanda kok. Ya terserah kamu, kalau kamu mau jodohin Manda sama teman kamu itu, silahkan. Mas ga keberatan, kok. " jawab Lingga gugup. Dari sorot kedua mata kakaknya itu, Lingga tidak terima.
" Baiklah, selesai masalah Nadine, saya akan membawa teman saya itu untuk segera menemui mbak Amanda. "
" Kenapa juga kamu yang sibuk ngurusin jodoh orang ? kayak ga ada kerjaan aja !"
" Untuk mbak Amanda, semua akan saya lakukan, mas. Saya ga mau melihat dia sedih. Saya mau dia itu bahagia. Mas Lingga ga bisa buat mbak Amanda bahagia kan? mas Lingga uda tega ninggalin mbak Amanda. Pernah ga sedikit aja ngertiin perasaannya ? pernah ga kasihan sama mbak Amanda ? sekarang uda sembuh, lupa segalanya, mentang - mentang ada yang baru. "
" Kamu kenapa sih ? datang ke sini bukannya mau bantuin mas nya kerja, malah buat ribut. "
__ADS_1
" Kesal saya mas, pokoknya saya ga rela kalau mas itu nikah sama perempuan lain, ga ikhlas saya mas, ga ikhlas mas, hiks..hiks..hiks..!"
Sambil menangis, Lita pun pergi meninggalkan ruangan kakaknya itu.