I Need Your Love

I Need Your Love
Bab 78 " Permohonan Maaf "


__ADS_3

" Baiklah, terimakasih untuk jawaban mu. Kalau begitu saya akan pindah ke Amerika, mungkin lebih baik saya akan menetap disana. Jaga diri mu baik - baik, semoga kamu bahagia selalu dengan pilihan mu. Permisi !"


Lingga mengambil kunci mobil dari nakas kamar itu, ia pun buru - buru keluar dari rumah kosan itu.


Lingga langsung menyalakan mesin mobilnya. Dan ia pun pergi. Amanda masih duduk di tepi kasurnya. Ia pun menangis, masih terngiang - ngiang di benaknya kata - kata Lingga tadi, selamanya akan menetap di Amerika.


Amanda terus menangisi pria yang pernah menyakiti hatinya. Sepertinya ia belum rela berpisah dari Lingga, walaupun hatinya pernah sehancur serpihan kaca yang berkeping - keping atas perlakuan Lingga.


Amanda pergi keluar dan berharap Lingga belum pergi jauh.


" Masssssssss....masssssss Linggaaaaa.., hiks..hiks..hiks..hiks ..!!!" teriak Amanda begitu kuat.


Ternyata Lingga belum begitu jauh, ia melihat dari kaca spion kalau Amanda ada di luar. Lingga yakin pasti Amanda memanggil dirinya dan tak mau melihat Lingga pergi jauh.


Lingga pun putar arah, ia mencoba mencari jalan agar tidak diketahui Amanda. Dan akhirnya, ia kembali ke kosan itu. Lingga tersenyum.


Lingga sangat yakin, kalau Amanda masih mencintainya. Lingga tahu bagaimana Amanda. Lingga pun sadar, ternyata mereka itu sama - sama saling mencintai dan tak mau kehilangan.


Lingga tepat berdiri dibelakang Amanda. Ia melihat kalau Amanda terus menangis dan menyebut namanya. Lingga hanya tersenyum melihat sikap Amanda.


" Uhuuukkk...uhuuuukkk...uhuuuukk..!" Lingga berpura - pura batuk. Amanda menghentikan tangisannya. Lingga kembali batuk. Amanda mulai ketakutan. Ia baru sadar kalau ini sudah larut malam. Bulu kuduknya mulai merinding. Kakinya terasa berat untuk melangkah bahkan untuk lari sekalipun. Keringat dingin mulai mengucur dari pelipis wajahnya. Ingin rasanya ia menoleh ke belakang, tapi ia tak sanggup, Amanda sangat ketakutan.


Lingga hanya bisa tertawa kecil, begitu lucunya wanita yang ada dihadapannya itu. Lingga kembali batuk. Dan Amanda pun semakin ketakutan.


" Jangan ganggu saya, saya mohon !" ucap Amanda dengan menutup kedua matanya.


" Siapa juga yang mau nganggu kamu ?"


" Suara itu ? suaranya ???" tebak Amanda.


Amanda menoleh kebelakang.


" Hahhh? mas Lingga ?" ucap Amanda seakan tidak percaya kalau Lingga ada dibelakangnya. Lingga tersenyum.


Amanda masih berdiri di tempat, ia masih bertanya - tanya benar kah itu mas Lingga ?


" Kamu kenapa masih diluar ?" tanya Lingga


" Ga papa, saya ga papa kok. Tadi saya habis buang sampah," ucap Amanda sambil menunjuk ke arah tong sampah itu.


Lingga melihat ke arah tong sampah yang dimaksudkan Amanda.


" Mana sampahnya ? katanya kamu buang sampah ? kok ga ada sampahnya ?"


" Ada kok, itu di dalam !"


Lingga mencoba mendekati tong sampah itu, dan ia melihat kalau di tong sampah itu tidak ada sama sekali sampah.


" Kenapa harus bohong ?"


Amanda terdiam. Ia sangat malu karena ketahuan berbohong.


" Mata kamu juga sembab, kamu baru nangis ? nangisi siapa ?"

__ADS_1


" Mata saya ga sembab, mungkin karena kecapean , siapa juga yang nangis, ga ada yang nangis kok !"


" Bohong lagi. Uda buruan masuk, uda larut malam ini,"


Amanda melangkah pelan, ia terus menoleh ke belakang. Ia memastikan kalau Lingga masih ada disana.


Ingin rasanya memeluk wanita itu, tapi Lingga malu. Jangankan memeluk, meminta maaf aja masih belum ada niat sama sekali. Lingga malu, ditambah lagi egois yang terlalu tinggi. Padahal sebenarnya ia sangat merindukan Amanda. Dan dia juga tidak bisa jauh dari wanita itu.


Amanda berhenti tepat di depan pintu kosannya. Apa yang di rasakan Lingga, begitu juga yang dirasakan Amanda.


Pria egois , tampan dan sedikit dingin itu, membuatnya terus kepikiran.


Setelah masuk ke kamarnya, akhirnya Lingga pun kembali kerumahnya.


****


Sudah hampir seminggu, Nadine di tahan. Kehamilannya pun sudah mulai tampak besar. Belum juga ada kabar mengenai kapan ia bisa bebas. Jalan satu - satunya hanya Lingga dan Amanda.


Mau tak mau Ibu Sekar mengajak suaminya untuk menemui Amanda, sekaligus ingin mengatakan kepada suaminya siapa sebenarnya Amanda.


Karena Ibu Sekar sudah mengetahui tempat dimana Amanda bekerja, mereka berdua langsung menemui Amanda disana.


Pas tepat jam istirahat, Ibu Sekar dan Pak Alvan dapat menemui Amanda.


" Manda, maaf kalau Ibu menganggu waktu mu !"


Amanda tahu kedatangan mereka tidak lain mengenai Nadine.


" Mas, disini sudah ada Amanda, saya mau bicara jujur sama mas mengenai Amanda ini siapa."


Amanda masih saja diam. Berat rasanya memaafkan manusia seperti Nadine. Nadine telah memberikan pengalaman yang sangat perih dalam hidupnya.


Ketika mereka sedang asyik bercerita, tiba - tiba saja Lingga datang ke resto itu. Ia melihat kalau Amanda bersama Ibu Sekar dan Pak Alvan.


Sepertinya percakapan mereka sangat serius sekali. Lingga tidak ingin menganggu mereka. Lingga pun memesan makanan pada pelayan yang lain.


Pak Alvan terus saja memohon pada Amanda, agar dirinya mau memaafkan perbuatan Nadine.


" Baiklah Pak, saya akan memaafkan Nadine. Masalah dia harus terbebas dari tahanan, saya ga bisa, itu adalah hak mas Lingga. "


" Lingga ?"


" Ya, yang membawa kasus ini ke pihak yang berwajib adalah mas Lingga."


" Jadi apa yang harus kami perbuat , Manda ?" tanya Ibu Sekar.


" Bapak dan Ibu temui mas Lingga, minta maaflah pada nya. Karena perbuatan Nadine, mas Lingga harus kehilangan kedua matanya, kedua kakinya lumpuh. "


Ibu Sekar dan Pak Alvan saling memandang. Pak Alvan menganggukan kepalanya.


" Baiklah, kalau begitu kami akan menemui Lingga, dan kami akan meminta maaf padanya. "


" Manda, hiks..hiks..hiks...Ibu minta maaf ya !" ucap Ibu Sekar.

__ADS_1


Amanda hanya menganggukan kepalanya. Ibu Sekar dan Pak Alvan pun pergi. Ibu Sekar terus menangis, ia terus menoleh ke belakang melihat putrinya itu.


Amanda mencoba menahan tangisnya. Lingga menghampirinya.


" Kenapa lagi dengan mereka ?" tanya Lingga mengagetkan Amanda.


" Mas Lingga ? mas Lingga makan disini ?"


" Ia, emang kenapa ? ga boleh ?"


" Boleh lah, uda pesan makanan?"


" Uda, tapi belum datang. Mau ngapain mereka ?"


" Masalah Nadine !"


" Ohhh, trus ?"


" Mas, itu pesanan mas Lingga sepertinya uda datang !"


" Kamu mau ga temani saya makan ?"


" Saya mau kerja, "


" Ga lama kok, bentar doang, "


" Maaf mas, saya ndak bisa. Lagian kenapa juga kamu minta temani makan sama saya, bukannya kamu punya teman wanita ? kan dia bisa kamu panggil untuk temani kamu makan,"


" Kamu tahu dari mana saya punya teman wanita ?"


" Hhmm..anu mas, saya ? saya coba nebak aja,"


" Bohong, "


" Saya pernah lihat mas makan bareng disini,"


" Kenapa kamu ga sapa saya waktu itu ?"


" Emangnya perlu ?"


" Kamu ga usah munafik, kamu cemburu kan ?"


" Ga, saya ga cemburu. Uda ya, saya mau kebelakang,"


Amanda mencoba pergi, tapi Lingga langsung sigap menarik tangan Amanda.


" Kamu budek ya ? saya kan tadi minta temani kamu makan ?"


" Saya ga bisa !"


" Baiklah, saya akan telpon Pak Angga, biar kamu dapat ijin untuk temani saya makan."


" Jangan. Baiklah saya akan temani kamu makan."

__ADS_1


" Gitu dong !"


Amanda mengikuti Lingga sampai ke tempat dimana ia duduk tadi. Amanda merasa kesal. Tapi, dibalik kesalnya ia juga sangat merindukan sosok Lingga yang sangat jutek. Amanda menemani pria dingin itu makan, Amanda terus menatapnya. Tak ada rasa bosan menatap pria tampan itu. Amanda memalingkan masalah yang dulu di hadapinya dengan pria itu.


__ADS_2