
Amanda langsung pergi ke dapur untuk menyiapkan makan siang buat suaminya. Ternyata mama Nania ada di dapur sedang menyeduh teh.
Mama Nania melihat Amanda.
" Lingga mana ?"
" Di ruang makan, bu !"
" Kenapa basah rambut kamu ?"
" Ehhmmm...!" Amanda tidak dapat menjawab pertanyaan ibu mertuanya itu.
Mama Nania memperhatikan Amanda dari ujung kakinya sampai ujung rambutnya.
" Manda, kamu dengar ya, saya ga akan sudi punya cucu dari rahim kamu, ga akan setuju. Ngerti kamu !"
Mendengar ucapan ibu mertuanya itu, Amanda langsung terkejut.
" Maksud ibu apa?"
" Kamu jangan pernah hamil anak Lingga. Karena saya akan menjodohkan Lingga dengan anak teman saya. Mapan, smart, kaya, cantik ga seperti kamu, kumel !"
" Astaga, ibu ? ibu ini apa - apa'an sih ?"
" Dan satu lagi, jangan pernah kamu berharap harta anak saya, sepeser pun kamu ga akan pernah dapat. Jadi, mulai sekarang kamu mikir, kamu mau pisah sekarang atau kamu mau di madu Lingga ?"
Amanda berusaha menahan air matanya. Ia tak mau lemah di depan ibu mertua nya itu.
" Bu, uda dulu ya, mas Lingga mau makan. Nanti dia telat ke kantor !"
Amanda langsung pergi membawa makanan untuk suaminya itu. Diam - diam, Lingga mendengarkan pembicaraan Amanda dengan mamanya. Kedua mata Amanda mulai berkaca - kaca.
" Mas, ini makanannya.''
" Ia, makasih ya sayang !"
" Ya uda makan, keburu dingin !"
" Temani mas makan ya !"
Amanda menganggukan kepalanya. Lingga makan dengan lahapnya. Amanda terus memandangi suaminya itu. Dan tak terasa air matanya pun mengalir.
Lingga melihatnya.
" Sayang, kamu kenapa ?" tanya Lingga membuyarkan lamunannya.
" Ga papa mas. Buruan di habisin, nanti telat ke kantor !"
" Ehhmm...kamu sedih karena mama ya ?"
" Ga..."
" Jadi ?"
" Kangen nenek, mas !"
" Jangan bohong !"
" Saya ga bohong, mas."
" Mama, melarang kamu hamil anak mas kan ?"
Amanda pun terkejut, mengapa Lingga tahu akan hal itu.
__ADS_1
" Mas ?"
" Manda, saya tahu mama itu ga suka sama kamu. Apapun akan mama lakukan untuk memisahkan kita berdua. Kita akan pindah dari sini !"
Amanda menggelengkan kepalanya.
" Ga mas, kasihan ibu !"
" Kamu lebih kasihan sama mama atau sama saya ? suami kamu ? saya itu nikahi kamu ya karena saya cinta, dari hasil cinta kita berdua akan menghasilkan anak, emang kamu ga mau punya anak? kamu mau saya punya anak dari wanita lain? hah ?"
Amanda menangis.
" Manda, saya tahu kamu itu ga tenang ada mama. Jalan satu - satunya, kita keluar dari rumah ini, sekali pun ini rumah saya, saya ga perduli. Saya mau kamu itu bahagia, ga pusing mikirin mertua seperti mama !"
" Mas ? biar gimana pun dia tetap orang tua kita, kita harus hormat sama ibu. Saya ga perduli, ibu itu ga suka sama saya, saya akan tetap berbuat baik sama ibu. Ibu itu Tuhan yang kita lihat, mas !"
" Terserah kamu deh, malas ngomong sama kamu. Uda ya, saya mau pergi."
Lingga buru - buru pergi. Amanda langsung mengejarnya dan memeluknya dari belakang. Ia menangis, menangis sejadi - jadinya.
" Saya ga pernah merasakan kasih sayang ibu, mas. Saya rindu manggil sebutan ibu. Kalau pun ibu Nania, memperlakukan saya seperti ini, saya ikhlas mas, ndak apa - apa. Saya akan merubah sikap saya jadi lebih baik. Saya yakin, ibu marah sama saya, itu karena ibu sayang sama saya, mas !"
Amanda terus menangis. Lingga membalikkan tubuhnya.
" Tapi Manda, masalahnya kamu itu terus diperlakukan kasar sama mama ?"
" Ga papa mas, saya kuat kok. Lebih dari sikap ibu, saya uda pernah merasakannya."
" Baiklah, nanti mas akan ngomong lagi sama mama, kamu sabar ya !"
Amanda menganggukan kepalanya.
" Mas pamit ya !"
Perasaan Lingga pun tidak tenang. Selama mama nya ada di tengah - tengah rumah tangganya, semua akan hancur karena ulah mama nya itu. Lingga mencoba mencari jalan, gimana agar mama nya kembali ke LN bersama papa nya. Lingga ingin rumah tangganya baik - baik saja.
Perlahan Lingga mengemudikan mobilnya. Dan tiba - tiba saja, Lita, adiknya menghubunginya. Lita memberitahukan kalau papa nya terkena serangan stroke.
Mendengar kabar itu, Lingga pun sangat panik. Lingga langsung putar arah, ia kembali ke rumah. Mama nya harus tahu kabar buruk ini.
Lingga berlari. Ternyata pintu rumah tidak terkunci. Tanpa memberikan salam, Lingga langsung masuk ke dalam rumah itu.
" Maaaaaa...mamaaaaa...!"
Mendengar suara Lingga berteriak, Amanda langsung berlari.
" Masssss kenapa balik lagi ? ada apa ?"
" Mama mana sayang ?"
" Ibu ada dikamar, mas !"
Lingga berlari ke arah kamar. Ia mengetuk kuat pintu kamar itu. Karena merasa terganggu, mama Nania pun terbangun dari tidurnya. Ia.
" Lingga ? kenapa kamu balik lagi ? ada apa, nak ?"
" Ma, papa lagi ga baik - baik aja !"
" Lingga, kamu itu kalau ngomong yang jelas dikit napa. Papa kamu kenapa ? jawab nak !!!"
" Ma, papa kena stroke. Sekarang juga kita akan pergi ke Amerika, ma !"
Mendengar suaminya terkena stroke, mama Nania pun pingsan, tak sadarkan diri.
__ADS_1
" Ibuuuuu...ibuuuuu...bangun buuuu !" Amanda mencoba membangunkan ibu mertuanya itu.
" Mas, ini gimana ?kita bawa kerumah sakit aja ya mas !"
" Ga usah, nanti mama juga siuman."
Lingga memapah mama nya ke kasur. Tak berapa lama, mama nya sadar. Amanda merasa lega melihat ibu mertuanya sudah siuman.
Mama Nania menangis. Amanda mencoba menenangkannya.
Sekalipun suaminya sakit, tak ada niat baik dari ibu mertuanya. Tetap saja, mama Nania tidak menyukai menantunya itu.
Amanda terus menahan sabar. Lingga melihat sikap mama nya yang tidak menggubris sama sekali istrinya itu.
" Mama yang kuat ya !" ucap Lingga
Mama Nania terus menangis.
" Gimana mama mau kuat?"
" Besok kita akan pergi lihat papa, "
" Istri kamu ini gimana ?" tanya mama Nania sambil melirik Amanda.
" Bu, saya tinggal aja disini !"
" Ia, ma. Amanda untuk sementara tinggal aja dulu."
" Baguslah. Ngapain juga ikut, ngabisin duit kamu aja !"
Lingga dan Amanda saling berpandangan. Lingga langsung menggenggam tangan istrinya itu, berusaha menguatkannya.
" Ya uda, mama sekarang istirahat ya !"
Amanda segera merapikan pakaian yang akan dibawa suaminya itu. Di dalam kamar, Amanda mencoba untuk tidak menangis, tapi ia tak bisa menahannya. Air mata itu pun mengalir.
" Kenapa nangis ?" tanya Lingga.
" Mas ?"
" Kamu kenapa ?"
" Ga papa, mas !"
" Kamu yang sabar ya !"
Amanda menganggukan kepalanya.
" Mas yakin, kamu itu pasti bisa melewati ini semua. Suatu hari nanti, mama akan sayang sama kamu."
" Ia mas, doain ya !"
" Pastilah. Oh ya, ga papa kan mas tinggal kamu untuk beberapa hari ini ?"
" Ga mas, ga papa. Gimana kalau bapak di rawat disini aja mas? saya mau kok merawat bapak. Dari pada diam dirumah, lagian disana Lita juga kan sibuk kerja. "
" Kamu nanti capek, sayang !"
" Ga lah mas, itu uda tugas saya."
" Baiklah, nanti mas akan bilang sama mama. Makasih ya sayang !"
Lingga mencium kening istrinya itu dan ia memeluknya.
__ADS_1