
Keadaan di desa...
Pak Bagas telah mengetahui kalau Amanda sudah melunasi hutang - hutangnya. Wina lah yang memberitahukan padanya. Wina menanyakan bagaimana perihal rumah tua peninggalan neneknya. Pak Bagas tidak perduli, ia tetap akan mengambil hak atas tanah itu.
Ia tidak akan mengembalikan pada Amanda. Dan Wina juga merasuki sang Ayah, ia meminta pada Ayahnya untuk tidak mengembalikan hak milik Amanda.
Pak Bagas akan membangun rumah kontrakan di atas tanah peninggalan nenek Amanda. Ia juga akan memindahkan makam neneknya. Tapi Wina meminta pada Ayahnya untuk tidak melakukannya. Lagi - lagi Ayahnya tidak perduli.
Masalah itu pun diketahui Denis. Denis meminta pada Wina agar mengembalikan apa yang menjadi milik Amanda. Dan ia mencoba melarang mertuanya itu, dan lagi - lagi Ayah mertuanya itu tidak perduli.
Denis sangat kecewa pada keluarga Wina. Denis tidak menyangka kalau keluarganya bisa setega itu pada orng lain. Denis mencoba memberitahukan masalah itu kepada Ayahnya, karena Ayahnya adalah lurah di desa tersebut.
Ayahnya tidak mau ikut campur masalah besannya sendiri. Ia lebih baik diam. Karena sikap Ayahnya yang seperti itu, Denis pun sangat kecewa.
Siang itu Pak Bagas melihat tanah peninggalan nenek Amanda. Dengan sombongnya ia mengatakan pada warga sekitar akan membongkar makam nenek Amanda.
" Pak Bagas, itu tidak boleh dilakukan Pak, itu haram hukumnya memindahkan makam orang yang sudah meninggal. " ucap salah satu warga sekitar.
" Alahhhh...sok tahu kamu, kamu itu ga usah ikut campur. Ini hak saya, tanah ini sudah jadi milik saya. Rakyat jelata seperti kamu ga pantas ikut campur. Ngerti ?"
" Tapi, Bapak bisa berdosa lho !"
" Dosa ? kamu bicara dosa sama saya? hey, ngaca dong kamu, kamu itu gimana? makan aja susah sok ngurusi dosa orang. "
" Terserah Bapak, yang penting kami sudah mengingatkan kalau perbuatan Bapak itu tidak baik. Kami sadar kok Pak, Bapak itu ga ada lawan, biasanya rentenir kan gitu, "
" Emang kenapa kalau saya rentenir? awas kamu ya kalau kamu itu minjam uang sama saya !"
" Ga akan Pak. Saya ga akan pernah minjam uang sama Bapak, sekali pun hidup saya susah. Permisi !"
Mendengar ucapan salah satu warga itu, Pak Bagas pun semakin emosi. Merasa di tantang, ia pun menyuruh bawahannya untuk menghabisinya.
Semua warga di desa menghujat atas kelakuan Pak Bagas. Hingga semua menyalahkan Pak Lurah, karena tidak mau memberikan sanksi pada besannya sendiri.
****
Diam - diam Ayah Denis memberitahukan masalah ini pada Denis. Denis pun geram mendengar kelakuan Ayah mertuanya. Sebagai sasarannya, ia memarahi Wina.
" Kamu bilangin dong sama Ayah kamu itu, hentikan semua perbuatan konyolnya. Ayah kamu itu tega banget jadi orang, emang ga takut karma. "
__ADS_1
" Biarin aja deh mas, ngapain juga kita ikut campur. Itu masalah Ayah bukan masalah kita. "
" Oh gitu, jadi masalah orang tua mu hanya masalah mereka aja, bukan masalah kita juga? pikiran kamu dimana sih ? kamu waras ga sih ?"
" Cukup mas Denis, mas Denis itu terus membela Manda, emang apa sih istimewanya Manda?"
" Kamu mau tahu apa istimewanya Manda? Manda itu anak yang sederhana, tidak sombong seperti kamu. Sikap kamu dan Manda itu sangat jauh, jauh sekali."
" Ohh...jadi mas uda mulai ngebela Manda? uda mulai mau ngebandingin istrinya sendiri dengan wanita lain?"
" Maaf Win, saya bukan mau ngebandingin kamu dengan Manda. Tapi kenyataannya, emang benarkan ?"
" Bilang aja, kamu sebenarnya suka sama Manda,"
" Ia, dari dulu saya suka sama Manda, bukan sama kamu. Kamu mau tahu kenapa saya bisa suka sama Manda? Manda itu terbaik, ga ada yang sebaik hati Manda. Tidak dengan kamu. Kita itu menikah bukan berdasarkan cinta, tapi karena paksaan orang tua saya. Ayah saya sakit - sakitan, beliau berharap saya segera menikah, menikah dengan kamu. Semua saya turuti agar Ayah saya bisa sembuh, bisa sehat kembali. Saya lah yang bodoh, mau menikah dengan kamu. Saya pikir dengan adanya pendidikan mu yang tinggi membuat diri mu lebih baik, tapi nyatanya nol. Beda dengan Manda, walaupun ia tidak punya pendidikan yang tinggi, tapi ia lebih bermoral dari pada kamu. Dibilang menyesal, ia. Saya sangat menyesal menikah dengan kamu. Itulah kesalahan terbesar saya, tidak mengenali siapa calon istri saya, saya langsung nurut apa kata kedua orang tua saya. Kalau kamu mau ngadu masalah ini sama Ayah kamu, silahkan, saya ga perduli. Saya ga takut sama Ayah kamu, sekalipun Ayah kamu itu katanya terkenal dengan galaknya, premannya. Tapi bagi saya, saya ga takut, ga perduli. Silahkan aja !"
" Kurang ajar kamu mas, kamu lancang ngomong seperti itu sama saya? istri kamu sendiri ?"
" Kamu yang kurang ajar, kamu sama seperti Ayah kamu, ga ada hati."
Denis pergi meninggalkan Wina. Ia masuk kedalam kamar, mengambil bantal dan selimut.
" Saya mau tidur di kamar bawah. " ucap Denis dengan kesalnya. Wina menangis, ia tak menyangka jika suaminya berkata seperti itu. Ternyata Denis tidak mencintainya.
Merasa di abaikan, Wina menangis histeris. Denis tidak perduli, ia semakin gerah akan sikap Wina yang tidak bisa diingatkan.
****
Amanda selesai memasak mie instan untuk atasannya itu. Ia mencoba memanggil Lingga dari bawah. Lingga mendengarkan kalau Amanda memanggilnya. Lalu ia pun turun. Amanda sangat takut kalau mie buatannya tidak enak.
" Pak, mie nya uda masak, Pak. Silahkan dimakan !"
" Awas kalau ga enak !"
Amanda terdiam. Ia masih berdiri mematung sambil melihat bos nya itu memakan mie masakannya itu. Karena mie masih dalam keadaan panas, Lingga meniupnya perlahan - lahan. Ia mencoba memakannya, wajahnya datar - datar saja. Tidak ada reaksi sama sekali.
" Pak, gimana mie nya ?"
" Biasa aja !" jawab Lingga ketus
__ADS_1
" Ohh..."
Lingga mencoba melirik Amanda. Wajah Amanda tampak sedih sekali. Lingga mengambil sendok garpu, ia memberikan sendok itu pada Amanda.
" Nih sendoknya, kita makan bareng !" tawar Lingga.
Amanda pun sangat terkejut. Ia menolaknya.
" Ma..maaf Pak, terimakasih !"
" Kenapa kamu ga mau?"
" Saya uda makan kok Pak, tadi bareng Rani !"
" Saya ga perduli kamu uda makan, saya mau kamu itu makan lagi bareng saya, ngerti ga sih ?"
" Tapi saya masih kenyang, Pak !"
" Ga ada kenyang - kenyang, sini duduk dekat saya, kita makan bareng !"
Jantungnya semakin berdetak kencang. Wajahnya memerah seperti kepiting yang direbus. Keringat dingin mulai mengguyur seluruh tubuhnya. Kedua tangannya mulai ketar - ketir.
" Pak ?"
" Duduk, saya bilang duduk !"
Ketika Amanda mau duduk, tiba - tiba Rani datang.
" Manda ? kita uda bisa pulang belum ?"
Sontak saja Amanda merasa tenang dan tertolong akan kehadiran Rani. Amanda menoleh ke arah Rani, ia mencoba tersenyum.
" Manda, kok wajah mu pucat sekali ? kamu kenapa? kamu sakit ?"
Amanda hanya menganggukkan kepalanya.
" Pak, lihat ni karena kelakuan Bapak, Manda jadi sakit. Tanggung jawab dong Pak !"
" Sakit apa kamu Manda? keknya Manda biasa - biasa aja !"
__ADS_1
" Pak, kami ijin pamit ya, di kosan masih banyak kerjaan." pinta Amanda.
Lingga melihat kedua mata Amanda yang benar - benar sudah tampak kelelahan. Ia pun menganggukkan kepalanya. Amanda dan Rani sangat senang sekali, akhirnya mereka berdua di ijinkan kembali pulang.