
Ibu Sekar mengunjungi Nadine. Ia ingin tahu keadaan Nadine dan kehamilannya.
Petugas lapas itu memberikan ijin Nadine untuk bertemu dengan Ibu nya.
" Nadine, hiks...hiks...hiks...hiks...!"
" Mama ?"
" Gimana kabar kamu, nak ?"
" Baik, ma !"
" Kamu sekarang kurusan, gimana dengan kandungan mu ?"
" Semuanya baik - baik aja, ma !"
" Gimana keadaan mas David, ma ?"
" Dia sehat, tadi katanya dia lagi sibuk, ada kerjaan."
" Ma, kapan saya bisa bebas, ma ?"
" Ntahlah nak, Lingga ga mau mencabut masalah ini,"
" Apa ? sombong sekali dia, ma !"
" Ia, dia terlalu angkuh, tapi mama dan papa akan terus berusaha membebaskan mu. David juga sedang berusaha mencari pengacara yang handal untuk kamu, supaya kamu cepat bebas, nak !"
Nadine menangis.
" Ini semua salah saya, ma !"
" Ga, sayang. Ini bukan salah kamu. Ini salah Lingga dan Amanda. Mereka lah penyebab ini semua. Coba saja, kalau Lingga itu perduli sama kamu, dan tidak ada Amanda dalam hubungan kalian, pasti semua akan baik - baik aja. Mama ga akan pernah terima karena Lingga dan Amanda telah membuat kamu seperti ini. "
" Ia, ma. Saya ga akan tinggal diam, selepas saya bebas dari tahanan ini, saya akan membalaskan dendam saya ma."
" Kamu tenang aja, nak. Mama akan membantu kamu, Lingga dan Amanda tidak akan tenang dalam hidupnya. Mereka berdua akan sengsara, sengsara selama hidupnya. "
Ibu Sekar dan Nadine pun berpelukan.
Alvan sudah mengetahui tentang siapa Amanda. Ia takut kalau anak dari istrinya itu akan memperalat Sekar, istrinya.
Alvan akan mencari cara gimana bisa menjauhkan Amanda dengan ibu nya. Alvan sangat muak dengan sikap Amanda apalagi Lingga.
Alvan tidak akan pernah bisa membiarkan ini semua, ia akan membuat Amanda dan Lingga menyesal seumur hidupnya karena telah sombong kepadanya.
****
Selama tinggal di desa, Lingga merasa betah. Apalagi dekat dengan rumah nek Ijah, ada sebuah sungai yang yang sangat jernih sekali airnya, membuat Lingga semakin betah tinggal disana.
Sore itu, kegiatan warga desa yang tidak mempunyai kamar mandi, mereka harus pergi ke sungai untuk melakukan kegiatan, seperti mandi, mencuci pakaian.
Amanda membantu nek Ijah. Amanda lah yang mengambil alih tuk sementara.
Lingga membantunya. Mereka pergi ke sungai yang tidak begitu jauh dari rumah nek Ijah.
Bukannya membantu Amanda, Lingga malah bermain air, dikarenakan pria tampan itu jago renang.
" Mas, hati - hati, banyak batu licin !" ucap Amanda merasa khawatir akan Lingga.
" Ia sayang, " jawab Lingga.
Lingga terus berenang, sementara Amanda sibuk dengan cuciannya.
" Manda !" Amanda di kagetkan dengan suara ibu nya Denis.
" Ibu ? ibu apa kabarnya ?"
" Sehat, kamu gimana ?"
" Sehat juga, bu! "
" Manda, ibu dengar kamu akan menikah ya ?"
" Ia, bu."
" Kenapa kamu ga mau sama Denis ?"
" Maaf bu, tapi mungkin kita belum berjodoh, bu !"
__ADS_1
" Apakah kamu yang ga mau ?"
" Bu, bukannya saya ndak mau, tapi mas Denis mencari yang terbaik untuknya, "
Ibu Denis menangis.
" Ini semua salah ibu, Manda. Coba aja dulu ibu itu merestui kalian, pasti kalian akan bahagia. Maafkan ibu nak, kalau dulu ibu itu terlalu mencari yang sempurna, hingga melupakan arti bahagia anak ibu sendiri."
" Ibu jangan sedih, pasti nanti mas Denis akan menemukan wanita yang benar - benar baik bu, "
" Ibu menyesal Manda, dulu ibu pernah jahat sama kamu, "
" Ibu, ibu ga boleh ngomong gitu. Yang berlalu biarlah berlalu. "
" Oh ya , mana calon suami mu ?"
" Disana bu, lagi renang. Oh ya, mas Lingga itu kenal baik dengan mas Denis lho bu, mereka pernah kerja sama dalam pekerjaan."
" Oh ya ? wahh...ibu jadi penasaran, Manda !"
" Nah...itu mas Lingga !"
Lingga tersenyum kepada ibu Denis .
" Mas, kenalin, ini ibu nya mas Denis, mas !'
" Oh ya, saya Lingga, bu. "
" Wahh...calon suami mu tampan sekali, Manda ! hhmm..pantesan aja, kamu lebih naksir ke Lingga dari pada Denis, hehehe..!"
Amanda dan Lingga saling berpandangan. Lingga dan Amanda pun tersenyum.
" Lingga dan Amanda, jangan sungkan mampir kerumah, ibu pamit ya !"
" Inje bu, !"
Ibu Denis pergi. Lingga duduk di sebuah batu yang cukup besar.
" Turun, mas. Nanti jatuh !"
" Ga ah, biarin aja jatuh !"
Amanda tersenyum.
" Biar aja deh,"
Amanda menghampiri Lingga.
" Kenapa, mas ?"
" Ternyata banyak juga ya yang suka sama kamu di desa ini ?"
" Hahaha, suka gimana ?"
" Ya itu buktinya, ibu nya Denis pengen kamu itu jadi mantunya, tapi kamu ga mau."
" Oh jadi karena itu, mas jadi ngambek gini ?"
" Ga, saya ga ngambek. Biasa aja lagi !"
" Yakin ? ya uda, kita pulang ya, hari mulai gelap, mas. "
Lingga melihat kalau Amanda mengangkat ember yang berisikan cucian pakaian itu. Ember itu terasa berat. Lingga langsung mengambilnya dari tangan Amanda.
Amanda tersenyum.
" Ga usah senyum - senyum gitu !" ledek Lingga pada Amanda.
" Nopo to mas ?"
Lingga terus berjalan, tanpa memperhatikan Amanda yang agak kesusahan berjalan dikarenakan banyak batu - batuan.
Dan tiba - tiba saja Amanda terjatuh.
" Aaawwwwww....!" teriak Amanda.
Lingga langsung menoleh.
" Mandaaaaa....!" Lingga meletakkan ember yang berisikan cucian kain itu.
__ADS_1
" Sakitttt.....!"
" Kok bisa jatuh ? makanya hati - hati kalau jalan."
Amanda menangis, karena kaki sebelah kanannya terkilir. Lingga mencoba mengurutnya, bukannya tambah sembuh, malah tambah sakit dan bengkak.
Lingga sangat khawatir, ia pun memapah Amanda ke tepian.
Nek Ijah pun marah pada Lingga, Lingga tidak bisa menjaga Amanda dengan baik.
Merasa disalahkan Lingga hanya bisa diam. Malam itu, Amanda langsung dibawa ke tukang urut agar kakinya bisa sembuh kembali.
" Besok kalian belum bisa pulang, kaki Amanda masih bengkak !" ucap nek Ijah.
" Ia nek, " sahud Lingga
Amanda terus menangis. Kakinya semakin sakit dan bengkak. Lingga pun tidak tenang.
" Maafkan mas, Manda !" ucap Lingga sedih.
" Maaf untuk apa ? ini kan salah saya to mas !"
" Mas yang salah, Manda. Harusnya, mas itu bisa jagain kamu,"
Amanda tersenyum.
" Ga papa kok, paling besok uda sembuh, mas ."
Malam itu sangat dingin sekali. Lingga tidak bisa tidur, ia sangat gelisah. Ia melihat Amanda sudah tertidur pulas.
Lingga mengambil ponselnya. Ia sibuk dengan ponsel itu. Banyak pesan masuk dari mamanya.
Lingga mengirimkan pesan pada mama nya itu. Ia memberitahukan kalau ia sedang di luar kota.
Lingga kembali melihat Amanda. Ia merapikan selimutnya yang sudah mulai tak beraturan.
Amanda melihat kalau Lingga tidak bisa tidur sama sekali.
" Mas !"
" Kamu kenapa bangun ?"
" Kenapa mas ga tidur ? kasurnya kurang empuk ya ?"
" Ga sayang. Mas belum ngantuk aja, kamu tidur lagi gih !"
Wussshhhh...wusshhh...wusshhhh....
" Itu suara apa ?" tanya Lingga penasaran.
" Angin diluar sangat kencang sekali,"
" Pantasan aja dingin banget. "
" Pakai selimutnya mas, biar ga dingin !"
Lingga menganggukan kepalanya.
" Gimana kaki kamu ?" tanya Lingga
" Uda agak baikan kok,"
" Berarti besok kita bisa pulang kan ?"
" Mas uda ga betah disini ?"
" Bukan gitu, mama dan papa mau datang,"
" Oh gitu, ya uda besok kita pulang. "
" Ya uda kita tidur , pengen dipeluk !" ucap Lingga.
" Ga ah..males !"
Merasa kesal, Lingga langsung memeluk Amanda.
" Mas....kakinya kena. Sakit, tau !"
" Hahaha..maaf..maaf...!"
__ADS_1