
" Pak, gimana dong ! satu pun ga ada mau menggantikan saya !" ucap Vera, sekretarisnya itu.
" Semua ga sesuai kriteria saya, Ver !"
" Pak, sebulan lagi lho saya lahiran, kalau gini caranya gimana saya mau istirahat, Pak ? yang lain juga pada ga mau menggantikan saya. Pak, gimana kalau perempuan yang terakhir itu aja, Pak ?"
" Maksud kamu, perempuan yang membawa tumpukan sampah itu?"
" Pak Lingga, itu bukan tumpukan sampah, Pak !"
" Kamu tahu dari mana itu bukan tumpukan sampah?"
" Pak Irwan yang kasih tahu. Itu tas tempat pakaiannya. Namanya Amanda, dia baru datang dari desa. Dia butuh sekali pekerjaan, Pak. Dia anak yang sopan, punya tutur kata yang baik. Kenapa ga dia aja?"
" Oh namanya Amanda? kamu tahu, dia tamatan apa? hanya tamatan SMP. Kamu pernah mikir ga sih, saya punya sekretaris hanya tamat SMP?"
" Pak, jangan pernah memandang pendidikan orang, Pak ! bisa aja dia hanya tamatan SMP, tapi sebenarnya dia punya otak yang pintar. Bisa aja kan, mungkin orang tuanya ga mampu nyekolahin dia. Saya janji Pak, saya akan mengajari nya sampai dia benar - benar bisa."
" Gila kamu, Ver !"
" Pak, saya yakin, Amanda pasti bisa !"
" Terserah kamu !"
Akhirnya Vera pun dapat bernafas lega. Vera dan Pak Irwan security kantor itu langsung keluar mencari Amanda.
Tapi sayangnya mereka tidak menemukan Amanda lagi. Amanda sudah pergi jauh.
Vera sangat kecewa. Banyak yang tidak mau menggantikan posisinya dikarena kan Pak Lingga, pimpinan perusahaan itu yang sangat protektif, tidak boleh salah dalam pekerjaan, harus cekatan. Disamping itu juga Pak Lingga adalah orang yang sombong dan sangat angkuh.
Dia tidak perduli memarahi pegawainya di depan orang banyak, bahkan di depan klien sendiri. Maka dari itu, semua orang takut padanya.
Vera dan Pak Irwan kembali ke kantor. Vera merasa kecewa sekali. Sebulan lagi ia akan lahiran. Pak Lingga tidak perduli mau lahiran atau tidak, yang penting baginya semua pekerjaan kantor selesai. Hanya Vera lah yang berani berbicara tegas pada pimpinan perusahaan itu.
Lingga melihat Vera masuk keruangannya dengan wajah yang teramat sedih. Ia pun menghampirinya.
" Apa saya bilang, perempuan yang membawa tumpukan sampah itu ga layak kerja disini, jadi OG aja pun ga layak apalagi jadi sekretaris saya !"
Vera menangis.
__ADS_1
"Pak, dia bukan membawa tumpukan sampah !"
" Terserah !"
Lingga pergi meninggalkannya. Ia sampai lupa makan siang hanya karena mengurusi pelamar kerja. Ia pun segera keluar mencari makan siang karena perutnya sudah tidak bisa di ajak kompromi lagi.
Di perjalanan ia melihat Amanda. Amanda duduk di halte bis. Amanda memegangi perutnya yang sedang lapar.
" Itukan perempuan yang membawa tumpukan sampah itu !" gumam Lingga.
Lingga melanjutkan perjalanannya. Ia tidak perduli pada Amanda. Tibalah ia disebuah resto, disanalah ia menghabiskan waktu makan siangnya.
Siang itu mulai mendung. Tiba - tiba saja hujan datang sangat derasnya. Amanda pun kalang kabut mencari tempat untuk berteduh. Amanda melihat ada seorang anak kecil yang sedang membawa beberapa payung.
" Kamu jual payung ya?" tanya Amanda pada anak kecil itu.
" Ga kak, saya jadi joki payung."
" Apa itu joki payung ?"
" Menawarkan jasa payung kak untuk pengguna jalan biar tidak kena hujan !"
" Boleh kak, ini payungnya dan ini jas hujan kakak, agar baju kakak tidak basah.
" Makasih ya !"
Akhirnya Amanda dan anak kecil itu mulai menawarkan jasa payungnya pada orang - orang yang membutuhkannya.
Walaupun memakai jas hujan, baju mereka pun basah kuyub juga. Mereka tidak perduli basah - basahan, yang penting bagi mereka, mereka punya penghasilan dan bisa makan.
Lingga selesai makan, ia melihat kalau hujan sangat deras. Mau tak mau ia harus kembali ke kantor, karena banyak pekerjaan yang menumpuk. Ia tak mau menunggu sampai hujan reda.
Lingga mencari - cari joki payung. Lingga memanggil salah satu joki payung untuk mengantarkannya ke area parkir.
" Joki payunggggg....!" panggil Lingga tanpa melihat jelas orang yang dipanggilnya.
Ternyata Amanda mendengar kalau ada yang memerlukannya. Amanda berlari karena didepan ada mobil yang sedang lewat, Amanda terkena siraman air di jalan sehingga ia tidak melihat pria yang berdiri di hadapannya.
" Ini payungnya, Pak !" ucap Manda sambil memberikan payungnya dan mengusap - usap matanya.
__ADS_1
Karena hujan yang begitu deras, Lingga tidak lagi mengenali suara Amanda. Amanda mengantarkannya sampai ke area parkir resto tersebut.
Lingga pun masuk kedalam mobil mewahnya.
" Berapa ?" tanya Lingga pada Amanda.
Amanda pun terkejut melihat pria yang di antarnya. Ternyata laki - laki sombong yang telah menghinanya tadi dikantornya.
Amanda sangat kesal. Tapi mau tidak mau ia harus menerima uangnya.
" Terserah Bapak aja !" ucap Manda
Lingga memberikan uang 100.000 pada Amanda.
" Pak, ini ga ada kembaliannya !" ucap Manda.
Lingga belum sadar kalau di hadapannya itu adalah Amanda. Lingga masih sibuk mengeringkan baju nya yang terkena percikan hujan itu.
" Ga papa , itu buat kamu aja !" ucap Lingga
" Makasih banyak ya, Pak !"
Amanda pun langsung berlari meninggalkan pria sombong itu. Hujan pun mulai reda. Amanda dan anak kecil itu duduk di halte bis sambil menghitung pendapatan mereka satu hari ini sebagai joki payung.
Lingga pun meninggalkan resto itu, lagi - lagi ia melihat Amanda bersama seorang anak kecil yang sedang menghitung uang. Baju Amanda basah kuyup begitu juga baju si anak kecil itu.
Lingga pun kaget. Dalam benaknya apa mungkin ia tadi memesan jasa joki payung yang tak lain adalah Amanda ?
Lingga pun berlalu, ia pergi. Tapi dalam benaknya selalu ada nama Amanda. Sampai dikantor pun ia tidak bisa fokus. Selalu saja ingat nama perempuan yang ia sebut pembawa tumpukan sampah.
Karena merasa telah di tolong, akhirnya Lingga luluh juga. Ia meminta pada Vera untuk memberikan ijin pada nya agar mau mengajari Amanda.
Mendengar ucapan Bos nya itu, Vera pun sangat senang sekali. Ia berjanji akan mengajari Amanda.
Sore itu Lingga buru - buru pulang dari kantor. Semua para pegawai sangat heran. Ada apa gerangan hingga membuat bos mereka itu cepat pulang dari kantor. Biasanya Lingga lah paling akhir kalau pulang. Terlalu cepat sampai dirumah juga tidak ada artinya. Karena Lingga jauh dari kedua orang tua nya.
Kedua orang tuanya tinggal di London. Disana mereka juga mempunyai sebuah perusahaan. Mau tak mau Lingga harus jauh dari keluarganya. Lingga lah penerus pewaris kekayaan keluarga Ningrat.
Banyak wanita yang tergila - gila padanya, tapi tak lain mereka mengincar hartanya juga. Lingga benar - benar mencari calon istri yang sesuai kriterianya. Bibit, bebet dan bobotnya harus benar - benar di perhitungkannya. Dan sampai sekarang belum ada wanita yang benar - benar di hatinya.
__ADS_1
Kedua orang tuanya juga sudah mendesak agar Lingga segera menikah, tapi Lingga selalu mengabaikan permintaan orang tua nya. Dengan alasan belum ada yang pas.