
" Manda, kamu kenapa ? kenapa kamu ga mau menjawabnya ? apa karena saya pernah menikah dengan Wina ?"
Amanda menggelengkan kepalanya.
" Jadi karena apa dong ? kasih tahu sama saya biar perasaan kamu lega "
" Saya takut mas, saya takut kalau mas Denis jadi membenci saya,"
" Saya janji, saya ga akan membenci kamu, tapi kasih tahu apa alasan kamu tidak mau menikah dengan saya !"
" Saya ? hhmm...saya, saya ga perawan lagi mas, hiks..hiks..hiks...!" Amanda pun menangis. Denis terdiam dan ia pun terkejut mendengarkan penjelasan Amanda.
" Ga perawan lagi ? siapa yang uda berani menodai kamu ? jawab Manda !"
Amanda terus menangis. Ia sangat ketakutan.
" Manda, jawab saya, siapa yang uda berani menodai kamu, sampai kamu harus ditinggalkan seperti ini ? jawab Manda !"
" Hikss...hikssss..hikssss...hiksss...Li - Li - Lingga, mas !"
" Apa, Lingga ? Lingga Prabu Nigrat ?"
Amanda menganggukan kepalanya. Merasa tidak percaya, tapi Amanda tidak mungkin berbohong. Denis sangat geram, ternyata Lingga yang uda menodai Amanda. Denis mengepalkan kedua tangannya, ia sangat kecewa pada Lingga, ia tak menyangka kalau temannya itu bisa berbuat seperti itu.
" Maafkan saya mas, saya terlalu bodoh untuk percaya sama mas Lingga, "
Denis hanya diam, ia tak dapat berkata apa - apa. Ia sangat menyayangkan akan kepolosan Amanda.
" Manda, kenapa kamu ga minta pertanggung jawaban Lingga ? kenapa kamu hanya diam aja? kenapa ?''
" Dulu mas Lingga akan berjanji menikahi saya mas, setelah kejadian kecelakaan itu, mas Lingga harus ke Amerika. Mas Lingga pun menyuruh saya untuk menjauhinya dan sekarang sudah setahun lamanya mas Lingga ga ada kabar lagi. Saya ndak mungkin to mas terlalu berharap, saya sadar mas, saya ini siapa, saya ndak mungkin mengharapkan mas Lingga lagi, apalagi Ibu Nania tidak menyukai saya, Ibu Nania juga menyuruh saya untuk menjauhi mas Lingga. Saya pasrah mas, semuanya saya serahkan sama Tuhan, bagaimana pun jalan hidup saya, saya uda ikhlas. "
" Kamu ga boleh nyerah gitu aja Manda!"
__ADS_1
" Siapa yang pengen punya nasib begini mas, ga ada yang mau kan ? saya ndak bisa berbuat banyak mas. Mas Denis bisa ngomong ga boleh nyerah, tapi saya ndak kuat mas. Banyak masalah yang saya hadapi, belum lagi Ibu Sekar,"
" Kenapa lagi dengan Ibu Sekar ?"
" Ibu Sekar itu adalah Ibu saya, mas. Ibu yang melahirkan saya, Ibu yang uda ninggalin saya dan nenek,"
" Ibu kamu ? Ibu Sekar ibu kamu? ibu kandung kamu ??"
" Ia mas Denis. Ibu Sekar itu Ibu kandung saya, "
" Bagaimana mungkin ?"
" Ya itulah kenyataannya, waktu lah yang menjawab semuanya mas."
" Itu artinya Nadine itu adalah ?"
" Saudara tiri saya, mas. Adik tiri saya,"
" Apakah Nadine uda tahu masalah ini ?"
Amanda menggelengkan kepalanya.
Amanda pun kembali menangis.
" Pengen curhat masalah hati ini, tapi saya ndak tahu harus ke siapa, saya ga punya siapa - siapa. Sakit rasanya hidup sebatang kara, ga ada yang mau tahu, ga ada yang mau perduli. Hancurnya saya, ya hanya saya yang tahu, sakitnya saya, ya hanya saya yang tahu. Bahagianya saya, hanya saya yang tahu. Pengen kek orang - orang mereka bahagia, bisa tertawa tanpa beban, sedangkan saya, tertawa aja kadang ga sanggup, berat beban yang harus saya pikul. Gimana nanti kalau saya uda tua, apakah ada orang yang mau menolong saya?"
" Kamu ngomong apa sih Manda ?"
" Bener to mas? saya ini hanya sendiri, saya ga tahu gimana nanti hidup saya. Ibu aja lebih sayang sama Nadine. Bener kata ibu, saya ini hanya buat masalah, jadi ngebebani orang,"
Tangis Amanda pun pecah.
" Ga boleh ngomong gitu, semua orang itu sudah ada jalannya masing - masing. Mungkin kamu sekarang begini nasibnya, ga tahu kan kedepannya gimana ?"
__ADS_1
" Mas Denis, mas Denis pikir - pikir lagi lah kalau cinta sama saya, saya ga guna mas, saya hanya bisa membuat orang menjadi tambah beban. Saya ga mau kalau seseorang itu cinta sama saya hanya karena modal kasihan, iba sama saya. Saya ndak mau mas. Mas Denis itu orang yang berpendidikan, pasti tahulah mana yang terbaik untuk mas Denis. Saya takut mas, suatu hari nanti ada rasa penyesalan dalam diri mas Denis. "
Denis hanya bisa diam. Ia menarik nafasnya dalam - dalam. Ia menatap wajah cantik itu. Denis benar - benar sangat prihatin akan kehidupan Amanda. Terlantar dari kecil, tidak pernah mendapatkan kasih sayang dari orang tua, kebaikan dan kepolosannya di salah gunakan orang lain yang tidak berperilaku kemanusiaan. Sungguh sangat disayangkan.
Ingin Denis merangkulnya, tapi mengingat perlakuan Lingga terhadapnya, Denis merasa enggan.
Bagaimana mungkin Denis bisa menerima Amanda yang sudah tidak suci lagi ? butuh waktu yang lama untuk berpikir apakah ia bisa menerima Amanda begitu saja.
Amanda, wanita yang kuat dan penuh kesabaran, ia juga tidak mau terlalu berharap pada Denis. Amanda sadar siapa dirinya. Sekalipun Denis mencintainya, menyayanginya, ia takut dikemudian hari akan ada masalah yang menimpa hubungannya.
" Manda, maafkan saya,"
" Ga papa mas, saya tahu apa yang mas rasakan."
" Yakinlah pasti kamu akan menemukan laki - laki yang tepat untuk mu, "
" Ia mas. Saya yakin itu. Kalau pun saya tidak menemukannya, saya hanya ingin saya itu bahagia dengan hidup yang saya jalani. Mas Denis itu pasti bisa menemukan wanita yang lebih baik dari saya, yang setara dengan mas Denis. Bener, to ?"
" Bukan itu masalahnya Manda, tapi Lingga. Kamu harus bisa kembali sama Lingga, karena biar gimana pun dia harus tanggung jawab, dia yang uda mengambil kehormatan mu, "
Amanda terdiam. Amanda kembali menangis.
" Ga mas, saya ga mau terlalu berharap. Mas Lingga uda ninggalin saya, "
" Ga Manda, dia harus tanggung jawab semua yang uda dia perbuat sama kamu,"
" Mas Denis, saya hanya percaya takdir. Kalau takdir harus saya dan mas Lingga bersama, apa boleh buat, kalau pun tidak, ya saya harus terima, tapi saya ga akan terlalu berharap."
Denis pun langsung memeluk Amanda. Denis merasa sangat kasihan pada wanita itu. Ia dapat merasakan apa yang di rasakan Amanda.
" Kalau kamu pengen cerita, cerita sama saya, saya siap membantu semua masalah kamu, "
" Inje mas, matur suwon ya mas, hiks ...hiks...hiks..hiks.."
__ADS_1
Air mata Denis pun mengalir. Sebenarnya Denis benar - benar cinta mati kepada wanita itu. Ntahlah, apakah Denis akan menerimanya atau tidak. Denis perlu waktu bisa menerima Amanda. Bukan karena perawan atau tidaknya Amanda, tapi demi kehormatannya, ia ingin Lingga bertanggung jawab atas semua ini. Denis berjanji akan mencoba membantu Amanda, jika tidak ada niat baik dari Lingga, Denis lah yang akan menggantikan posisi Lingga.