
Sore hari pun tiba. Lingga segera pulang. Ia membawa semua pekerjaannya kerumah. Rasa capek terlihat dari wajahnya.
Begitu melihat Lingga sudah pulang, Amanda langsung mengambilkan air hangat untuk majikannya itu.
" Silahkan diminum, Pak !" titah Amanda.
" Makasih ya !"
" Pak, ruangan kerja Bapak uda rapi. Lain kali jangan buang sampah sembarangan ya, Pak !"
Lingga hanya diam. Tidak ada jawaban ia atau tidak dari mulutnya. Lingga segera naik ke atas. Jam sudah menunjukkan pukul 19.00 malam, saatnya Lingga makan malam. Setelah selesai, ia langsung menuju ruang kerjanya.
Ia melihat kalau ruang kerjanya sudah tampak bersih dan wangi. Semua tertata rapi. Lingga tersenyum. Ia memulai pekerjaannya. Lingga melihat laptop nya juga sudah bersih. Ia pun menyalakannya, tapi tidak mau juga hidup. " Mungkin habis baterai," gumam Lingga.
Lingga langsung mengambil charger laptop itu, dan ia langsung menyambungkan ke stop kontak listrik dan alhasilnya...
Duaaarrrrrrrr........laptop itu pun hancur berkeping - keping.
Ternyata masih ada sisa air yang ada didalam laptop. Laptop itu tidak benar - benar kering. Lingga sangat terkejut. Ia pun bertanya - tanya mengapa laptop nya bisa hancur seperti ini.
Lingga langsung memanggil Amanda. Karena Lingga tahu, pasti ada yang tidak beres waktu membersihkan laptopnya.
"Mandaaaaaaaaa.....!" teriak Lingga.
Amanda segera datang menemui Lingga. Ia sangat ketakutan. Wajahnya sudah tampak pucat. Baru kali ini ia mendengar namanya dipanggil dengan teriakan yang sangat kuat.
" Ya, Pak. Ada apa, Pak ?"
" Manda, saya mau nanya sama kamu, kamu tadi apakan laptop saya?"
" Laptop? laptop apa to, Pak?
" Sekarang kamu lihat, ini karena ulah kamu, ia kan?"
" Oh, ia Pak. Gini Pak, tadi itu saya cuci karena banyak debu di sela - sela hurufnya Pak !"
" Apa? kamu cuci? kamu cuci pakai apa?"
" Ya pake air to, Pak."
" Mandaaaaaa....kenapa kamu cuci? kan bisa hanya di bersihkan pakai vacum atau kemoceng,"
" Maaf Pak, soalnya kotor banget. Uda gitu kena tumpahan air sedikit, jadi ya saya bersihkan aja, Pak. Gemes saya, Pak. Ruangan Bapak juga kotor sekali, banyak sampah berserakan, sisa puntung rokok Bapak juga, jadi semua saya bersihkan. "
Mendengar penjelasan Amanda, Lingga langsung lemas. Lingga menarik nafas dalam - dalam. Ia duduk lemas tak berdaya. Di laptop itu lah semua masalah proyek yang akan ia kerjakan.
" Pak, maaf ya Pak, saya uda salah !"
" Kamu tahu di dalam laptop itu semua proyek yang akan saya kerjakan, kalau uda begini, gimana?"
Amanda hanya bisa diam.
" Jadi gimana, Pak?"
__ADS_1
" Sebagai hukumannya, gaji kamu saya potong !"
" Dipotong lagi, Pak?"
" Ia, kenapa?"
" Ga ada hukuman yang lain gitu, Pak?"
" Ga ada, sekarang kamu bersihkan semua ini."
Lingga langsung pergi meninggalkan ruangan kerja itu. Amanda menangis, lagi - lagi gajinya di potong. Ia sangat menyesal telah merusak barang milik majikannya itu.
Malam itu Lingga sangat gelisah sekali. Padahal besok pagi ada meeting penting dengan klien masalah proyek itu. Ia tidak tahu harus bagaimana. Mau marah tidak ada artinya.
Di dapur Amanda menangis. Bulan ini , ia sama sekali tidak ada pegang uang. Membeli keperluannya saja tidak bisa.
****
Didalam kamar, Ibu Sekar selalu menangis. Alvan, suaminya melihat kalau Sekar dalam keadaan tidak baik - baik saja.
" Ma, kamu kenapa nangis? ada masalah apa ? cerita dong ke Papa !"
Sekar hanya menggelengkan kepalanya.
" Ga ada, Pa !"
" Kalau ga ada masalah kenapa kamu menangis?"
" Mama kangen aja sama orang tua Mama !"
" Ga, Pa. Lagian Ibu juga ga ada lagi, "
" Ya uda kita nyekar aja !"
" Tapi Papa kan sibuk banget !"
" Ya uda lain kali aja kita perginya. Sekarang Mama jangan nangis lagi, Papa ga mau melihat istri Papa yang cantik ini nangis !"
Sekar pun tersenyum . Mereka berdua pun saling berpelukan. Ingin sekali rasanya Sekar memberitahukan masalah Amanda, tapi ia takut, ia tidak punya nyali untuk mengatakan siapa sebenarnya dirinya. Ia takut kalau suaminya akan meninggalkannya.
Sekar sudah sangat mencintai Alvan dan Nadine. Ia tidak mau dipisahkan karena Amanda. Sekar akan menutup rapat masalah ini.
****
Pagi itu Amanda telah menyiapkan sarapan pagi. Tapi Lingga tidak mau menyantap sarapan paginya. Lingga hanya diam.
" Pak, kenapa sarapannya ga dimakan? Bapak kan suka makan nasi goreng? lah, ini nasi goreng kesukaan Bapak, lho !"
Lingga memakai sepatunya , ia terus saja diam.
" Bapak masih marah ya? maafin saya ya Pak !"
Lingga tidak perduli dengan maaf Amanda. Begitu selesai memakai sepatu, ia pun langsung pergi.
__ADS_1
Tidak hanya sehari dua hari saja Lingga diam pada Amanda. Sudah hampir seminggu Lingga terus diam. Apa yang di masak Amanda tidak pernah sama sekali di makan. Sapaan Amanda juga tidak pernah dibalas. Amanda pun tahu apa yang harus ia lakukan, jalan satu - satunya ia keluar dari rumah itu.
Malam itu, Lingga dan Nadine lagi jalan. Amanda melihat mereka telah pergi. Amanda pun langsung bergegas memasukkan semua pakaiannya kedalam tas. Ia pun pergi dari rumah itu. Amanda kembali ke kosannya. Ia menceritakan pada Ibu Yani dan Rani masalah yang ia hadapi. Bukannya sedih mendengarkan cerita Amanda, Ibu dan anak itu malah tertawa terbahak - bahak.
" Kok Ibu dan Rani malah ketawa sih?"
" Hahahah....ia Manda, habisnya kamu lucu sih !"
" Nak, itu pelajaran yang sangat berharga buat kamu. Laptop itu barang elektronik, ndak boleh di cuci, nak !"
" Saya ga ngerti, Bu. Lah, saya pikir bisa to,"
" Hahaha....ya uda Manda, kalau Pak Lingga itu uda cuek sama kamu, itu tandanya dia itu ga menginginkan kamu ada dirumahnya."
" Ia ya, Ran. Itu jalan terbaik dikasih Tuhan ya Ran, "
" Ia, ya uda besok kita cari kerjaan kamu, kamu ga usah takut. Uang kos mu ga usah bayar, sampai kamu dapat kerjaan lagi."
" Bener Ran?"
" Tanya Ibu, gihh !"
" Bener to Bu?"
" Ia, Ibu maklum kok,"
" Matur nuwun ya, Bu !"
" Ia Manda, sami - sami !"
Akhirnya Amanda dapat bernafas lega. Ia bisa keluar dari rumah itu. Terkadang masalah lah yang membantu kita agar kita bisa terlepas dari apa yang tidak kita sukai.
Selesai dinner, Lingga langsung mengantarkan Nadine pulang.
" Mas, makasih ya buat dinner nya malam ini, saya ga nyangka lho, kamu itu ngajak dinner bareng !"
" Ia Nadine, sama - sama. Oh ya, besok liburkan? gimana kalau kita jalan - jalan !"
" Jalan - jalan? kemana?"
" Terserah kamu, maunya kamu kemana?"
" Saya juga bingung, kalau ngemall bosan, mas. Gimana kalau kita ke puncak aja !"
" Boleh, terserah."
" Makasih banyak ya mas !"
Nadine pun turun dari mobil itu. Perasaannya sangat senang sekali karena Lingga memperlakukannya dengan baik.
Lingga langsung pulang. Ia pun tiba dirumahnya. Lingga masih tak percaya kenapa Amanda bisa se ceroboh itu.
Lingga turun. Ia menekan bell rumah itu. Tapi Amanda tidak membukakan pintunya.
__ADS_1
" Kemana lagi anak itu? tadi uda di ingatin jangan lupa bukain pintu. Sekarang malah lupa, "
Lingga mencoba membuka pintu itu, ternyata pintunya tidak dikunci. Lingga pun semakin emosi, berani sekali Amanda tidak mengunci pintu rumah itu.