
Kehidupan Denis dan Wina...
Rumah tangga Denis dan Wina tidak bisa lagi dipertahankan, karena Wina semakin merajalela dengan perselingkuhannya. Akhirnya Denis mengambil langkah untuk menceraikannya.
Betapa sakit hatinya, ketika ia tahu kalau Wina telah menikah siri dengan seorang pengusaha asal timur tengah.
Air mata tak dapat dibendung, walaupun seorang pria, tapi ia punya perasaan, Denis menangis melihat keadaan rumah tangganya. Padahal Denis mencoba lebih sabar menghadapinya, tapi Wina lebih mencintai pria asing itu dibanding dirinya.
Kedua orang tuanya pun mengetahui masalah yang menimpa anaknya itu, mereka tidak dapat berbuat apa - apa. Mereka hanya bisa mendoakan Denis agar Denis selalu kuat. Rasa penyesalan pun datang, kedua orang tua Denis baru menyadari kalau sebenarnya tolak ukur manusia itu tidak hanya dari pendidikan nya saja. Wina, salah satu contohnya, wanita yang selalu dibanggakan, punya penghasilan sendiri, mempunyai pendidikan yang tinggi tidak menjamin dirinya bisa lebih baik.
Orang tuanya juga menyesal, selama ini mereka selalu merendahkan Amanda, yang nota benenya tidak mempunyai kehidupan yang layak, jangan kan mempunyai pendidikan yang tinggi, untuk makan saja pun Amanda harus berjuang hanya demi perut sejengkal.
Denis tidak akan pernah menyalahkan pilihan kedua orang tuanya, semua ini sudah jalan dari yang maha kuasa. Dari masalah ini, ia semakin belajar, memilih yang terbaik itu sangat sulit dan terkadang banyak rintangan yang harus di jalani. Kecantikan dapat dikalahkan dengan etika baik seseorang.
Pak Bagas, selaku orang tua Wina mendukung anaknya itu, karena pria asal timur tengah itu sangat mapan. Apa saja yang diminta Pak Bagas, pria itu langsung mengabulkannya.
Pak Bagas tidak perduli dengan perasaan Denis, menantunya. Baginya uang segalanya. Padahal Denis juga adalah seorang pengusaha yang terkenal, sangat mapan dan smart. Denis selalu melarang kalau mertuanya itu masih menjalankan rentenirnya, maka dari itu Pak Bagas tidak menyukai Denis.
Suatu hari, Denis merindukan Amanda. Ia mencoba menanyakan pada Lingga kabar Amanda. Tapi sayangnya Lingga menjaga jarak antara Amanda dengan Denis. Lingga juga menyembunyikan dimana Amanda tinggal. Ia tidak mau kalau Denis bakalan jatuh cinta pada Amanda. Karena bagi Amanda, Denis itu adalah pria yang sangat baik dan perhatian. Beda dengan dirinya, sedikit dingin.
Lingga menjawab kalau Amanda sudah tidak lagi tinggal bersamanya. Denis pun semakin sedih. Denis tidak tinggal diam, dia akan terus mencari keberadaan Amanda.
****
Keadaan Ibu Sekar.
Ternyata Ibu Sekar kepikiran dengan Amanda dan mantan suaminya. Ia ingin tahu bagaimana sekarang hidup mereka.
Sudah sangat lama juga, Ibu Sekar tidak bertemu dengan Amanda,apalagi dengan mantan suaminya itu.
Ibu Sekar masih menutupi masalah Amanda itu siapa. Tanpa sepengetahuan Nadine, Ibu Sekar pergi menemui Amanda. Tapi sayangnya ia tidak menemui Amanda di tempat kosannya itu.
Amanda tidak lagi tinggal di kosan milik Ibu Yani. Ibu Sekar mulai panik kemana perginya putri sulungnya itu.
Karena tidak bertemu dengan Amanda, Ibu Sekar pergi kerumah Nadine. Setelah menikah, Nadine dan Lingga tidak pernah sama sekali mengunjungi Ibu Sekar dan suaminya.
Nadine sangat merindukan Mamanya. Tangisan keduanya pun pecah ketika Nadine memeluk Mamanya itu. Mama Sekar sama sekali belum melihat kalau perut anaknya belum ada tanda - tanda kehamilan.
__ADS_1
" Nadine, apakah kamu baik - baik aja, nak ?"
Nadine hanya menganggukan kepalanya sambil menangis.
" Nadine, ada masalah apa ?"
" Ga ada, Ma. Ga ada masalah apa - apa. Semuanya baik - baik aja kok !"
" Kamu jangan bohong, nak. Mama tahu pasti kamu menyembunyikan sesuatu dari Ibu."
Nadine kembali menangis.
" Mas Lingga, Bu !"
" Kenapa dengan Lingga ?"
" Dia bukan laki - laki sempurna, "
" Nadine, manusia itu ga ada yang sempurna. Yang sempurna itu hanya Tuhan, nak !"
" Mas Lingga ga bisa kasih anak, Ma !"
" Saya menyesal menikah dengan laki - laki penyakitan,"
" Penyakitan gimana ?"
" Mas Lingga itu impoten, Ma. Dia ga bisa kasih saya nafkah bathin !"
" Apa ? apa yang kamu bilang, nak? kamu ga bohongkan ?"
" Nadine ga bohong, Ma. Untuk apa saya bohong sama Mama masalah ini, ga ada artinya, Ma."
" Jadi rencana mu apa, nak ?"
" Saya ga mau pisah dari mas Lingga, ma. Saya akan tetap bertahan. Saya ga perduli, walaupun dia ga bisa kasih nafkah bathin, yang penting semua aset perusahaannya bisa jatuh ke tangan saya, Ma. Bukan begitu, Ma ?"
" Nadine tapi dengan kehadiran anak di tengah keluarga itu yang sangat diharapkan, nak. Dengan cara apa pun itu yang penting bisa punya anak, apa kalian ga mau mengadopsi, atau program bayi tabung ?"
__ADS_1
" Saya ga mau, Ma. Saya ga mau capek ngurusi anak Lingga."
" Nadine, kamu itu uda dewasa, pasti kamu akan merindukan sosok suami yang perhatian. Jangan pernah jadi wanita yang munafik, wanita itu juga perlu belaian dari laki - laki, nak. "
" Ga, Ma. Nadine bisa bertahan, yang terpenting semua aset milik mas Lingga bisa jatuh ketangan saya. "
" Mama ga yakin, Lingga itu pintar. "
" Lebih pintar siapa, putri Mama yang cantik ini atau laki - laki tak berdaya itu ? hahaha, wajahnya aja tampan, tau - tau nya, ga bisa on di ranjang , wkwkwkw...!"
Ibu Sekar hanya diam. Ia tak tahu, apakah tindakan yang dia ambil Nadine itu benar atau salah.
****
Amanda pun sudah kembali dari rumah sakit. Ia menjadi lebih baik dan sudah merasa segar kembali. Lingga merasa senang, akhirnya Amanda sudah jauh lebih sehat. Kandungannya juga semakin sehat.
" Kamu harus janji, jangan pernah bersedih lagi, apapun yang terjadi, kita ngadapinnya sama - sama. Kita harus sama - sama berjuang. "
" Ia mas," jawab Amanda singkat. Lingga mengelus perut Amanda dan ia memberanikan dirinya untuk pertama kali mencium perutnya yang semakin hari semakin tambah besar itu.
Melihat sikap Lingga, Amanda heran tapi ia merasa sangat bahagia, Lingga dapat membahagiakannya.
" Kamu tahu ga, mas itu ?" Lingga tidak melanjutkan ucapannya.
" Kenapa ?"
" Ehhmm..mas uda ga sabar ingin jadi suami kamu !"
" Hahaha...!" tawa Amanda membuat Lingga semakin mencintainya.
" Lucu ya? oke...mas ga bisa menjadi seorang pujangga, hanya ini aja pun yang terucap, rasanya itu uda seperti kata - kata mutiara yang sangat berharga. Maaf, mas kamu ini ga bisa jadi pria romantis."
Amanda hanya tersenyum. Lingga mendekatkan dirinya. Ia langsung mencium bibir milik wanita cantik itu.
Perasaan Amanda semakin gugup, ritme jantungnya semakin cepat. Amanda pun mencoba membalas ciuman itu. Bayi yang ada didalam kandungannya mulai bergerak, gerakannya semakin cepat.
" Mas, anak kita gerak terus, heheheh...!"
__ADS_1
Lingga pun melepas ciumannya. Ia memegang perutnya.
" Ehhmm...dede cemburu ya? sayang, ini Papa, nak. Papa ga ngapa-ngapain kok, Papa cuma cium Mama kamu, aja. Boleh kan? Papa janji, kita akan selalu bersama. Papa juga janji, kalian berdua itu akan selalu bahagia, ya kan sayang ?" Lingga kembali mencium kening Amanda dan memeluknya.