
Melihat Lingga sudah tidur, Nadine pun menjadi geram. Merasa menyesal karena tidak bisa menikmati indahnya sepasang suami istri, seperti kebanyakan orang. Diam - diam Nadine menangis. Ia ingin sekali memberitahukan hal ini pada Mama nya.
Lingga tidak perduli bagaimana perasaan Nadine. Ini semua juga karena ide Mama mertuanya, Mama Sekar. Jebakan untuk Lingga membuat Lingga semakin membenci mereka.
Malam itu , Nadine tidur di sofa. Ia begitu benci pada Lingga. Ia tidak menyangka kalau Lingga, pria tampan yang selalu menjadi idolanya itu sama sekali tidak bisa membuatnya bahagia.
****
Malam itu Amanda tidak bisa tidur. Ia selalu saja kepikiran anak yang dikandungnya. Ia masih ragu akan kesetiaan Lingga. Apakah benar Lingga akan menikahinya? Amanda hanya pasrah dengan keadaan. Ia sangat berharap, Lingga benar - benar bertanggung jawab.
****
Pagi hari pun tiba. Pagi - pagi sekali, Lingga sudah pergi ke kosan Amanda. Sama sekali ia tidak pamitan pada kedua orang tuanya atau pun kepada Nadine.
Lingga pergi menemui Amanda. Semalaman ia tidak bisa tenang tidur, dikarenakan keadaan Amanda yang sedang mengandung anaknya, kondisi Amanda sangatlah lemah sekali.
Lingga memiliki kunci cadangan rumah kosan itu, kapan saja ia mau datang, Lingga lebih gampang untuk masuk.
Ia melihat kalau Amanda masih tidur. Lingga hanya bisa tersenyum melihatnya. Sebelum pergi ke kantor, Lingga menyediakan sarapan untuk Amanda. Hanya ada nasi goreng telur dadar, itu pun Lingga harus belajar terlebih dahulu dari YouTube . Maklum saja, untuk masalah urusan dapur, ia sama sekali tidak tahu menahu.
Ia tidak mau melihat anak yang dikandung Amanda kelaparan, mau tidak mau ia harus bisa menjadi calon Ayah yang serba bisa.
Amanda mendengarkan kalau ada suara ribut di dalam dapur. Ia langsung segera bangun. Amanda begitu kaget melihat Lingga ada di dapur sedang memasak.
" Mas Lingga, ngapain ?"
" Hai sayang, kamu uda bangun ?"
Amanda mendekat dan ia melihat apa yang dilakukan Lingga.
" Mas masak nasi goreng ?"
" Ia dong, ini buat kamu dan anak kita. Maaf ya, saya tahu nya hanya buat ini aja, " jawab Lingga.
" Astaga, mas Lingga ? Ga usah repot - repot. Ya da sini, biar saya aja yang lanjutin. "
" Ga usah, sayang ! oh ya, gimana kalau kamu pakai pembantu aja, ntar mas nyuruh Liana cariin orang?"
" Ga usah, mas. Oh ya, emangnya mas Lingga ga ke kantor?"
" Ke kantor dong, sayang. Mas berangkat ke kantornya dari sini, boleh kan ?"
" Boleh mas. Mas , gimana dengan Nadine ?"
" Nadine ? kenapa kamu harus mikirin dia ?"
__ADS_1
" Mas Lingga ga boleh gitu, dia itu istri mas Lingga,"
Lingga terdiam.
" Kalau boleh meminta, mas itu mau nya kamu yang jadi istri nya mas. Kamu sabar ya, mas akan segera nikahi kamu !"
" Ga mas, kasihan Nadine. Tetaplah bertahan, pelan - pelan mas Lingga pasti bisa mencintai Nadine."
" Kamu uda gila ya, cinta itu ga bisa dipaksakan ,"
" Bisa mas, pasti mas Lingga bisa kok,"
" Kenapa kamu nyuruh saya harus menyukai Nadine ? kenapa ?"
" Nadine itu adik ku, mas. Ya walaupun kita bukan adik kandung, tapi setidaknya, kita ada ikatan satu darah. Saya ikhlas kok, mas !"
" Uda ah, males ngomong sama kamu, " Lingga pergi, ia bergegas untuk mandi. Amanda melanjutkan pekerjaan Lingga.
Amanda benar - benar bingung, ia tidak tahu jalan hidupnya seperti apa. Ia hanya bisa nangis, ingin sekali bercerita mengenai masalahnya ,tapi ia tak tahu harus ke siapa mengadu. Ibu yang melahirkannya, lebih mencintai Nadine, segala kasih sayangnya semua hanya untuk Nadine. Amanda merasa cemburu.
Lingga selesai mandi. Ia melihat kalau Amanda menangis. Lingga paling tidak bisa jika melihat Amanda bersedih. Hati nya pun langsung luluh. Lingga langsung memeluknya.
" Maafkan mas Manda, kalau mas uda buat kamu sakit hati, mas ga bermaksud untuk membuat kamu sedih. Maafkan mas ya !"
Amanda tersenyum , ia hanya bisa mengangguk. Amanda pun membantu Lingga mempersiapkan segala kebutuhannya untuk pergi ke kantor.
" Oh ya jadwal kamu kontrol hari ini kan ?" tanya Lingga sambil mengusap perut Amanda.
" Ia, mas. Emang kenapa ?"
" Nanti mas usahakan cepat pulang ya ?"
" Ga usah, mas. Saya bisa sendiri kok, lagian uda agak enakan, "
" Ga, mas ga mau kamu pergi sendirian."
" Mas, gimana kalau keluarga mas Lingga tahu masalah ini ?"
" Ga papa dong, malah bagus. Itu artinya, mas bisa pisah dengan Nadine."
" Jangan lakukan itu, mas."
" Manda, hidup dengan orang yang ga kita cintai itu sakit. Dibalik ini semua, ada maksud dan tujuan Nadine , jadi mas ga bisa mencintainya, mas yakin Nadine itu ga tulus sayang sama mas. Uda ya, mas mau pergi ke kantor. " tak lupa Lingga mencium kening Amanda.
Amanda kembali menangis. Lingga berbalik badan, ia kembali memeluknya.
__ADS_1
" Jangan nangis, kamu yang sabar ya !" Lingga kembali mencium kening Amanda.Amanda hanya bisa menganggukkan kepalanya.
****
Akhirnya Lingga berniat mengatakan kepada Papanya, tentang kehamilan Amanda.
" Sebelumnya Lingga mau minta maaf, Pa. Lingga harus mengatakan ini pada Papa,"
" Mau ngomong apa, nak ?"
" Pa, saya dan Amanda ?"
" Kalian kenapa ?"
" Pa, saya uda menghamili Amanda, Pa !"
" Apa ? apa yang kamu bilang, nak ?"
Lingga menarik nafasnya dalam - dalam.
" Ya, Pa. Saya ? saya melakukan ini semua demi Mama, karena Mama menginginkan cucu. Ya jadi ?" Lingga tidak melanjutkan pembicaraannya.
" Kamu ga bohong, nak ?"
" Ga Pa, Lingga ga bohong. Amanda mengandung anak Lingga, Pa !"
Pak Chandra lemas tak berdaya.
" Maafkan Lingga, Pa !"
" Lingga, jadi gimana dengan Nadine ?"
" Lingga akan pisah secepatnya dengan Nadine, Pa !"
Ternyata Mama Nania mendengarkan pembicaraan mereka. Betapa geramnya Mama Nania mendengarkan kalau Amanda hamil anak dari Lingga. Mama Nania pun menangis.
" Ga...ga..Lingga ga boleh punya anak dari Amanda, Lingga hanya boleh punya anak dari Nadine aja. Ini ga bisa di biarin, Amanda harus menggugurkan kandungannya. Ga bolehhhhh....!" Mama Nania pun menangis.
Mama Nania tidak tinggal diam. Ia pun segera mencari tahu dimana Amanda tinggal. Ia tidak mau aib keluarga ini diketahui semua orang. Karena semua orang tahu, siapa Lingga sebenarnya. Mama Nania juga berharap, Nadine tidak mengetahui masalah ini.
Mama Nania sangat kecewa pada Lingga. Padahal ia berharap kalau Lingga mempunyai anak dari Nadine. Karena Nadine dan Lingga adalah sah sebagai suami istri.
Mama Nania memberitahukan masalah Lingga kepada Lita, anak keduanya yang tinggal di luar negeri. Lita tidak bisa berbuat apa - apa, dan sebenarnya juga Lita kurang menyukai Nadine.
Lita hanya bisa mengatakan sabar kepada Mama nya itu. Ia juga meminta untuk tidak mencampuri masalah kakaknya itu, Lingga.
__ADS_1
Biarlah Lingga sendiri yang menyelesaikan masalahnya, tapi Mama Nania tidak mau, ia berjanji akan memisahkan Lingga dan Amanda.